Artikel Rohani

Siapakah Kaum Injili Sejati?

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Renungan ini ditranskrip dari Persekutuan Doa Momentum ke-72 di Jakarta, Juni 1993

Di dalam pelayanan kita ada suatu inti yang menjadikan pelayanan itu hidup. Inti itu menjadi pendorong yang terbesar, motivator yang menggairahkan semua pelayanan yang mengelilinginya. Apakah inti itu? Yaitu pelayanan bagi sesama kita untuk menerima Injil dan mengalami kuasa keselamatan Tuhan di mana kita sudah mengalami dan menerimanya. Untuk hal ini Paulus mengatakan satu kalimat yang begitu agung, “Segala sesuatu yang kukerjakan hanya demi Injil.” Berarti semua pelayanan sekitar itu melayani suatu inti, semua kegiatan di luar itu melayani suatu pusat dan pusat ini adalah penginjilan.

Mengapa seseorang belajar theologi? Supaya bisa menginjil dengan lebih baik. Mengapa kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang? Supaya Injil tidak dihalangi oleh kita. Mengapa harus belajar banyak bahasa asing? Supaya pada waktu memberitakan Injil bahasa tidak menghalangi pemberitaan yang disampaikan. Mengapa harus hidup hati-hati di dalam kesucian? Supaya orang lain tidak mencela kita karena kita sedang mengabarkan Injil. Jadi dengan titik pusat ini kita melihat semua pelayanan yang lain dikaitkan dengan pelayanan yang paling penting ini. Paulus berkata, “Aku mengerjakan segala sesuatu hanya demi Injil” (1Kor. 9:23). Segala sesuatu yang aku kerjakan mungkin kurasa aneh, tapi jika ditelusuri dan diselidiki sampai tuntas, dasarnya hanya satu: supaya aku boleh mengabarkan Injil seefisien mungkin. Jikalau kita mengerti akan makna dari ayat ini pasti sikap pelayanan kita akan berubah. Pasti corak dan cara kita mendekati orang akan berubah. Karena begitu banyak hal yang bukan langsung pemberitaan Injil sudah ikut campur di dalam merusak penginjilan tanpa kita sadari. Begitu banyak hal kita anggap remeh dan tidak penting, padahal itu mau tidak mau sudah menyangkut keberhasilan di dalam mengabarkan Injil, baik pergaulan, cara berpikir, cara bertingkah laku, atau cara berkata-kata. Paulus mengingatkan hal ini dengan mengatakan, “Meskipun aku bebas, tetapi aku tidak mau memakai hakku di dalam mengabarkan Injil.” Hak terbesar adalah hak untuk menyerahkan hak. Inilah rahasia kerohanian. “Apakah aku tidak berhak membawa istri ke sana-sini seperti Kefas?” (1Kor. 9:5). Paulus berkata, “aku berhak. Tidak ada orang yang bisa menyalahkan aku. Apakah aku berhak mendapatkan uang sebanyak mungkin karena aku memberitakan Injil kepada banyak orang? Aku berhak. Orang yang mengabarkan Injil boleh hidup dari Injil. Tetapi untuk Injil itu aku tidak menerimanya karena dalam ini aku menyerahkan hak.” Di sini rahasia penginjilan bisa efektif dan berhasil di mana orang-orang itu tidak mempertahankan hak yang sepatutnya ia terima. Barangsiapa selalu berbicara tentang hak, pasti sedang terjadi kesulitan pada kerohaniannya. Tidak berarti kita tidak memikirkan tentang hukum, keadilan dan apa yang sewajarnya kita terima. Tetapi pada saat-saat tertentu sesungguhnya seorang pelayan tidak mementingkan untung rugi pribadi, tidak mempertahankan hak itu bagi dirinya sendiri. Asal Injil diberitakan, Tuhan dipermuliakan, dan manusia boleh dibawa kepada Tuhan, ia rela menyerahkan hak demi mempertahankan hak yang lebih besar.

