What’s wrong with infant baptism?

A debate about one or more topics especially theology is more likely never comes to the end. Coming to the finish line with a joint-agreement is not an easy matter to gain. Perdebatan, khususnya di bidang teologi nampaknya tidak pernah berakhir. Sukar sekali kesepakatan bersama diraih. Begitu juga terkadang perdebatan yang alot, kekeh jumekeh alias ngotot memang fakta yang tidak dapat dihindari ketika mendiskusikan suatu tema Alkitab ini. Yes, especially with the infant baptism (baptisan anak). Ada golongan-golongan tertentu yang mengatakan bahwa babtisan anak itu tidak Alkitabiah bahkan berani mengatakannya sesat. Karena itu saya tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang Kristen saya ingin menegakkan kebenaran yang benar-benar kebenaran. Ya, dengan melihat fenomena itulah maka saya mencoba memposting blog ini. Saya rasa perlu juga menyampaikan buah pikiran saya di sini. Namun saya tidak ingin terlibat dalam “debat kusir”. Kalau sudah jelas tidak perlu berdalih ini dan itu lagi. Tidak perlu mencari pembenaran diri yang ngotot. Posting saya berjudul “SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU?” . Tentu saja saya akan membahas tentang baptisan anak. Saya tidak akan berpanjang lebar membahas tentang baptisan mana yang benar dan mana cara baptisan yang tidak benar, karena hal itu akan saya bicarakan pada blog yang lain. Tujuan saya menulis ini semata-mata hanyalah ingin menyampaikan suatu kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya dengan segala kemampuan yang ada pada saya, dan semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Kita biasanya paling pandai kotasi, mengambil bahan dari berbagai sumber untuk membuktikan bahwa kita very learned. Seperti banyak mahasiswa teologia yang pintar mengutip buku-buku dan bahan dari sana sini. Secara akademik mereka mungkin sudah lulus tapi secara pemahaman Firman Tuhan sama sekali “kosong”!!!. Celakalah orang yang belajar teologia dengan cara demikian. Satu hal, meskipun kita memakai banyak referensi, buku doktrin dan teologi sistematika atau yang lainnya untuk memahami dan menjelaskan suatu topik Alkitab, tetapi marilah kita sungguh-sungguh kembali dan menyelidiki Alkitabnya dan menjadikannya sebagai standar kebenaran yang otoritatif di atas semuanya itu. Karena buku-buku selain Alkitab adalah tafsiran manusia yang bisa keliru. Sebenarnya, tidak salah jika kita memakai sumber penunjang, tapi yang terpenting adalah apakah buku atau sumber penunjang itu otoritatif atau tidak, dan Alkitab harus menjadi standar utama. Kalau mau memakai bahan-bahan penunjang, bagi saya dari sekian banyak buku teologia, yang pembahasannya sangat ketat, tajam dan komprehensif (mendalam) adalah buku-buku tafsiran dari para teolog reformed (seperti Yohanes Calvin, Prof. Dr. Louis berkhof, Hodge, Matthew Henry, Bavinck, Pdt. Dr. Stephen Tong dll). Berbahagialah orang yang mempelajari teologi reformed dengan rendah hati, mereka akan dihindarkan dari jurang-jurang yang terjal dan mematikan. Berapa banyak diantara kita yang dengan rendah hati mempelajarinya?
Well, niatnya bukan mau promosi cuma kebetulan saya lagi teringat, mengenai buku teologi, khususnya teologi sistematika, kalau boleh, saya sarankan bacalah bukunya Prof. Dr. Louise Berkhof, Jilid I sampai jilid VI. Untuk baptisan, buku Prof. J.I Packer tentang “apa itu baptisan?”. (Cuma tetap Alkitab di atas semuanya). Kemudian untuk masalah teologi dan pelayanan, buku-buku rohani, tulisan, kaset/video seminar dan khotbah termasuk KKR dari Pdt. Dr. Stephen Tong sangat disarankan/direkomendasikan untuk dibaca dan disimak (cuman jaman sekarang banyak orang yang terlalu apriori dengan pak Tong. Bagi saya orang yang demikian adalah tidak rendah hati, alias sombong, meskipun tidak sadar atau memang kekeh jumekeh dan gengsi tidak mau berubah. Tidak ada yang bisa melarang tentunya). Saya sendiri terkadang juga kurang teliti dan agak lambat dalam memahami hal teologia, khususnya yang berat dan berbobot seperti teologi reformed, meskipun saya rindu sekali untuk mempelajari teologi yang ketat. Tapi itulah kapabilitas saya. Saya menyadari hal itu. I realize that. Namun, saya berusaha terus belajar, belajar dan belajar dan mau diajar.
