Category Archives: Artikel Renungan

9 Fitnahan terhadap Calvinisme

Reposted by Desfortin
9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 1
Pendahuluan
Pada awalnya saya tertarik pada artikel yang ditulis oleh Bpk. Dr. Suhento Liauw ( kemudian saya singkap SL)karena pandangannya yang kristis terhadap ajaran kharismatik baik melalui websitenya maupun buletin Pedang Roh-nya. Saya tertarik karena hanya sedikit hamba Tuhan yang berani secara terang-terangangan mengritisi ajaran karismatik yang sedang trend tersebut. Pada umumnya banyak hamba Tuhan yang kompromi dengan ajaran karismatik.
Namun ketika membaca buletin Pedang Roh No. 55 , ketertarikan tadi berubah menjadi tidak simpatik, mengapa? Bagi orang yang belum mengenal lebih dalam tentang Jhon Calvin ( JC) dan teologinya (Calvinisme) akan dimungkinkan menerima penjelasan SL sebulat-bulatnya dan dianggap benar. Tetapi bagi mereka yang sudah membaca biografi Calvin dan mempelajari teologinya dengan sungguh-sungguh, maka uraian yang disampaikan oleh SL tentang JC dan Calvinisme hanya menunjukkan ketidaktahuan atau pengetahuan yang dangkal tentang JC dan Calvininisme yang berujung pada berbagai fitnah. Saya sebut fitnah karena apa yang disampaikan oleh SL tentang JC dan Calvinisme sama sekali tidak sesuai dengan fakta dan kebenaran yang ada. Apalagi sampai mengatai Calvin dan penganut Calvinisme sebagai orang “sinting” dan kata ejekan yang lainnya, yang bagi saya tidak layak diucapkan sebagai seorang hamba Tuhan.
Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan oleh SL adalah tidak benar dan sekaligus menunjukkan yang sebenarnya. Disamping itu saya juga ingin mencoba mengritisi beberapa ajaran dari SL yang menurut saya tidak sesuai dengan maksud firman Tuhan.
Sesungguhnya saya yang bodoh dan tidak pernah sekolah teologia ini tidak layak dan tidak pantas untuk mengritisi Bapak SL yang adalah seorang doktor teologia sekaligus pendiri dari sebuah teologi, tetapi karena 1Pet 3:15 berkata: “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”, maka saya akan mempertanggunggjawabkan kebenaran yang saya yakini. Selain itu saya tidak menerima seorang Jhon Calvin yang saleh dan telah menjadi berkat bagi jutaan umat Tuhan diejek begitu rupa. Saya tidak bermaksud mendewakan Jhon Calvin dan ajarannya karena Jhon Calvin sendiri menolak dan tidak suka diperlakukan seperti itu, tetapi saya hanya ingin menyatakan kebenaran yang telah Tuhan bukakan ada Jhon Calvin supaya mereka yang menyalahpahami Jhon Calvin dan ajarannya menjadi tahu yang sebenarnya.
Untuk membantah fitnahan dari Dr. SL tentang JC dan Calvinisme, saya akan menggunakan beberapa tulisan / buku dari John Calvin, R.C. Sproul (seorang penentang keras Calvinisme yang akhirnya bertobat menjadi pengajar dan pembela Calvinisme) dan Bpk. Budi Asali terutama dari bukunya “Calvinisme yang Difitnah”, dan beberapa artikel lainnya, dan tentu saja hikmat dari Tuhan.
Akhirnya, biarlah pembaca sendiri yang menentukan apakah John Calvin dan Calvinisme yang tidak alkitabiah atau sebaliknya SL dan Arminianisme yang melenceng dari Alkitab.
Jawaban saya merupakan jawaban yang sederhana karena saya tidak pernah sekolah teologia. Untuk mendapatkan jawaban yang lengkap dan mendalam silahkan memcaca buku/artikel “Calvinis yang Difitnah yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali di

http://www.members.tripod.com/gkri_exodus/p_5pnt00.htm

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 1

Fitnah I
SL : “John Calvin bikin kesalahan ketika ia berkata bahwa Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa” ( Pedang Roh 55 halaman 02 kolom 2 baris 3-5)
Bantahan :
Benarkah JC dan Calvinisme mengatakan bahwa Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa? Apakah ini bukan kesimpulan yang salah dari SL terhadap ajaran Calvin / Calvinisme?
Saya yakin pernyataan di atas adalah kesimpulan yang salah dari SL yang memahami secara salah doktrin Provedensia Calvin. Mungkin dalam pandangan SL , Calvin mengajarkan bahwa karena segala sesuatu yang terjadi sudah ditetapkan Allah sebelumnya dan oleh karena itu manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menolak apa yang terjadi padanya (seperti robot), sehingga pada saat manusia berdosa, dosa tersebut disebabkan karena memang Allah mengendakinya, sehingga Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa berdosa. Jelas ini bukan ajaran Calvin dan Calvinis, bahkan boleh dikatakan sebagai anti Calvinis.
Lalu bagaimana pandangan yang sebenarnya dari John Calvin dan kaum Calvinis tentang tuduhan bahwa “Allah pencipta / penyebab dosa ini?
1. Pernyataan John Calvin yang sebenarnya.
Berkut ini adalah pernyataan John Calvin ketika menafsirkan Kejadian 45: 5 – 8 :
“Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia lakukan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, tetapi ditengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan”
Dari pernyataan Calvin di atas jelas bahwa pernyataan “Allah pencipta dosa” adalah keluar dari orang-orang yang tidak memahami doktrin “Providence Allah” (pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana.)
Bahkan Calvin menyatakan bahwa pernyataan Allah sebagai pencipta dosa merupakan sesuatu yang tidak senonoh dan menjijikkan.
2. Tanggapan dari kalangan Calvinis / Reformed
Ketetapan Allah yang kekal memang memberi peluang kemungkinan masuknya dosa ke dalam dunia, tetapi kenyataan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah penyebab dosa dalam arti bahwa Allah adalah pembuat yang bertanggung jawab atas terjadinya dosa itu. Pengertian bahwa Allah adalah pencipta yang bertanggung jawab atas dosa dalam dunia tidak pernah disebutkan dalam Alkitab. “Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang.” (Ayb 34:10). Ia adalah Allah yang kudus (Yes 6:3) dan sama sekali tidak ada ketidakbenaran dalam Dia (Ul 32:4 Mzm 92:16). “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” (Yak 1:13). Ketika Allah menciptakan manusia maka Ia menciptakannya dengan baik dan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Allah sangat membenci dosa, Ul 25:16; Mzm 5:4; Zakh 8:17, Luk. 16:15, dan di dalam Kristus Ia memberikan jaminan kebebasan manusia dari dosa. Berkenaan dengan semua ini maka jelas merupakan suatu penghujatan jika kita mengatakan bahwa Allah adalah pembuat dosa. Dan atas alasan itulah semua pandangan deterministik yang menganggap bahwa dosa merupakan natur yang harus ada dalam diri manusia harus ditolak. Pandangan deterministik ini pada penerapannya menjadikan Allah sebagai pembuat dosa, dan dengan demikian bertentangan dengan suara hati yang mengakui tanggung jawab manusia.
(Berkhof, Louis. TEOLOGI SISTEMATIKA 2: DOKTRIN MANUSIA. Jakarta: LRII, 1993)
Secara ringkas pernyataan resmi dari kaum Calvinis tentang “Allah penyebab/pencipta dosa adalah sebagai berikut:
“Allah, dari segala kekekalan, bertindak berdasarkan kehendak-Nya yang bijaksana dan kudus, dan tanpa perubahan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi. Namun demikian itu sama sekali tidak berarti bahwa Allah adalah penyebab/pencipta dosa, dan penyebab dari kejahatan yang ada alam kehendak ciptaan. Allah tidak mengambil kemerdekaan dari penyebab kedua, malahan meneguhkan-Nya.”
(Sproul, R.C. Kaum Pilihan Allah: Malang: SAAT ,2003)
Perhatikan, Reformed meneguhkan kedaulatan Allah atas segala sesuatu dan menandaskan bahwa Allah tidak berbuat kejahatan dan melanggar kebebasan manusia. Kebebasan manusia dan kejahatan ada di bawah kedaulatan Allah.
Kesimpulan : John Calvin tidak pernah menyatakan bahwa Allah penyebab / pencipta dosa (termasuk dosa Adam dan Hawa), dan bahkan sebaliknya mengatakan bahwa pernyataan seperti tersebut adalan sesuatu yang tidak senonoh, menjijikkan, dan merupakan suatu penghujatan.

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya
Bag. 3

FITNAH II
(a) Kegagalan utama calvinisme ialah pada pemahaman mereka terhadap manusia yang Allah ciptakan. Mereka gagal memahami Adam sebagai manusia berakal budi dan berperasaan serta berkehendak bebas. (b) Itulah sebabnya John Calvin memaksakan kehendaknya kepada penduduk kota Genewa karena ia berpikir bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya kepada semua ciptaan-Nya. ( Pedang Roh 55, hal 02 kolom 2 baris 10 – 18 – huruf (a) dan (b) saya tambahkan untuk memudahkan pembahasannya.
a. Benarkah John Calvin dan Calvinisme mengajarkan bahwa karena Allah sudah menentukan segala sesuatu yang sedang dan akan terjadi maka Adam tidak punya akal budi, tidak punya perasaan, dan tidak punya kehendak bebas sehingga ia bertindak seperti robot? Atau dengan kata lain Allah adalah tukang main paksa?
b. Betulkan John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada kota Genewa?
Bantahan:
a. Sekali lagi pernyataan pada point (a) di atas hanyalah menunjukkan kegagalan Dr. SL di dalam memahami doktrin-doktrin Calvinisme. Berikut ini adalah pandangan John Calvin tentang manusia, akal budi, perasaan, dan kehendak bebasnya. Silahkan menilai sendiri bagian mana yang tidak Alkitbiah dan andingkan dengan pandangan Dr. Suhento yang lebih condong ke pandangan para filsuf kafir ketimbang pada pandangan Alkitab!
Dosa telah masuk dan mendominasi seluruh umat manusia dan menguasai setiap jiwa. Selanjutnya kita akan meliliat apakah dosa telah merusak kebebasan kehendak kita. Bagaimana pandanganan para filsuf dan teolog mengenai hal ini? Para filsuf mengajarkan bahwa kehendak manusia itu bebas dan untuk taat kepada rasio atau kepada godaan nafsu. Jika ia memilih untuk taat kepada rasio ia akan mencapai kebebasan, sebaliknya jika ia tunduk kepada nafsu ia akan terperangkap. Namum pada dasarnya manusia diakui memiliki kebebasan dari dirinya untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Tidak seorang pun penulis Kristen awal yang tidak mengakui bahwa rasio dan kehendak manusia telah dicemari oleh dosa, tetapi banyak yang secarakompromistis mengikuti pandangan para filsuf. Mereka mengajarkan manusia seakan-akan masih memiliki kuasa atas dirinya, dan memiliki kehendak bebas untuk memilih dan melakukan apa yang benar, walaupun kemampuan itu telah demikian lemah, sehingga hanya dapat dilakukan melalui bantuan anugerah Allah.
Apa artinya ketika manusia dikatakan memiliki kehendak bebas? Pengertian yang benar ialah bukan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih apa yang baik dan jahat, tetapi bahwa dia melalui kejahatan dengan sukarela dan tanpa paksaan. Jika demikian, kebebasan apakah yang ia miliki? Kebebasan kehendak dari seorang budak yang telah ditawan oleh kuasa dosa. Mengenai kehendak bebas ini, Augustinus tidak segan untuk menyebutnya sebagai “kehendak budak”,walaupun ia juga mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap orang yang menyangkal kehendak bebas untuk membebaskan diri mereka dari tanggung jawab perbuatan dosa mereka.
Augustinus menegaskan bahwa kehendak manusia itu tidak bebas karena ia tunduk kepada nafsunya. Kehendak yang telah ditawan oleh dosa ini tidak dapat berbuat apa-apa bagi kebenaran. Kehendak ini tidak bebas kecuali oleh anugerah Allah. Dan jika kita adalah budak dosa, mengapa kita menyombongkan diri dengan berkata memiliki kehendak bebas? Orang bisa saja mengatakan bahwa kehendaknya bebas, tetapi bukan yang dimerdekakan: ia bebas dari kebenaran dan diperbudak oleh dosa.
Selain Augustinus, para penulis lain umumnya menangani pokok masalah ini secara ambigu sehingga tidak ada sesuatu yang dapat dipelajari dari mereka. Kadang mereka mengajarkan kehendak telah demikian dirusak oleh dosa, sehingga manusia sepenuhnya bergantung kepada anugerah Allah, tetapi di lain kesempatan mereka menjelaskan manusia sepertinya memiliki segala kemampuan dari dirinya sendiri untuk melakukan apa yang benar. Dengan menyadari kengerian keadaan kita yang celaka, miskin dan telanjang ini, kita akan mendapatkan manfaat dari pengetahuan akan diri ini, karena mencegah kita untuk mengandalkan diri sendiri, sebaliknya hanya mengandalkan Tuhan semata-mata (Yer. 17:5 dan Mz. 147:10). Karena prinsip dasar agama ialah kerendahan hati, maka semakin sadar akan kelemahan kita, semakin kita mengandalkan anugerah Allah bagi kita. Doktrin ini mengingatkan kita untuk tidak bersandar kepada kebenaran kita sendiri, tetapi kepada kebenaran Allah, dan bahwa kita yang tidak apa-apanya ini hanya dapat bersandar kepada anugerah Allah untuk dapat melakukan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya.
Karunia alamiah manusia, seperti rasio dan kehendak, walaupun mengalami kerusakan yang parah namun tidak hilang bersamakejatuhan. Karunia alamiah seperti rasio, itulah yang memampukan kita untuk membedakan yang benar dan salah, dan yang menjadikan kita makhluk rasional yang mengatasi binatang. Demikian juga kehendak kita tetap tidak terhapuskan oleh dosa. walaupun akibat kerusakannya yang parah ia kini
telah demikian terikat oleh keinginan-keinginan liar dan bukannya mencari apa yang benar.
Pengertian manusia dapat dibagi menjadi pengetahuan mengenai hal-hal bumi (berkenaan dengan kehidupan di bumi, seperti pemerintahan sipil, ekonomi domestik, semua keahlian teknis dan berbagai bidang ilmu dan hal-hal surgawi (pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya dan peraturan-Nya bagi kita supaya kita hidup sesuai dengan ini). Kemampuan untuk mendapatkan semua pengertian ini merupakan apa yang telah ditanamkan oleh Allah dalam diri kita. Walaupun kita tidak mampu mempelajari semua ilmu dan keahlian, tetapi kepada setiap orang Allah memberi keunggulan dalam bidang tertentu.
Semua kemampuan luar biasa yang ditunjukkan oleh para penulis dan filsuf kafir baik mengenai politik, hukum, matematika dan pengobatan, merupakan pencapaian yang sangat mengagumkan, namun semua itu harus kita akui berasal dari Allah, yang oleh Roh-Nya memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki, seperti ketika Ia memberikan kepada Bezaleel dan Aholiab kemampuan untuk membangun Kemah Suci (Kel. 31:2-11; 35:30-35). Karena itu, adalah hal yang berkenan Allah jika kita mempelajari fisika, logika, matematika dan berbagai bidang ilmu dan kaiya seni yang dikerjakan oleh orang-orang kafir dan menggunakan dalam cara memuliakan Allah. Semua karunia luar biasa yang menjadikan kita mengungguli binatang ini harus kita akui sebagai pernyataan kebaikan Allah dan mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya dan bukannya justru menyombongkan diri.
Karunia rohani untuk mengetahui yang benar dan salah telah hilang dan baru akan dipulhkani melalui kelahiran baru. Mengenai hikmat rohani yang terdiri dari pengetahuan akan Allah, kasih-Nya kepada kita dan hukum Allah, kita hanya memiliki pengertian yang sangat dangkal. Sebagian penjelasanpara filsuf mengenai Allah sepertinya memberikan pengetahuan mengenai Allah, tetapi semua itu hanyalah imajinasi manusia yang membingungkan. Rasio manusia tidak bisa mencapai kebenaran ilahi untuk mengenai Allah sejati itu. Berkenaan dengan hal-hal ilahi, pengertian kita gelap, buta dan bodoh. Sehingga untuk mengenai Allah dengan benar kita membutuhkan anugrah khusus Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, seperti dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, “tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya. kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yoh. 3:27), atau seperti kata Musa,“matamu telah melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar itu, tetapi sampai sekarang Tuhan tidak memberi kamu akal budi (hati) untuk mengerti” (Ul. 29:3-4). Tanpa iluminasi Roh Kudus, orang-orang ini tidak akan dapat mengerti kebenaran ilahi. Kristus juga mengkonfirmasikan hal ini ketika la menegaskan, bahwa tidak seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia (Yoh. 6:44). Tidak ada jalan masuk ke dalam kerajaan kecuali ia diperbarui oleh Roh Kudus. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini dengan jelas dalam l Korintus 2:14.
Dosa tidak sama dengan ketidaktahuan tetapi dapat disebabkan oleh delusi.Ketika Paulus menegaskan bahwa “dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka” (Rm. 2:14-15), ia mengatakan bahwa orang kafir telah mengetahui kebenaran hukum moral yang terukir dalam hati mereka, dan tidak sama sekali buta mengenai bagaimana mereka seharusnya hidup. Tetapi apa tujuan pengetahuan ini diberikan kepada manusia? “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan dihakimi oleh hukiun Taurat (Rm. 2:12). Karena tidak mungkin bagi orang kafir itu binasa tanpa pengetahuan akan benar dan salah, maka Paulus menunjukkan bahwa hati nurani mereka menyediakan tempat bagi hukum Taurat, karena itu cukup bagi penghakiman yang adil dan manusia tidak dapat berdalih. Dengan kata lain, hati nurani dapat menentukan apa yang benar dan yang salah sehingga manusia tidak dapat berdalih ketika kesalahannya dihakimi. Jadikita menolak pendapatPlato bahwa manusia berdosa karena ketidaktahuan. Betapa sering, orang sebenarnya sudah tahu apa yang lebih baik dan benar tetapi justru memilih melakukan yang salah dan buruk.
Kita tidak dapat menganggap setiap pertimbangan universal mengenai apa yang baik dan salah yang umumya diterirna orang banyak selalu benar dan sempurna. Jika kita memeriksa rasio kita dengan hukum Allah, yang merupakan hukum yang paling sempurna, maka kita akan menemukan banyak hal yang kita hargai adalah hal yang salah. Kita juga menolak pandangan mereka yang mengatakanbahwa semua dosa muncul dari kejahatan yang direncanakan. sebab ternyata kita sering melakukan kesalahan walaupun maksud kita itu baik. Rasio kita dipenuhi dengan penipuan dalam berbagai macam bentuk sehingga tidak mungkin dapat dijadikan sebagai penuntun yang pasti (2Kor. 3:5). Pikiran manusia telali jatuh dalam kesia-siaan (Mz 94:11; Kej. 6:5; 8:21). Dalam kebidupan betapa jelas pikiran kita selalu tertuju kepada hal-hal yang sia-sia.Bahkan setelah dilahirkan kembali kita masih perlu senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah, agar tidak tergelincir dari pengetahuan yang benar. Ini merupakan kesaksian dari Paulus (Kol. 1:9; Flp. 1:4) maupun Daud (Mz. 119:34).
Ketidakmampuan manusia dalam mengingini yang baik: Sekarang kita kembali memeriksa kehendak yang membuat pemilihan. Apakah kehendak kita dalam setiap bagiannya telah demikian dirusak sehingga tidak lagi menghasilkansesuatu yang baik kecuali kejahatan, atau ia masih mempertahankan sedikitbagian yang tidak tercemar yang dapat menjadi sumber keinginan baik. Mendasarkan pada Rm. 7:18-19, sebagian orang mengatakan bahwa kita dapat memiliki kemampuan untuk menginginkan yang baik, hanya terlalu lemah sehingga tidak dilakukannya. Tetapi ini merupakan penafsiran yang keliru, karena apa yang dimaksudkan Paulus dalam ayat itu ialah penjelasan mengenai konflik keinginan daging dan keinginan roh yang terus terjadi dalam batin orang Kristen. Ini sesuai dengan penegasan Kej. 8:21. bahwa apa yang dihasilkan hati manusia hanyalah kejahatan semata. Augustinus mengatakan: Akuilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu kita dapatkan dari Allah: bahwa segala kebaikan yang kita miliki adalah dari Dia. namun apa pun yang jahat berasal dari kita.” Dalam kata lain, ia mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang berasal dari kita, kecualidosa.”
Sumber:
Ready Bread Reformed Evangelical Daily Bible Reading, Artikel Mingguan Minggu ke 28, 29, 30.
Dikutip dari: http://www.geocities.com/thisisreformed/artikrl/institute_kehendakmanusia.html