Siapakah yang lebih berkuasa daripada Kristus? Siapakah yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan yang melampaui Dia? Tidak ada. Tapi justru Ia rela meninggalkan surga yang mulia dan datang ke dalam dunia yang rendah dan menyerahkan hak yang seharusnya ada pada-Nya. Semua perjuangan hak asazi manusia adalah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang memang dicipta oleh Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, yang memang secara lahiriah diberikan pada diri manusia. Tetapi hak asazi manusia yang berada di dalam diri Kristus justru direbut habis di zaman-Nya atas kerelaan-Nya menyerahkan hak. Sebab itu hak yang kita terima di dalam Kristus dan kuasa yang kita alami di dalam Dia justru adalah kuasa yang paling tinggi dan paling terhormat. Setelah Kristus menyerahkan hak asazi yang sepatutnya Ia miliki, Allah memberikan kuasa di langit dan di bumi seluruhnya kepada Dia. Sebab itu sebelum mengutus manusia mengabarkan Injil ke seluruh dunia, Yesus Kristus berkata, “Sesungguhnya kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku, maka pergilah engkau.” (Mat. 28:18). Pengutusan tidak pernah diberikan tanpa dibubuhi dengan hak dan kuasa dari surga. Penginjilan tidak pernah menjadi sukses kalau tidak memperoleh hak yang berasal dari Tuhan sendiri. Penginjilan berhasil karena mengerti di mana inti hak dan kuasa itu. Jikalau kita makin banyak memegang kuasa di dalam tangan kita sendiri, makin tidak ada kuasa dari diri kita untuk melepaskan orang dari tangan setan. Jika kita memegang kuasa organisasi dan kebanggaan diri pribadi belaka makin tidak ada kuasa untuk menghantam setan yang mencengkeram orang berdosa. Kalimat ini penting sekali bagi mereka yang betul-betul mau dipakai di dalam melayani Tuhan. Pada waktu engkau mengerti bahwa demi Injil, demi Tuhan, engkau menyerahkan hak, itulah saatnya engkau memperoleh hak yang lebih besar dari Tuhan. Bagaimana kita bisa mempertahankan kuasa? Kalau kita tidak gila hormat, tidak gila kuasa dan hak yang ada pada kita yang kita anggap patut kita terima.

Paulus dengan jelas mengatakan di sini, “aku adalah seorang yang mengabarkan Injil.” Pengabaran Injil adalah pelayanan inti yang harus ditunjang oleh pelayanan yang lain dan mempengaruhi pelayanan yang lain, sehingga apa yang kita perbuat adalah demi Injil. Dengan demikian kita harus bertanya: Siapakah penginjil itu? Apakah hanya mereka yang lulus dari sekolah theologi saja? Apakah mereka yang hanya mengabarkan Injil dari mimbar saja? Alkitab memberitahukan kepada kita penginjil adalah mereka yang membawa kabar kesukaan. “Betapa indahnya kaki-kaki mereka…” (bdk. Yes. 52:7, Rm. 10:15). Berarti di sini penginjil harus kita mengerti sebagai orang yang bertindak sesuai dengan Injil. Jikalau yang dibicarakan Injil, tapi yang dilakukan bukan Injil, ia bukan penginjil yang sejati. “Kaki-kaki mereka begitu indah”, berarti terletak pada apa yang kau jalankan dan laksanakan lebih dari apa yang kau bicarakan.

Siapakah kaum Injili yang murni dan sejati? Karl Barth menulis satu buku berjudul, “Theology of Evangelism” atau “Evangelical Theology.” Pada waktu membacanya saya diliputi oleh tanda tanya yang besar, mengapa seorang seperti Karl Barth bisa menulis buku tentang theologi penginjilan atau theologi kaum Injili padahal ia bukan kaum Injili? Orang Injili hampir semua tidak mengaku Karl Barth golongan Injili. Siapakah sebenarnya kaum Injili? Apakah orang yang pergi ke sana-sini membagi traktat dan mengabarkan tentang Yesus Kristus? Kalau dari fenomena kelihatannya memang Injili, tetapi kalau dilihat kembali apa tujuan mereka menginjili ternyata mereka hanya propaganda gedung gereja dan denominasi mereka belaka, supaya golongan mereka boleh berkembang. Tetapi kalau menerima Injil dan masuk gereja lain, mereka tidak terlalu senang. Kalau demikian, siapakah kaum Injili? What is the true Evangelical?

