Alla tetap memelihara dunia ini

PROVIDENTIA

Apakah yang terjadi dengan dunia ini setelah Allah selesai menciptakannya? Ada beberapa jawaban yang diberikan. Kelompok Deisme mengatakan bahwa setelah penciptaan, Allah membiarkan dunia ini berjalan dengan sendirinya. Bagaikan sebuah mesin yang didesign oleh seorang ahli, mesin tersebut akan bergerak dengan sendirinya, sesuai dengan sistim yang diciptakan di dalamnya. Dengan demikian, Allah tidak terlibat lagi dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang ada dalam dirinya. Dengan kemampuan berpikir yang Tuhan berikan, manusia dapat menghindar dari berbagai bahaya.

Di pihak lain, fatalisme, yaitu kelompok yang percaya kepada astrology (ilmu nujum atau perbintangan) mengatakan bahwa kehidupan manusia tergantung kepada bintangnya. Tidak heran, jika orang seperti ini, sangat serius ketika membaca ramalan bintang. Sedangkan menurut Epikurianisme, manusia is governed by chance dan Stoiksisme menempatkan manusia dipimpin oleh fate.

Bagaimana sesungguhnya? Judul tersebut di atas, Providentia (Latin; Inggris, providence; Yunani, pronoia) sebenarnya berarti prescience atau foresight. Ini berarti, Allah mengetahui sebelumnya apa yang akan terjadi. Sehubungan dengan itu, Allah memiliki rencana kepada manusia untuk waktu yang akan datang. Ajaran tentang pemeliharaan Allah (the Providence of God), merupakan ajaran Kristen yang sangat penting. Ajaran tersebut menegaskan keterlibatan Allah di dalam dunia, juga di dalam kehidupan manusia. Dengan perkataan lain, setelah penciptaan, Allah tidak pernah membiarkan ciptaanNya berjalan secara otomatis, juga tidak menyerahkan mereka kepada nasib atau kepada kendali bintang-bintang. Menurut Millard J. Erickson, dalam hal tertentu dapat dikatakan bahwa ajaran tersebut merupakan inti bagi perilaku Kristen. Dia menulis: “It means that we are able to live in the assurance that God is present and active in our lives” (Christian Theology, 387-388)

KESAKSIAN ALKITAB

Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, maka terlihat dengan jelas keterlibatan Allah di dalam hidup umatNya. Sebagai contoh, kita membaca di dalam Perjanjian Lama bagaimana Allah terlibat dan memelihara umatNya, sekalipun mereka hidup menderita dan diperbudak oleh Firaun di Mesir. Ketika umatNya berteriak minta tolong, mereka tidak berteriak di dalam kesia-sian. Sebaliknya, kita membaca: “Dan Tuhan berfirman ‘Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka…’” (Kel.3:7). Demikian juga, kita membaca pemeliharaan Allah yang sedemikian unik kepada Daniel dan kawan kawannya. Di tengah-tengah berbagai godaan dan tantangan yang mereka hadapi di Babel, yang bahkan mengancam nyawa mereka, Alkitab menunjukkan bahwa mereka tetap hidup dengan setia dan penuh penyerahan kepadaNya. Itulah sebabnya, sekalipun raja Nebukadnezar yang sedemikian berkuasa dan sangat diktator tersebut ingin menghabisi nyawa mereka dengan melemparkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke perapian yang menyala-nyala, mereka tetap dapat bertahan hidup. Alasannya, karena Allah terlibat memelihara mereka. Hal itulah yang keluar dari mulut raja Nebukadnezar itu sendiri: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat malaikatNya dan melepaskan hamba-hambaNya, yang telah menaruh percaya kepadaNya…” (Daniel 3:28).

Jika kita beralih kepada Perjanjian Baru, kembali kita melihat Allah yang perduli dan terus memelihara umatNya. Hal itulah yang sangat jelas ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam khotbah di Bukit. Ketika orang-orang percaya hidup dalam berbagai kesulitan karena masalah cuaca yang tidak menentu, yang berakibat kepada kondisi ekonomi yang sulit, ditambah dengan masalah politik yang dihadapi, Tuhan Yesus mengkhotbahkan agar mereka tidak kuatir (Mat.6:25). Dia memerintahkan: “Sebab itu, janganlah kamu kuatir dan berkata: ‘Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum?’ “ (Mat.6:31). Alasannya dinyatakan Yesus secara jelas dan tegas: “…Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (Mat.6:32).

Alkitab tidak hanya menegaskan pemeliharaan dan keterlibatan Allah dalam hal kebutuhan phisik manusia, seperti kebutuhan makanan dan pakaian. Akan tetapi, Allah juga memelihara umatNya dalam hal keamanan. Itulah sebabnya, sekali pun Tuhan Yesus menggambarkan bahwa murid-murid diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala, yang berarti penuh dengan bahaya dan resiko, namun Tuhan Yesus memerintahkan untuk tidak takut (Mat.10:26). Menyimak ayat demi ayat dari pasal tersebut, dengan nyata kita membaca bagaimana Tuhan Yesus meyakinkan murid-muridNya akan pemeliharaan Allah yang sempurna tersebut. “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya”, demikian ditegaskan Yesus (Mat.10:30).

Sesungguhnya, ajaran Providentia atau pemeliharaan Allah, merupakan akibat wajar dan logis dari ajaran tentang Allah yang setia dan mengasihi ciptaanNya. Namun demikian, kita tidak menerima hal itu berdasarkan logika semata, tapi terutama dari pengalaman umat Allah di sepanjang segala abad dan tempat. Karena itu, betapa pun sulitnya kehidupan kita akibat berbagai masalah dan bencana yang terjadi di Republik ini, kita tetap yakin bahwa Allah terlibat dan memelihara bangsa ini. Kiranya, kita tidak mempersulit keadaaan kita dengan pemahaman yang salah, seolah-olah Allah tidak perduli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s