Kesimpulan :
Baik Calvin maupun Calvinisme mengajarkan bahwa meskipun Allah telah menentukan segala sesuatu, manusia tetap mempunyai kebebasan didalam menggunakan akal budi, perasaan, dan kehendaknya. Akan tetapi semuanya itu berada di bawah kedaulatan dan otoritas Allah. Setelah jatuh manusia jatuh dalam dosa, maka kehendak bebasnya tertawan oleh kuasa dosa sehingga tidak mampu berbuat baik menurut standar Allah.
Jikalau ada bagian dari diri manusia (yang adalah hanya ciptaan Allah) terdapat sesuatu yang berada di luar kedaulatan dan otoritas Allah atau dengan kata lain kehendak bebas manusia berada di luar kontrol Allah maka Allah bukan lagi sebagai Allah, karena Dia tidak berdaulat dan berotoritas mutlak! Dan manusia akan menjadi semi allah atau allah-allah kecil yang dapat menentukan apapun yang mereka kehendaki tanpa ada yang mengendalikannnya bahkan Allah yang menciptakannya! Ajaran yang demikian jelas bertentangan dengan Alkitab. Sebaliknya, pandangan Dr. Suhento tentang kehendak bebas manusia sangat mirip dengan pandangan para filsuf sebelum dan semasa hidup John Calvin di atas!
(b) Saya tidak tahu sumber sejarah mana yang dibaca oleh Dr. Suhento sehingga mengambil kesimpulan bahwa John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada penduduk di kota Genewa. Yang jelas fitnahan terhadap John Calvin ini semata-mata didasari pada persepsi yang salah dari Dr. Suhento terhadap ajaran Calvin, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Dan inilah fakta yang sebenarnya tentang John Calvin dan penduduk kota Genewa.
Bulan Juli 1536, Calvin tiba di Geneva.
“He intended to stop only a night, as he says, but Providence had decreed otherwise. It was the decisive hour of his life which turned the quiet scholar into an active reformer” (= Seperti katanya, ia bermaksud untuk berhenti hanya untuk satu malam, tetapi Providence telah menetapkan sebaliknya. Itu merupakan saat yang menentukan dari hidupnya yang mengubah pelajar pendiam itu menjadi tokoh reformasi yang aktif) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 347.
Di Geneva ini Calvin bertemu dengan William Farel. Sebelum melan-jutkan cerita tentang Calvin, ada baiknya kita mempelajari sedikit tentang Farel ini.
William Farel:
o Ia disebut sebagai ‘the pioneer of Protestantism in Western Switzerland’(= perintis Protestan di Swiss Barat) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.
o Ia adalah seorang penginjil keliling, selalu bergerak / bekerja tanpa henti-hentinya, seorang yang penuh dengan api / semangat dan keberanian, tetapi bukan seorang jenius seperti Luther atau Calvin. Dulunya ia adalah seorang Katolik yang sangat rajin dan bergairah, dan lalu menjadi seorang Protestan yang rajin dan bergairah.
o “He was a born fighter; he came, not to bring peace, but the sword. … He never used violence himself, except in language” (= Ia adalah seorang yang lahir sebagai seorang pejuang; ia datang, bukan untuk membawa damai, tetapi pedang. … Ia sendiri tidak pernah menggunakan keke-rasan, kecuali dalam bahasa / kata-kata) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.
o Ia sampai di Geneva tahun 1532, dan dalam melakukan penginjilan terhadap orang Katolik, timbul keributan. Ia lalu dipanggil ke rumah Abbe de Beaumont, wakil pemimpin keuskupan. Seseorang lalu berkata / bertanya dengan nada menghina: “Come thou, filthy devil, are thou baptized? Who invited you hither? Who gave you authority to preach?” (= Datanglah, setan kotor, apakah engkau dibaptis? Siapa mengundang engkau ke sini? Siapa memberimu otoritas untuk berkhotbah?).
Farel menjawab:
“I have been baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Ghost, and am not a devil. I go about preaching Christ, who died for our sins and rose for our justification. Whoever believes in him will be saved; unbelievers will be lost. I am sent by God as a messenger of Christ, and am bound to preach him to all who will hear me. I am ready to dispute with you, and to give an account of my faith and ministry. Elijah said to King Ahab, ‘It is thou, and not I, who disturbest Israel’. So I say, it is you and yours, who trouble the world by your traditions, your human inventions, and your dissolute lives” (= Aku dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan aku bukan setan. Aku berkeliling untuk mengkhot-bahkan Kristus, yang mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit untuk pembenaran kita. Barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan; orang tidak percaya akan terhilang. Aku diutus oleh Allah sebagai utusan Kristus, dan harus mengkhotbahkan Dia kepada semua yang mau men-dengarku. Aku siap untuk berdebat dengan engkau, dan mempertang-gungjawabkan iman dan pelayananku. Elia berkata kepada raja Ahab, ‘Adalah kamu, dan bukan aku, yang mengganggu Israel’. Jadi aku berkata, adalah kamu dan milikmu, yang menyusahkan dunia dengan tradisimu, penemuan-penemuan manusiamu, dan hidupmu yang tidak dikekang).
Para pastor tidak berkeinginan berdebat dengan Farel, karena tahu bahwa mereka akan kalah. Tetapi seorang berkata: “He has blasphemed; we need no further evidence; he deserves to die” (= Ia telah menghujat; kita tidak membutuhkan lebih banyak bukti; ia layak mati).
Farel menjawab: “Speak the words of God, and not of Caiaphas” (= Ucap-kanlah firman / kata-kata Allah, dan bukan kata-kata Kayafas).
Ini menyebabkan ia dipukuli dan bahkan ditembak – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 243-244..
o “Oecolampadius praised his zeal, but besought him to be also moderate and gentle. ‘Your mission,’ he wrote to him, ‘is to evangelize, not a tyrannical legislator. Men want to be led, not driven’” (= Oecolampadius memuji semangatnya, tetapi memintanya untuk juga menjadi lunak dan lembut. ‘Misimu,’ ia menulis kepadanya, ‘adalah untuk menginjili, bukan menjadi pemerintah yang bersifat tirani. Manusia ingin dipimpin, bukan dipaksa / didorong’) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 238.
o “Farel’s work was destructive rather than constructive. He could pull down, but not build up. He was a conqueror, but not an organizer of his conquests; a man of action, not a man of letters; an intrepid preacher, not a theologian. He felt his defects, and handed his work over to the mighty genius of his younger friend Calvin” (= Pekerjaan Farel lebih bersifat merusak dari pada membangun. Ia bisa merobohkan, tetapi tidak bisa membangun. Ia adalah seorang pemenang / penakluk, tetapi bukan seorang yang bisa mengorganisir orang yang ditaklukkannya; orang yang banyak bekerja, bukan yang banyak belajar / berpikir; seorang peng-khotbah yang berani, bukan seorang ahli theologia. Ia merasakan kekurangan-kekurangannya, dan menyerahkan pekerjaannya kepada temannya yang lebih muda, yang sangat jenius, yaitu Calvin) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 239.
Dalam pertemuan Calvin dengan Farel, secara naluri Farel merasakan bahwa Calvin memang disediakan Allah untuk meneruskan dan menyela-matkan reformasi di Geneva.
Mula-mula Calvin menolak permintaan Farel untuk menetap di Geneva, dengan alasan bahwa ia masih muda, ia masih perlu belajar, dan juga rasa takut dan malunya yang alamiah yang menyebabkan ia tidak cocok untuk melayani banyak orang. Tetapi semua alasan ini sia-sia. Philip Schaff mengatakan:
“Farel, ‘who burned of a marvelous zeal to advance the Gospel,’ threatened him with the curse of Almighty God if he preferred his studies to the work of the Lord, and of his own interest to the cause of Christ. Calvin was terrified and shaken by these words of the fearless evangelist, and felt ‘as if God from on high had stretched out his hand’. He submitted, and accepted the call to the ministry, as teacher and pastor of the evangelical Church of Geneva” (= Farel, ‘yang berapi-api dengan semangat yang mengagumkan terhadap kemajuan Injil,’ mengancamnya dengan kutuk dari Allah yang mahakuasa kalau ia mengutamakan pelajarannya lebih dari pekerjaan Tuhan dan kesenang-annya sendiri lebih dari aktivitas / gerakan Kristus. Calvin sangat ketakutan dan gemetar karena kata-kata dari penginjil yang tak kenal takut ini, dan merasa ‘seakan-akan Allah dari atas mengulurkan tanganNya’. Ia tunduk / menyerah, dan menerima panggilan pelayanan, sebagai guru dan pendeta dari gereja injili di Geneva) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 348.
Dr. W. F. Dankbaar menceritakan hal ini sebagai berikut:
“Calvin menampik dan berkata, bahwa bukan itu rencananya. Ia ingin belajar lebih banyak lagi dan ia mau menulis. Untuk pekerjaan praktis, ia merasa diri tidak sanggup. Lebih dulu ia harus memperdalam ilmunya. Yang perlu baginya ialah: ketenangan hidup dan pikiran. Lalu ia meminta: ‘Kasihanilah saya dan biarkanlah saya mengabdikan diri saya kepada Tuhan dengan cara lain’. Tiba-tiba meloncatlah Farel. Dibekuknya bahu Calvin lalu berteriak dengan suara yang gemuruh: ‘Hanya ketenanganmu yang saudara pentingkan? Kalau begitu, saya atas nama Allah yang Mahakuasa menyatakan di sini: kehendakmu untuk belajar adalah alasan yang dibuat-buat. Jika saudara menolak menyerahkan diri saudara untuk bekerja dengan kami – Allah akan mengutuk saudara, sebab saudara mencari diri sendiri, bukan mencari Kristus!’. Calvin gemetar. Ini bukan Farel lagi yang bicara, ini adalah suara Tuhan. ‘Saya merasa disergap, tidak hanya karena permintaan dan nasehat, melainkan karena dalam kata-kata Farel yang sangat mengancam itu seolah-olah Allah dari surga meletakkan tanganNya dengan paksa di atasku’. Terlalu besar kuasa itu rasanya, lalu iapun menyerah” – ‘Calvin, Jalan Hidup dan Karyanya’, hal 41-42.
Dalam pelayanan Calvin di Geneva itu, mula-mula pelayanan Calvin diterima dengan baik. Tetapi melihat kehidupan moral orang Geneva yang jelek, maka Calvin menulis ‘a popular Catechism’, dan Farel, dengan bantuan Calvin, menulis‘a Confession of Faith and Discipline’. Buku yang kedua ini mencakup pentingnya pendisiplinan dan pengucilan / siasat gerejani. Kedua buku ini diterima oleh sidang gereja Geneva pada bulan November 1536.
Sekalipun mula-mula orang-orang Geneva menerima dan tunduk pada kedua buku itu, tetapi karena disiplin itu mereka anggap terlalu keras, akhirnya mereka menentangnya. Ini menyebabkan Calvin dan Farel diusir dari Geneva pada tahun 1538.
Sepeninggal Calvin dan Farel, Geneva justru menjadi kacau balau, se-hingga akhirnya Geneva memanggil Calvin, yang pada waktu itu menetap di Strassburg, untuk kembali. Pada mulanya, selain Strassburg tidak ingin kehilangan Calvin, Calvin sendiri sama sekali tidak ingin kembali.
“‘There is no place in the world,’ he wrote to Viret, ‘which I fear more; not because I hate it, but because I feel unequal to the difficulties which await me there’. He called it an abyss from which he shrank back much more now than he had done in 1536″ (= ‘Tidak ada tempat di dunia,’ ia menulis kepada Viret, ‘yang lebih aku takuti; bukan karena aku membencinya, tetapi karena aku merasa tidak memadai terhadap kesukaran-kesukaran yang menung-guku di sana’. Ia menyebutnya sebagai jurang yang sekarang lebih ia takuti / jauhi dari pada yang ia lakukan pada tahun 1536) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Tetapi Philip Schaff juga menambahkan:
“At the same time, he was determined to obey the will of God as soon as it would be made clear to him by unmistakable indications of Providence. ‘When I remember,’ he wrote to Farel, ‘that in this matter I am not my own master, I present my heart as a sacrifice and offer it up to the Lord’” (= Pada saat yang sama, ia memutuskan untuk mentaati kehendak Allah begitu hal itu menjadi jelas baginya oleh petunjuk yang tak bisa salah dari Providence. ‘Pada saat aku ingat,’ ia menulis kepada Farel, ‘bahwa dalam persoalan ini aku bukanlah tuan dari diriku sendiri, aku memberikan hatiku sebagai suatu korban dan mempersembahkannya kepada Tuhan) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Farel juga mendesak Calvin untuk mau kembali ke Geneva.
“Farel’s aid was also solicited. With incomparable self-denial he pardoned the ingratitude of the Genevese in not recalling him, and made every exertion to secure the return of his younger friend, whom he had first compelled by moral force to stop at Geneva. He bombarded him with letters. He even travelled from Neuchatel to Strassburg, and spent two days there, pressing him in person and trying to persuade him, …” (= Bantuan Farel juga diminta. Dengan penyang-kalan diri yang tidak ada bandingannya ia mengampuni rasa tak tahu berte-rima kasih dari orang-orang Geneva yang tidak memanggilnya kembali, dan membuat setiap usaha untuk mengembalikan temannya yang lebih muda, yang mula-mula ia paksa untuk berhenti di Geneva. Ia membombardir Calvin dengan surat. Ia bahkan melakukan perjalanan dari Neuchatel ke Strassburg, dan melewatkan dua hari di sana, menekannya secara pribadi dan mencoba untuk membujuknya, …) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 431.
“Farel continued to thunder, and reproached the Strassburgers for keeping Calvin back. He was indignant at Calvin’s delay. ‘Will you wait,’ he wrote him, ‘till the stones call thee?’” (= Farel terus mengguntur, dan mencela orang-orang Strassburg karena menahan Calvin. Ia jengkel karena penundaan Calvin. ‘Apakah kamu kamu menunggu,’ tulisnya kepada Calvin, ‘sampai batu-batu memanggilmu?’) – Philip Schaff,‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Akhirnya, pada tanggal 13 September 1541, Calvin kembali ke Geneva, dan pada tanggal 16 September 1541, ia menulis surat kepada Farel:
“Thy wish is granted, I am held fast here. May God give his blessing” (= Keinginanmu dikabulkan, sekarang aku terikat di sini. Kiranya Allah memberikan berkatNya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.
Philip Schaff berkata:
“Never was a man more loudly called by government and people, never did a man more reluctantly accept the call, never did a man more faithfully and effectively fulfil the duties of the call than John Calvin when, in obedience to the voive of God, he settled a second time at Geneva to live and to die at this post of duty” (= Tidak pernah ada orang yang dipanggil lebih keras oleh pemerintah dan masyarakat, tidak pernah ada orang yang menerima panggilan dengan begitu segan, tidak pernah ada orang yang memenuhi tugas panggilan dengan lebih setia dan effektif dari pada John Calvin, pada waktu, dalam ketaatan pada suara Allah, ia tinggal / menetap untuk kedua-kalinya di Geneva untuk hidup dan mati di tempat tugasnya ini) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.
“Calvin had labored in Geneva twenty-three years after his second arrival, – that is, from September, 1541, till May 27, 1564, – when he was called to his rest in the prime of manhood and usefulness, …” (= Calvin bekerja 23 tahun di Geneva setelah kedatangannya yang kedua, – yaitu mulai September 1541 sampai 27 Mei 1564, – pada waktu ia dipanggil kepada peristirahatannya pada puncak kemanusiaan dan kegunaannya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.
“He continued his labors till the last year, writing, preaching, lecturing, attending the sessions of the Consistory and the Venerable Company of pastors, entertaining and counselling strangers from all parts of the Protestant world, and corresponding in every direction. He did all this notwithstanding his accumulating physical maladies, as headaches, asthma, dyspepsia, fever, gravel, and gout, which wore out his delicate body, but could not break his mighty spirit. When he was unable to walk he had himself transported to church in a chair” (= Ia meneruskan pekerjaannya sampai tahun terakhir, menulis, berkhotbah, mengajar, menghadiri sidang gereja dan kumpulan pendeta terhormat, menghibur dan menasehati orang-orang asing dari seluruh penjuru dunia Protestan, dan surat-menyurat dalam semua arah. Ia melakukan semua ini sekalipun penyakit-penyakit fisiknya bertumpuk-tumpuk, seperti sakit kepala, asma, pencernaan yang terganggu, demam, batu ginjal, dan sakit dan bengkak pada kaki dan tangan, yang melelahkan tubuhnya yang lemah, tetapi tidak bisa menghancurkan rohnya / semangat-nya yang kuat. Pada waktu ia tidak bisa berjalan, ia menyuruh orang mengangkatnya ke gereja di sebuah kursi) – Philip Schaff,‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.
Calvin mati karena asma pada tanggal 27 Mei 1564, di Geneva, pada usia hampir 56 tahun – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 274.
“Farel, then in his eightieth year, came all the way from Neuchatel to bid him farewell, although Calvin had written to him not to put himself to that trouble. He desired to die in his place. Ten days after Calvin’s death, he wrote to Fabri (June 6, 1564): ‘Oh, why was not I taken away in his place, while he might have been spared for many years of health to the service of the Church of our Lord Jesus Christ!’” [= Farel, yang saat itu berusia 80 tahun, datang dari Neuchatel untuk mengucapkan selamat jalan, sekalipun Calvin telah menulis kepadanya untuk tidak melakukan hal itu. Ia ingin mati menggantikan Calvin. 10 hari setelah kematian Calvin, ia menulis kepada Fabri (6 Juni 1564): ‘O, mengapa bukan aku yang diambil sebagai ganti dia, sementara ia bisa tetap hidup sehat untuk waktu yang lama untuk melayani Gereja Tuhan Yesus Kristus’] – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 822.
Sumber : Pdt. Budi Asali – Calvinisme yang Difitnah
Dari fakta sejarah ini jelaslah bahwa John Calvin tidak pernah memaksakan kehendaknya pada orang-orang Genewa. Memang mereka pernah menolak Calvin, tetapi penolakan ini terjadi bukan karena Calvin memaksakan kehendaknya pada mereka, tetapi karena mereka tidak mau kehidupan moral mereka yang jelek diperbaruhi oleh ajaran Calvin. Bukti bahwa orang-orang Genewa meminta Calvin kembali ke Genewa dan ia melayani di disana selama 23 tahun (sampai meninggalnya) menunjukkan bahwa orang-orang Genewa (yang oleh Dr. Suhento dianggap dipaksa oleh Calvin) sangat menghargai dan menghormati Calvin.
Dengan melihat fakta ini, maka pernyataan bahwa John Calvin memaksakan kehendaknya pada penduduk Genewa adalah suatu fitnah yang sangat keji dan tidak pada tempatnya.

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 4

Fitnah III
John Calvin, demikian juga dengan John Owen pengikut setianya, manekankan tujuan penciptaan adalah untuk kemuliaan Allah terasa agak mengusik karena seolah-olah Allah kurang mulia sebelum menciptakan manusia. ……….. Yang lebih tepat adalah Allah menciptakan makhluk pribadi, dan ingin mendapatkan sikap positif …….yang timbul dari hati tiap-tiap pribadi, bukan yang ditentukan oleh Allah. (NB: dari uraian sebelumya sikap positif yang dimaksud adalah mencintai Allah).
(Pedang Roh No. 55 hal 02 kolom 3 baris 1 – 16)
Tanggapan:
(a) Benarkah tujuan penciptaan Allah untuk kemuliaan Allah semata-mata ajaran Calvin atau Allah sendiri yang menyatakannya? Benarkah kita memuliakan Allah karena Allah kurang mulia?
(b) Apakah manusia dapat mencintai Allah dengan sendirinya?
(c) Apakah ada sesuatu dari manusia yang berada di luar rencana dan ketentuan Allah?
Dan ….. Inilah yang sebenarnya!
(a) Tujuan manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah ternyata bukan ajaran John Calvin semata, tetapi langsung dinyatakan oleh Allah sendiri:
Yesaya 43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”
1 Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya ituuntuk kemuliaan Allah.
Untuk apakah kita melakukan segala sesuatu? Jelas hanya untuk Kemuliaan Allah
Rom 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa tujuan akhir dari penciptaan adalahkemuliaan bagi Allah.
Jadi, kalau Dr. Suhento ingin berbantah, berbantalah pada Allah, bukan padaJohn Calvin karena Calvin hanya menyatakan apa yang Allah nyatakan Sendiri.
kita memuliakan Allah karena memang Allah itu Mahamulia. Jika kita percaya bahwa Allah itu Mahamulia tetapi tujuan hidup kita tidak memuliakan-Nya, berarti kita manusia / ciptaan yang tidak tahu diri. Kalau presiden, raja, duta besar dari negara-negara lain saja, kita muliakan, masakkan Allah, Raja dari segala raja, Pencipta mereka, tidak kita muliakan?
Memuliakan sesuatu yang kurang mulia adalah tindakan yang bodoh, tetapi memuliakan Allah Yang Mahamulia adalah tindakan bijaksana dan mulia!
Jadi, kita memuliakan Allah bukan karena Allah kurang mulia tetapi justru karena Allah Mahamulia maka wajib dan harus kita muliakan!
Psa 72:19 Dan terpujilah kiranya nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dankiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin.
(b) Sekarang mari kita bandingkan dengan ajaran Dr. Suhento.
Adakah ayat di Alkitab (baik yang eksplisit maupun emplisit) yang menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia agar manusia dapat mencintai Allah dengan kehendak bebasnya tanpa penentuan Allah atau campur tangan Allah? PASTI TIDAK ADA
Pernyataan bahwa kita dapat melakukan sesuatu di luar penentuan Allah membuat kita lebih tinggi dari sekedar ciptaan Allah dan menurunkan kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu (termasuk manusia walaupun manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah).
Apa kata Alkitab?
Mazmur 31:23 (31-24) Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!
Ulangan 30:6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.
Jadi jelas bahwa manusia tidak dapat mencitai Tuhan kalau Tuhan tidak terlebih dahulu bertindak (mengasihi ) manusia!
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.
Dari dua ayat di atas sudah jelas bahwa Tuhanlah yang menentukan jalan hidup manusia dan sebaliknya manusia dengan kehendak bebasnya tidak dapat menentukan jalan hidupnya senidiri. Tanpa anugerah Tuhan manusia itu bukan apa-apa, untuk itu janganlah kita sombong seolah-olah dengan kehendak bebas kita, kita benar-benar bebas dapat menentukan hidup kita sesuka hati kita.
Kehendak bebas kita tetap berada di bawah kedaulatan Allah yang mutlak, tetapi keberadaanya tetap sejajar sehingga tidak bisa satukan oleh pengertian manusia yang terbatas ini. Artinya, dengan kedaulatan-Nya yang mutlak atas hidup kita, bukan berarti Allah melanggar kehendak bebas yang sudah diberikan kepada kita. Akal kita yang sangat terbatas ini tidak akan mampu memahahi kebenaran Allah yang tidak terbatas tersebut. Tetapi Dr. Suhento mau mencoba memahaminya dan mengompromikan dua kebenaran tersebut dengan cara merendahkan kedaulatan Allah dan meninggikan kehendak bebas manusia.
2 Korintus 3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah supaya kita dapat mencermikan kemuliaan Allah (termasuk di dalamnya kasih, keadilan, kekudusan Allah, dsb). Setelah manusia jatuh dalam dosa, cermin itu rusak sehingga bayangan (image) Allah tidak bisa terbentuk dengan baik pada manusia. Dan untuk itulah Kristus datang untuk memperbaiki “cermin” tersebut sehingga manusia dapat memantulkan kembali kemuliaan Allah.
Apakah Allah yang sudah sempurna di dalam kasih (ketiga pribadi Allah Tritunggal saling mengasihi dengan kasih yang sempurna) masih perlu kasih dari manusia ciptaaan-Nya?
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah justru supaya manusia dapat menjadi objek kasih Allah, bukan sebagai subjek kasih!
1 Yohanes 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Nah, mana yang Alkitabiah, manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah dan menjadi objek kasih Allah, atau manusia diciptakan karena Allah menghendaki kasih / cinta dari manusia berdasarkan kehendak bebas manusia?