Istilah “Evangelical” menjadi begitu penting pada waktu Reformasi. Namun akhirnya pada abad 19 istilah ini tidak vokal lagi. Dan pada abad 20 istilah ini justru konfrontatif dengan kaum Liberal, khususnya pada permulaan abad 20 sampai dengan tahun 30-an. Sehingga akhirnya menghasilkan suatu konklusi untuk menggolongkan seseorang: kalau bukan kaum Liberal, berarti kaum Injili; kalau bukan Injili berarti Liberal. Tetapi sesudah tahun 60-70an istilah ini sudah diterima baik. Tahun 1966 di Berlin, tahun 1968 di Singapura, tahun 1974 di Lausanne, tahun 1983 dan 1986 di Amsterdam, tahun 1989 di Manila, semua konferensi penginjilan seluruh dunia menjadi momen-momen yang penting. Di Lausanne tahun 1974 berkumpul 4.000 pemimpin Injili seluruh dunia, lebih besar jumlahnya daripada yang hadir di forum PBB. Tahun 1989 di Lausanne II (Manila) bahkan semua grup Timur seperti Rusia, Yugoslavia ikut serta.

Dalam perkembangan ini gereja merasa kaum Injili penting sekali tetapi saya tidak mau puas dan terus menuntut dengan pertanyaan yang tajam: siapakah kaum Injili yang sejati? Jika kita berani menamakan diri Reformed Injili, apakah artinya Injili? Melalui adanya STRII Jakarta, STRI Surabaya, dan STRI Malang, saya ingin bertanya: istilah Reformed sudah banyak dimengerti, tetapi apakah istilah Injili sudah digarap dengan baik? Saya katakan: tidak. Kita masih timpang, lebih pentingkan Reformed tapi kurang pentingkan Injili.

Siapakah kaum Injili? Bagaimanakah menjadi kaum Injili yang sejati? Saya membagi 5 macam kaum Injili:
1. Traditional Evangelical
Orang yang dibesarkan di dalam tradisi gereja Injili. Mereka hanya tahu Injil itu baik tapi tidak tahu Injil itu apa. Begitu banyak gereja di Indonesia yang memakai label atau denominasi Injili, seperti GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa), GMIT (Gereja Masehi Injili Timor), GMIST (Gereja Masehi Injili Sangir Talaud). Gereja-gereja yang memakai label Injili ini adalah gereja Protestan. Namun kalau engkau kunjungi engkau tidak mendengar ada Injil, orangnya tidak mengabarkan Injil. Inilah Injili tradisi. Karena dilahirkan dalam satu gereja Protestan yang pada permulaannya ada semangat Injili, maka mengaku diri Injili juga. Ini bukan kaum Injili yang sejati. Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga Kristen dianggap otomatis Kristen. Tetapi di dalam kerajaan Allah, hanya mereka yang diperanakkan pula oleh Roh Kudus adalah orang Kristen yang sejati. (Billy Graham mengatakan, “kalau demikian orang yang dilahirkan di dalam garasi otomatis jadi mobil.”) Orang yang dilahirkan dalam keluarga Kristen boleh mendapat berkat lebih banyak daripada orang lain, sejak kecil boleh dididik di dalam ajaran Kristen tapi kecuali dia sendiri betul-betul mendalami Injil dan diperanakkan pula di dalam kerajaan Allah oleh kuasa Roh Kudus, ia belum menjadi orang Kristen yang sejati. A traditional Christian is not a true Christian.

