TEOLOGI, SPIRITUALITAS DAN PRAKTIKA

SEBUAH KESAKSIAN TENTANG ARUS KEKRISTENAN ZAMAN INI (My Testimony about the current age issue related to Christian Life)
Dear all brothers and sisters wherever you are. May God always bless.
Pada saat ini sebelum saya memposting tulisan ini kepada teman-teman semua di blog ini. Sekali lagi salam kenal dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Saya seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu PT Negeri di KalTeng yang sedang menyusun tugas akhir saat ini. Doakan April tahun depan saya sudah bisa menyandang gelar sarjana. Saya bukan teolog, namun saya rindu untuk terus belajar teologi yang benar dengan cara yang benar, yang dengan sungguh-sungguh menekankan otoritas Alkitab dan juga menelitinya dengan sangat ketat. Mungkin anda tahu apa yang saya maksud?
Saya terbebaban sekali untuk menulis ini karena saya melihat ada arus yang sedang terjadi menggerogoti kita di generasi zaman ini. Saya juga pada saat ini akan membagikan tentang kondisi kekristenan pada generasi ini, khususnya yang saya tahu, yaitu yang dekat di kota saya saja. Bagi saya kehidupan kekristenan di tempat saya cukup memprihatinkan. Sedikit orang yang mau sungguh-sungguh belajar dengan ketat khususnya teologi.
Dulu saya juga orang yang pernah mengingkari Tuhan, bahkan sempat 1 tahun tidak pernah pergi ke gereja karena kecewa kepada gereja dan juga kepada Allah, yang sebenarnya aku tidak perlu demikian. Aku mulai dipengaruhi ajaran-ajaran filsafat yang sangat membuatku merasa seperti orang yang sudah menemukan kebenaran. Padahal saya tanpa sadar telah menghina Tuhan dan umat-Nya. Itu terjadi ketika saya kelas tiga SMA sampai saya kuliah, bahkan sampai tahun kedua kuliah saya masih meragukan Tuhan, sehingga saya sering berdebat dengan orang di sekitar saya dan membuat mereka resah. Namun saya dengan sombong sekali menganggap bahwa teman-teman yang saya ajak berdebat itu tidak mampu menjawab pertanyaan saya, bahkan ada juga beberapa hamba Tuhan yang saya tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan filsafat, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tak jarang mereka mengatai saya sesat dan saya terlalu kebanyakan belajar sehingga hang katanya kepala saya. Tapi saya pada waktu itu tidak peduli. Saya tetap memegang prinsip ideologi saya itu.
Namun oleh anugerah Tuhan saja saya sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya membaca buku dan khotbah seorang hamba Tuhan yang kemudian paling saya kagumi pada zaman ini, melalui hamba Tuhan ini saya telah ditarik kembali oleh-Nya untuk mengenalnya dengan benar, dan berkomitmen untuk terus memuliakan-Nya dengan terus belajar..belajar, dan belajar untuk taat kepada-Nya. Saya bersyukur sekali. Namun anehnya sampai sekarang teman-teman saya itu masih saja menganggap saya sebagai orang yang terlalu banyak belajar atau sombong rohani. Padahal saya tidak merasa demikian. Apalagi ketika saya mengkritik mereka-mereka yang melayani Tuhan dengan tidak terlalu banyak belajar, tapi berani sekali mengajar/menyampaikan Firman Tuhan, mereka anggap saya seperti orang yang paling benar saja. Padahal pada intinya saya hanya ingin bilang kepada mereka bahwa kita harus melayani Tuhan dengan serius, sebab Dia adalah Raja di atas segala raja, karena kalau tidak ketat dan serius maka banyak orang yang akan mendapatkan konsep-konsep yang keliru. Tapi inilah yang saya sebut sebagai arus yang sedang “ngetrand” saat ini. Apa yang salah sebenarnya? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, dan menyebabkan saya ingin membagikan tulisan ini kepada teman-teman semua di sini, semoga ada juga yang ikutan kasih komentar. Oya, tolong juga doakan kehidupan gereja kami di sini ya. Sehingga ada kebangunan rohani yang sejati terjadi di tempat kami, bukan 2 arus yang saat ini sedang menjalar, arus yang menekankan “Kebangunan Rohani Emosional” yang diajarkan teolog-teolog penganut teologi sukses, dan arus “Bergereja yang hambar” yang diajarkan oleh teolog-teolog yang saya sebut sebagai kurang belajar banyak dan benar-benar ketat, (namun yang kedua ini mungkin tidak terlalu ekstrim dari pada arus yang pertama yang sering bisa menyesatkan apalagi kalau jemaat tidak teliti. Tapi intinya sama saja sih “tidak komprehensif pemahamannya).