Fitnah IV
“Mayat “dapat bawa mobil!

a) Benarkah bahwa John Calvin dan Calvinisme mengajarkan bahwa manusia berdosa kehilangan kemampuan akal budinya sehingga manusia seperti mayat yang dapat membawa mobil dan membangun kota?
b) Apakah doktrin kematian rohani dari Jhon Calvin dan Calvinisme tidak Alkitabiah?
Baca kembali bantahan Fitnah II
Menurut Calvin, pada dasarnya manusia mempunyai karunia alamiah dan karunia rohani. Karunia alamiah menyangkut kemampuan rasio dan kehendak. Kemampuan rasio mencakup pengetahuan akan hal-hal bumi (kehidupan di bumi seperti IPA, matematika, pemerintahan, ekonomi, dsb) dan pengetahuan akan hal-hal surgawi ( pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya, hukum-hukum-Nya, dsb). Pada saat manusia jatuh dalam dosa kemampuan alamiah ini TIDAK HILANG / MATI. Tetapi masih ada dalam diri manusia walaupun sangat terbatas sehingga manusia masih mempunyai rasio untuk berpikir, membangun gedung-gedung pencakar langit, pergi ke ruang angkasa dan sebagainya. Kehendak manusia juga tidak hilang. Ia masih dapat mengingini dan melakukan sesuatu menurut kehendaknya walaupun sudah dikuasai oleh dosa.
Nah, yang hilang / mati adalah karunia rohani manusia. Manusia tidak mampu lagi mengetahui yang baik dan salah menurut standar Allah. Keinginan untuk melakukan hal yang baik menurut standar Allah juga sudah mati.
Marilah kita lihat apa kata Firman Tuhan tentang kondisi rohani manusia yang sudah jatuh dalam dosa (mati rohani).
Roma 3: 9-18
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”
Inilah keadaan orang berdosa ( mati rohaninya)
1) Tidak ada yang benar
Yesaya 53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
Titus 3:3 Karena dahulu (sebelum dilahirkan kembali) kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
Tidak ada manusia yang benar tentu saja bermula dari tidak adanya kemampuan untuk memilih yang benar (kebenaran yang dimaksud disini adalah kebenaran menurut standar Alah bukan menurut standar manusia)
2) Tidak ada yang berakal budi dan mencari Allah
TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (Mazmur 14:2,3)
Yang dimaksud akal budi disini bukanlah akal untuk berpikir tentang berbagai ilmu pengetahuan tetapi akal untuk mengetahui tentang Allah yang sebenarnya / sejati. Karena kemampuan untuk tahu saja tidak ada kama konsekuen logisnya mereka tidak akan mencari Allah.
Lalu, bagaimana dengan agama-agama di luar Kristen? Bukankah mereka juga mencari Allah?
Benar, tetapi Allah yang mana? Allah yang mereka cari dan kenal adalah allah menurut konsep, imaginasi dan pengertian mereka sendiri dimana akal dan pikiran mereka sudah tumpul dan tercemar oleh dosa sehingga tidak mampu untuk mengetahui Allah yang benar.
Menurut Firman Tuhan, bukan manusia yang mencari Allah, tetapi justru Allahlah yang mencari manusia.
3) Tidak ada yang berguna dan berbuat baik.
Yesaya 64: 6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor,
Menurut pandangan Allah, segala suatu yang dilakukan di luar Kristus adalah sia-sia / tidak berguna. Apa yang dianggap sebagai perbuatan baik (menolong sesama, beribadah, dsb) hanyalah seperti kain kotor (tercemar dan ternoda) yang dalam bahasa aslinya maaf .. seperti caiaran menstruasi .. najis dan menjijikkan!
4) Tidak ada yang mempuyai rasa takut pada Allah!
Apakah yang dapat dibanggakan dari manusia berdosa seperti ini?
– cintanya kepada Allah? TIDAK! Mengenal saja tidak bisa, apalagi mencintai-Nya.
– Percaya kepada Allah? JUGA TIDAK! Bagaimana bisa percaya, mencari saja tidak!
Jadi, kalau kita bisa mengenal Allah dan Percaya / beriman kepada-Nya, itu semata-mata karena anugerah ( Sola Gratia)
Bagi orang yang berpandangan bahwa percaya / iman mendahului kelahiran kembali, keadaan orang berdosa seperti ini perlu dipertimbangkan baik-baik!
Dari uraian di atas jelaslah bahwa Dr. Suhento salah menilai ajaran John Calvin dan Teologi Reformed. Menurut Dr. Suhento ajaran mati rohani John Calvin adalah mati akal / pikiran dan perasaan / kehendak sehingga ia mengejek dengan “mayat kok bisa menyetir mobil dan membangun kota! Padahal kematian rohani John Calvin dan teologi Reformed sama sekali berbeda!
Perbedaan pokok antara Calvin dan kaum Reformed dengan Dr. Suhento Cs adalah pada penilaian sifat dasar manusia. Calvin dan kaum Reformed berpandangan bahwa pada dasarnya manusia keturunan Adam mempunyai sifat dasar sebagai orang berdosa yang merupakan konsekuensi dari kejatuhan Adam, sehingga sekalipun belum dilahirkan ia sudah dalam keadaan dosa:
Mazmur 54 : 1 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kejadian 6: 5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
Kej 8:21b “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”
Dapatkah sumber air yang kotor dapat mengeluarkan air yang jernih? TIDAK BISA
Untuk dapat merespon Kasih Allah dan taat kepada Allah manusia yang berdosa ini memerlukan roh yang baru dan hati yang berbeda :
Yehezkiel 11:19 Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,
Atau dalam Perjanjian Baru dikenal sebagai kelahiran kembali.
Sedangkan menurut Dr. Suhento cs, manusia pada dasarnya baik. Dosa tidak begitu mempengaruhi sifat manusia. Dosa hanya pada permukaan sedangkan bagian yamg paling dalam pada manusia pada dasarnya baik sehingga manusia masih bisa merespon kasih Allah dan taat pada Allah tanpa campur tangan Allah. Ajaran seperti ini cocok dengan pandangan kaum Humanis yang memang menjunjung tinggi manusia lebih tinggi dari sekedar ciptaan Tuhan yang sudah memberontak pada penciptanya.

Fitnah V
Allah Jhon Calvin dan Calvinisme adalah Allah yang sinting!

Fitnah keji di atas muncul karena Dr. Suhento menganggap bahwa tujuan Jhon Calvin dan Calvinis mengabarkan Injil adalah agar orang-orang yang tidak percaya (mayat rohani) memberi respon terhadap kasih Allah yang ditawarkan kepada mereka. TETAPI INI BUKAN TUJUAN PENGINJILAN CALVINIS.
Tujuan memberitakan Injil bukan untuk meminta respon orang yang tidak percaya (mayat rohani), karena mereka tidak akan mungkin memberi respon, tetapi UNTUK MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN YANG DISERTAI KARYA ROH KUDUS YANG BERKUASA MENGHIDUPKAN KEMBALI MAYAT-MAYAT ROHANI SEHINGGGA ORANG-ORANG YANG SUDAH DIPILIH DAN DITENTUKAN SEJAK SEMULA MENJADI PERCAYA KEPADA INJIL DAN DISELAMATKAN. I
Kisah Para Rasul 13: 47-49
Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
Berdasarkan firman Tuhan di atas, orang yang dapat percaya kepada Tuhan Yesus itu sudah ditentukan terlebih dulu oleh Allah! Untuk mendapatkan hidup kekal yang telah disediakan oleh Allah, orang tersebut harus percaya kepada berita Injil. Untuk dapat percaya mereka perlu dilahirkan kembali. Untuk proses kelahiran kembali mereka harus mendengar firman Tuhan. Untuk dapat mendengar firman Tuhan maka perlu ada orang yang membawa / memberitakannya. INILAH DASAR / ALASAN JHON CALVIN DAN CALVINIS MEMBERITAKAN INJIL.
Roma 10:14
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Jadi, Jhon Calvin mengabarkan Injil kepada “mayat-mayat rohani” bukan agar mereka merespon pemberitaan tersebut (jelas tidak mungkin) tetapiagar firman Tuhan dengan karya Roh Kudus tersebut menghidupkan “mayat-mayat” yang telah ditentukan Allah untuk mendapat hidup yang kekal.
1Pe 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
Jadi, ALLAH YANG MENGUTUS JHON CALVIN DAN CALVINIS BUKAN PRIBADI YANGSINTING TETAPI PRIBADI YANG PENUH KASIH DAN PENUH ANUGERAH KARENA MAU MENGHIDUPKAN KEMBALI ORANG-ORANG YANG PADA DASARNYA TIDAK LAYAK DAN TIDAK PANTAS UNTUK DIHIDUPKAN KEMBALI, DAN ADALAH KEHORMATAN YANG SANGAT BESAR JIKALAU KAMI DIJADIKAN SEBAGAI ALAT UNTUK MEWUJUDKAN KASIH DAN ANUGERAHNYA TERSEBUT!
Lalu, siapa sebenarnya yang sinting?

Fitnah VI
Ajaran bahwa kelahiran baru terjadi mendahului iman dari John Calvin dianggap tidak Alkitabiah!

Sebaliknya Dr. Suhento menyatakan bahwa yang Alkitabiah adalah iman mendahului kelahiran baru!

Mari kita lihat apa kata Alkitab yang sebenarnya!
a) Bantahan atas tafsiran Dr. Suhento
Yohanes 1:
10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
12 (a) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, (b)yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Mari kita cermati Firman Tuhan di atas!
Ayat 10 dan 11 menyatakan bahwa dunia dan umat kepunyaan-Nya tidak mengenal dan tidak menerima Tuhan. Tetapi mengapa pada ayat 12 tiba-tiba ada orang-orang yang menerima-Tuhan padahal pada ayat-ayat sebelumnya dikatakan bahwa mereka tidak mengenal dan menerima-Nya? Apa yang menyebabkan perubahan ini?
Jawabannya ada pada ayat 12b dan 13. Kalau kita baca berurutan, maka ada sebab akibat dengan urutan yang terbalik yaitu dari belakang ke depan. Orang – orang yang menerima-Nya adalah orang-orang yang percaya dalam nama-Nya, orang-orang yang percaya adalah orang-orang sudah dilahirkan baru dari Allah.
Menerima Kristus  Percaya  Lahir baru
Ket.  dibac a “karena”
Urutan di atas juga sesuai dengan pola kalimat DM (kata / kalimat di bagian belakang menerangkan kata / kalimat yang ada di depannnya)
Jelasnya, pada dasarnya manusia yang sudah berdosa dan dikuasi oleh tabiat dosa pada hakekatnya tidak dapat mengenal dan menerima Allah yang menyelamatkan (walaupun secara kognitif mereka tahu tentang Allah). Allah harus melahirkan baru orang tersebut sehingga dapat mengenal, percaya dan menerima Tuhan yang benar dan menyelamatkannya.
(lihat juga bantahan fitnah IV).
Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Tanpa hati dan roh yang baru dari Allah, kita tidak mungkin bisa percaya, menerima dan taat pada Tuhan!
Kalau menurut Dr. Suhento : percaya  menerima Kritus  Lahir baru
Urutan seperti ini jelas merusak pola kalimat dan mengacaukan pola pikir dari Yohanes. Kalau urutan Dr. Suhento yang benar, maka ayat 13 seharusnya diletakkan sebelum ayat 12(a) dan sebaliknya ayat 12(b) diletakkan setelah ayat 13. Tetapi mengapa Yohanes tidak menulis seperti itu? Karena urutan seperti ini sama dengan menyatakan orang buta yang tiba-tiba bisa melihat tanpa disembuhkan terlebih dahulu dari kebutaanya. Bisakah? Mustahil.
Mari kita lihat apa kata Tuhan Yesus:
Yohanes 3:
3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
5. Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
Ayat 3 dan 5
Tanpa kelahiran kembali, kita bukan hanya tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, melihat saja-pun tidak dapat. Pertanyaanya adalah bagaimana kita dapat merespon Cahaya Ilahi (Firman Tuhan) jika kita tidak bisa melihat-Nya? Untuk dapat meresponnya mata kita harus dicelikkan terlebih dahulu, kita harus dilahirkan kembali!
Ayat 7 – 12 juga sangat jelas bahwa syarat agar Nikodemus dapat percaya dan menerima kesaksian tentang Kerajaan Allah adalah harus dilahirkan kembali terlebih dahulu!
Sekarang apa kata para rasul?
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana iman dapat timbul dari firman Kristus / Tuhan?
Rasul Petrus menjawab pertanyaan tersebut:
1Pe 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
Jadi, proses firman Tuhan yang menimbulkan iman adalah firman Allah (dengan karya Roh Kudus)  melahirkan kembali  iman dan taat.
Dalam perumpaan-perumpaan–Nya, Tuhan Yesus sering mengibaratkan firman dengan benih dan kita tahu bahwa benih merupakan cikal bakal dari adanya tanaman baru sehingga tanaman baru tersebut akan mengasilkan buah!
Satu lagi:
Titus 3:
3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,
5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
Dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa kita diselamatkan oleh kelahiran kembali / diperbaharui oleh Roh Kudus pada saat kita masih dalam keadaan tersesat dan berdosa. Bukan seperti ajaran Dr. Sehento :
Tersesat / berdosa  bertobat  percaya  lahir baru.
Alkitab selalu menyatakan bahwa karya Roh Kudus dalam menyelamatkanterjadi saat kita masih dalam keadaan berdosa, sebab tanpa kelahiran kembali oleh Roh Kudus kita tidak mungkin bisa bertobat dan percaya kepada Tuhan. Inilah anugerah Allah sejati. Kalau iman manusia yang membuat orang lahir baru, maka keselamatan bukan anugerah, tetapi anugerah + respon manusia (perbuatan baik)
Efesus 2:8,9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
b) Bagiamana dengan Efesus 1: 13?
Untuk lebih jelasnya saya tuliskan sampai ayat 14.
13 Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Saya tidak tahu mengapa Dr. Suhento mengaitkan kata dimeteraikan dengan Roh Kudus dengan kelahiran kembali? Padahal dengan melihat kata aslinya (σφραγίζω / sphragizō yang berarti segel, tanda, jaminan keamanan) dan ayat 14 jelas bahwa yang dimaksudkan dengan dimateraikan dengan Roh Kudus adalah bahwa Roh Kudus akan terus berdiam dan bekerja / berkarya dalam hidup kita sehingga keselamatan kita itu benar-benar terjamin dan aman . Ingat, Tuhan Yesus pernah berjanji bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus untuk menolong dan menyertai orang percaya selama-lamanya!
Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.
Jadi urutan keselamatan:
Dipilih  Firman Allah+karya Roh Kudus  Lahir baru  percaya / iman  ditolong / disertai Roh Kudus sampai mencapai kesempurnaan keselamatan.
Kesimpulannya, ketika Roh Kudus melahirkan kembali seseorang Ia terus aktif bekerja dan berkarya dalam orang tersebut sampai selama-lamanya sebagai jamaninan bahwa orang tersebut telah benar-benar menjadi Anak Allah dan diselamatkan.
Roma 8:29, 30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Perhatikan lima tindakan aktif Allah di dalam menyelamatkan semua orang pilihan-Nya. Adakah unsur dari manusia yang terlibat di dalamnya? Tidak ada. Keselamatan adalah tindakan aktif Allah atas manusia yang berdosa. Inilah anugerah. Tugas kita adalah mengucap syukur dan hidup untuk kemuliaan Allah yang telah menyelamatkan kita. Segala kemuliaan hanya bagi Allah!
Sekali lagi pola keselamatan seseorang selalui didahului dengan firman Allah, firman Allah (dengan karya Roh Kudus) akan melahirkan kembali orang itu sehingga ia bisa percaya / beriman.
Jadi jelaslah, iman timbul pada diri seseorang setelah orang tersebut dilahirkan kembali oleh firman Tuhan dan karya Roh Kudus berdasarkah pilihan kasih karunia Allah pada orang tersebut!
Satu hal lagi, manusia yang berdosa membuat kemampuan rohaninya mati, mereka tidak sanggup mengenal Allah yang benar dan berbuat baik menurut pandangan Allah (lihat bahtahan Fitnah IV). Untuk dapat mengenal Allah dan merespon kasih-Nya, manusia berdosa harus dilahirkan kembali terlebih dahulu
Untuk lebih jelasnya saya kutipkan dari tulisan karya RC Sproul
Demikian pula halnya dengan kelahiran kembali secara rohani. Kelahiran kembali menghasilkan kehidupan yang baru. Kelahiran kembali itu merupakan awal dari kehidupan baru tetapi bukan merupakan keseluruhan dari kehidupan yang baru. Kelahiran baru adalah momen transisi yang penting dari kematian rohani kepada kehidupan rohani. Seseorang tidak pernah dilahirkan kembali secara sebagian. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan: orang itu sudah dilahirkan baru atau belum dilahirkan baru.
Pengajaran Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa regenerasi merupakan pekerjaan Allah semata-mata. Kita tidak dapat melahirbarukan diri kita sendiri. Daging tidak dapat menghasilkan roh. Regenerasi merupakan tindakan penciptaan. Allah yang melakukan penciptaan itu.
Dalam teologi ada istilah teknis yang dapat membantu kita untuk lebih mengerti masalah ini, yaitu monergisme, yang berasal dari dua akar kata. Mono artinya “satu”. Monopoli merupakan suatu usaha yang memiliki pasaran untuk dirinya sendiri. “Monoplane” merupakan pesawat terbang dengan single-winged (berbaling-baling satu). Erg menunjuk pada satuan usaha. Dari kata itu kita mendapat kata umum yang selalu dipakai yaitu energi.
Menggabungkan kedua akar kata tersebut, maka kita mendapatkan arti “one-working” (usaha satu pihak). Ketika kita mengatakan bahwa regenerasi adalah monergistik, maksud kita adalah bahwa hanya satu pihak saja yang melakukan pekerjaan itu. Pihak itu adalah Allah Roh Kudus. Dialah yang melahirbarukan kita. Kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, atau membantu-Nya untuk melaksanakan tugas itu.
Seolah-olah kita memperlakukan manusia seperti boneka. Boneka dibuat dari bahan kayu. Boneka tidak dapat memberikan tanggapan. Boneka itu lembam, tanpa kehidupan. Boneka itu digerakkan dengan tali-tali dalam pertunjukan panggung boneka. Tetapi, kita tidak berbicara tentang boneka. Manusia tidak sama dengan boneka. Kita berbicara tentang manusia yang merupakan mayat secara rohani. Manusia ini tidak memiliki hati yang terbuat dari serbuk gergaji, tetapi terbuat dari batu. Manusia ini tidak digerakkan oleh tali-temali. Secara biologis manusia ini masih hidup. Manusia ini dapat bergerak dan bertindak. Manusia ini membuat keputusan-keputusan, tetapi mereka tidak pernah mengambil keputusan bagi Allah.
Setelah Anda melahirbarukan jiwa manusia, yaitu setelah Allah membuat kita hidup kembali secara rohani, kita melakukan pemilihan. Kita percaya. Kita memiliki iman. Kita bersandar kepada Kristus. Perihal kita percaya kepada Kristus itu tidak diputuskan oleh Allah. Allah tidak memutuskan hal percaya itu bagi kita. Tetapi, kita sendirilah yang memutuskan untuk percaya kepada Kristus setelah kita dilahirbarukan oleh Allah. Jadi, iman itu tidak bersifat monergistic (one-working atau usaha satu pihak) seperti kelahiran baru.

Fitnah VII
Jhon Calvin dan kaum Reformed membuat Allah Sangat Tidak Adil.

Ketika orang pertama kali mendengar Doktrin Predestinasi dimana Allah menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya, pada umumnya langsung menentangnya dengan ungkapan :
– Kalau begitu mengapa manusia harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya padahal itu telah dikendaki oleh Allah? Toh tidak ada manusia yang bisa melawan kehendak Allah?
– Kalau begitu Allah tidak adil dong!
Tahukah Anda, bahwa reaksi seperti ini sama persis dengan reaksi orang-orang yang mendengar ajaran predentinasi dari Rasul Paulus? Nah untuk menanggapi kedua pernyataan di atas yang juga dinyatakan oleh Dr. Suhento, maka sayapun akan menggunakan tanggapan dari Rasul Paulus:
Apakah Allah tidak adil? Mustahil!
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan– justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan. (Roma 9: 14, 20-23)
Jadi, jangan menilai keadilan Allah dengan standar keadilan manusia. Kalau Keadilan Allah kita nilai berdasarkan keadilan manusia maka seolah-olah “Allah memang tidak adil” karena memang banyak ketidakadilan alami yang kita lihat dimuka bumi ini. Mengapa sebagian anak dilahirkan dari keluarga miskin, sedangkan yang lainnya dari keluarga kaya? Mengapa sebagian dilahirkan di daerah gersang, tandus dan sangat kesulitan air, sedangkan sebagian yang lainnya dilahirkan di daerah subur dengan air melimpah?
Ingatlah sekali lagi bahwa manusia itu tetap sebagai ciptaan. Sekalipun kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetap saja status kita adalah ciptaan. Nilailah Allah sesuai dengan stadar Pecipta bukan dengan standar ciptaan.
Jadi, adanya tuduhan bahwa doktrin predestinasi membuat Allah tidak adil justru membuktikan bahwa doktrin ini adalah Alkitabiah karena Rasul Paulus juga mendapatkan reaksi yang sama!

Fitnah VIII
John Calvin dan kaum Reformed menempatkan Allah sebagai penjahat besar!