2. Ideological Evangelical
Orang Injili ideologis yaitu mereka yang mengenal, mempelajari, bahkan sampai mengetahui akan struktur pikiran dan semua theologi di dalam ide-ide Injili. Mereka belajar di dalam sekolah theologi Injili, mereka menyetujui segala pemahaman dari iman Injili, mereka mengerti secara kognitif dan rasional akan Injili dan menyetujui doktrin-doktrin Injili. Tetapi bagi saya meskipun mereka lebih baik daripada golongan pertama di atas, mereka tetap bukan kaum Injili yang sejati. Hanya semacam pengertian di otak, ‘aku setuju, aku mengerti, aku sudah belajar, aku tahu, bahkan bisa menulis buku tentang apa itu Injili’, tapi bagi saya engkau tetap bukan Injili yang sejati.

Pada waktu saya berumur 10 tahun, saya pernah belajar piano di bawah seorang pendeta. Pendeta itu begitu pandai belajar dan mengerti bahasa asli Alkitab, baik Gerika maupun Ibrani. Pada waktu saya berumur 17 tahun, pendeta ini menunjukkan satu buku yang ia tulis mengenai Parakletos, yaitu Roh Kudus. Namun pada waktu saya berumur 24 tahun, saya mendengar kabar pendeta itu tidak lagi menjadi orang Kristen. Ia pergi bertapa di satu gunung di Jawa Tengah sampai mati di situ. Ia meninggalkan Kekristenan sama sekali. Ia begitu hafal kitab suci, mengetahui banyak tentang theologi, bahkan menulis buku tentang Roh Kudus. Tetapi akhirnya ia tidak percaya kepada Roh Kudus, ia tidak percaya Yesus Kristus. Ia hanya mempunyai pengertian di otak tetapi tidak di hatinya dan jiwanya. Sebab itu saya kira tidak sulit bagi orang untuk menulis tentang “Evangelical Theology” yang begitu indah, bisa menulis thesis dan paper mengenai penginjilan dan apa itu Injil, tapi sesungguhnya orang yang demikian belum menjadi orang Injili yang sejati.

3. Empirical Evangelical
Orang-orang yang mengalami digarap oleh Injil. Kelompok ketiga ini jauh lebih baik daripada yang pertama dan kedua. Mungkin di dalam suatu kebaktian Tuhan bekerja dengan kuasa Injil mengubah engkau; mungkin melalui buku atau traktat, Roh Kudus menggugah hatimu untuk bertobat dan meninggalkan dosamu, menerima Yesus Kristus. Mungkin juga melalui suatu peristiwa khusus di mana tidak ada teori atau khotbah yang bisa melakukan, engkau merasa dipukul Tuhan sehingga engkau harus rendah hati dan bertobat mengalami kuasa Injil. Martin Luther termasuk orang semacam ini. Pada suatu hari di tengah-tengah hujan besar, Luther berjalan bersama temannya. Tidak lama kemudian halilintar menyambar temannya yang tewas seketika itu juga. Luther sadar betapa kecilnya manusia. Ia langsung rebah di sana dan meminta pengampunan dosa. Dan suatu perasaan yang begitu dahsyat menyebabkan dia bertobat dan mengenal kuasa Tuhan. Pada suatu hari ia pergi ke kota Roma untuk berziarah. Ia mengira kota Roma itu begitu rohani dan banyak orang suci. tapi pada waktu ia sampai di sana baru ia sadari begitu banyak kerusakan dan korupsi serta kemunafikan, dosa kecongkakan dan keadaan yang begitu tidak sesuai. Di tengah kekecewaan ia mengatakan, “sudah berapa lama saya berusaha berjuang menyiksa diri dengan asketisisme untuk mendapat berkat dan anugerah Allah.” Akhirnya ia sadar dengan satu kalimat dari Roma 1:17, “Orang benar akan hidup bukan karena kelakuan dan hidup menyiksa diri, tetapi karena iman.” Pengalaman Injil itu menyebabkan ia berubah total. Sesudah menerima pekerjaan Roh Kudus, ia sadar akan Injil. Kesadaran dan pengalaman ini memasukkan ia ke dalam kelompok ketiga.

