A CRITIQUE

SEBUAH KRITIK TENTANG ARUS KEKRISTENAN ZAMAN INI
(A critique about the current age issue related to the Christian Life)

Oleh: Samuel Rudi Desfortin

Dear All Brothers And Sisters Wherever You Are.
May Our God In Jesus Christ Always Bless Everyone.

Pada saat ini sebelum saya memposting tulisan ini kepada para pembaca semua. Sekali lagi salam kenal dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Saya bukan pendeta atau teolog. Saya hanya seorang mahasiswa. Ya, mahasiswa tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kalimantan Tengah. Saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (S1). Saat ini saya sedang menggarap tugas akhir (Skripsi). Kalau boleh mohon doanya agar pada bulan April tahun depan (2009) saya sudah bisa menyandang gelar sarjana. Mengenai teologi, saya sejak beberapa tahun yang lalu mulai suka dan rindu sekali untuk terus belajar teologi, tentunya teologi yang benar dan dengan cara yang benar, yang dengan sungguh-sungguh menekankan otoritas Alkitab, dan juga berusaha untuk menelitinya dengan sangat ketat (scrutiny of the Bible). Mungkin anda tahu apa yang saya maksud?
Saya terbeban sekali untuk menulis ini karena saya melihat ada fenomena yang sedang terjadi dan berkembang menggerogoti kita di generasi zaman ini khususnya di dunia kekristenan di Indonesia. Suatu arus yang mengalir deras yang cukup ekstrim dan berbahaya. Ijinkan saya juga saat ini untuk membagikan sedikit tentang kondisi kekristenan pada generasi ini, khususnya yang saya tahu, yaitu yang dekat saja dulu di kota saya, meskipun di tempat lain juga tidak menutup kemungkinan, fenomenanya kurang lebih demikian. Bagi saya kehidupan kekristenan di daerah saya cukup memprihatinkan. Namun banyak orang yang sampai saat ini masih tertidur lelap dan belum sadar. Kiranya tulisan ini akan bermanfaat, setidaknya sebagai air penyiram untuk membangunkan mereka yang saat ini sedang tertidur pulas. Maafkan kalau airnya terlalu pedih, tapi ini bukan air cuka atau asam. Saya tidak bermaksud sombong atau apa, hanya saya ingin mengambil bagian untuk menegakkan apa yang benar, sebagaimana Alkitab meminta kita untuk menguji segala sesuatu dan memegang apa yang baik dan benar serta mempertanggungjawabkan ajaran kita. Jika zaman ini belum juga sadar, saya mungkin memang akan menjadi “pemukul zaman ini”.
Jika dengan tulisan ini orang-orang juga masih belum sadar, entah apa karena mereka susah memahami, masa bodoh atau memang kekeh jumukeh alias ngotot, gengsi yang sempit, maka biarlah Tuhan saja yang akan menjadi hakim final mereka. Tugas saya di sini hanyalah sebagai media untuk mengingatkan kita semua. Saya melihat sedikit orang yang mau sungguh-sungguh belajar dengan ketat mengenai teologi, khususnya teologi Alkitab dengan penafsiran ala Reformed Theology, yang menurut saya sangat ketat, mendalam dan paling setia kepada Alkitab (back to the Bible) untuk mewakili kekristenan yang sejati.
Dulu saya juga orang yang pernah mengingkari Tuhan, bahkan sempat beberapa tahun tidak pernah pergi ke gereja karena kecewa kepada gereja dan juga kepada Allah, yang sebenarnya saya tidak perlu demikian. Waktu itu saya mulai dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyimpang yang sebenarnya menghina Alkitab orang Kristen, dan juga filsafat yang sangat membuat saya merasa seperti orang yang sudah menemukan kebenaran. Padahal saya tanpa sadar telah menghina Tuhan dan umat-Nya. Itu terjadi ketika saya masih duduk di bangku SMA. Namun juga sampai saya di bangku kuliah, bahkan sampai tahun kedua kuliah saya masih meragukan Tuhan, sehingga saya sering berdebat dengan orang di sekitar saya dan membuat mereka heran. Mungkin sedikit orang yang mengetahui apa yang terjadi dengan saya pada waktu itu, bahkan orang tua saya sendiri juga tidak. Saya menjadi seperti orang yang sombong sekali menganggap bahwa teman-teman yang saya ajak berdebat itu kurang pengetahuan sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, bahkan sempat juga beberapa hamba Tuhan yang saya tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan itu baik tentang teologi dan filsafat, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tak jarang mereka mengatai saya sebagai sesat dan katanya saya terlalu kebanyakan belajar sehingga kepala saya “hang” katanya. Tapi saya pada waktu itu tidak peduli. Saya tetap memegang prinsip dan keyakinan dan ideologi saya itu.