Benarkah demikian?
Sebenarnya fitnahan ini sama dengan fitnah I yaitu Allah sebagai pencipta dosa, karena semua kejahatan bersumber dari hati orang yang berdosa, untuk itu saya akan menanggapi fitnahan ini dengan Artikel dari Pdt. Budi Asali tentang benarkah Allah pencipta dosa?
Mungkin ada yang bertanya: “Bukankah dengan adanya dosa di dalam Rencana Allah berarti Dia adalah pencipta dosa?” Harus diakui bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sukar sekali dijelaskan. Untuk dijawab memang tidak sukar karena Allah memang bukan pencipta dosa. Tetapi bagaimana penjelasannya itulah yang sulit, bukankah sebelum malaikat dan alam semesta ini diciptakan, yaitu pada saat Allah masih belum menciptakan apapun, dosa tidak ada? Bukankah sekarang dosa ada? Darimana datangnya dosa? Bukankah pencipta segala sesuatu adalah Allah yang maha suci? Siapakah pencipta dosa apabila bukan Allah?
1Yohanes 2:16
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Perlu diingat bahwa sebenarnya pertanyaan ini tidak bisa diajukanhanya kepada pihak Calvinisme, aliran lainpun harus menjawab pertanyaan yang sama, bahkan agama lainpun juga dihadapkan pada masalah pelik ini.
Kita sudah melihat bahwa manusia tidak dipaksa untuk melakukan dosa, mereka melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri. Meskipun Kitab Suci dengan jelas melarang dosa, tetapi Allah mengijinkan terjadinya dosa jika memang manusia tersebut memilih untuk melakukannya. Motivasi Allah di dalam mengijinkan terjadinya dosa dan motivasi manusia di dalam melakukan dosa adalah dua hal yang sangat berbeda. Allah mengijinkan dosa terjadi untuk menghargai kebebasan manusia, dan karena hal itu sesuai dengan rencana kekalNya. Di lain pihak setiap manusia yang melakukan dosa, ia melakukannya karena ia memang ingin melakukannya. Orang itu sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang memaksa dia untuk berbuat dosa, dan dia menyadari bahwa sebenarnya dirinya tidak perlu melakukan dosa itu jika dia sendiri tidak menghendakinya.
Kita boleh yakin bahwa Allah tidak akan mengijinkan terjadinya dosa seandainya Ia tidak bisa mengatasi dosa itu dan mengubahnya menjadi kebaikan. Dengan providenceNya Ia dapat mempengaruhi (bukan memaksa) jalan pikiran orang-orang fasik sehingga kebaikan bisa ditimbulkan dari rencana jahat mereka. Contoh yang paling klasik adalah peristiwa pengiriman/penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya ke Mesir (Kej 45:8). Saudara-saudara Yusuf melakukan pengiriman itu karena mereka benci dan iri hati kepada Yusuf, tetapi Tuhan telah mengubah tragedi itu menjadi kebaikan (Yusufpun mengakui hal itu di dalam 50:2). Jika bukan karena campur tangan Tuhan maka pada saat bala kelaparan terjadi, bisa saja Yakub dan anak-anaknya mati semua. Tanpa Yakub tidak akan ada Israel, tanpa Israel tidak akan ada Daud, tanpa Daud tidak akan ada Kristus, dan tanpa Kristus semua orang akan masuk neraka. Tetapi puji Tuhan, Yusuf yang dijual ke Mesir itu akhirnya malah dapat menolong keluarganya dari bala kelaparan.
Di dalam Perjanjian Barupun terlihat adanya kejadian-kejadian yang apabila dipandang dari sudut manusia tidak menyenangkan, tetapi Allah membiarkan terjadi agar Dia dapat lebih dipermuliakan. Misalnya kesengajaan Yesus yang menyebabkan Lazarus mati. Dia bisa mencegah hal itu agar tidak terjadi, tetapi apakah iman Maria dan Martha dapat dikuatkan dengan pencegahan itu? Bukankah lebih baik Yesus membiarkan Lazarus mati dan kemudian membangkitkannya? Allah memutuskan apa yang terbaik bagi manusia, meskipun manusia merasa sebaliknya.
Yohanes 11:5-6,14-15,36,40-44
Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. (6) Namun setelah didengarNya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana Ia berada; …. (14) Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; (15) tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” (36) Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya!” (37) Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak sehingga orang ini tidak mati?” (40) Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (41) Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepadaMu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. (42) Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (43) Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah keluar!” (44) Orang yang telah meti itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (45) Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepadaNya.
Sama seperti peristiwa di atas, Yesus sebenarnya bisa mencegah terjadinya badai pada saat ia berada di perahu bersama murid-muridNya. Mengapa Ia membiarkan murid-muridNya ketakutan? Jelas agar iman mereka dapat lebih dikuatkan apabila mereka melihat Yesus menghentikan badai. Kita sebagai manusia, seperti juga murid-murid Yesus pada waktu itu, tidak bisa membayangkan apa tujuan Tuhan mengijinkan hal-hal tidak enak terjadi pada diri kita. Tetapi percayalah bahwa penderitaan apapun yang Tuhan ijinkan untuk menimpa kita pasti mempunyai tujuan akhir yang baik dan memuliakan Dia.
Seseorang memberikan komentar demikian: “Seorang penguasa mungkin melarang adanya pengkhianatan; tetapi perintah-perintahnya tidak mengharuskan dia untuk mencegah, dengan maksimal, seadanya pelanggaran yang dilakukan oleh rakyatnya. Adanya pengkhianatan dapat membawa kebaikan bagi kerajaannya, dan apabila ia menghukum pengkhianat negara itu sesuai dengan hukum yang ia tetapkan, maka keadilan hukumnya terlihat”. Hanya karena penguasa itu memilih untuk tidak mencegah kejahatan yang terjadi, dengan alasan demi kebaikan yang dihasilkan, sama sekali tidak berarti bahwa tindakan dan perintahnya bertentangan.
Harus diakui bahwa Allah sebenarnya bisa / berkuasa mencegah terjadinya dosa. Dia sebenarnya bisa menjaga agar dosa tidak terjadi di dunia ini. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah Dia bisa menghilangkan dosa dari suatu sistem moral yang paling sempurna? Tanpa adanya baik dan jahat, adakah yang disebut moral? Tanpa adanya dosa adakah yang disebut suci? Tidak mungkin. Kebebasan kehendak untuk memilih antara baik dan jahat adalah syarat mutlak suatu sistem moral.
Baik malaikat maupun manusia adalah mahluk yang bisa berdosa. Kejatuhan setan dan Adam membuktikan hal itu. Tetapi apa gunanya kemampuan untuk berdosa itu ada di dalam diri suatu mahluk? Jawabnya adalah bahwa tanpa adanya kemungkinan untuk berbuat jahat, mahluk itu tidak akan mempunyai kemungkinan untuk taat. Suatu mahluk yang mampu untuk berbuat baik berarti juga mampu untuk berbuat jahat. Sebuah mesin tidak bisa disebut taat atau tidak taat karena ia tidak mempunyai kehendak untuk memilih. Tanpa adanya kemampuan ganda ini, suatu mahluk tidak ada bedanya dengan sebuah mesin yang tidak mempunyai moral.
Adam diciptakan sebagai mahluk yang bermoral, dan karena itu iabisa berkehendak untuk memilih dosa. Kita tahu bahwa Allah membiarkan Adam jatuh ke dalam dosa dan kemudian mengubah akibat dosa itu (maut) menjadi sesuatu yang baik (hidup oleh karena penebusan Kristus). Pemberian ijin dan perubahan akibat dosa itu tidak menjadikan dia sebagai Pencipta dosa. Kelihatannya, Allah ingin menunjukkan kepada kita apa yang dapat dihasilkan oleh kehendak bebas kita; kemudian dengan mengatasi dosa itu Ia menunjukkan kepada kita kasih dan keadilanNya. Jadi, dosa bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah, melainkan hanya merupakan akibat dari kehendak bebas yang disalahgunakan oleh manusia. Dan karena itulah manusia yang bertanggung jawab atas dosa-dosa yang diperbuatnya.
Ada beberapa ilustrasi yang mungkin memudahkan kita untuk lebih mengerti tentang hal ini. Ilustrasi-ilustrasi ini memang bukanlah ilustrasi yang sempurna, tetapi rasanya cukup untuk membantu kita.
1. Seorang hakim yang adil dan benar, di dalam memberikan keputusan hukuman kepada seorang terdakwa, tahu bahwa keputusannya akan mengakibatkan dendam di dalam diri terdakwa dan kemarahan di hati teman-teman dan keluarga terdakwa. Meskipun demikian, hakim itu toh tetap melakukan hal yang benar.
Seorang ayah yang mengusir anaknya yang durhaka, tahu bahwa dengan pengusiran itu si anak bisa bertambah buruk tingkah lakunya, tetapi toh si ayah bisa dianggap melakukan hal yang benar dengan tujuan mendidik anak itu.
Dengan dibiarkanNya setan terus merajalela, Allah tahu bahwa dosa akan semakin banyak, dan penderitaan dan penganiayaan akan terjadi dimana-mana. Tetapi, karena Allah mempunyai tujuan yang baik, maka Allah melakukan tindakan yang benar. Kesucian Allah tidak ternodai sedikitpun.
2. Bayangkan diri saya mempunyai tetangga yang membuka toko minuman keras, kenyataan yang tidak mengenakkan. Setiap hari minggu, banyak pemabuk-pemabuk yang berkelahi di depan tokonya. Hal ini mengakibatkan penderitaan di dalam keluarga saya.
Sekarang bayangkan saya mempunyai kemampuan untuk dapat melihat ke masa depan dengan kepastian yang mutlak. Saya mempunyai rencana yang baik, yaitu mempertobatkan tetangga saya itu. Saya dapat melihat bahwa dengan menginjili orang itu, ia akan bertobat. Dengan tujuan yang mulia inilah saya memutuskan untuk bertindak.
Tetapi, pada waktu saya melihat lebih jauh ke depan, maka saya tahu bahwa langganan-langganan toko tersebut akan menjadi marah sehingga mereka melakukan banyak dosa. Misalnya, untuk melampiaskan dendam mereka kepada saya dan tetangga saya, mereka akan menghina kekristenan dan menghujat Allah, mereka bahkan membakar rumah tetangga saya itu dan mencoba membakar rumah saya.
Sejauh ini, kita melihat bahwa meskipun dosa dan kejahatan masuk ke dalam rencana saya, dosa-dosa tersebut tidak bisa ditanggungkan kepada saya. Memang saya adalah pembuat rencana itu, dan apabila rencana saya itu saya laksanakan maka dosa-dosa itu pasti akan terjadi. Tetapi, karena saya melihat bahwa jika tetangga saya itu akhirnya bertobat, ia akan menjadi berkat di lingkungan kami, maka saya memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana itu.
Jadi, apakah saya ikut melakukan dosa-dosa itu? Jelas tidak. Apakah saya memaksa langganan-langganan itu untuk membakar rumah? Tidak. Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas semua dosa-dosa itu? Jelas para pelakunya sendiri.
Dari ilustrasi-ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa meskipun Allah yang membuat rencana, dan di dalam pelaksanaan rencana itu dosa-dosa bermunculan, Ia bukanlah pencipta dosa, Ia juga tidak bertanggung jawab atas setiap tindakan dosa yang dilakukan.
Mungkin ada yang bertanya, bukankah sifat dosa itu juga dari Tuhan? Memang tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar Tuhan, tetapi Tuhan kita yang maha suci bukanlah pencipta dosa. Pada saat Adam diciptakan, Allah tidak menciptakannya dengan kemungkinan untuk jatuh, ataupun memberikan suatu kelemahan di dalam diri Adam yang dapat menyebabkan ia jatuh. Yang Allah berikan adalah kehendak yang bebas, kehendak yang bisa berubah, dan kehendak bebasnya itulah yang menjatuhkan Adam. Allah memang sudah tahu bahwa Adam pasti jatuh, Allah memang sudah menentukan Adam untuk jatuh, tetapi bukan Allah yang menjatuhkan Adam melainkan kehendak Adam sendiri. Di dalam hal kejatuhan ini Allah hanya mengijinkan Iblis untuk menggoda Adam (Iblispun punya kehendak bebas) karena hal itu memang sesuai dengan rencanaNya. Jadi, kita tidak bisa bilang bahwa Ia yang menjatuhkan Adam.
Sekali lagi, perlu diingat bahwa kesulitan atau keberatan yang kita hadapi ini adalah keberatan yang seharusnya dihadapi oleh semua aliran dan agama yang mempercayai akan adanya Allah, hanya saja, tidak semua aliran akan dapat mengharmoniskan kenyataan ini dengan doktrin-doktrin mereka.

Fitnah IX
Sekali selamat, walupun berubah iman akan tetap selamat!

Benarkah ini ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme?
Sekali selamat tetap selamat! Ya, ini adalah ajaran dari John Calvin dan Calvinis, tetapi kalau sekali selamat, walaupun berubah iman tetap selamat, jelas inilah adalah fitnah dan membuktikan bahwa Dr. Suhento tidak tahu sama sekali tentang ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme!
Untuk itu akan kami tunjukkan ajaran Calvinisme yang sebenarnya tentang keselamatan!
Roma 8: 29,30
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Keselamatan adalah suatu proses yang dimulai oleh Allah dan diakhiri oleh Allah juga dan Allah berjanji bahwa proses itu pasti berakhir dan tidak berhenti di tengah jalan (Filipi 1:6)
Jadi, kalau seseorang itu telah memasuki suatu proses keselamatan, maka tidak akan mungkin keluar dari proses tersebut. Jadi, orang yang benar-benar diselamatkan TIDAK MUNGKIN BERUBAH IMAN / KELUAR DARI PROSES KESELAMATAN.
Itulah sebabnya, TUHAN YESUS MEMBERI JAMINAN:
Yohanes 10: 28 Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan merekapasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
Hidup yang Tuhan berikan pada kita adalah hidup yang kekal, bukan hidup sementara / temporer. Kekal artinya dari saat lahir baru sampai selama-lamanya. Kalau setelah lahir baru kemudian mati lagi karena murtad, maka itu bukan hidup kekal namanya, kecuali ia memang belum benar-benar lahir baru.
Tuhan melalui Rasul Paulus juga memberi jaminan sekali selamat tetap selamat!
Roma 8: 38,39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Firman Tuhan di atas sudah sangat jelas, bahwa hidup kita setelah bertobat, kematian, serta apapun juga yang ada di dalam kehidupan kita TIDAK DAPAT MEMISAHKAN KITA DARI KASIH KRISTUS. “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS JAUH LEBIH BESAR DARI “GAYA TARIK” APAPUN DI DUNIA INI SEHINGA KITA TETAP AMAN BERADA DI DALAM “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS.
Jadi keselamatan yang kita miliki sepenuhnya adalah anugerah Allah
Keberatan dan tanggapannya:
1. Kalau begitu Allah adalah seorang penculik karena memilih seseorang tanpa persetujuan atau keingininaanya!
Ini adalah pemikiran yang bodoh dan dangkal walaupun muncul dari seorang doktor teologi (maaf kalau saya sampai kasar, ya karena Allah telah dihujat sedemikian hebat!)
Hei, Bapak Doktor Suhento, apakah ketika Anda mau lahir ke muka bumi ini, Allah harus terlebih dahulu meminta persetujuan Anda; Anda ingin jenis kelamin apa?Anda ingin dilahirkan dimana? Siapa orangtua yang Anda ingini? dan sebagainya? TIDAK BUKAN?
Mengapa tidak? KARENA ANDA HANYALAH SEORANG CIPTAAN YANG TIDAK PUNYA OTORITAS SENDIRI. ANDA BERADA DALAM OTORITAS ALLAH PENCIPTA ANDA.
Kesalahatan fatal dari Dr. Suhento adalah ia menganggap bahwa manusia punya otoritas sendiri untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendak bebasnya. Ia lupa bahwa kehendak bebas yang ia miliki adalah kehendak yang bukan bebas secara mutlak, dan kehendak bebasnya sudah dipengaruhi bahkan dikuasi oleh dosa. Selain itu kalau manusia punya otoritas sendiri, maka ia statusnya sama dengan Allah, karena hanya Allah-lah satu-satunya yang punya otoritas dari diri-Nya Sendiri.
Ingat, sama seperti proses kelahirannya, dalam hidup selanjutnya pun manusia tidak bisa menentukan sendiri, mau membantah?
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya
Jadi, mengapa Allah harus meminta persetujuan manusia atas apa yang akan Dia lakukan pada manusia ciptaan-Nya sendiri?
Sekali lagi, Pikiran di atas muncul karena Dr. Suhento menganggap manusia punya otoritas sendiri atau menganggap manusia sejajar dengan Allah dan inilah inti dari Humanisme dimana kehendak dan keinginan manusia dijunjung tinggi melebihi porsi yang sebenarnya!
2. Kalau begitu, Allah adalah sebagai penjajah atas kehendak manusia!
Ini adalah pikiran yang sama bodohnya (sekali lagi maaf)
Ingat! Orang yang masuk dalam proses keselamatan adalah orang yang telah dipilih dan dilahirkan kembali. Sebelum dilahirkan kembali ia berada di bawah kuasa dosa. Keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Kondisi seperti ini TIDAK SESUAI dengan keinginan dan kehendak manusia yang sebenarnya. Orang yang memang dipilih oleh Allah pasti tidak suka keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Ia akan bergumul sama seperti Rasul Paulus:
Roma 7: 18-24
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
Pertanyaannya adalah , apakah orang yang dilepaskan dari kondisi ini dan masuk ke dalam kondisi yang baru dimana keadaannya sesuai dengan kehendak dan keinginannya akan merasa sedih atau senang? Akan merasa dibelenggu atau dibebaskan? Inilah reaksi orang yang telah dilahirkan kembali: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Jadi orang yang sudah dilahirkan kembali SAMA SEKALI TIDAK MERASA BAHWA KEHENDAKNYA DIJAJAH OLEH ALLAH, SEBALIKNYA, JUSTRU PENUH UCAPAN SYUKUR KARENA TELAH DIBEBASKAN DARI PENJAJAHAN DOSA, karena hatinya beserta dengan kehendak dan keinginanya yang tidak suka dan tidak taat pada perintah Tuhan DIUBAH dengan hati yang baru, hati yang suka dan taat pada perintah Tuhan.
Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Bagi orang yang sudah lahir baru, menaati Tuhan adalah kesukaannya karena memang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya yang telah diperbaharui sehingga ia sama sekali tidak akan merasakan nuansa penjajahan dan pemaksaan dari Allah.
Sebaliknya, bagi orang yang belum lahir baru, menaati Tuhan adalah suatu beban atau keharusan, sehingga nuansa penjajahan / kerja paksa sangat terasa.
Dengan timbulnya pemikiran bahwa seolah-olah Allah menjajah kehendak manusia yang sudah diselamatkan, maka saya ragu-ragu apakah Dr. Suhento dan orang-orang yang sepaham dengannya sudah benar-benar dilahirkan kembali rohnya (walaupun secara akal budi mereka sudah tahu banyak tentang Kristus dan ajarannya). Karena kalau mereka sudah lahir baru, pasti tidak akan mengeluarkan pendapat yang demikian. Ya, semoga saja mereka sudah lahir baru, cuma masih bayi …. he…he jangan marah ya?
3. Kalau begitu, orang yang telah diselamatkan bisa berbuat semau gue, termasuk berbuat dosa, toh Allah telah menjamin bahwa ia pasti selamat!
Sekali lagi, pikiran seperti ini muncul dari orang yang kemungkinan belum memahami dan mengalami kelahiran kembali.
Ingat bung, orang yang dalam proses keselamatan adalah orang yang sudah lahir baru. Hatinya sudah diperbaharui, Walaupun keinginan dan kehendaknya belum benar-benar steril dari dosa, tetapi sekarang lebih cenderung untuk menaati Tuhan daripada memberotak kepada Tuhan. Dia mengalami “gaya tarik” yang lebih besar kepada Allah, dari pada kepada dosa. Memang dalam proses keselamatannya ia dapat berbuat dosa lagi, tetapi hatinya tetap berada pada “gaya tarik kasih Allah” sehingga ia tetap akan bangun dan taat pada Allah lagi.
Amsal 24:16 Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.
Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Perlu diingat lagi, bahwa Allah sudah menjamin bahwa tidak akan ada oknum, kuasa, dan peristiwa apapun dimana “gaya tariknya” lebih besar dari “gaya tarik” kasih Allah pada orang-orang yang telah dipilih sesuai dengan Rencana-Nya.
a) Allah memproteksi kita dari pencobaan yang melebihi kekuatan kita.
I Kor. 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
b) Allah turut bekerja dalam segala segi kehidupan kita sehingga rencana Allah atas hidup kita benar-benar terwujud.
Roma 8:28-30
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Jadi, orang yang masuk dalam proses keselamatan Allah, hatinya sudah diubah, dari mengasihi dunia / membenci Allah, menjadi orang yang mengasihi Allah dan membenci dunia, dari yang cenderung memberontak Allah, menjadi cenderung menaati Allah (saya katakan “cenderung” karena kehendaknya masih belum steril dari dosa, nanti kalau sudah sampai di surga maka orang pilihan Allah akan benar-benar mutlak akan mengasihi dan taat pada Allah).
Dengan demikian, fitnahan di atas tidak cocok ditujukan untuk orang kristen yang benar-benar telah lahir baru dan pasti selamat, tetapi akan sesuai bila ditujukan untuk orang kristen yang belum lahir baru sehingga juga belum tentu selamat!
4. Bagaimana dengan orang yang “sudah selamat” kemudian murtad? Bagaimana pula dengan adanya peringatan “jangan murtad”?
Sebelum menjawab perntanyaan ini, perlu ada pemahaman bahwa di dalam Alkitab, ada dua macam orang Kristen, yaitu Kristen sejati atau yang oleh Rasul Yohanes disebut sebagai orang “sungguh-sungguh termasuk pada kita” dan orang Kristen palsu atau “tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita”. Orang Kristen sejati tidak mungkin murtad dan kehilangan keselamatannya, tetapi orang Kristen Palsu (KTP) inilah yang mungkin sekali “murtad”. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang Kristen Palsu ini belum selamat. orang Kristen sejati pasti telah lahir baru, orang Kristen palsu belum lahir baru sehingga juga belum selamat”
I Yoh. 2:19
Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
Untuk membedakan Kristen sejati dengan Kristen palsu memang sangat sulit, sama seperti membedakan antara gandum dan ilalang. Mereka sama-sama ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, berkhotbah, sekolah teologia (bahkan jadi doktor) mengusir setan, dan lain-lainnya.
Jadi kalau ada orang Kristen yang murtad, itu hanya membuktikan bahwa dia bukan orang Kristen sejati, dan pada dasarnya belum diselamatkan.
Mari kita lihat beberapa kasus di Alkitab:
a) Yudas Iskariot
Apakah Yudas Iskariot sudah diselamatkan?
Saya yakin bahwa ia belum diselamatkan, dengan alasan:
1) Yudas Iskariot memanggil Tuhan Yesus hanya sekedar “rabi” atau guru, sedangkan murid yang lainnya selalu memanggil Tuhan Yesus dengan “Tuhan”. Jadi hubungan antara Yudas Iskariot dengan Tuhan Yesus hanya sekedar murid dan guru. Saat ini banyak sekali orang yang kagum dengan ajaran Tuhan Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah guru mereka, walaupun mereka tidak percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Mis. Mahatma Gandhi).
2) Yudas Iskariot bukan dipilih untuk diselamatkan, tetapi untuk menggenapi rencana Allah yang sudah dinyatakan sejak semula:
Yohanes 13:18
Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
3) Yuda Iskariot adalah satu-satunya murid yang tidak dijamin keselamatannya oleh Tuhan Yesus. Hal ini dapat dilihat dalam doa Tuhan Yesus:
Yohanes 17: 12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.
Itulah sebabnya mengapa setelah menyesal, Yudas Iskariot lantas bunuh diri. Hal ini berbeda dengan Petrus, setelah bertobat ia tetap terus percaya pada Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus memang menjaga dia (Lukas 22:31,32)
b) Orang-orang dalam Matius 7:15-23
Banyak orang (termasuk Dr. Suhento) menafsirkan bahwa orang-orang yang berseru Tuhan, Tuhan! ……. (ayat 22) adalah orang-orang Kristen yang akhirnya ditolak Tuhan dan masuk neraka! (Pedang Roh 56 hal 2).
Benarkah mereka pernah jadi orang Kristen (sejati)? TIDAK PERNAH!!!
1) Ayat 15 menyatakan bahwa mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba. Jadi mereka sebenarnya bukan domba, bukan orang Kristen.
2) Ayat 23, Tuhan TIDAK PERNAH MENGENAL mereka!
Ingat, Tuhan Yesus mengenal setiap domba-Nya / umat-Nya (Yohanes 10:14). Karena mereka tidak pernah dikenal Tuhan, maka kesimpulannya sudah sangat jelas, MEREKA TIDAK PERNAH MENJADI UMAT-NYA (ORANG KRISTEN). Kalau mereka pernah jadi orang Kristen maka Tuhan Yesus akan berkata: Aku tidak lagi mengenal kamu …….
c) Orang-orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu (Matius 13:20,21 dan yang paralel).
Orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu juga bukan orang Kristen sejati. Buktinya benih (firman Tuhan) tidak sempat berakar dalam hati. Orang ini adalah orang yang percaya pada Tuhan Yesus hanya pada taraf otak/pikiran doang, hatinya belum tersentuh oleh kasih Tuhan. Jadi, jangan heran kalau banyak para ahli teologia yang akhirnya “murtad”, karena mereka menerima Tuhan Yesus hanya di akal / pikiran mereka, tetapi hatinya masih dikuasi oleh dosa. Pada dasarnya orang ini belum selamat sehingga juga tidak mungkin murtad!
d) Orang-orang dalam Matius 24:10
Orang-orang yang dimaksud disini jelas bukan orang Kristen sejati (yang telah dipilih dan dilahirkan kembali). Mengapa? Karena pada ayat 22, 24 orang-orang pilihan Allah tetap selamat dan tidak akan mungkin disesatkan oleh nabi-nabi palsu!
Matius 24:22-24
Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Adanya peringatan “jangan murtad” belum tentu karena yang diperingatkan tersebut mempunyai kemungkinan untuk murtad. Harus dilihat terlebih dahulu siapa yang diperingatkan dan apa tujuannya memperingatkan jangan murtad.
Ilustrasi:
Kalau peringatan “jangan merokok karena merokok akan bla – bla- bla …” ditujukan pada seorang perokok, memang benar ada kemungkinan orang tadi akan merokok lagi. Tetapi kalau peringatan tersebut ditujukan pada saya, jelas saya tidak akan mungkin merokok karena saya bukan perokokdan tidak pernah merokok, sertya tidak ada niat sedekitpun untuk merokok. Lalu apa gunanya peringatan jangan merokok untuk saya? Jelas ada gunanya dan bahkan sangat berguna! Karena dengan tahu bahaya dari merokok maka hal itu akan meyakinkan saya bahwa tindakan saya yang tidak merokok adalah tepat dan akan menguatkan komitmen saya untuk tidak pernah merokok, bahkan akan mendorong saya untuk mengkampanyekan anti merokok kepada para perokok!
Demikian juga peringatan “Jangan murtad” kalau ditujukan pada orang Kristen palsu, maka ada kemungkinan orang kristen palsu tersebut akan “murtad”! Tetapi kalau ditujukan pada orang Kristen sejati, makaperingatan tersebut justru akan menyakinkan dia bahwa dia telah berada pada jalan yang benar dan akan menguatkan komitmenya untuk tetap berjalan pada jalan tersebut, bahkan akan mendorong dia untuk menunjukkan jalan itu pada orang lain yang belum melewati jalan itu karena ia sudah tahu bahayanya kalau ada orang yang berjalan pada jalan yang tidak ia sedang jalani!
Contoh:
a) Dalam 2 Tes 2: 3 Rasul Paulus memperingatkan kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan disesatkan, karena akan banyak pemurtadan (penolakan terhadap agama) ..
Tetapi, dalam ayat 13,14 Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena sebagai umat pilihan Allah mereka akan tetap selamat dan memperoleh kemuliaan Kristus, sehingga pada ayat 15, Rasul Paulus meminta mereka untuk tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.
Jadi, jelas bahwa adanya peringatan “jangan disesatkan” dan “banyak pemurtadan” tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa jemaat di Tesalonika akan dapat tersesat dan murtad, tetapi sebaliknya mereka tetap aman dalam proses keselamatannya.
b) Dalam Ibrani 3:12 Penulis kitab ini memperingatkan supaya orang Ibrani jangan ada yang murtad. Pada ayat-ayat berikutnya dinyatakan bahaya-bahaya dari murtad yang sampai puncaknya pada Ibrani 6: 4-7.
Penulis kitab Ibrani memperingatkan “jangan murtad” kepada orang Ibrani bukan karena mereka bisa murtad, tetapi UNTUK MENEGUHKAN PENGHARAPAN MEREKA AKAN KESELAMATAN YANG SUDAH PASTI, DAN SUPAYA IMAN MEREKA TERUS BERTUMBUH.
Ibrani 4: 9-12
Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.
c) Ibrani 10: 26,35,38
Dr. Suhento begitu yakin dengan adanya ayat-ayat di atas, orang Kristen benar-benar dapat murtad, melepaskan kepercayaanya, dan membatalkan penanggungan dosanya, sehingga ia wanti-wanti agar jemaatnya tidak melakukan hal seperti itu.
Sekali lagi, kalau Dr. Suhento dan jemaatnya memang ada potensi seperti itu, berarti mereka bukan orang Kristen sejati. Mereka bukan seperti orang Ibrani yang menerima surat itu ( dan juga bukan seperti kami he….he… sombong ni ye karena kami juga menyamakan diri seperti orang Ibrani) yang oleh penulis surat Ibrani dinyatakan ..
Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.
(Ibrani 10: 39)
Lihat baik-baik ayat yang saya tebalkan dan besarkan di atas! Firman Tuhan ini menegaskan bahwa adanya peringatan jangan murtad, mengundurkan diri, tidak percaya dan sebagainya, bukan dimaksudkan karena kita ada potensi melakukan seperti itu, tetapi untuk meneguhkan kita bahwa kita sudah ada pada posisi yang benar. Dengan mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak berada pada posisi seperti kita akan binasa, maka penulis Ibrani bermaksud supaya kita lebih banyak mengucapsyukur pada Tuhan, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin memperkuat iman kita.