Saya tidak tahu ada berapa orang di antara kita yang mengalami kuasa Injil yang mengubah dirimu. Mengapa ada orang Kristen seumur hidup tidak pernah membawa satu orangpun kepada Tuhan dan malah sebaliknya menyebabkan orang satu persatu keluar dari gereja karena tersandung olehnya? Mengapa ada orang yang baru Kristen tiga tahun tapi sudah berbuah banyak, sedangkan yang sudah begitu lama malah tidak berbuah? Ada sesuatu yang salah. Kita harus menyelidiki, introspeksi dan menghakimi diri sendiri akan hal ini. Orang yang berani menghakimi diri sebanyak mungkin makin membuktikan ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Penghakiman yang destruktif dan menghancurkan iman kita datangnya dari setan, tetapi introspeksi dan penghakiman yang konstruktif adalah pekerjaan Roh Kudus. Orang yang mengalami kuasa Injil hingga mengalami perubahan dan orang yang belum pernah mengalami kuasa Injil dan belum pernah mengalami perubahan itu berbeda. Karena orang yang sudah mengalami kuasa Injil suka membagi-bagikan, suka orang lain juga sama-sama mendapatkan kuasa Injil itu pula. Sudahkah engkau mengalami hal itu? Sudahkah engkau mengalami perubahan sehingga orang lain melihatmu lalu ingin menjadi orang Kristen pula?

4. Pragmatical Evangelical
Orang Injili yang pragmatis. Orang seperti ini secara praktis memberikan pelayanan kepada orang lain, menginjili, membagi traktat, mengundang orang ke gereja, dsb. Hal ini selalu terjadi pada diri orang yang baru bertobat. Orang yang baru bertobat merasa sudah sewajarnya dan seharusnya memberitakan Injil kepada orang lain. Tanpa perlu disuruh, tidak perlu dilatih, tak usah dipaksa langsung mengetahui bagaimana membagikan kabar baik kepada orang lain. Ia memberanikan dan mendorong diri untuk hal itu. Saya senang sekali melihat orang Kristen baru dan melihat pengalaman mereka membawa jiwa baru untuk mengenal Injil melalui pelayanannya. Mari kita kembali mengoreksi diri apakah kita sudah kehilangan cinta kasih semula seperti itu? Saya harap sampai saya mati jiwa untuk Injil tetap bebannya sama seperti hari pertama saya menerima Tuhan. Tuhan bisa memelihara negkau dan saya. Masih ingatkah kali pertama engkau begitu giat memberitakan kepada orang lain, tidak ada waktu untuk mengeritik gereja di sana-sini? Yang ada adalah perasaan yang sama seperti Paulus, “Celakalah aku kalau tidak mengabarkan Injil.” Itu adalah semacam pengaliran hidup yang begitu natural dan otomatis sehingga tidak ada paksaan dan kesulitan yang dipertahankan untuk mengabarkan Injil.

Tetapi di dalam hal keempat ini saya minta saudara perhatikan, orang yang langsung mengabarkan Injil karena semangat hidup baru harus mendapatkan pengertian yang seimbang akan Injil dan kegiatan penginjilan, pengertian Injil yang disesuaikan dengan kegiatan penginjilan. Dengan demikian pertumbuhan kerohaniannya akan sehat. Sebab kalau tidak, mungkin akan timbul dua macam gejala yang berbahaya:
a. Penginjilannya berhasil tapi pertumbuhan rohaninya tidak memadai, ia akan menjadi orang yang congkak dan menghina orang Kristen yang lain. Sejarah membuktikan barangsiapa menjadi orang Kristen yang berkobar-kobar mengabarkan Injil, pasti diundang ke sana-sini, laku sekali tapi tidak ada waktu belajar. Sudah terlalu laku sehingga menjadi sombong dan menghina orang Kristen lama, sehingga macet di situ tidak pernah tumbuh lagi. Banyak penginjil yang khotbahnya itu-itu saja berpuluh-puluh tahun. Lalu mengira Kekristenan hanya ini saja. Padahal apa yang ia beritakan hanya sebagian kecil saja dari pengertian kitab suci yang begitu limpah, yang kalau tidak digali engkau kira hanya sebegitu saja. Engkau tidak maju-maju. Saya kira Kekristenan di Indonesia sudah dilanda oleh semacam tahayul di mana orang tidak percaya Kekristenan lebih banyak daripada yang ia mengerti. Lalu ia akan katakan, “Semua pendeta kalau khotbah sama saja isinya.” Pada waktu menyelidiki sampai begitu dalam baru tahu ternyata betul-betul tidak sama! Satu ayat yang sama, 10 pendeta khotbahkan pasti berlainan isinya. Apalagi kalau yang khotbah tidak berdasarkan ayat, tapi melenceng ke kanan ke kiri. Tapi engkau yang menggali ayat itu sampai mendalam baru akan menyadari limpahnya ayat itu lebih daripada apa yang kita mungkin pikirkan.
b. Jika pengertiannya tidak bertumbuh, waktu penginjilannya gagal, ia akan langsung mencurigai dan bimbang akan Tuhan yang ia percaya dan akan macet di dalam pelayana selanjutnya. Kedua hal ini amat berbahaya!