Namun Tuhan memang Pencipta dan Penguasa seluruh ciptaan-Nya. Saya tidak mampu melawan-Nya. Oleh anugerah-Nya saja saya sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya membaca, mempelajari buku dan mendengarkan khotbah seorang hamba Tuhan yang beraliran reformed (warisan John Calvin dkk pada zaman reformasi), yang kemudian paling saya kagumi pada zaman ini. Saya tidak memujanya ataupun mengkultuskannya tapi saya akui melalui hamba Tuhan ini konsep saya tentang teologi, Alkitab dan kekristenan mulai diubahkan, dibaharui dan dicerahkan serta saya telah ditarik kembali oleh-Nya untuk mengenal-Nya dengan benar, dan berkomitmen untuk terus memuliakan-Nya dengan terus belajar, belajar, dan belajar serta mau diajar untuk taat kepada-Nya, meski saya tahu itu juga adalah suatu pergumulan kehidupan kekristenan yang hebat. Saya bukan manusia sempurna. Saya punya masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Berkali-kali saya pernah jatuh. Sungguh bagai noda hitam yang jatuh di kertas putih yang sukar dibersihkan. Namun oleh anugerah-Nya saya ditarik kembali. Saya tidak sampai terkapar sehingga tidak bisa kembali. Puji Tuhan sampai saat ini saya tetap ditopang oleh-Nya. Saya tidak mau memandang ke belakang kepada masa lalu saya itu, tapi saya ingin memandang ke depan kepada Kristus yang menjadi sasaran hidupku yang tak kan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Biarlah masa lalu saya itu menjadi pengalaman yang akan menjadi pembelajaran di masa mendatang agar senantiasa setia dan menjaga diri baik-baik di hadapan-Nya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan dan kepada hamba-Nya ini, sehingga saya sekarang bisa kembali dan mengenal Kristus lebih dekat lagi.
Namun aneh bin ajaib sampai sekarang teman-teman saya itu masih saja menganggap saya sebagai orang yang terlalu banyak belajar atau sombong rohani dan munafik. Padahal saya rasa tidak lagi seperti yang dulu. Mungkin mereka hanya memandang saya dari sudut pandang yang berbeda saja. Sebenarnya wajar saja mereka tidak sependapat dengan saya. Karen setiap orang berhak untuk berbeda pendapat. Namun saya kecewa karena mereka hanya melihat saya dari sebagian sisi saja, yang kemudian seperti menghakimi saya. Apalagi ketika saya mengkritik mereka-mereka yang melayani Tuhan dengan tidak terlalu banyak belajar, tapi berani sekali mengajar/menyampaikan Firman Tuhan, mereka anggap saya seperti orang yang paling benar saja, sok pintar, sok tahu, sombong rohani dan sebagainya. Padahal pada intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa kita harus melayani Tuhan dengan serius, teliti, ketat, tidak boleh bermain-main dan tentunya dengan bertanggung jawab. Sebab Allah adalah Hakim yang paling adil. Dia adalah Raja di atas segala raja, karena kalau dengan sembarangan tanpa mengoreksi diri maka banyak orang yang akan mendapatkan konsep-konsep yang keliru, bukan upah yang indah dan mulia yang akan kita terima dari Tuhan kelak, tapi kita akan menerima penghakiman yang lebih berat karena semakin banyak diberi maka kita semakin banyak dituntut (the more you’re given, the more you’re demanded). Allah Yang Maha Adil akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya dengan tanpa memandang bulu dan tanpa kompromi. Bukankah dikatakan dalam Alkitab bahwa kita akan dihukum Tuhan apabila kita jahat dan tidak memuliakan-Nya. Bukankah Dia juga adalah api yang menghanguskan yang dapat membakar setiap orang yang bermain-main dengan-Nya? Seharusnya kita gentar, setia dan hidup dengan serius di hadapan-Nya.
Tapi inilah yang saya sebut sebagai arus yang sedang “ngetrand” saat ini. Apa yang salah sebenarnya? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, dan menyebabkan saya ingin membagikan tulisan ini kepada semua pembaca di blog ini. Semoga ada juga yang ikut berkomentar atas tulisan saya ini. Oya, tolong juga doakan kehidupan gereja kami di sini ya. Sehingga ada kebangunan rohani yang sejati terjadi di tempat kami, bukan dua arus ekstrim yang saat ini sedang menjalar, arus yang menekankan “Kebangunan Rohani Emosional” yang diajarkan teolog-teolog penganut teologi sukses, dan arus “Bergereja yang hambar” yang diajarkan oleh teolog-teolog yang saya sebut sebagai kurang belajar banyak dan benar-benar ketat, (namun yang kedua ini mungkin tidak terlalu ekstrim dari pada arus yang pertama yang sering bisa menyesatkan apalagi kalau jemaat tidak teliti. Tapi intinya sama saja yaitu “tidak komprehensif pemahamannya akan Alkitab”).