Source: http://www.geocities.com/thisisreformed/reformasi.html

What’s wrong with infant baptism?

A debate about one or more topics especially theology is more likely never comes to the end. Coming to the finish line with a joint-agreement is not an easy matter to gain. Perdebatan, khususnya di bidang teologi nampaknya tidak pernah berakhir. Sukar sekali kesepakatan bersama diraih. Begitu juga terkadang perdebatan yang alot, kekeh jumekeh alias ngotot memang fakta yang tidak dapat dihindari ketika mendiskusikan suatu tema Alkitab ini. Yes, especially with the infant baptism (baptisan anak). Ada golongan-golongan tertentu yang mengatakan bahwa babtisan anak itu tidak Alkitabiah bahkan berani mengatakannya sesat. Karena itu saya tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang Kristen saya ingin menegakkan kebenaran yang benar-benar kebenaran. Ya, dengan melihat fenomena itulah maka saya mencoba memposting blog ini. Saya rasa perlu juga menyampaikan buah pikiran saya di sini. Namun saya tidak ingin terlibat dalam “debat kusir”. Kalau sudah jelas tidak perlu berdalih ini dan itu lagi. Tidak perlu mencari pembenaran diri yang ngotot. Posting saya berjudul “SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU?” . Tentu saja saya akan membahas tentang baptisan anak. Saya tidak akan berpanjang lebar membahas tentang baptisan mana yang benar dan mana cara baptisan yang tidak benar, karena hal itu akan saya bicarakan pada blog yang lain. Tujuan saya menulis ini semata-mata hanyalah ingin menyampaikan suatu kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya dengan segala kemampuan yang ada pada saya, dan semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Kita biasanya paling pandai kotasi, mengambil bahan dari berbagai sumber untuk membuktikan bahwa kita very learned. Seperti banyak mahasiswa teologia yang pintar mengutip buku-buku dan bahan dari sana sini. Secara akademik mereka mungkin sudah lulus tapi secara pemahaman Firman Tuhan sama sekali “kosong”!!!. Celakalah orang yang belajar teologia dengan cara demikian. Satu hal, meskipun kita memakai banyak referensi, buku doktrin dan teologi sistematika atau yang lainnya untuk memahami dan menjelaskan suatu topik Alkitab, tetapi marilah kita sungguh-sungguh kembali dan menyelidiki Alkitabnya dan menjadikannya sebagai standar kebenaran yang otoritatif di atas semuanya itu. Karena buku-buku selain Alkitab adalah tafsiran manusia yang bisa keliru. Sebenarnya, tidak salah jika kita memakai sumber penunjang, tapi yang terpenting adalah apakah buku atau sumber penunjang itu otoritatif atau tidak, dan Alkitab harus menjadi standar utama. Kalau mau memakai bahan-bahan penunjang, bagi saya dari sekian banyak buku teologia, yang pembahasannya sangat ketat, tajam dan komprehensif (mendalam) adalah buku-buku tafsiran dari para teolog reformed (seperti Yohanes Calvin, Prof. Dr. Louis berkhof, Hodge, Matthew Henry, Bavinck, Pdt. Dr. Stephen Tong dll). Berbahagialah orang yang mempelajari teologi reformed dengan rendah hati, mereka akan dihindarkan dari jurang-jurang yang terjal dan mematikan. Berapa banyak diantara kita yang dengan rendah hati mempelajarinya?
Well, niatnya bukan mau promosi cuma kebetulan saya lagi teringat, mengenai buku teologi, khususnya teologi sistematika, kalau boleh, saya sarankan bacalah bukunya Prof. Dr. Louise Berkhof, Jilid I sampai jilid VI. Untuk baptisan, buku Prof. J.I Packer tentang “apa itu baptisan?”. (Cuma tetap Alkitab di atas semuanya). Kemudian untuk masalah teologi dan pelayanan, buku-buku rohani, tulisan, kaset/video seminar dan khotbah termasuk KKR dari Pdt. Dr. Stephen Tong sangat disarankan/direkomendasikan untuk dibaca dan disimak (cuman jaman sekarang banyak orang yang terlalu apriori dengan pak Tong. Bagi saya orang yang demikian adalah tidak rendah hati, alias sombong, meskipun tidak sadar atau memang kekeh jumekeh dan gengsi tidak mau berubah. Tidak ada yang bisa melarang tentunya). Saya sendiri terkadang juga kurang teliti dan agak lambat dalam memahami hal teologia, khususnya yang berat dan berbobot seperti teologi reformed, meskipun saya rindu sekali untuk mempelajari teologi yang ketat. Tapi itulah kapabilitas saya. Saya menyadari hal itu. I realize that. Namun, saya berusaha terus belajar, belajar dan belajar dan mau diajar.
Anyway, saya sudah terlalu berpanjang lebar di bagian pendahuluan. Anda mungkin bertanya-tanya dan menunggu-nunggu sejak tadi kapan saya akan masuk ke inti pembahasan blog saya ini. Baiklah sekarang saya akan masuk ke inti pembahasan tentang baptisan anak ini.
SALAHKAH BAPTISAN ANAK?
Saya melihat memang merupakan suatu fakta bahwa ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Namun bagaimana jika setelah diuji, diadakan penyelidikan, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. This is our answer. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara kaum saleh (the saints) ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.
Sunat sudah dimiliki umat Allah jauh sebelum baptisan ditetapkan. Ketika perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini diselidiki, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksud saya, sunat mengantisipasi baptisan. Kovenant atau jamji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6).
Sekarang kita dapat melihat dengan jelas antara persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar saja, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang tidak penting.
Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?
Kitab suci bahkan mewahyukan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris perjanjian (kovenan) ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga dengan anak-anak Kristen. Mereka dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham (bapa orang beriman), maka kita melihat bahwa Allah memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah. Dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan perjanjian ini di dalam diri anak-anak kita.
Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak diterima oleh Allah? Apa hak kita atas hal itu?
Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan mendukung hal ini. Mereka (golongan tertentu) yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah argument yang tidak meyakinkan. Saya setuju dengan pak Hai-Hai bahwa meskipun hal baptisan bayi atau anak tidak tercatat dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengajarkannya. Karena, walaupun para penulis Injil tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa anak-anak juga dibaptis, namun para penulis Injil juga tidak menyebutkan bahwa ada perkecualian bagi anak-anak dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). From these verses, who can show and prove or rebut me that infants or children are not included to baptism? Siapa yang bisa tunjukkan dari nas-nas ini kalau anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan hal secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus. Perhatikan poin ini. Seperti istilah Tritunggal, di Alkitab tidak ada istilah itu, istilah itu adalah kesimpulan dari bapa-bapa gereja di masa lampau, namun kita mengakui bahwa doktrin Allah Tritunggal itu secara implicit diajarkan oleh Alkitab bahkan sejak permulaan di kitab Kejadian.
Selanjutnya, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna, maka kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, sebab mereka melihat sendiri perjanjian Allah telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.
Di sisi lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Allah sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol perjanjian (kovenan) kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).
Some people say that infants or children are not allowed to get baptism since they are still too young to understand the mystery of the baptism, that is, “spiritually born again” (Ya, Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani). Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita (It is a sovereignty of God which beyond our understanding). Alasan mereka yang lain yang mereka kemukakan ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan materai. Seperti dalam pertobatan, apakah pertobatan mendahului kelahiran kembali? Ajaran sejati Alkitab harus mengatakan “tidak”. Tetapi Roh Kudus yang memperanakkan kita dulu melalui proses kelahiran kembali (Baptisan Roh Kudus) yang kita tidak mengerti (mengapa Tuhan memilih kita), baru kemudian kita bisa sadar dan melakukan pertobatan. Pertobatan adalah sebagai efek dari kita yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, sebagai reaksi atau respon kita yang beriman kepad-Nya. Jadi, SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU? Seperti yang pernah saya bilang pada salah satu komentar saya di SABDAspace ini, If we understand the doctrine of predestina What’s wrong with infant baptism? tion correctly, then we could agree that the infant baptism is not wrong but is really biblical (kalau kita mengerti doktrin predestinasi dengan benar, maka kita akan mengerti dan setuju bahwa BAPTISAN ANAK ITU TIDAK ADA YANG SALAH. TAPI 100% ALKITABIAH.
Demikian posting saya tentang tema ini, semoga dapat memberikan iluminasi, berkat dan tentunya bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan pada akhirnya hanya kita kembalikan kepada Tuhan di dalam Allah Tritunggal, Amin (Soli DEO Gloria).
Diadaptasi oleh desfortin dari:
The Institutes of the Christian Religion, IV.16 by John Calvin
(The important reformator or the founding father and the root of Reformed Theology until today)

KEKRISTENAN DAN BISNIS

Christianity and Business

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

1. UANG DAN FIRMAN

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

Referensi:
Hal Pengumpulan Harta (Mat 6:19-24)
Orang Muda yang kaya (Mat 19:16-26; Mrk 10:17-27; Luk 18:18-27)
Orang kaya yang bodoh (Luk 12:13-21)
Persembahan Janda miskin (Mrk 12:41-44; Luk 21:1-4)
Orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31)

Latar Belakang Permasalahan
Kehidupan manusia modern semakin hari semakin tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan uang. Apalagi setelah penegasan dari Abraham Maslow bahwa kebahagiaan manusia sangat ditentukan oleh kebutuhannya. Dan kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan akan makanan dan minuman.

Prinsip Alkitab tentang Uang
1. Uang itu berbahaya
Satu terobosan konsep yang Alkitab bukakan kepada kita adalah bahwa uang merupakan hal yang sangat berbahaya. Alkitab memperingatkan kita bahwa cinta uang merupakan akar dari segala kejahatan. Uang menyebabkan manusia terlepas dari kehendak Tuhan.
Konsep ini sebenarnya secara hakekat dan di dalam lubuk hati banyak orang, sudah disadari dan dimengerti. Tetapi tekanan konsep materialisme membuat banyak sekali orang yang sulit sekali melepaskan diri dari pola nilai materialisme ini sendiri.
Cara menangani uang haruslah dengan sangat konseptual. Dengan sadarnya kita akan tantangan-tantangan berat yang harus kita hadapi di dalam masalah uang, maka kita harus betul-betul serius dalam menanggapi permasalahan ini. Seringkali kita menyikapinya dengan sangat pragmatis, dan beranggapan bahwa tokh semua orang yang bersikap seperti itu. Pemikiran ini justru mendatangkan banyak korban yang dahsyat. Banyak orang yang hidupnya menjadi budak uang. Ia bahkan tidak lagi mengerti mengapa ia mengejar uang, dan ia tidak mendapatkan hasil apa-apa dari tindakannya itu. Seluruh hidupnya dikorbankan, keluarganya dikorbankan, tetapi ia sendiri tetap tidak sadar, dan beranggapan itulah cara ia menolong dan menopang seluruh kehidupan dan keluarganya. Bahkan jika akhirnya ia tertipu atau bangkrut, tidak segan-segan ia menghabisi nyawanya sendiri karena tidak tahan menghadapi tekanan. Betapa malang manusia materialis.
Dengan kekayaan dan kemuliaan dunia Iblis mencoba meruntuhkan Tuhan Yesus ketika berada di pencobaan di padang gurun. Setan tahu sekali bagaimana harus menjebak Tuhan Yesus dan ia menggunakan senjata pamungkas yang paling ampuh, yang biasanya pasti dapat meruntuhkan iman yang sekuat apapun. Tawarannya pun tidak tanggung-tanggung, karena ia sedang berhadapan dengan oknum yang luar biasa kuat. Tetapi tokh akhirnya setan tidak mampu meruntuhkan Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita?
Hanya anak-anak Tuhan yang bisa menjadi orang kaya sejati. Artinya, ia betul-betul menyadari bahayanya uang dan kekayaan materi, sehingga tidak memperkenankan dirinya dikuasai atau dikondisikan oleh uang atau kekayaannya. Orang Kristen sejati adalah orang-orang yang tidak pernah membiarkan uang meracuni dan menghancurkan diri dan imannya.

2. Uang perlu ditaklukkan
Alkitab mengatakan bahwa tidak mungkin seorang mengabdi kepada Tuhan dan sekaligus Mamon. Mamon adalah nama Dewa Uang. Gambaran ini diberikan untuk melambangkan bahwa uang cenderung akan menjadi tuan. Melalui perkataan ini, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa uang tidak boleh menjadi tuan kita. Jika Tuhan kita adalah Allah, maka Mamon harus menjadi budak kita. Inilah ordo yang tepat. Uang harus dipergunakan untuk melayani Allah, dan bukan Allah untuk melayani uang.
Di dalam kehidupan modern, maka banyak konsep agama yang sudah di-materialisme-kan. Agama adalah sarana untuk mencapai tujuan akhir yang kekayaan, yang dipercaya sebagai sumber kebahagiaan manusia. Akibatnya, ketika kita “menyembah” Allah, sebenarnya kita sedang menyembah uang kita. Allah yang kita sembah haruslah Allah yang bisa memenuhi permintaan uang kita. Konsep ini jelas di dalam konsep “jin seribu satu malam.” Juga di dalam Kekristenan-pun pola ini juga muncul. Akibatnya, ketika beragama, ia bukan menjadi manusia religius yang sejati, tetapi manusia yang mereligiuskan materi. Inilah kejahatan mendasar akan dosa manusia (Rom 1:21-23).
Anak-anak Tuhan diberi kekuatan oleh Tuhan untuk kita hanya mentuhankan Allah. Hanya kepada Allah kita harus menundukkan diri dan menjadi budak. Kalau kita tidak mau menjadi budak Allah, tidaklah heran kita segera akan menjadi budak setan dan menjadi budak materi. Oleh karena itu, Alkitab memberikan peringatan yang tegas kepada kita.

3. Uang merupakan sarana bukan tujuan
Melalui perumpamaan bendahara yang tidak jujur, Alkitab membukakan suatu kebenaran kepada kita, yaitu bahwa uang bukanlah tujuan bagi hidup manusia, tetapi uang hanya meru¬pakan sarana untuk mencapai kemuliaan yang lebih tinggi.
Kesalahan fatal manusia adalah karena menjadikan uang se¬ba¬gai tujuan terakhir bagi hidup manusia.
Uang bagi orang Kristen bukan sesuatu yang perlu dibenci dan kita bertindak ekstrem dengan mengatakan kita tidak memerlukan uang, dan orang Kristen adalah orang yang anti uang. Alkitab menegaskan bahwa uang hanyalah suatu sarana untuk menuju sasaran yang jelas, yaitu demi menjalankan kehendak Allah.
Maka dari konsep di atas, terdapat kaitan yang erat sekali antara uang dan ketaatan kepada Allah. Penggunaan uang yang tidak sesuai dengan ketaatan pada Allah tidak akan mempermuliakan Allah. Hanya penggunaan uang yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah, barulah uang itu akan menjadi sarana yang baik.

Penggunaan uang di dalam ketaatan
A. Kesalahan konsep tentang uang
1. Uang itu netral
2. Uang sumber kebahagiaan
3. Tidak bisa hidup tanpa uang

B. Konsep uang yang benar
1. Seluruh harta berasal dari Tuhan
2. Melepaskan diri dari ikatan materialisme
3. Uang menjadi budak pekerjaan Tuhan

Hasilnya
Dengan konsep Kristen yang benar tentang uang, maka seluruh kehidupan kita tidak akan diterpa oleh materialisme.
1. Kehidupan yang mempermuliakan Allah
2. Kehidupan yang stabil.
3. Kehidupan yang menjadi berkat bagi banyak orang

2. ALKITAB DAN TINJAUAN SISTEM EKONOMI

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

Latar Belakang Permasalahan
Prinsip ekonomi dunia telah berusaha menggeser pengertian ekonomi yang sesungguhnya. Bukan saja demikian, bahkan dunia ekonomi sekarang telah berusaha keras untuk menggeser semua bidang lainnya. Ekonomi merupakan bidang yang dianggap paling berkuasa dan paling ampuh di dunia. Ekonomi menjadi andalan dan penentu mati-hidupnya manusia.
Berbekal format materialis-humanis ekonomi berkembang menjadi satu format penentu dunia. Bahkan sekarang ekonomi jauh lebih ditakuti ketimbang senapan atau rudal. Ancaman ekonomi dirasakan sebagai ancaman yang jauh lebih mematikan.
Di dalam keadaan seperti ini, maka dunia berubah menjadi dunia yang berpusat pada ekonomi. Dunia berjuang untuk mencari kelebihan material dan mengejar keuntungan. Seluruh dunia dinilai dari ukuran ekonominya. Itulah penentu kesuksesan dunia.

Iman Kristen dan Ekonomi
Lebih celaka lagi ketika Kekristenanpun tercemar dengan ide materialisme seperti ini. Sekalipun Alkitab berulang kali membicarakan tentang bahayanya berpusat pada uang dan mengejar uang, tetapi banyak orang Kristen yang masih sulit untuk melepaskan diri dari opini dunia ini.
Semakin canggih dan banyaknya teori ekonomi, dan semakin dipasarkan secara luasnya prinsip materialisme dan marketing, maka dunia Kekristenan menghadapi ancaman serius dari indoktrinasi materialisme yang berusaha masuk ke dalam gereja.
Ditambah lagi dengan fakta banyaknya pemimpin-pemimpin gereja sendiri yang memang “money-oriented” karena memang itulah yang menjadi basis pemilihannya. Banyak pemilihan majelis ditentukan oleh tingkat kekayaannya. Banyak pendeta yang sibuk mengkhotbahkan perpuluhan untuk menggendutkan perutnya dst. Semua format ini menjadikan gereja semakin sekuler dan materialis. Tidak heran, akibatnya, gerejapun akan berpusat pada ekonomi.

Definisi Ekonomi
Pada umumnya dunia mengerti ekonomi sebagai suatu tindakan yang dimotori oleh kebutuhan. Jadi di dalamnya ditekankan adanya tiga unsur penting, yaitu: produksi, konsumsi dan pertukaran. Kalau ketiga unsur ini terjadi, di situ sudah terjadi ekonomi.

Alfred Marshall: Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang umat manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Richard G. Lipsey dll. : Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas.

Alkitab: Ilmu ekonomi adalah studi tentang bagaimana mendayagunakan semua yang Tuhan percayakan kepada manusia untuk bisa mempermuliakan Allah. (Kej. 2:15; Mat. 25:14-30; Kol. 3:23).

Singkatnya: Ekonomi berasal dari kata “oikos” (rumah) dan “nomos” (aturan), yang secara utuh berarti, mengatur rumah tangga. Ekonomi adalah tugas penatalayanan (stewardship).

Perbedaan dasar prinsip Ekonomi Alkitab dan Dunia
1. Orientasi pada Allah.
Ekonomi Alkitab mengajarkan prinsip yang sangat jelas, yaitu seluruh alam semesta dan isinya adalah milik Allah yang perlu dikelola dan dipertanggungjawabkan bagi kemuliaan Allah. Semua perilaku ekonomi harus dikembalikan pada kehendak Allah. Tidak ada perilaku ekonomi yang beres, yang keluar dari rencana Allah. Sebaliknya, dunia justru mengajar untuk melakukan tindakan ekonomi tanpa mempedulikan Allah, atau yang lebih parah lagi justru menunggangi atau menjadikan Allah sebagai alat ekonomi (agregat produksi). Di sini manusia yang menjadi pusat dan kebutuhan manusia yang menjadi intinya. Maka dalam format dunia, ekonomi menjadi suatu bidang studi yang sangat humanistis dan materialistis.