Dengan demikian kita melihat perlu adanya pengertian yang seimbang dengan kegiatan penginjilan. Kalau engkau sudah banyak melakukan penginjilan tapi tidak mau belajar baik-baik, berhentilah dari kegiatanmu itu. Kenapa engkau hanya mau jadi pemimpin, mau hanya jadi pengkhotbah didengar banyak orang tapi waktu disuruh belajar tidak mau?

Petrus mengatakan, biarlah kamu bertumbuh dan bertambah-tambah di dalam anugerah dan pengertian. Pengertian macam apa? Aktivitas harus bertumbuh bersama pengetahuan dan pemahaman akan firman Tuhan. Di dalam pengertian yang bertambah, kegiatan jangan luntur; di dalam kegiatan bertambah, penuntutan akan pengertian firman jangan kendor. Inilah yang harus kita kerjakan mempersiapkan generasi muda untuk menyambut abad 21 dengan bobot yang berlainan dengan apa yang kita lihat pada abad 20 di Indonesia.

Yang disebut Injili Pragmatis adalah mereka yang tidak mau mengerti dan tidak mau belajar dan peduli akan theologi, pokoknya hanya mau tahu secara pragmatis apa yang bisa dipakai untuk mengabarkan Injil, cukuplah. Bagi mereka yang penting asal orang yang diinjili menerima Tuhan, tidak peduli theologinya Reformed-kah, Armenian-kah, Pentakosta-kah, Kharismatik-kah, Katolik-kah. Khotbah ngawur tidak apa-apa, asal orang bisa jadi Kristen. Kabar Kekristenan seperti ini mau jadi apa? Yesus yang bagaimana yang dikabarkan?

Pragmatical Evangelical di dalam penginjilan memakai segala cara asal orang mau jadi Kristen. Kepastian dari iman kepercayaan tidak pernah dibagikan oleh mereka. Kita harus memberikan kepastian di dalam Kristus ada hidup kekal, Kristus adalah jalan satu-satunya menuju surga, di dalam Kristus ada kepastian keselamatan dengan pengampunan dosa dan kesukaan yang sejati.

5. Integrated Evangelical
Orang yang mengintegrasikan theologi, visi, pengalaman dan kepekaan pimpinan Tuhan di dalam aktivitas penginjilan.
Inilah kaum Injili yang sejati, yaitu mereka yang betul-betul mengerti rencana Allah di dalam kekekalan berdasarkan theologi yang benar.
a. Integrasi dengan Theologi
Rencana kekekalan Allah harus ditetapkan di dalam proses dinamis dari sejarah. Eternal decree, eternal planning of God, and the process of dynamic history must be integrated. “Tuhan, aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu. Aku mengabarkan Injil yang sudah Engkau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Aku mencari kaum pilihan yang sudah Engkau pilih sebelum dunia diciptakan, melalui kuasa Injil mengubah dan menyatakan mereka adalah milik-Mu melalui pertobatan.” Dengan demikian theologi diterapkan di dalam kegiatan penginjilan.

b. Integrasi dengan Visi
Tuhan memberi mandat beban tertentu, bagaimana kita harus kerjakan sesuai dengan visi itu.