Sekali lagi inilah yang membuat saya sangat terdorong untuk menyampaikan tulisan ini. Menurut saya beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern) di zaman postmodern yang diwarnai oleh sekularisme, maupun semangat Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sungguh harus menjadi perhatian kita semua khususnya gereja sebagai tiang dan fondasi kebenaran di dunia ini. Beragam filsafat tersebut mempengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh. Dalam kasus ini ada beberapa teman saya juga yang dulunya aktif melayani Tuhan, pemimpin pujian dan pernah khotbah di persekutuan, tapi akhirnya berubah arah menjadi orang yang menyangkal Tuhan. Itulah hebatnya setan mempengaruhi orang-orang dari sejak dulu sampai sekarang dengan topeng intelektualitasnya. Teman saya itu dulu boleh dikatakan dialah orang yang mengajak saya untuk mengenal Tuhan, Tapi apa yang terjadi sekarang, sebaliknya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan sampai saat ini saya masih dijaga-Nya dan berada dalam jalur-Nya, khususnya dua tahun terakhir ini. Karena itulah saya terus memacu diri, mengembangkan diri, mengisi anugerah Tuhan yang Ia berikan kepada saya dengan terus belajar dan rela takluk hanya kepada kebenaran-Nya.
Sebagai akibat dari ideologi dan arus pemikiran filsafat tersebut sehingga banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu arus pemikiran tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi orang yang tinggi hati, merasa diri sudah mendapatkan kebenaran yang paling hebat. Kasus ini saya temui pada orang-orang yang katanya pintar, bergelar doktor bahkan profesor, sehingga menolak dan meragukan kitab suci dan akhirnya menjadi ateis.
Di sisi lain, ada juga orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif sebagai akibat dari pengaruh filsafat relativisme dan Semangat Zaman Baru) dan membuang pentingnya rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Kasus ini terjadi pada mereka-mereka yang sering membuat kebaktian-kebaktian “kesembuhan ilahi” dan yang menekankan mujizat, yang memang sering terjadi di sini. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Untuk kasus yang ini saya dapati pada kebanyakan orang-orang kristen di sekitar saya, mereka berkata “kita sekarang sudah dalam kebenaran, jadi tidak perlu terlalu banyak belajar seperti itu, dipusingkan doktrin dan pengajaran atau teologi itu tidak cukup, yang penting kita praktek saja, layani Tuhan, karena nanti ketika kita menghadap Tuhan bukan masalah teologi yang akan ditanyakan Tuhan, tapi berapa banyakkah jiwa – jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan?”. Demikian alasan mereka. Saya merasa kasian sekali. Kita memang harus melayani Tuhan dengan praktek juga tapi yang saya tekankan adalah “caranya yang benar”. Jika pemikiran seperti alasan yang mereka kemukakan itu terus dipegang, maka sangat memprihatinkan sekali kekristenan di zaman ini.
Teologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Tetapi akhir-akhir ini, ketiga hal ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau oleh orang kristen di generasi ini.
Tapi apa yang saya bisa buat? mungkin untuk sementara ini saya hanya bisa posting tulisan sederhana saya ini di blog ini. Semoga anda diberkati ketika membacanya. Amin. GBU.
Ok, I close my case now n waiting for you comment. GBU by Des14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s