2. Intinya pertanggungjawaban.
Ekonomi Alkitab mengajarkan prinsip pertanggungjawaban pengelolaan yang manusia laku¬kan terhadap alam kepada Allah. Manusia tidak boleh menggarap alam semena-mena untuk dirinya atau golongannya sendiri, karena bukan manusia yang memiliki semua itu. Dengan mempertanggungjawabkan semua ekonomi seturut perintah Allah, maka kesejahteraan manusia bisa dijaga. Untuk itu, Alkitab merupakan basis studi ekonomi, bukannya semangat materialisme dan tuntutan kebutuhan manusia. Sebaliknya, di dalam sistem ekonomi dunia, pertanggungjawaban kepada Allah sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Akibatnya, manusia hanya menjadi pelaku-pelaku ekonomi yang buas dan hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tidak heran, dunia menjadi anjang pengrusakan akibat terjadinya ketidakseimbangan pola ekonomi dunia. Di mana pertanggungjawaban global tidak ditekankan, maka dunia akan semakin rentan menjadi rusak.

3. Penekanan pola ekonomi spiritual.
Ekonomi Alkitab menekan¬kan bahwa seluruh perilaku ekonomi merupakan keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani, bahkan menyangkut seluruh bagian kehidupan manusia, yang bisa mempermuliakan Allah. Tetapi di dalam ekonomi dunia, seperti telah terlihat di atas, jelas orientasi hanya pada aspek materi dan mengabaikan aspek rohani sama sekali. Ekonomi seolah-olah menjadi bidang yang split atau terpisah dari dunia rohani, bahkan ada kecenderungan dikontraskan satu dari yang lain. Melalui perumpamaan bendahara yang tidak jujur, Alkitab mau menyatakan bahwa materi harus bisa dipakai sebagai alat rohani. Hanya dengan cara itu barulah seluruh keseimbangan bisa dicapai. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu, barulah semua hal lainnya akan ditambahkan kepada kita. Dalam aspek ini, Alkitab sama sekali tidak mengajarkan bahwa kita harus anti materi dan hanya mempedulikan aspek rohani saja. Tetapi kita harus menjaga keseimbangan, di mana aspek rohani menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari aspek materi di dalam ilmu ekonomi. Dengan demikian kita baru bisa menjadi penatalayan ekonomi yang baik.

Variabel Ekonomi
Sebagai anak Tuhan, kita harus melihat ekonomi secara berbeda. Ada variabel-variabel yang harus kita perhitungkan dan sangat menentukan di dalam pola dan perilaku ekonomi kita.
1. Ketaatan
Sebagai seorang penatalayan harta Allah, maka kunci pertama yang harus kita perhitungkan adalah sejauh mana ketaatan kita di dalam menjalankan tugas ini kepada Allah. Pelaku ekonomi yang tidak mau taat kepada Allah, pasti tidak akan pernah menikmati kehidupan ekonominya dengan baik, karena di situlah kunci seluruh tugas ekonomi. Di dalam Mat. 25, Tuhan Yesus memberikan hukuman keras kepada orang yang tidak mau enjalankan tugasnya.

2. Kejujuran dan Integritas
Hal kedua yang justru menjadi prinsip ekonomi adalah kejujuran dan integritas di dalam menjadi penatalayan Allah. Tidak ada cara lain yang bisa membuat ilmu ekonomi bisa berjalan dengan baik kecuali melalui sistem yang jujur dan terintegritas baik. Di mana terdapat ketidakjujuran, maka seluruh penatalayanan akan kehilangan arah dan keseimbangannya. Pasti akan terjadi kerusakan di mana-mana. Dan ilmu ekonomi yang sejati adalah ekonomi yang disoroti oleh Allah pemilik alam semesta, yang menuntut kejujuran dan integritas dari setiap orang yang diberi-Nya hak untuk mengelola alam milik-Nya.

3. Kebajikan
Motivasi dasar Allah di dalam memberikan semua alam semesta ini kepada manusia adalah agar manusia bisa hidup bahagia dan sejahtera. Inilah kebajikan Allah yang dinyatakan kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus juga menjalankan prinsip kebajikan di dalam melakukan ilmu ekonomi. Ketika ekonomi sudah kehilangan sifat manusiawinya, ekonomi akan menjadi suatu perilaku yang kejam sekali. Barulah belakangan ini orang-orang mulai semakin menyadari bahwa ekonomi telah tidak lagi memanusiakan manusia, bahkan ada ide bahwa manusia adalah makhluk ekonomis. Artinya, manusia hanya dinilai berdasarkan aspek ekonomi. Manusia bukan di atas ekonomi, tetapi manusia justru sudah menjadi komoditi ekonomi. Dari sini timbul banyak sekali masalah yang menyengsarakan manusia.

4. Etika Ekonomi Kristen
Bagi Alkitab, ekonomi harus menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, etika ekonomi harus sejalan dengan etika Kristen. Dalam kasus ini, etika ekonomi tidak bisa didualismekan dengan etika Kristen. Salahlah pandangan bahwa etika ekonomi tidak bisa dan tidak mungkin bisa sejalan dengan etika Kristen, karena di dalam ekonomi ada kaidah-kaidah yang harus bertentangan dengan iman Kristen. Misalnya, di dalam ekonomi ditekankan hukum “demand and supply” (permintaan dan penyediaan). Jika penyediaan sedikit dan permintaan banyak, maka harga akan naik. Akibatnya, seringkali suatu produk alam dibuang atau dimusnahkan demi untuk menaikkan harga barang (mempersedikit persediaan), padahal begitu banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan bahan tersebut. Di sini, etika ekonomi harus dikembalikan kepada kebenaran Alkitab, atau ekonomi hanya menjadi alat sebagian orang. Ini terjadi baik di dalam ekonomi sistem kapitalis ataupun sistem sosialis. Baik di dalam pola perdagangan bebas, ataupun dalam sistem ekonomi terkontrol. Tidak pernah ekonomi memperjuangkan kesejahteraan masyarakat luas, tetapi hanya menyejahterakan segolongan tertentu manusia, entah yang beruang atau berkekuasaan.

Kesimpulan dan Penutup
Prinsip ekonomi dunia harus dikembalikan kepada jalur kebenaran Alkitab, karena tanpa itu, tidak ada kemungkinan ekonomi dunia akan membereskan seluruh kehidupan manusia dan membawa manusia kepada kesejahteraan yang sejati.
Prinsip ekonomi harus ditundukkan di bawah kebenaran firman Tuhan, karena seluruh basis ekonomi sebenarnya bergerak di dalam dunia milik Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Oleh karena itu, pengelolaannya harus sesuai dengan kehendak Tuhan.
Prinsip ekonomi harus berada di bawah etika firman. Tidak ada dualisme antara bidang ekonomi dan pengenalan firman, antara etika Kristen dan etika ekonomi. Seorang Kristen yang Tuhan letakkan di dunia ekonomi harus berjuang keras untuk menjalankan panggilannya menyatakan kebenaran di dunia ekonomi. Kita perlu jelas akan panggilan Tuhan ini. Kita bukan anak-anak setan di dunia ekonomi yang tunduk kepada aturan dan kehendak setan dan sifat kedagingan yang penuh nafsu. Oleh karena itu, kebenaran Allah harus dinyatakan secara serius.

3. PROBLEMATIKA MULTI-LEVEL MARKETING

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

[size=”3″][font=”Georgia”]Latar Belakang Permasalahan
Dengan berbagai krisis yang ada, manusia dituntut untuk semakin kreatif di dalam mencari peluang, khususnya di dalam usaha untuk mencari keuntungan dan pola-pola bisnis yang “menjanjikan.” Sekitar tahun 1950-an, Jay Van Dalen dan Rich De Vos, memulai suatu bisnis yang menggunakan tenaga lepas untuk pemasaran mereka. Idenya adalah menyerahkan tugas pemasaran kepada pribadi-pribadi dengan kebebasan yang lebih besar. Hal itu merupakan penglaaman mereka sendiri sebagai distributor lepas vitamin “Nutrilite.” Berdirilah Amway International. Di sinilah dimulainya pola bisnis marak yang sekarang dikenal dengan Multi-Level Marketing.

Ide Multi-Level Marketing
1. Kapitalisme (atau: Perekonomian Bebas)
Sistem MLM berdiri di atas pemahaman dasar Kapitalisme. Dan format yang dipakai justru adalah format ekonomi bebas. Bahkan pendiri Amway, yaitu Rich De Vos mengidentikkan kapitalisme dengan perekonomian bebas, dan sekaligus menekankan bahwa itulah kredo dari bisnisnya, yaitu pola MLM ini. Dengan format ini, De Vos menganjurkan agar kita bisa menikmati keuntungan yang sebesar-besarnya. Sukses hidup ditentukan dengan pemupukan materi sebesar-besarnya. Dan dari kepuasan secara finansial ini, akan dicapai pula kepuasan secara spiritual dan psikologis. Format ini merupakan format Materialisme yang dipertuhankan.

2. Prinsip Bisnis Materialisme Liberal
Bagi De Vos, baiknya pekerjaan ditentukan dengan variable, apakah pekerjaan itu bisa membawa manusia ke arah kebebasan, imbalan, pengakuan dan harapan. Dan kita harus meninggalkan semua pekerjaan yang tidak bisa menjanjikan hal itu. Melalui konsep inilah Compassionate Capitalism dibangun. Itu berarti konsep kapitalisme dengan kepedulian sosial, pada hakekatnya adalah penunggangan manusia menjadi obyek dari kepuasan materialisme, yang diyakini bisa memberikan kepuasan spiritual dan psikologis. Dengan cara menunggangi kepedulian sosial, yang dikejar sebenarnya adalah kenikmatan diri. Itu berarti pola ini merupakan pola yang sangat bersifat manipulatif. Kebajikan yang dilakukan sebenarnya hanyalah demi untuk mencapai keuntungan diri sendiri. Kalau kebajikan itu pada akhirnya merugikan diri, maka konsekwensinya kita harus meninggalkan kebajikan tersebut. Di sini kebajikan bukan lagi sebagai kebajikan, tetapi justru menjadi alat untuk egoisme. Bagaikan seseorang yang merasa puas dan hilang rasa bersalah dirinya setelah memberikan sedekah kepada orang miskin.

Pertimbangan-pertimbangan MLM:
1. Polanya
1.1. Menjual barang/produk dengan sistem MLM
Kita melihat MLM sebagai salah satu cara marketing, di mana kita berusaha menjual barang bukan dengan cara distribusi konvensional, tetapi menggunakan cara man-to-man yang lebih intensif. Di dalam pola ini, kita melihat bahwa cara penjualan dengan sistem bertingkat dikerjakan secara lebih intensif. Namun, di dalamnya ada beberapa sifat yang harus diperhatikan, karena akan memberikan kemungkinan sulit dikontrolnya pola ini.
1.2. Menjual sistem MLM itu sendiri
Yang kedua adalah menjual sistem itu sendiri, baik dengan produk semu, ataupun tanpa produk sama sekali. Dalam kasus ini, MLM sudah disalahgunakan, dan murni menjadi alat materialisme, di mana akan mengorbankan pihak-pihak tertentu, walaupun kemungkinan pihak tersebut tidak menyadarinya. Di sini sudah terjadi sifat penipuan terselubung demi untuk mencari keuntungan secara tidak benar. Hal ini mirip dengan pola konvensional yang melewati batasan etis bisnis yang benar. Cara-cara ini mirip dengan pola lintah darat atau berbagai pola bisnis modern seperti monopoli dll. di mana ide materialisme digarap secara maksimal. Jelas dalam hal seperti ini, setiap anggota akan diarahkan untuk murni materialis dan egois dan bertentangan dengan iman Kristen.

2. Motivasinya
1.1. Menjalankan pekerjaan yang berkenan kepada Allah
Motivasi bekerja yang benar adalah menjalankan pekerjaan yang berkenan kepada Allah, sehingga kita bisa memperoleh nafkah yang secukupnya bagi kehidupan kita.
1.2. Menjalankan pekerjaan yang mengeruk keuntungan sebesarnya dengan segala cara.
Motivasi dasar MLM adalah kapitalisme. Ini yang harus diperangi oleh orang Kristen. Sama seperti orang Kristen harus memerangi lintah darat, para pelaku monopoli, kolusi untuk mendapatkan keuntungan dan fasilitas khusus, maka orang Kristen juga harus memerangi semua bentuk bisnis yang demi keuntungan uang semua cara dihalalkan. Seluruh motivasinya hanyalah mencari uang, tidak peduli dengan cara apapun, atau lebih tepat, kalau bisa dengan cara yang seringan mungkin dan secepat mungkin. Oleh karena itu, iming-iming MLM adalah selalu “Posisi Puncak” atau “Go Diamond.” Padahal jelas hal itu tidak mudah dicapai dan hanya bisa dicapai oleh segelintir orang, sama seperti tidak semua orang bisa naik sampai ketingkat manager atau direktur.

3. Caranya
1.1. Memperkembangkan pelayanan dan etika kerja Kristen yang benar.
Cara kerja Kristen yang benar adalah cara kerja yang menyatakan kesaksian anak Tuhan dan menjalankan prinsip etika yang sesuai dengan etika Alkitab. Jelas prinsip kapitalis-materialis tidak diperkenankan dalam masalah ini. Bahkan Alkitab secara tegas menyatakan bahwa cinta akan uang akan menjadi akar dari semua kejahatan.
1.2. Memanipulasi sistem dan orang untuk mencapai keuntungan sendiri..
Dorongan MLM adalah usaha untuk memanipulasi orang seaktif mungkin dengan berbagai motivasi materialisme dan positif-thinking untuk menjadi alat ekonomis bagi kita.
Bekerja bukan sekadar melakukan sesuatu dan mendapatkan imbalan uang. Kalau memang demikian, maka pelacur pun harus dibenarkan. Sejauh ia bekerja dan menghasilkan uang. Tetapi etika Kristen mengharamkan hal itu, karena pekerjaan bukan dilihat dari segi keuangan, atau dapatnya keuntungan, tetapi dari caranya juga, yang sesuai dengan etika dan tidak melakukan manipulasi terhadap orang lain.

Tinjauan terhadap MLM:
1. Harus dikembalikan kepada prinsip Alkitab
Itu berarti semua jenis bisnis (termasuk MLM) harus dikembalikan kepada kebenaran dan etika Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa tidak ada bisnis yang boleh dilakukan dengan jalan pintas. Seluruh bisnis bukanlah menjalankan prinsip ekonomi dunia, yaitu dengan modal sekecil mungkin mencari keuntungan sebesar mungkin. Gagasan seperti itu menjadikan seluruh semangat dan roh ekonomi adalah pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya. Padahal ekonomi bukanlah demikian (seperti telah dibahas dalam sessi sebelumnya).

2. Motivasinya harus dimurnikan
Motivasi yang salah ialah yang bersifat: New Age (manipulative-mystical), Positive-thinking, Money-oriented, Indoktrinasi secara sepihak (menunjukkan hanya kesuksesan saja dan tidak yang negatif). Banyak orang yang menjalankan MLM dengan motivasi mencari kenikmatan kerja, yaitu dengan kerja yang sebebas-bebasnya dan seringan mungkin, tetapi mendapatkan penghasilan yang sebanyak mungkin.

3. Etikanya harus dibereskan
Salah satu kelemahan MLM adalah ide kapitalisme yang sudah sedemikian mendarah-daging di dalamnya. Jika motivasinya adalah uang, maka seluruh etika menjadi sulit dibereskan. Kecuali kembalinya bisnis kepada prinsip kebenaran firman, barulah etika bisa dimurnikan kembali. Banyak MLM yang melakukan berbagai penipuan, dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang terselubung, sehingga sifat-sifat aslinya tertutupi. Banyak pula sistem bisnis berantai yang merugikan elemen atau level yang paling bawah (dan mereka selalu menyanggah bahwa tidak adanya level yang dibawah tersebut).

4. Peraturan yang ditegakkan
Bisnis MLM menjadi rumit karena tidak adanya hukum dan aturan yang bisa diseragamkan dan diuji. Setiap orang bergerak dengan lebih bebas. Dan memang bisnis ini merupakan produk dari semangat post-modern yang anti hukum, anti aturan. Semangatnya adalah liberalisme. Keinginan bebas dari segala aturan, yang membuat kita bisa lebih “semaunya.” Padahal hal itulah yang secara global membuat pengaturan dunia usaha semakin sulit untuk dikontrol dan dibatasi.

Diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.

#2 (permalink)
24th May 2008

Sola_Scriptura2007
AP – Aspiring Evangelist

Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 590

lanjutan
________________________________________
Profil Pdt. Sutjipto Subeno :
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.)-nya di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master of Divinity (M.Div.)-nya di sekolah yang sama.
Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku theologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).
Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah theologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di Sekolah Theologi Reformed Injili (STRI) Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta. Beliau juga adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) dan pengkhotbah KKR yang dinamis: KKR Pemuda 2007, KKR Banjarmasin, KKR Jember, dll.
Beliau juga banyak melayani khotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus, dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia, dan Eropa (Jerman dan Belanda).
Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998).

ADAT ISTIADAT

Herlianto
Menarik mengenang pelayanan kemarin memenuhi undangan dalam rangka bulan keluarga di gereja GKI di bilangan Jakarta Pusat untuk memimpin seminar tentang Iman Kristen dan Adat-istiadat yang cukup merangsang diskusi yang hangat. Pertemuan seminar itu diakhiri dengan kesimpulan yang meneguhkan diskusi oleh pendeta senior gereja itu yang ramah yang notabena adalah ketua sinode saat ini.
Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat dan bisa berbuat apapun sesukanya, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan, dan budaya religi turun-temurun dimana suku dan bangsa itu memiliki tradisi nenek-moyang yang kuat. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat.
Lalu bagaimana manusia bersikap menghadapi tradisi itu? Setidaknya ada 3 kecenderungan yang dijadikan panutan sikap manusia menghadapi adat-istiadat disekelilingnya.
Pertama, sikap antagonistis/penolakan akan segala bentuk adat-istiadat yang tidak diingininya, gejala ini kita lihat dalam bentuk fundamentalisme yang ektrim. Di Indonesia ada Islam pentungan yang suka melabrak kelab-kelab malam dan tempat bilyar kalau mendekati Lebaran, juga ada kalangan kristen yang melarang merokok, minum-minuman keras, dan nonton secara keras. Sikap ini jelas tidak realistis karena sekalipun yang ditolaknya itu barang haram tapi pengubah mental orang tidak tepat bila menggunakan cara larangan dan paksaan yang bersifat lahir demikian;
Kedua, sikap terbuka yang kompromistis yang menerima segala bentuk adat-istiadat lingkungannya. Sikap demikian sering terlihat dalam kecenderungan liberalisme ekstrim yang sering menganut faham kebebasan. Misalnya di Belanda yang dikenal sebagai negara Eropah yang paling liberal, pecandu narkoba bisa menjadi anggota dewan kota dan euthanasia dihalalkan. Kebebasan yang kebablasan demikian juga kurang tepat, karena bagaimanapun manusia hidup didunia berhubungan dengan orang lain, maka kebebasan yang keterlaluan dari sekelompok yang satu bisa berdampak merugikan kelompok lain;
Ketiga, sikap dualisme. Sikap ini tidak mempertentangkan dan tidak mencampurkan faham-faham adat itu, tetapi membiarkan semua adat-istiadat itu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Ada contoh menarik mengenai perilaku mendua demikian. Ketika di tahun 1970-an mengerjakan proyek hotel di Bali, seorang pengusaha di hari minggu pagi-pagi benar mendahului yang lain menghilang dari hotel untuk pergi beribadat di depan pastornya untuk menerima komuni. Namun, tanpa rasa bersalah apa-apa, kalau malam minggu ia melupakan isterinya yang ditinggal di Surabaya dan berleha-leha di kelab-kelab malam sampai larut malam. Seorang rekannya menggelitik perilaku menduanya dengan mengatakan: Kalau minggu pagi lari ke gereja mencari hosti, tapi kalau malam minggu lari ke kelab malam mencari hostess. Ia dengan isterinya kemudian bercerai.
Pada umumnya orang-orang akan menjauhi pusat lingkaran dan karena dorongan sentrifugal akan mendekati kecenderungan-kecenderungan di lingkaran itu, lalu bagaimana sikap seorang kalau ia menjadi orang Kristen? Apakah ia juga berperilaku selayaknya orang dunia dimana ia hidup sebelumnya?
Memang ada praktek di kalangan orang Kristen yang fundamentalis ekstrim yang menolak segala sesuatu yang dianggapnya dosa, ada juga yang begitu liberal bebas yang menerima begitu saja dan berkompromi dengan semua yang bisa dinikmati orang dunia pada umumnya. Ada juga yang mendua dan berstandar ganda, yaitu dilingkungan kristen ia berusaha hidup suci sesuai standar lingkungan jemaatnya tetapi berada diluar ia bisa tidak ada bedanya dengan orang tidak beriman.
Rasanya ketiga kecenderungan sikap demikian kurang tepat bagi seorang Kristen. Verkuyl dalam salah satu buku etikanya mengatakan bahwa umat Kristen terjerat diantara daya tarik antara libertinisme dan farisiisme. Disatu segi ia ditarik oleh kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, disegi lain ia ditarik oleh kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Kenyataan yang disebutkan Verkuyl itu memang benar, dan sikap di antara itu juga tergoda sikap mendua yang ada di antara kedua kecenderungan itu.
Di kalangan kekristenan ada juga yang mencari jalan baru dengan mempromosikan moralitas baru yang menekankan situasi, kondisi dan waktu yang tepat sebagai jendela menerima keputusan etis menghadapi adat-istiadat. Sikap keempat ini mirip sikap mendua dan liberal. Sikap yang dikenal sebagai etika situasi ini (Joseph Fletcher, 1966) itu menolak sikap yang disebutkannya sebagai sikap legalistik, ia juga menolak sikap yang disebutnya sebagai sikap antinomian, karena itu ia menawarkan sikap perantara yang berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan waktu.
Lalu bagaimana selayaknya umat kristen bersikap? Bagi mereka yang takut akan Allah, rasanya semua tindakan kita dalam menerima adat-istiadat perlu berorientasi pada Allah dan kehendak-Nya, ini menghasilkan empat pertimbangan berikut, yaitu sikap menghadapi adat-istiadat yang: (1) Memuji dan memuliakan Allah; (2) Tidak menyembah berhala; (3) Mencerminkan kekudusan Allah; dan (4) Mengasihi manusia dan kemanusiaan. Keempatnya berurutan dari atas ke bawah dimana memuji dan memuliakan Allah adalah tugas utama umat Kristen (Mazmur 150) dan ketiga lainnya diukur dari apakah itu meneguhkan kepujian dan kemuliaan Allah atau tidak.
Lalu adakah tingkat-tingkat pertumbuhan yang menentukan umat kristen bersikap? Kedewasaan umat kristen dalam bersikap perlu mengarah pada kecenderungan kelima yaitu transformatif, yaitu ia hidup dengan mentransformasikan setiap adat-istiadat agar sesuai dengan kepujian, kemuliaan dan kehendak Allah. Ia semula hidup berkajang dalam dosa dan melakukan adat-istiadat dimana kuasa dosa banyak berpengaruh. Pengenalannya akan Tuhan Yesus Kristus membawanya kepada pertobatan (metanoea) dimana ia mulai merasakan perubahan arah dalam hidupnya dari dosa menuju kebenaran, dan seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor.5:17).
Dari perubahan yang transformatif inilah ia terus menerus melakukan trasformasi dari dosa menuju kebenaran sehingga kehidupannya makin hari makin baik. Rasul Paulus mengatakan bahwa: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya (Flp.3:12). Namun, harus disadari bahwa transformasi itu bukanlah hasil usaha manusia dengan kekuatannya sendiri tetapi sebagai hasil interaksi iman kita yang mendatangkan rahmat Allah: Dan semuanya itu dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurnya (Rm.12:1-2).
Semoga pembahasan di atas menjadi bekal bagi kita untuk bersikap dalam menghadapi adat-istiadat di sekeliling kita.
(Artikel ini disarikan dari makalah seminar)

A CRITIQUE

SEBUAH KRITIK TENTANG ARUS KEKRISTENAN ZAMAN INI
(A critique about the current age issue related to the Christian Life)

Oleh: Samuel Rudi Desfortin

Dear All Brothers And Sisters Wherever You Are.
May Our God In Jesus Christ Always Bless Everyone.