Sekali lagi inilah yang membuat saya sangat terdorong untuk menyampaikan tulisan ini. Selain itu, tulisan bung Denny Teguh Sutandio (salah seorang jemaat di GRII Andhika di Surabaya) di salah satu posting blognya menjadi inspirasi tulisan saya ini juga. Menurut saya memang benar beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern) di zaman postmodern yang diwarnai oleh sekularisme, maupun semangat Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sungguh harus menjadi perhatian kita semua khususnya gereja sebagai tiang dan fondasi kebenaran di dunia ini. Beragam filsafat tersebut mempengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh dan jatuh. Dalam kasus ini ada beberapa teman saya juga yang dulunya aktif melayani Tuhan, pemimpin pujian dan pernah khotbah di persekutuan, tapi akhirnya berubah arah menjadi orang yang menyangkal Tuhan. Itulah hebatnya setan mempengaruhi orang-orang dari sejak dulu sampai sekarang dengan topeng intelektualitasnya. Teman saya itu dulu boleh dikatakan dialah orang yang mengajak saya untuk mengenal Tuhan, Tapi apa yang terjadi sekarang, sebaliknya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan sampai saat ini saya masih dijaga-Nya dan berada dalam jalur-Nya, khususnya dua tahun terakhir ini. Karena itulah saya terus memacu diri, mengembangkan diri, mengisi anugerah Tuhan yang Ia berikan kepada saya dengan terus belajar, belajar dan belajar dan rela takluk hanya kepada kebenaran-Nya. Bukankah itu rendah hati?
Sebagai akibat dari konsep dan arus pemikiran filsafat tersebut banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu arus pemikiran tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi orang yang tinggi hati, merasa diri sudah mendapatkan kebenaran yang paling hebat. Kasus ini saya temui pada orang-orang yang katanya pintar, bergelar doktor bahkan profesor, namun yang menolak dan meragukan kitab suci dan akhirnya menjadi ateis. Sebenarnya orang seperti inilah yang harus dikategorikan sebagai sombong, meskipun mereka sendiri mungkin tidak sadar kalau mereka sedang sombong dan congkak.
Di sisi lain, ada juga orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif sebagai akibat dari pengaruh filsafat relativisme dan Semangat Zaman Baru) dan membuang pentingnya aspek rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Kasus ini terjadi pada mereka-mereka yang sering membuat kebaktian-kebaktian “kesembuhan ilahi” dan yang menekankan mujizat, pemegang teologi kemakmuran (prosperity gospel) yang memang sering terjadi di gereja-gereja pada zaman ini oleh mereka-mereka yang menganut ajaran kharismatik. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat dan sekitar, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Untuk kasus yang ini saya dapati pada kebanyakan orang-orang kristen di sekitar saya, mereka berkata “kita sekarang kan sudah dalam kebenaran, setiap zaman selalu ada tantangan, namun Tuhan tidak perlu kita bela, tapi Dia yang menjadi pembela kita. Jadi tidak perlu terlalu banyak belajar seperti itu, dipusingkan oleh doktrin dan pengajaran. Teologia itu tidak cukup, yang penting kita praktek saja, layani Tuhan, karena nanti ketika kita menghadap Tuhan bukan masalah teologia yang akan ditanyakan Tuhan, tapi berapa banyakkah jiwa – jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan?”. Demikian alasan mereka. Saya merasa kasian sekali. Seolah mereka berpikir mereka sangat berjasa sekali dalam melayani Tuhan. Saya setuju kalau Tuhan kita itu tidak perlu dibela, karena tanpa kita pun Tuhan bisa berbuat apa saja, tak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun maksud saya adalah bahwa kita harus melayani Tuhan dengan benar dalam prakteknya. Yang saya tekankan adalah “caranya”. Jika pemikiran seperti alasan yang mereka kemukakan itu terus dipegang, maka sangat memprihatinkan sekali arus kekristenan di zaman ini.
Saya sangat setuju dengan bung Denny Teguh Sutandio yang mengatakan bahwa Teologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Betul. Ketiga aspek itu harus diitegrasikan dengan baik dalam kehidupan kristiani kita. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Tetapi apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam dunia kekristenan? Ketiga hal ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau oleh orang kristen di generasi ini. Menyedihkan sekali. Namun banyak orang yang belum sadar dan terbangun dari tidurnya. Bangunlah saudaraku! Sampai kapan kau akan tenggelam dan hanyut bersama arus yang deras dan mematikan ini. Sadarlah! Jangan engkau marah dan melarikan diri dari teguran seperti ini, karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang engkau baca dan dengar hari ini sudah mulai jarang dan semakin sedikit. Mengapa kita mengutamakan apa yang bukan diutamakan oleh Tuhan? Mengapa kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan?
Saudaraku, saya berharap semoga tulisan ini dapat membangun iman kita semua. Saya tidak ada tendensi apa-apa kecuali hanya untuk mengingatkan kita semua dan membagun iman kita agar mengerti ajaran yang sehat dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Sekali lagi semoga ini bermanfaat bagi kita semua.
Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan hanya kita kembalikan kepada Tuhan)
by Samuel Rudi Desfortin di Palangaka Raya.

Tulisan ini juga pernah diposting/dipublikasikan di http://sabdaspace.org dengan sedikit suntingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s