c. Kepekaan pimpinan Tuhan
Roh Kudus memimpinmu untuk mengerjakan apa. Dari bakat yang kau miliki dan kebutuhan sekitar ada encounter, dari kemungkinan kesanggupan pikiranmu dengan apa yang dibutuhkan levelnya cocok. Dengan demikian engkau akan efektif dan betul-betul berhasil di dalam penginjilan. Peka akan pimpinan Roh Kudus dan apa yang sesuai untuk kau kerjakan. Orang yang demikian sensitif akan pimpinan Tuhan salah satunya di dalam Alkitab adalah Filipus (Kis. 8). Ia adalah penginjil. Bukan rasul, ia tidak sebesar Petrus, Paulus, Barnabas. Ia adalah seorang yang begitu sederhana tetapi begitu peka akan pimpinan Roh Kudus. Pelayanannya sukses besar di tanah Samaria, namun pada waktu Roh Kudus mengatakan kepadanya, “Aku akan membawa engkau ke tempat yang sunyi di padang belantara.” Filipus mau pergi karena ia peka pimpinan Tuhan.

Di sini mungkin banyak orang bisa garap, di sana hanya engkau yang bisa, engkau mesti pergi. Kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus menjadikan kita efektif dan bisa dipakai di dalam tangan Tuhan menurut rencana yang ditetapkan dari awal. Ini amat penting. Kaum Injili bukan hanya orang yang bisa tulis thesis lalu dapat nilai A, atau dapat summa cum laude. Seorang Injili bukan seorang yang dari dulu nenek moyang sudah Injili maka otomatis menjadi Injili juga. Seorang Injili bukan hanya karena sudah pernah mengalami pertobatan dan menangis di hadapan Tuhan. Injili juga bukan asal ketemu orang berikan traktat dan ajak orang ke gereja. Seorang Injili yang sejati mengintegrasikan 3 hal penting di atas: mengerti firman Tuhan dengan baik dan limpah, mempunyai theologi yang benar, mempunyai visi yang jelas dari Tuhan apa yang harus dikerjakan; mematuhkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus secara peka dan taat; betul-betul berapi dari Kalvari untuk membagikan cinta Tuhan kepada orang lain, true concern, true love to others, bukan hanya di dalam teori dan perkataan tetapi di dalam kelakuan dan perbuatan yang sesungguhnya mencintai orang lain. Rela mengorbankan diri.

Kalau ketiga hal ini sudah diintegrasikan ke dalam tindakan aktifitas pelayanan penginjilan, itulah orang Injili yang sejati. Saya tidak menggabungkan hal social concern. Itu adalah buah Injil atau persiapan hati untuk menerima Injil, tapi bukan Injil. Hal yang menjadi pre evangelization ataupun post evangelization beda dengan evangelization. Kaum Injili tidak akan menggabungkan persiapan dan follow up pada penginjilan. Penginjilan adalah penginjilan. Penginjilan harus dilakukan dengan pengertian firman dan renaca yang kekal. Penginjilan harus dilakukan dengan visi dan mandat yang Tuhan berikan sebagai panggilan pribadi. Penginjilan harus dikerjakan dengan api yang mau membagikan pengalaman pribadi kepada orang lain. Barangsiapa mengabarkan Injil, membawa orang bukan Kristen untuk mengenal Kristus, membawa mereka mengalami perubahan, inilah Injili yang sejati. Kalau engkau pandai mengajar orang lain, berkhotbah, tapi secara pribadi tidak memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan tidak mencari pimpinan Tuhan, saya anggap engkau bukan kaum Injili yang sejati. Di dunia tidak kurang orang yang mengerti apa itu Injil bahkan bisa mengajar penginjilan di dalam sekolah theologi, tapi kurang orang yang betul-betul mendekati orang berdosa dan memperkenalkan Kristus dengan cinta kasih membawa mereka satu persatu kepada Tuhan.

Kiranya ini menjadi pedoman bagi pelayanan kita masing-masing dan Tuhan memberkati kita untuk berbuah banyak dalam kerajaan-Nya.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 22 – April 1994

Reposted by Samuel Desfortin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s