Pada saat ini sebelum saya memposting tulisan ini kepada para pembaca semua. Sekali lagi salam kenal dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Saya bukan pendeta atau teolog. Saya hanya seorang mahasiswa. Ya, mahasiswa tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kalimantan Tengah. Saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (S1). Saat ini saya sedang menggarap tugas akhir (Skripsi). Kalau boleh mohon doanya agar pada bulan April tahun depan (2009) saya sudah bisa menyandang gelar sarjana. Mengenai teologi, saya sejak beberapa tahun yang lalu mulai suka dan rindu sekali untuk terus belajar teologi, tentunya teologi yang benar dan dengan cara yang benar, yang dengan sungguh-sungguh menekankan otoritas Alkitab, dan juga berusaha untuk menelitinya dengan sangat ketat (scrutiny of the Bible). Mungkin anda tahu apa yang saya maksud?
Saya terbeban sekali untuk menulis ini karena saya melihat ada fenomena yang sedang terjadi dan berkembang menggerogoti kita di generasi zaman ini khususnya di dunia kekristenan di Indonesia. Suatu arus yang mengalir deras yang cukup ekstrim dan berbahaya. Ijinkan saya juga saat ini untuk membagikan sedikit tentang kondisi kekristenan pada generasi ini, khususnya yang saya tahu, yaitu yang dekat saja dulu di kota saya, meskipun di tempat lain juga tidak menutup kemungkinan, fenomenanya kurang lebih demikian. Bagi saya kehidupan kekristenan di daerah saya cukup memprihatinkan. Namun banyak orang yang sampai saat ini masih tertidur lelap dan belum sadar. Kiranya tulisan ini akan bermanfaat, setidaknya sebagai air penyiram untuk membangunkan mereka yang saat ini sedang tertidur pulas. Maafkan kalau airnya terlalu pedih, tapi ini bukan air cuka atau asam. Saya tidak bermaksud sombong atau apa, hanya saya ingin mengambil bagian untuk menegakkan apa yang benar, sebagaimana Alkitab meminta kita untuk menguji segala sesuatu dan memegang apa yang baik dan benar serta mempertanggungjawabkan ajaran kita. Jika zaman ini belum juga sadar, saya mungkin memang akan menjadi “pemukul zaman ini”.
Jika dengan tulisan ini orang-orang juga masih belum sadar, entah apa karena mereka susah memahami, masa bodoh atau memang kekeh jumukeh alias ngotot, gengsi yang sempit, maka biarlah Tuhan saja yang akan menjadi hakim final mereka. Tugas saya di sini hanyalah sebagai media untuk mengingatkan kita semua. Saya melihat sedikit orang yang mau sungguh-sungguh belajar dengan ketat mengenai teologi, khususnya teologi Alkitab dengan penafsiran ala Reformed Theology, yang menurut saya sangat ketat, mendalam dan paling setia kepada Alkitab (back to the Bible) untuk mewakili kekristenan yang sejati.
Dulu saya juga orang yang pernah mengingkari Tuhan, bahkan sempat beberapa tahun tidak pernah pergi ke gereja karena kecewa kepada gereja dan juga kepada Allah, yang sebenarnya saya tidak perlu demikian. Waktu itu saya mulai dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyimpang yang sebenarnya menghina Alkitab orang Kristen, dan juga filsafat yang sangat membuat saya merasa seperti orang yang sudah menemukan kebenaran. Padahal saya tanpa sadar telah menghina Tuhan dan umat-Nya. Itu terjadi ketika saya masih duduk di bangku SMA. Namun juga sampai saya di bangku kuliah, bahkan sampai tahun kedua kuliah saya masih meragukan Tuhan, sehingga saya sering berdebat dengan orang di sekitar saya dan membuat mereka heran. Mungkin sedikit orang yang mengetahui apa yang terjadi dengan saya pada waktu itu, bahkan orang tua saya sendiri juga tidak. Saya menjadi seperti orang yang sombong sekali menganggap bahwa teman-teman yang saya ajak berdebat itu kurang pengetahuan sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, bahkan sempat juga beberapa hamba Tuhan yang saya tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan itu baik tentang teologi dan filsafat, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tak jarang mereka mengatai saya sebagai sesat dan katanya saya terlalu kebanyakan belajar sehingga kepala saya “hang” katanya. Tapi saya pada waktu itu tidak peduli. Saya tetap memegang prinsip dan keyakinan dan ideologi saya itu.
Namun Tuhan memang Pencipta dan Penguasa seluruh ciptaan-Nya. Saya tidak mampu melawan-Nya. Oleh anugerah-Nya saja saya sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya membaca, mempelajari buku dan mendengarkan khotbah seorang hamba Tuhan yang beraliran reformed (warisan John Calvin dkk pada zaman reformasi), yang kemudian paling saya kagumi pada zaman ini. Saya tidak memujanya ataupun mengkultuskannya tapi saya akui melalui hamba Tuhan ini konsep saya tentang teologi, Alkitab dan kekristenan mulai diubahkan, dibaharui dan dicerahkan serta saya telah ditarik kembali oleh-Nya untuk mengenal-Nya dengan benar, dan berkomitmen untuk terus memuliakan-Nya dengan terus belajar, belajar, dan belajar serta mau diajar untuk taat kepada-Nya, meski saya tahu itu juga adalah suatu pergumulan kehidupan kekristenan yang hebat. Saya bukan manusia sempurna. Saya punya masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Berkali-kali saya pernah jatuh. Sungguh bagai noda hitam yang jatuh di kertas putih yang sukar dibersihkan. Namun oleh anugerah-Nya saya ditarik kembali. Saya tidak sampai terkapar sehingga tidak bisa kembali. Puji Tuhan sampai saat ini saya tetap ditopang oleh-Nya. Saya tidak mau memandang ke belakang kepada masa lalu saya itu, tapi saya ingin memandang ke depan kepada Kristus yang menjadi sasaran hidupku yang tak kan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Biarlah masa lalu saya itu menjadi pengalaman yang akan menjadi pembelajaran di masa mendatang agar senantiasa setia dan menjaga diri baik-baik di hadapan-Nya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan dan kepada hamba-Nya ini, sehingga saya sekarang bisa kembali dan mengenal Kristus lebih dekat lagi.
Namun aneh bin ajaib sampai sekarang teman-teman saya itu masih saja menganggap saya sebagai orang yang terlalu banyak belajar atau sombong rohani dan munafik. Padahal saya rasa tidak lagi seperti yang dulu. Mungkin mereka hanya memandang saya dari sudut pandang yang berbeda saja. Sebenarnya wajar saja mereka tidak sependapat dengan saya. Karen setiap orang berhak untuk berbeda pendapat. Namun saya kecewa karena mereka hanya melihat saya dari sebagian sisi saja, yang kemudian seperti menghakimi saya. Apalagi ketika saya mengkritik mereka-mereka yang melayani Tuhan dengan tidak terlalu banyak belajar, tapi berani sekali mengajar/menyampaikan Firman Tuhan, mereka anggap saya seperti orang yang paling benar saja, sok pintar, sok tahu, sombong rohani dan sebagainya. Padahal pada intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa kita harus melayani Tuhan dengan serius, teliti, ketat, tidak boleh bermain-main dan tentunya dengan bertanggung jawab. Sebab Allah adalah Hakim yang paling adil. Dia adalah Raja di atas segala raja, karena kalau dengan sembarangan tanpa mengoreksi diri maka banyak orang yang akan mendapatkan konsep-konsep yang keliru, bukan upah yang indah dan mulia yang akan kita terima dari Tuhan kelak, tapi kita akan menerima penghakiman yang lebih berat karena semakin banyak diberi maka kita semakin banyak dituntut (the more you’re given, the more you’re demanded). Allah Yang Maha Adil akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya dengan tanpa memandang bulu dan tanpa kompromi. Bukankah dikatakan dalam Alkitab bahwa kita akan dihukum Tuhan apabila kita jahat dan tidak memuliakan-Nya. Bukankah Dia juga adalah api yang menghanguskan yang dapat membakar setiap orang yang bermain-main dengan-Nya? Seharusnya kita gentar, setia dan hidup dengan serius di hadapan-Nya.
Tapi inilah yang saya sebut sebagai arus yang sedang “ngetrand” saat ini. Apa yang salah sebenarnya? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, dan menyebabkan saya ingin membagikan tulisan ini kepada semua pembaca di blog ini. Semoga ada juga yang ikut berkomentar atas tulisan saya ini. Oya, tolong juga doakan kehidupan gereja kami di sini ya. Sehingga ada kebangunan rohani yang sejati terjadi di tempat kami, bukan dua arus ekstrim yang saat ini sedang menjalar, arus yang menekankan “Kebangunan Rohani Emosional” yang diajarkan teolog-teolog penganut teologi sukses, dan arus “Bergereja yang hambar” yang diajarkan oleh teolog-teolog yang saya sebut sebagai kurang belajar banyak dan benar-benar ketat, (namun yang kedua ini mungkin tidak terlalu ekstrim dari pada arus yang pertama yang sering bisa menyesatkan apalagi kalau jemaat tidak teliti. Tapi intinya sama saja yaitu “tidak komprehensif pemahamannya akan Alkitab”).
Sekali lagi inilah yang membuat saya sangat terdorong untuk menyampaikan tulisan ini. Selain itu, tulisan bung Denny Teguh Sutandio (salah seorang jemaat di GRII Andhika di Surabaya) di salah satu posting blognya menjadi inspirasi tulisan saya ini juga. Menurut saya memang benar beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern) di zaman postmodern yang diwarnai oleh sekularisme, maupun semangat Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sungguh harus menjadi perhatian kita semua khususnya gereja sebagai tiang dan fondasi kebenaran di dunia ini. Beragam filsafat tersebut mempengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh dan jatuh. Dalam kasus ini ada beberapa teman saya juga yang dulunya aktif melayani Tuhan, pemimpin pujian dan pernah khotbah di persekutuan, tapi akhirnya berubah arah menjadi orang yang menyangkal Tuhan. Itulah hebatnya setan mempengaruhi orang-orang dari sejak dulu sampai sekarang dengan topeng intelektualitasnya. Teman saya itu dulu boleh dikatakan dialah orang yang mengajak saya untuk mengenal Tuhan, Tapi apa yang terjadi sekarang, sebaliknya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan sampai saat ini saya masih dijaga-Nya dan berada dalam jalur-Nya, khususnya dua tahun terakhir ini. Karena itulah saya terus memacu diri, mengembangkan diri, mengisi anugerah Tuhan yang Ia berikan kepada saya dengan terus belajar, belajar dan belajar dan rela takluk hanya kepada kebenaran-Nya. Bukankah itu rendah hati?
Sebagai akibat dari konsep dan arus pemikiran filsafat tersebut banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu arus pemikiran tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi orang yang tinggi hati, merasa diri sudah mendapatkan kebenaran yang paling hebat. Kasus ini saya temui pada orang-orang yang katanya pintar, bergelar doktor bahkan profesor, namun yang menolak dan meragukan kitab suci dan akhirnya menjadi ateis. Sebenarnya orang seperti inilah yang harus dikategorikan sebagai sombong, meskipun mereka sendiri mungkin tidak sadar kalau mereka sedang sombong dan congkak.
Di sisi lain, ada juga orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif sebagai akibat dari pengaruh filsafat relativisme dan Semangat Zaman Baru) dan membuang pentingnya aspek rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Kasus ini terjadi pada mereka-mereka yang sering membuat kebaktian-kebaktian “kesembuhan ilahi” dan yang menekankan mujizat, pemegang teologi kemakmuran (prosperity gospel) yang memang sering terjadi di gereja-gereja pada zaman ini oleh mereka-mereka yang menganut ajaran kharismatik. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat dan sekitar, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Untuk kasus yang ini saya dapati pada kebanyakan orang-orang kristen di sekitar saya, mereka berkata “kita sekarang kan sudah dalam kebenaran, setiap zaman selalu ada tantangan, namun Tuhan tidak perlu kita bela, tapi Dia yang menjadi pembela kita. Jadi tidak perlu terlalu banyak belajar seperti itu, dipusingkan oleh doktrin dan pengajaran. Teologia itu tidak cukup, yang penting kita praktek saja, layani Tuhan, karena nanti ketika kita menghadap Tuhan bukan masalah teologia yang akan ditanyakan Tuhan, tapi berapa banyakkah jiwa – jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan?”. Demikian alasan mereka. Saya merasa kasian sekali. Seolah mereka berpikir mereka sangat berjasa sekali dalam melayani Tuhan. Saya setuju kalau Tuhan kita itu tidak perlu dibela, karena tanpa kita pun Tuhan bisa berbuat apa saja, tak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun maksud saya adalah bahwa kita harus melayani Tuhan dengan benar dalam prakteknya. Yang saya tekankan adalah “caranya”. Jika pemikiran seperti alasan yang mereka kemukakan itu terus dipegang, maka sangat memprihatinkan sekali arus kekristenan di zaman ini.
Saya sangat setuju dengan bung Denny Teguh Sutandio yang mengatakan bahwa Teologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Betul. Ketiga aspek itu harus diitegrasikan dengan baik dalam kehidupan kristiani kita. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Tetapi apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam dunia kekristenan? Ketiga hal ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau oleh orang kristen di generasi ini. Menyedihkan sekali. Namun banyak orang yang belum sadar dan terbangun dari tidurnya. Bangunlah saudaraku! Sampai kapan kau akan tenggelam dan hanyut bersama arus yang deras dan mematikan ini. Sadarlah! Jangan engkau marah dan melarikan diri dari teguran seperti ini, karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang engkau baca dan dengar hari ini sudah mulai jarang dan semakin sedikit. Mengapa kita mengutamakan apa yang bukan diutamakan oleh Tuhan? Mengapa kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan?
Saudaraku, saya berharap semoga tulisan ini dapat membangun iman kita semua. Saya tidak ada tendensi apa-apa kecuali hanya untuk mengingatkan kita semua dan membagun iman kita agar mengerti ajaran yang sehat dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Sekali lagi semoga ini bermanfaat bagi kita semua.
Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan hanya kita kembalikan kepada Tuhan)
by Samuel Rudi Desfortin di Palangaka Raya.

Tulisan ini juga pernah diposting/dipublikasikan di http://sabdaspace.org dengan sedikit suntingan

Yahweh kah Namanya?

Nama Allah

Penulis : Herlianto

AkulahNama Allah
Penulis : Herlianto
Akulah Allah Yang Mahakuasa [El Shadday], hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (Kejadian 17:1b)
Nama El/Elohim/Eloah (dalam dialek Arab = Allah/Ilah), adalah nama pertama Tuhan yang tercatat dalam kitab Kejadian sebelum nama Yahweh diperkenalkan kepada Musa dalam masa Keluaran (Kel.6:1-2). El digunakan sebagai nama diri dan juga sebagai sebutan untuk Tuhan, dan sekalipun Elohim lebih banyak digunakan sebagai sebutan, kadang-kadang digunakan sebagai nama diri Tuhan yang bersifat jamak, Eloah adalah bentuk tunggal dari Elohim.
El (baca Eel) atau Il adalah nama Tuhan rumpun Semitik (keturunan Sem), yang dalam jalur Ibrani keturunan Arphaksad disebut El/Elohim/Eloah dan dalam jalur Aram dan Arab disebut dengan dialek Ila/Elah/Eloh/Aloh/Alaha/Ilah/Allah, dll. Bangsa Ibrani melalui jalur keturunan Sem Arphaksad Eber (dari nama ini disebut bangsa Ibrani) Peleg Abraham (melalui Sara) menyebut Il Semitik sebagai El/Elohim/Eloah, sedangkan melalui keturunan Sem Aram lahir bangsa Siria yang menyebutnya Elah/Eloh/Alaha . Bangsa Arab adalah keturunan Aram Yoktan (Anak Eber) Hagar (selir Abraham) Keturah (selir Abraham), menyebutnya dengan dialek mereka sebagai Ilah/Allah.
Tidak dapat disangkal bahwa bangsa Ibrani, Aram, dan Arab masih berpangkal pada El/Alaha/Allah dari Abraham/Ibrahim yang sama, sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi yang menciptakan Adam, memanggil Nuh dan kemudian memanggil Abraham/Ibrahim yang disebut sebagai Bapa Orang Beriman (atau Bapa Monotheisme) yang dalam jalur Arab secara turun-temurun oleh kaum Hanif dirayakan sebagai Idul Adha. . Sebagai imbas perceraian bahasa di Babel (Kej.11) dan situasi lingkungan yang berbeda, nama Tuhan yang sama disebut dengan dialek berbeda-beda namun masih dalam rumpun semitik (Tuhan Il/El Semitik berbeda dengan sesembahan lain seperti Brahman, Tao, atau Anatta yang dipopulerkan sebagai Yang Satu dalam inklusifisme).
Namun, sekalipun ketiga agama Semitik Yahudi, Kristen dan Islam menyembah Tuhan El/Allah yang sama, itu tidak berarti bahwa semua pengajaran/aqidah ketiganya sama. Pengajaran/aqidah bisa berbeda karena kepercayaan ketiganya didasarkan tradisi dan kitab suci (yang dianggap masing-masing sebagai wahyu) berbeda mengenai El/Allah yang sama itu.
Pada jalur Ibrani, sebutan El pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18), namun Musa dan para Nabi meluruskan kembali kepada El Israel (El Elohe Yisrael, Kej.33:20;46:3). Orang-orang Arab yang percaya akan Il/El Semitik/Ibrani dan juga yang menganut Kristen menyebutnya Allah dalam dialeknya. Beberapa petunjuk penggunaan pada pra-Islam dapat dilihat bahwa sejak jauh sebelum masa Kristen sudah ada bagian kitab suci Tenakh dalam bahasa Aram (Sebagian kitab Ezra, Daniel, dan Yeremia ditulis dalam bahasa Aram, a.l. Dan.2:47;5:3 mengandung nama Elah ) dan terjemahan Peshitta (Alkitab bahasa Aram) ditulis pada abad-2. Di sini El ditulis Alaha (dibaca dalam berbagai dialek seperti Elah/Eloh/Aloh/Aloho).
Yesus tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan Yunani dan Aram, dan di atas kayu salib Ia memanggil Bapa dengan nama El/Elo yang adalah bahasa Aram (Mat.27:46;Mrk.15:34). Di kalangan bangsa Arab pengikut Yesus, penggunaan nama Allah sudah terjadi sejak awal kekristenan jauh sebelum masa jahiliah Arab dan kelahiran Islam. Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama Abd Allah. Inskripsi Zabad (512) diawali Bism al-Ilah (Dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salib diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi Umm al-Jimmal (abad-6) menyebut Allahu ghafran (Allah yang mengampuni). Inskripsi Hurran al-Lajja (568) dan inskripsi lain pra Islam dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula.
Pada masa Islam lahir (abad-7), dalam Al-Quran nama Allah diakui oleh Muhammad digunakan bersama baik oleh umat Islam, Yahudi, Nasrani dan Kristen, seperti dalam ayat:
“(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40)
Dari kenyataan ini kita tahu bahwa nama Allah bukanlah kata Islam melainkan kata Arab sebab sudah digunakan sejak keturunan Semitik suku Arab yang menyebut El Semitik dalam dialek mereka, dan juga digunakan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen jauh sebelum kehadiran masa jahiliah dan Islam. Ulil Absar Abdala dalam seminar LAI mengakui bahwa 70% data Al-Quran berasal dari tradisi agama Yahudi dan Kristen, ini berarti Islam menggunakan istilah Allah dari kedua sumber itu dan digabungkan dengan konsep Allah nenek moyang mereka penganut agama Hanif.
Di negara-negara berbahasa Arab, saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama Allah , dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Kairo kota lama, ada gereja Al-Mu alaqqah dimana dipintunya ditulis kaligrafi Arab yang berbunyi Allah Mahabah (Allah itu kasih), dan dipintu lainnya Ra isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah (Permulaan Hikmat Adalah Takut kepada Allah), dan dari situ ada sinagoga Ben Ezra dimana disebut bahwa dahulu di situ Rabbi Moshe Ben Ma imun menulis buku Al-Mishnah dan Dalilat el-Hairin dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana El/Elohim diterjemahkan Allah.
Dalam jalur Arab yang percaya ajaran Il/El Semitik ini tidak dapat disangkal bahwa mereka menyebut dalam dialek mereka sendiri sebagai Allah terutama untuk menunjuk Allah dari Adam, Sem (semitik), Yoktan (anak Eber, Ibranik), dan Ibrahim (Abrahamik).
“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno … Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa(tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail . (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.50).
Sekalipun pada masa jahiliah pra-Islam dimana banyak berhala asing diimpor dan juga disebut sebagai Ilah/Allah (karena bisa bersifat nama diri/sebutan), sejarah menunjukkan bahwa sudah sejak masa Abraham di kalangan suku Arab ada penganut agama Hanif yang mempercayai Allah Ibrahim (ini dikenang terus menerus melalui tradisi Idul Adha) terutama suku-suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah yang tidak menganut agama Israel maupun Kristen. Iman Ibrahim ini tetap terjaga ditengah kemerosotan agama masa jahiliah dan kemudian diteguhkan kembali oleh Islam.
Agama Islam dibawa ke Indonesia oleh orang Sufi yang berbaur dengan pribumi sejak abad-13, dan baru pada abad-16 agama Kristen masuk. Setelah 4 abad banyak kata Arab terserap ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia (Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekarang ada 1495 kata Arab menjadi kosakata bahasa Indonesia termasuk kata Allah). Sejak Kitab Injil pertama dalam bahasa Melayu karya Corneliz van Ruyl (1629) sudah digunakan nama Allah untuk menyebut El PL dan Theos PB. Corneliz tahu bahwa di negara berbahasa Arab nama Allah digunakan baik oleh orang Kristen maupun Islam, dan karena nama Allah sudah diadopsi ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia, maka penggunaan nama itu dalam terjemahan Alkitab justru tepat, karena bukan merupakan terjemahan nama El melainkan hanya dialek yang berbeda dari nama yang sama
.
Robert Morey dalam buku Islamic Invasion, confronting the world s fastest religion (1992) menyebut nama Allah adalah nama dewa bulan bangsa Babil. Bukunya memuat Appendix Moon God dan menyebut bahwa bangsa Arab menyembah dewa bulan ini, sebagai buktinya ditunjukkan gambar bulan sabit diatas kubah mesjid (h.50,51,218). Ia menyebut Alkitab Arab ditulis pada abad-9 dan umat Kristen dipaksa penguasa Islam menulis nama Allah dalam Alkitab Arab (h.64). Sayang, Morey kurang terbuka wawasannya tentang sejarah penggunaan nama Allah sebelum masa Islam di kalangan orang Siria dan Arab, baik yang beragama Yahudi, maupun Kristen, dan juga penggunaannya dikalangan Arab Hanif pra-Islam, dan mungkin karena fobia akan Islam ia mengabaikan fakta bahwa dalam Al-Quran, Muhamad mengaku bahwa nama Allah dipakai bersama dengan umat Yahudi, Nasrani, dan Kristen (QS.22:40), tentu mereka menggunakannya lebih dahulu.
Mengenai moon god yang banyak gambar inskripsinya dalam buku Morey (h.211-218), tidak jelas apa hubungannya dengan nama Allah karena pada masa kemerosotan jahiliah sebelum hadir Islam, di kawasan Arab (kecuali kaum Hanif) memang terjadi adopsi berhala-berhala asing dimana moon god disembah sebagai hubal. Bukan hanya dewa bulan hubal tetapi pada masa jahiliah berhala lain juga disebut Allah, seperti dewa air, dewa kesuburan, Al-Atta, Al-Uzza, dll. Menuduh bulan sabit sebagai bukti penyembahan dewa bulan jelas keliru, sebab lambang itu baru muncul di Turki pada abad-15 ol602penguasa Otoman yang mengadopsinya dari Byzantium, karena disana bulan sabit merupakan tanda kemenangan karena kemunculannya yang tiba-tiba menyelamatkan Byzantium dari serangan mendadak musuh di malam gelap. Bagi Islam, bulan sabit (hilal) adalah petunjuk ritme waktu. Muhamad mengatakan:
Wahai bulan sabit yang indah dan bulan sabit petunjuk, keyakinanku teguh kepada Dia yang telah menciptakanmu. (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.64).
Dari para pemuja nama Yahweh juga sering diajukan kutipan yang menyebut bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan/air. Kita perlu mengajak mereka agar membaca dengan benar kutipan tersebut, sebab mereka mencomot kutipan itu dari konteks ceritanya. Bila kita mempelajari konteks bacaan sekitar kutipan tersebut kita akan mengetahui bahwa penulis menyebut bahwa pada masa jahiliah nama Allah merosot ditujukan kepada berhala yang diimpor dari negeri sekeliling, namun dalam konteksnya jelas pula bahwa kemudian Islam mengembalikan kemerosotan itu kembali kepada agama hanif yang tetap mempertahankan iman agama Ibrahim. Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang menyebut nama Allah asalnya nama berhala bulan, air atau lainnya.
Mengkait-kaitkan berhala moon god Babel kuno dengan nama Allah, sama halnya dengan kalau mengkaitkan berhala anak lembu yang banyak dijumpai dalam inskripsi peninggalan Babel, Kanaan, dan Mesir kuno dengan nama Elohim dan Yahweh (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18).
Para pemuja nama Yahweh mengidap Yudaisme mania dan Islam fobia dan menuduh bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan dan baik umat Islam maupun Kristen disebut menghujat Tuhan bila menyebut nama Allah. Beberapa hal sebaiknya direnungkan oleh mereka:
• Di negara-negara berbahasa Arab penggunaan nama Allah selama 15 abad untuk menyebut Tuhan Semitik secara bersama tidak pernah menjadi masalah, dan selama empat abad penggunaan bersama nama itu di Indonesia juga tidak menimbulkan masalah. Adanya fanatisme penggunaan nama Allah di kalangan Islam tertentu dan fanatisme nama Yahweh (yang anti Allah) di kalangan Kristen-Yudaik baru terjadi belakangan ini yang isu-nya justru dikobarkan oleh para pemuja nama Yahweh itu;
• Orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah lebih dari 20 abad menyebut El sebagai Allah dalam dialek mereka, selama 4 abad umat Kristen di Indonesia sudah menggunakan nama Allah pula, penerjemahan nama El dan Yahweh sudah terjadi sejak zaman Ezra. Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (Koine), maka adalah sifat bidat (yang sempit) kalau beranggapan bahwa jutaan orang Arab Kristen selama dua milenium dan puluhan juta umat Kristen Indonesia selama empat abad tidak selamat karena mereka menyebut nama Allah ;
• Dengan menuduh orang Islam dan Kristen yang menggunakan nama Allah sebagai menghujat , bukankah fakta sejarah telah menunjukkan bahwa label tuduhan itu justru seharusnya tertuju pada mereka sendiri karena menganggap Allah sebagai dewa bulan? Menyebut nama Allah dialek Arab sebagai dewa bulan merupakan fitnah karena didasarkan sentimen Yudaisme dan kekurang-tahuan, dan kutipan sepotong yang dicomot di luar konteks. Dapat dimaklumi kalau hal itu mendatangkan amarah kalangan Islam;
• Dengan menekankan semangat ke akar Yahudi, tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah terpedaya mengemban misi Yudaisme yang sarat semangat anti Arab, Islam dan Kristen? (Umumnya pemuja nama Yahweh menganut faham Modalisme). Semangat mana meresahkan umat beragama dan memicu kekurang-rukunan beragama di Indonesia;
• Perlu direnungkan roh apa yang berada di dalam diri para pemuja nama Yahweh yang anti nama Allah itu, mengingat bahwa di satu sisi mereka sangat menekankan kekudusan nama Yahweh namun di sisi lain mereka begitu saja membajak karya terjemahan LAI (yang dikritiknya) dan memaksa mengganti nama-nama di dalamnya menjadi nama Ibrani. Bila umat Kristen mengemban misi memberitakan kabar sukacita Injil Kristus yang mendamaikan manusia dengan Allah Bapa, para pemuja nama Yahweh itu menaburkan fanatisme nama Yahweh dan menjalankan misi Yudaisme yang bersifat adu domba.
Akhirnya, umat Kristen perlu mendoakan para pemuja nama Yahweh itu agar mereka mau belajar dan mengerti kebenaran sejarah, dan tidak terjebak fanatisme sempit karena kekurang tahuan, dan agar Roh Kudus sendiri menerangi dan menaungi mereka dengan kebenaran Allah.
Allah Yang Mahakuasa [El Shadday], hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (Kejadian 17:1b)