Anyway, saya sudah terlalu berpanjang lebar di bagian pendahuluan. Anda mungkin bertanya-tanya dan menunggu-nunggu sejak tadi kapan saya akan masuk ke inti pembahasan blog saya ini. Baiklah sekarang saya akan masuk ke inti pembahasan tentang baptisan anak ini.
SALAHKAH BAPTISAN ANAK?
Saya melihat memang merupakan suatu fakta bahwa ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Namun bagaimana jika setelah diuji, diadakan penyelidikan, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. This is our answer. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara kaum saleh (the saints) ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.
Sunat sudah dimiliki umat Allah jauh sebelum baptisan ditetapkan. Ketika perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini diselidiki, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksud saya, sunat mengantisipasi baptisan. Kovenant atau jamji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6).
Sekarang kita dapat melihat dengan jelas antara persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar saja, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang tidak penting.
Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?
Kitab suci bahkan mewahyukan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris perjanjian (kovenan) ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga dengan anak-anak Kristen. Mereka dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham (bapa orang beriman), maka kita melihat bahwa Allah memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah. Dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan perjanjian ini di dalam diri anak-anak kita.
Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak diterima oleh Allah? Apa hak kita atas hal itu?
Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan mendukung hal ini. Mereka (golongan tertentu) yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah argument yang tidak meyakinkan. Saya setuju dengan pak Hai-Hai bahwa meskipun hal baptisan bayi atau anak tidak tercatat dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengajarkannya. Karena, walaupun para penulis Injil tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa anak-anak juga dibaptis, namun para penulis Injil juga tidak menyebutkan bahwa ada perkecualian bagi anak-anak dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). From these verses, who can show and prove or rebut me that infants or children are not included to baptism? Siapa yang bisa tunjukkan dari nas-nas ini kalau anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan hal secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus. Perhatikan poin ini. Seperti istilah Tritunggal, di Alkitab tidak ada istilah itu, istilah itu adalah kesimpulan dari bapa-bapa gereja di masa lampau, namun kita mengakui bahwa doktrin Allah Tritunggal itu secara implicit diajarkan oleh Alkitab bahkan sejak permulaan di kitab Kejadian.
Selanjutnya, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna, maka kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, sebab mereka melihat sendiri perjanjian Allah telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.
Di sisi lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Allah sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol perjanjian (kovenan) kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).
Some people say that infants or children are not allowed to get baptism since they are still too young to understand the mystery of the baptism, that is, “spiritually born again” (Ya, Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani). Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita (It is a sovereignty of God which beyond our understanding). Alasan mereka yang lain yang mereka kemukakan ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan materai. Seperti dalam pertobatan, apakah pertobatan mendahului kelahiran kembali? Ajaran sejati Alkitab harus mengatakan “tidak”. Tetapi Roh Kudus yang memperanakkan kita dulu melalui proses kelahiran kembali (Baptisan Roh Kudus) yang kita tidak mengerti (mengapa Tuhan memilih kita), baru kemudian kita bisa sadar dan melakukan pertobatan. Pertobatan adalah sebagai efek dari kita yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, sebagai reaksi atau respon kita yang beriman kepad-Nya. Jadi, SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU? Seperti yang pernah saya bilang pada salah satu komentar saya di SABDAspace ini, If we understand the doctrine of predestina What’s wrong with infant baptism? tion correctly, then we could agree that the infant baptism is not wrong but is really biblical (kalau kita mengerti doktrin predestinasi dengan benar, maka kita akan mengerti dan setuju bahwa BAPTISAN ANAK ITU TIDAK ADA YANG SALAH. TAPI 100% ALKITABIAH.
Demikian posting saya tentang tema ini, semoga dapat memberikan iluminasi, berkat dan tentunya bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan pada akhirnya hanya kita kembalikan kepada Tuhan di dalam Allah Tritunggal, Amin (Soli DEO Gloria).
Diadaptasi oleh desfortin dari:
The Institutes of the Christian Religion, IV.16 by John Calvin
(The important reformator or the founding father and the root of Reformed Theology until today)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s