Nama El/Elohim/Eloah (dalam dialek Arab = Allah/Ilah), adalah nama pertama Tuhan yang tercatat dalam kitab Kejadian sebelum nama Yahweh diperkenalkan kepada Musa dalam masa Keluaran (Kel.6:1-2). El digunakan sebagai nama diri dan juga sebagai sebutan untuk Tuhan, dan sekalipun Elohim lebih banyak digunakan sebagai sebutan, kadang-kadang digunakan sebagai nama diri Tuhan yang bersifat jamak, Eloah adalah bentuk tunggal dari Elohim.

El (baca Eel) atau Il adalah nama Tuhan rumpun Semitik (keturunan Sem), yang dalam jalur Ibrani keturunan Arphaksad disebut El/Elohim/Eloah dan dalam jalur Aram dan Arab disebut dengan dialek Ila/Elah/Eloh/Aloh/Alaha/Ilah/Allah, dll. Bangsa Ibrani melalui jalur keturunan Sem Arphaksad Eber (dari nama ini disebut bangsa Ibrani) Peleg Abraham (melalui Sara) menyebut Il Semitik sebagai El/Elohim/Eloah, sedangkan melalui keturunan Sem Aram lahir bangsa Siria yang menyebutnya Elah/Eloh/Alaha . Bangsa Arab adalah keturunan Aram Yoktan (Anak Eber) Hagar (selir Abraham) Keturah (selir Abraham), menyebutnya dengan dialek mereka sebagai Ilah/Allah.

Tidak dapat disangkal bahwa bangsa Ibrani, Aram, dan Arab masih berpangkal pada El/Alaha/Allah dari Abraham/Ibrahim yang sama, sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi yang menciptakan Adam, memanggil Nuh dan kemudian memanggil Abraham/Ibrahim yang disebut sebagai Bapa Orang Beriman (atau Bapa Monotheisme) yang dalam jalur Arab secara turun-temurun oleh kaum Hanif dirayakan sebagai Idul Adha. . Sebagai imbas perceraian bahasa di Babel (Kej.11) dan situasi lingkungan yang berbeda, nama Tuhan yang sama disebut dengan dialek berbeda-beda namun masih dalam rumpun semitik (Tuhan Il/El Semitik berbeda dengan sesembahan lain seperti Brahman, Tao, atau Anatta yang dipopulerkan sebagai Yang Satu dalam inklusifisme).

Namun, sekalipun ketiga agama Semitik Yahudi, Kristen dan Islam menyembah Tuhan El/Allah yang sama, itu tidak berarti bahwa semua pengajaran/aqidah ketiganya sama. Pengajaran/aqidah bisa berbeda karena kepercayaan ketiganya didasarkan tradisi dan kitab suci (yang dianggap masing-masing sebagai wahyu) berbeda mengenai El/Allah yang sama itu.

Pada jalur Ibrani, sebutan El pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18), namun Musa dan para Nabi meluruskan kembali kepada El Israel (El Elohe Yisrael, Kej.33:20;46:3). Orang-orang Arab yang percaya akan Il/El Semitik/Ibrani dan juga yang menganut Kristen menyebutnya Allah dalam dialeknya. Beberapa petunjuk penggunaan pada pra-Islam dapat dilihat bahwa sejak jauh sebelum masa Kristen sudah ada bagian kitab suci Tenakh dalam bahasa Aram (Sebagian kitab Ezra, Daniel, dan Yeremia ditulis dalam bahasa Aram, a.l. Dan.2:47;5:3 mengandung nama Elah ) dan terjemahan Peshitta (Alkitab bahasa Aram) ditulis pada abad-2. Di sini El ditulis Alaha (dibaca dalam berbagai dialek seperti Elah/Eloh/Aloh/Aloho).

Yesus tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan Yunani dan Aram, dan di atas kayu salib Ia memanggil Bapa dengan nama El/Elo yang adalah bahasa Aram (Mat.27:46;Mrk.15:34). Di kalangan bangsa Arab pengikut Yesus, penggunaan nama Allah sudah terjadi sejak awal kekristenan jauh sebelum masa jahiliah Arab dan kelahiran Islam. Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama Abd Allah. Inskripsi Zabad (512) diawali Bism al-Ilah (Dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salib diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi Umm al-Jimmal (abad-6) menyebut Allahu ghafran (Allah yang mengampuni). Inskripsi Hurran al-Lajja (568) dan inskripsi lain pra Islam dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula.

Pada masa Islam lahir (abad-7), dalam Al-Quran nama Allah diakui oleh Muhammad digunakan bersama baik oleh umat Islam, Yahudi, Nasrani dan Kristen, seperti dalam ayat:

“(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40)

Dari kenyataan ini kita tahu bahwa nama Allah bukanlah kata Islam melainkan kata Arab sebab sudah digunakan sejak keturunan Semitik suku Arab yang menyebut El Semitik dalam dialek mereka, dan juga digunakan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen jauh sebelum kehadiran masa jahiliah dan Islam. Ulil Absar Abdala dalam seminar LAI mengakui bahwa 70% data Al-Quran berasal dari tradisi agama Yahudi dan Kristen, ini berarti Islam menggunakan istilah Allah dari kedua sumber itu dan digabungkan dengan konsep Allah nenek moyang mereka penganut agama Hanif.

Di negara-negara berbahasa Arab, saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama Allah , dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Kairo kota lama, ada gereja Al-Mu alaqqah dimana dipintunya ditulis kaligrafi Arab yang berbunyi Allah Mahabah (Allah itu kasih), dan dipintu lainnya Ra isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah (Permulaan Hikmat Adalah Takut kepada Allah), dan dari situ ada sinagoga Ben Ezra dimana disebut bahwa dahulu di situ Rabbi Moshe Ben Ma imun menulis buku Al-Mishnah dan Dalilat el-Hairin dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana El/Elohim diterjemahkan Allah.

Dalam jalur Arab yang percaya ajaran Il/El Semitik ini tidak dapat disangkal bahwa mereka menyebut dalam dialek mereka sendiri sebagai Allah terutama untuk menunjuk Allah dari Adam, Sem (semitik), Yoktan (anak Eber, Ibranik), dan Ibrahim (Abrahamik).

“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno … Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa(tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail . (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.50).

Sekalipun pada masa jahiliah pra-Islam dimana banyak berhala asing diimpor dan juga disebut sebagai Ilah/Allah (karena bisa bersifat nama diri/sebutan), sejarah menunjukkan bahwa sudah sejak masa Abraham di kalangan suku Arab ada penganut agama Hanif yang mempercayai Allah Ibrahim (ini dikenang terus menerus melalui tradisi Idul Adha) terutama suku-suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah yang tidak menganut agama Israel maupun Kristen. Iman Ibrahim ini tetap terjaga ditengah kemerosotan agama masa jahiliah dan kemudian diteguhkan kembali oleh Islam.

Agama Islam dibawa ke Indonesia oleh orang Sufi yang berbaur dengan pribumi sejak abad-13, dan baru pada abad-16 agama Kristen masuk. Setelah 4 abad banyak kata Arab terserap ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia (Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekarang ada 1495 kata Arab menjadi kosakata bahasa Indonesia termasuk kata Allah). Sejak Kitab Injil pertama dalam bahasa Melayu karya Corneliz van Ruyl (1629) sudah digunakan nama Allah untuk menyebut El PL dan Theos PB. Corneliz tahu bahwa di negara berbahasa Arab nama Allah digunakan baik oleh orang Kristen maupun Islam, dan karena nama Allah sudah diadopsi ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia, maka penggunaan nama itu dalam terjemahan Alkitab justru tepat, karena bukan merupakan terjemahan nama El melainkan hanya dialek yang berbeda dari nama yang sama

.

Robert Morey dalam buku Islamic Invasion, confronting the world s fastest religion (1992) menyebut nama Allah adalah nama dewa bulan bangsa Babil. Bukunya memuat Appendix Moon God dan menyebut bahwa bangsa Arab menyembah dewa bulan ini, sebagai buktinya ditunjukkan gambar bulan sabit diatas kubah mesjid (h.50,51,218). Ia menyebut Alkitab Arab ditulis pada abad-9 dan umat Kristen dipaksa penguasa Islam menulis nama Allah dalam Alkitab Arab (h.64). Sayang, Morey kurang terbuka wawasannya tentang sejarah penggunaan nama Allah sebelum masa Islam di kalangan orang Siria dan Arab, baik yang beragama Yahudi, maupun Kristen, dan juga penggunaannya dikalangan Arab Hanif pra-Islam, dan mungkin karena fobia akan Islam ia mengabaikan fakta bahwa dalam Al-Quran, Muhamad mengaku bahwa nama Allah dipakai bersama dengan umat Yahudi, Nasrani, dan Kristen (QS.22:40), tentu mereka menggunakannya lebih dahulu.

Mengenai moon god yang banyak gambar inskripsinya dalam buku Morey (h.211-218), tidak jelas apa hubungannya dengan nama Allah karena pada masa kemerosotan jahiliah sebelum hadir Islam, di kawasan Arab (kecuali kaum Hanif) memang terjadi adopsi berhala-berhala asing dimana moon god disembah sebagai hubal. Bukan hanya dewa bulan hubal tetapi pada masa jahiliah berhala lain juga disebut Allah, seperti dewa air, dewa kesuburan, Al-Atta, Al-Uzza, dll. Menuduh bulan sabit sebagai bukti penyembahan dewa bulan jelas keliru, sebab lambang itu baru muncul di Turki pada abad-15 ol602penguasa Otoman yang mengadopsinya dari Byzantium, karena disana bulan sabit merupakan tanda kemenangan karena kemunculannya yang tiba-tiba menyelamatkan Byzantium dari serangan mendadak musuh di malam gelap. Bagi Islam, bulan sabit (hilal) adalah petunjuk ritme waktu. Muhamad mengatakan:

Wahai bulan sabit yang indah dan bulan sabit petunjuk, keyakinanku teguh kepada Dia yang telah menciptakanmu. (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.64).

Dari para pemuja nama Yahweh juga sering diajukan kutipan yang menyebut bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan/air. Kita perlu mengajak mereka agar membaca dengan benar kutipan tersebut, sebab mereka mencomot kutipan itu dari konteks ceritanya. Bila kita mempelajari konteks bacaan sekitar kutipan tersebut kita akan mengetahui bahwa penulis menyebut bahwa pada masa jahiliah nama Allah merosot ditujukan kepada berhala yang diimpor dari negeri sekeliling, namun dalam konteksnya jelas pula bahwa kemudian Islam mengembalikan kemerosotan itu kembali kepada agama hanif yang tetap mempertahankan iman agama Ibrahim. Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang menyebut nama Allah asalnya nama berhala bulan, air atau lainnya.

Mengkait-kaitkan berhala moon god Babel kuno dengan nama Allah, sama halnya dengan kalau mengkaitkan berhala anak lembu yang banyak dijumpai dalam inskripsi peninggalan Babel, Kanaan, dan Mesir kuno dengan nama Elohim dan Yahweh (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18).

Para pemuja nama Yahweh mengidap Yudaisme mania dan Islam fobia dan menuduh bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan dan baik umat Islam maupun Kristen disebut menghujat Tuhan bila menyebut nama Allah. Beberapa hal sebaiknya direnungkan oleh mereka:

• Di negara-negara berbahasa Arab penggunaan nama Allah selama 15 abad untuk menyebut Tuhan Semitik secara bersama tidak pernah menjadi masalah, dan selama empat abad penggunaan bersama nama itu di Indonesia juga tidak menimbulkan masalah. Adanya fanatisme penggunaan nama Allah di kalangan Islam tertentu dan fanatisme nama Yahweh (yang anti Allah) di kalangan Kristen-Yudaik baru terjadi belakangan ini yang isu-nya justru dikobarkan oleh para pemuja nama Yahweh itu;

• Orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah lebih dari 20 abad menyebut El sebagai Allah dalam dialek mereka, selama 4 abad umat Kristen di Indonesia sudah menggunakan nama Allah pula, penerjemahan nama El dan Yahweh sudah terjadi sejak zaman Ezra. Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (Koine), maka adalah sifat bidat (yang sempit) kalau beranggapan bahwa jutaan orang Arab Kristen selama dua milenium dan puluhan juta umat Kristen Indonesia selama empat abad tidak selamat karena mereka menyebut nama Allah ;

• Dengan menuduh orang Islam dan Kristen yang menggunakan nama Allah sebagai menghujat , bukankah fakta sejarah telah menunjukkan bahwa label tuduhan itu justru seharusnya tertuju pada mereka sendiri karena menganggap Allah sebagai dewa bulan? Menyebut nama Allah dialek Arab sebagai dewa bulan merupakan fitnah karena didasarkan sentimen Yudaisme dan kekurang-tahuan, dan kutipan sepotong yang dicomot di luar konteks. Dapat dimaklumi kalau hal itu mendatangkan amarah kalangan Islam;

• Dengan menekankan semangat ke akar Yahudi, tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah terpedaya mengemban misi Yudaisme yang sarat semangat anti Arab, Islam dan Kristen? (Umumnya pemuja nama Yahweh menganut faham Modalisme). Semangat mana meresahkan umat beragama dan memicu kekurang-rukunan beragama di Indonesia;

• Perlu direnungkan roh apa yang berada di dalam diri para pemuja nama Yahweh yang anti nama Allah itu, mengingat bahwa di satu sisi mereka sangat menekankan kekudusan nama Yahweh namun di sisi lain mereka begitu saja membajak karya terjemahan LAI (yang dikritiknya) dan memaksa mengganti nama-nama di dalamnya menjadi nama Ibrani. Bila umat Kristen mengemban misi memberitakan kabar sukacita Injil Kristus yang mendamaikan manusia dengan Allah Bapa, para pemuja nama Yahweh itu menaburkan fanatisme nama Yahweh dan menjalankan misi Yudaisme yang bersifat adu domba.

Akhirnya, umat Kristen perlu mendoakan para pemuja nama Yahweh itu agar mereka mau belajar dan mengerti kebenaran sejarah, dan tidak terjebak fanatisme sempit karena kekurang tahuan, dan agar Roh Kudus sendiri menerangi dan menaungi mereka dengan kebenaran Allah.

Mempersiapkan Natal

Penulis : Herlianto

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:6-7).

Hari Natal yang di kenang di seluruh dunia dipenghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan dimana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya dimana damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi yang berarti.

Masakini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, terutama restoran, mal dan hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan belanja akhir tahunnya, apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?

Pohon Natal adalah gambaran yang indah di Eropah di musim salju ketika salju memenuhi permukaan bumi dan pohon-pohon berguguran daunnya, di situ kita melihat pohon-pohon den yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia, namun apakah makna sebenarnya Natal yaitu ´kelahiran Juruselamat manusia´ itu masih bisa dilihat di balik kemeriahan belanja akhir tahun itu?

Sebenarnya Franciscus dari Assisilah yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan ternak dengan patung-patung kecil Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah. Pohon Den dengan kerlap-kerlip kemudian dijadikan lambang kekekalan dan dijadikan pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang.

Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´.

Pada abad-11, Nicholas seorang uskup yang baik hati yang suka membagi-bagikan hadiah pada anak-anak dirayakan pada tengah malam tanggal 5 Desember, namun lama-lama legenda ´Santo´ Nicholas ini di adopsi di negeri Belanda dan dirayakan sebagai ´Sinter-Klaas´ dan kemudian di Amerika dirayakan sebagai ´Santa Calus´ yang sekarang dimasukkan ke dalam rangkaian perayaan Natal dan sambil menaiki kereta salju ditarik rusa kutup terbang di atas rumah-rumah penduduk sambil membagi-bagikan hadiah di rayakan di malam Natal.

Figur Santa Claus ini merupakan campuran figur Santo Nicholas dan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odin ini lebih-lagi pada masakini diisi dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang mendatangkan mujizat-mujizat. Masa kini beberapa supermal menghadirkan ´magic´ Christmas dengan gambaran peri bertongkat-bintang gaib ini. Gambaran Natal yang serba wah ini kemudian makin rusak karena sudah menjadi hiasan umum baik di daerah lampu merah di New York, London maupun Paris, dan di Ginza di Tokyo yang mayoritas penduduknya bukan Kristen suasana Natal juga di rayakan dengan meriah. Natal bukanlagi merupakan moral-force yang menobatkan tetapi sekedar perayaan.

Benar-benar kemeriahan perayaan Natal masakini perlu di de-mitologisasikan, agar kita dapat mengenal benar-benar berita kesukaan akan kelahiran juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua manusia di dunia. Perayaan yang meriah di gedung gereja yang tertutup, dan lebih lagi di ballroom hotel yang eksklusif sudah jauh berbeda dengan kondisi palungan di malam Natal pertama yang dihadiri para gembala yang sederhana.

Umat Kristen sedang menyiapkan hari Natal di akhir tahun ini, dan sudah tiba saatnya umat Kristen mengembalikan hakekat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.

Di tengah kepedihan yang dialami ribuah keluarga yang menghadapi PHK di PT-DI, dan begitu banyaknya keluarga digusur dari rumah kumuh mereka atau tempat jualan mereka di kaki lima dan tidak memperoleh tempat membaringkan kepala, dan palunganpun tidak, umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih yang meluap keluar ke jalan-jalan yang dingin, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.

Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin!