Artikel Khotbah Hamba Tuhan

Denny Teguh Sutandio:
Doa dan Kemuliaan Allah

oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.

Nats: Yoh. 14:6-14.

Saya harap gereja-gereja lebih bertekun di dalam doa. Kalau kita sibuk lalu kita tidak suka berdoa, itu adalah symptom gereja yang kurang sehat. Gereja yang sibuk tidak tentu melakukan pekerjaan Tuhan, gereja yang sibuk tidak tentu melakukan apa yang Tuhan mau. Kita mungkin merasa letih, tapi lebih banyak orang yang lebih letih daripada kita. Gereja yang tidak suka berdoa adalah gereja yang diambang kematian, gereja yang tidak bisa diharapkan untuk bertumbuh, tidak peduli apakah didalamnya banyak orang yang sehebat apapun.

Firman Tuhan yang kita baca mengajarkan tentang “What is prayer?” Doa tidak menguduskan kita, puasa juga tidak. Yang menguduskan kita hanya 3 yaitu darah Yesus Kristus, firman Tuhan, dan Roh Kudus. Lalu kita berdoa untuk apa, kalau doa tidak menguduskan kita? Dalam Firman Tuhan yang kita baca pagi ini dibicarakan tentang doa dalam konteks yang sangat indah. Kalimat Yesus yang terkenal, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini pasti sudah sangat kita ketahui. Ayat ini banyak dibicarakan dalam konteks keselamatan (soteriologis). Hal ini pasti benar. Tapi ayat ini bukan hanya bicara dalam konteks keselamatan, tapi juga dalam konteks seluruh kehidupan Kristen. Mengapa? Perhatikan metafor yang digunakan di sini juga menunjuk akan hal itu, yaitu “jalan.” Di dalam Alkitab banyak digunakan metafor. Yesus Kristus juga banyak memakai metafor untuk menggambarkan diri-Nya. “Akulah Gembala, Aku adalah pintu, Aku adalah jalan, ….” Semuanya ini adalah metafor. Metafor memiliki satu kelebihan dibanding kalimat-kalimat propositional (kalimat-kalimat rumusan). Modern banyak diwarnai oleh kalimat-kalimat propositional. Ini pun tidak salah, Alkitab juga banyak membicarakan kalimat proposisi. Tapi sebetulnya Alkitab juga menggambarkan kebenaran dalam bentuk metafor, yang sesungguhnya memiliki kekayaan tersendiri daripada proposisi. Metafor misalnya jalan, atau mata. Di dalamnya terkandung banyak proposisi yang kita bisa belajar. Sekarang banyak orang di dalam filsafat kontemporer mulai menggali kembali tentang kepentingan metafor, mereka merasa sedikit jenuh dengan perkembangan bahasa yang hanya membicarakan dari aspek propositional, terutama melalui terjadinya kebangkitan poetry. Poetry menggunakan banyak metafor.

Metafor yang dipakai di ayat Alkitab ini misalnya jalan. Apa bedanya jalan dengan pintu? Pintu kalau dibuka kita langsung masuk. Kalau pakai pintu, konsep soteriologis mungkin lebih gampang dimengerti karena kita masuk melalui itu dan kita diselamatkan. Jalan pada umumnya panjang, artinya jalan itu adalah proses. Yesus menyebut diri-Nya adalah pintu, pintu keselamatan, bahkan satu-satunya pintu. Tapi Dia juga menyebut diri-Nya jalan, maksudnya kita harus tetap berada dalam jalan itu. Kita tidak bisa bilang bahwa Yesus adalah Juru Selamatku, tapi kita tidak berjalan bersama Dia dalam hidup kita. Alkitab tidak mengenal fragmentasi seperti itu. Kadang-kadang orang Injili suka membuat perbedaan yang sangat tajam antara keselamatan dan pengudusan dan akhirnya memisahkannya. Kedua hal ini memang tidak identik sama, memang lain. Tapi terlalu membedakan lalu akhirnya memisahkan menjadi tidak benar. Alkitab selalu membicarakan segala sesuatu integrated, terkait satu sama lain. Percaya kepada Tuhan berarti mengikut Tuhan. Menerima Yesus sebagai Juru Selamat berarti hidup menjadi murid-Nya. Tidak ada yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat tapi tidak bersedia menjadi murid-Nya, tidak ada alternatif seperti itu. Tuhan Yesus menyebut diri-Nya jalan, artinya seluruh hidup kita dari awal sampai akhir selalu berjalan dalam Yesus, bukan hanya soal keselamatan/justification.

Lalu konteks ini dilanjutkan dalam pembahasan berikutnya, karena Filipus mempertanyakan tentang Bapa yang di surga, ingin tahu Allah, ingin mengenal Allah. Ia mengatakan, “Tunjukkan Bapa bagi kami dan itu sudah cukup bagi kami.” Dia minta sesuatu yang besar, yang benar, yang baik. Tapi mengejutkan sekali jawaban Tuhan Yesus. Ia berkata bahwa telah sekian lama Filipus bersama-sama dengan Tuhan, tapi tidak mengenal Dia. Concern Filipus (ini mewakili agama) adalah hasil akhirnya, tujuannya, tapi tidak peduli dengan jalannya.

Kalau kita tahu tujuan tapi tidak tahu jalan sebenarnya tidak ada gunanya. Yesus sengaja menyadarkan hal itu. Kita memang ingin berjumpa Allah di surga, dan ini tidak salah. Tapi banyak orang yang tidak bersedia untuk mengenal jalannya bagaimana. Alkitab mengatakan bahwa jalannya adalah Yesus Kristus. Waktu kita mengenal jalan yang benar, pasti dijamin kita sampai pada tujuan. Yang membuat kita tersesat adalah jalan yang salah, bukan tidak tahu tujuan. Orang yang tahu tujuan tapi tidak tahu jalan pasti tersesat. Yang membuat kita sampai pada tujuan adalah jalan yang benar. Dan jalan itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah suatu Pribadi, bukan cuma sekedar rumusan propositional, tapi Pribadi yang Mahahidup. Di sini lalu Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa, ini kesatuan di dalam Allah Tritunggal. Satu Allah di dalam 3 Pribadi. Ini doktrin Allah Tritunggal (Roh Kudus belum disebut dalam bagian ini).

Lalu dikembangkan secara spiritualitas, ada hubungan langsung dengan tema doa yang kita bicarakan. Karena waktu Yesus membicarakan tentang kesatuan dengan Bapa, Dia sebagai Pribadi kedua bersatu sempurna dengan Pribadi pertama. Maksudnya Yesus adalah refleksi sempurna dari Bapa yang di surga. Filipus telah sekian lama bersama dengan Yesus namun tidak melihat Bapa, padahal Yesus adalah refleksi sempurna dari Bapa-Nya yang di surga, sehingga melihat Yesus berarti melihat Bapa. Yesus berbicara tentang Bapa dan diri-Nya, yang merupakan satu kesatuan yang seharusnya juga menjadi model ketika kita mengatakan Yesus adalah jalan di dalam hidupku, maksudnya di dalam seluruh hidup, kita merefleksikan Yesus, sebagaimana Yesus merefleksikan Bapa. Ini adalah ajaran dari kesatuan Bapa dan Anak, sehingga doktrin ini sangat jelas kaitannya dengan hidup kerohanian kita. Apa yang orang lihat di dalam diri kita? Dalam bagian lain dikatakan bahwa selama berada di dunia Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan dipercayakan Bapa kepada Dia. Bahkan dengan keluasan hati, Ia berkata bahwa setelah Dia orang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Ini yang berkata adalah Yesus, bukan manusia biasa. Dan yang dikatakan memang benar. To a certain extent, Paulus mengerjakan pekerjaan yang lebih besar daripada Tuhan Yesus, secara kuantitas. Secara kualitas pasti tidak ada yang lebih besar dari Tuhan Yesus yang mampu menebus manusia dengan darah-Nya. Dia mengerjakan apa yang Allah percayakan kepadaNya dengan setia. Inilah true Christian living. Bukan bekerja sebanyak-banyaknya, tapi mengerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Seharusnya waktu kita membaca bagian ini, kita merefleksikan dengan hidup kita sendiri, apakah hidup kita merefleksikan Yesus Kristus.

Di dalam konteks seperti ini, lalu Tuhan Yesus membahas tentang prayer. Lalu apakah doa itu? Prayer tidak menguduskan kita, prayer bukan suatu substance yang membawa kita lebih berkenan di hadapan Tuhan (walaupun prayer adalah means of grace, tapi bukan substance), lalu di manakah letak doa? Yang kita baca di sini, secara konteks dikatakan bahwa doa adalah mengosongkan diri, menyangkal diri, lalu meletakkan diri kita di atas mezbah dan mengatakan bahwa biarlah bukan aku yang bekerja untuk Engkau tapi Engkau yang bekerja melalui aku, that’s prayer. Prayer adalah suatu latihan rohani yang sangat baik. Waktu kita tidak bergantung kepada Tuhan, kita tidak berdoa, kita bisa bekerja, sibuk, pikul beban berat, berusaha sebaik mungkin tapi mungkin bukan itu yang Tuhan ingin kerjakan di dalam hidup kita, dan itu nilainya nol di surga karena yang dinilai di sana hanyalah pekerjaan yang dari Tuhan.

Prayer adalah mengosongkan diri lalu mempersilahkan Tuhan untuk bekerja di dalam kehidupan kita. Itu artinya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Artinya kita sudah mati (bersama Kristus yang disalibkan). Kalau kita sendiri hidup berkuasa, bagaimana Tuhan bisa hidup di dalam kita? Tapi Tuhan tidak membuat kita seperti robot, Ia tidak memaksa kita. Tuhan ingin supaya di dalam hidup kita, kita memutuskan sesuatu yang benar. Sebenarnya apa intinya the whole Christian living? Intinya sederhana sekali, yaitu kita mempersilahkan Tuhan menguasai hidup saya. Kita seringkali mendengar, “Saya bekerja untuk Tuhan, saya berkorban untuk Tuhan, saya mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan”, semuanya memang benar. Tapi bisa ada ekses yang terjadi yaitu seolah-olah kita “menolong” Tuhan, berkontribusi bagi Kerajaan Alah, akhirnya kita menjadi naïf di dalam perjalanan hidup kita melayani Tuhan. Kalimat yang dikatakan Louis Palau, “Bukan aku yang bekerja untuk Tuhan, tapi Tuhan yang bekerja melalui aku.” Kalimat ini mungkin membutuhkan bertahun-tahun untuk mempelajarinya. Daud pernah mengalami ini sekali, waktu dia ingin membangun Bait Allah. Mungkin tidak ada kesombongan dalam dirinya, tapi kerendahan hati saja tidak cukup. Jangan terjebak dengan konsep asal kita rajin berdoa atau berpuasa, hidup saleh lalu merasa bahwa dirinya selalu dipakai oleh Tuhan, ini adalah sisi subyektif. Jangan lupa bahwa ada juga sisi objektif, yakni kedaulatan Tuhan. Tuhan memakai siapa saja yang Tuhan kehendaki, bahkan Tuhan memakai orang berdosa untuk pekerjaanNya. Seperti Daud yang ditolak Tuhan waktu ingin membangun Bait Allah. Justru yang dipakai adalah Salomo. Padahal kalau kita boleh membandingkan, hidup Daud dan Salomo mana yang lebih mempermuliakan Tuhan? Pasti kita katakan Daud. Tapi mengapa Tuhan memakai Salomo? Inilah kedaulatan Tuhan. Waktu Daud ingin membangun Bait Allah untuk Tuhan, Tuhan menolak karena tangan Daud sudah najis, terlalu banyak darah karena membunuh orang. Lalu Tuhan pakai Salomo, yang mempunyai kelemahan yang lain, tetapi Tuhan memakai dia (Daud akhirnya diberkati lebih besar lagi karena Allah justru mendirikan tahta kerajaanNya yang kekal di bawah keturunan namanya).

Di sini kita melihat, orang-orang yang taat adalah orang yang seumur hidup bekerja mengikut Tuhan. Kalau Tuhan bilang tidak, berhenti, tunggu atau sesuatu yang lain, dia tetap taat, tanpa rasa tidak puas, karena itu adalah bagian dari ketaatan kepada Tuhan.

Dalam hal berdoa, mari kita menghayati bahwa di dalam pelayanan kita, kita bisa memohon kepada Tuhan supaya seluruh yang kita lakukan benar-benar merupakan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita. Waktu Tuhan memberkati pelayanan itu, waktu Tuhan memuliakannya, pasti seluruh kemuliaan harus kembali kepada Tuhan. Di sini prayer dikaitkan dengan doxology, tentang ini Andrew Murray mengatakan “this is the chief end of prayer.” Tujuan doa adalah supaya Bapa dipermuliakan didalam Anak. Mungkin lalu kita bertanya, dimana tempat saya? Kita tidak perlu ada tempat untuk kemuliaan, justru orang-orang yang paling mulia adalah yang tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri karena semua kemuliaan di dalam dirinya adalah kemuliaan Allah. Waktu manusia jatuh di dalam dosa, yang hilang adalah kemuliaan Allah. “Fall short of the glory of God” Waktu kemuliaan Allah itu menyingkir, manusia menjadi sangat hina. Manusia justru paling mulia waktu dia memberikan segala kemuliaan bagi Allah. Dan ayat ini mengatakan seharusnya kita berdoa seperti itu, sehingga Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Waktu Tuhan memberkati pekerjaan kita, dan kita tahu bahwa bukan aku, tetapi Tuhan yang bekerja di dalam kita, maka tidak mungkin kita bisa memegahkan diri. Kalau kita masih ada kebanggaan, artinya kita masih ada bagian dalam pekerjaan itu. Puji Tuhan kita memang tidak ada bagian dalam pekerjaan Tuhan dan tidak bisa memegahkan diri.

Alkitab mengajarkan dalam bagian lain, bahwa setelah kita melakukan pekerjaan Tuhan, kita lalu mengatakan diri sebagai hamba yang tidak berguna, yang memang harus mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Kita memang harus bekerja untuk bagian yang Tuhan tetapkan bagi setiap hamba-Nya. Model perkembangan spriritualitas yang dibicarakan dalam Alkitab, paling sedikit ada 3 stage. Harap kita melihatnya sebagai model, bukan tingkatan rohani. Waktu kita membaca tulisan orang-orang spiritual seperti membagi dalam stage, tapi kita salah kalau kita menempatkan diri dalam stage/tingkatan. Seperti Kirkegaard yang membagi dalam 3 tahap: estetika, etika dan religius. Tapi dia berkata bahwa tidak berarti seseorang yang sudah berada dalam satu tahap berarti tidak mungkin berada pada tahap yang lebih rendah, katakanlah misalnya di tahap religius, bukan berarti selama-lamanya sudah di tahap itu (kadang orang bisa kembali lagi pada tahap yang pertama, menurut Kierkegaard). Sehingga model tahapan itu adalah alat pembantu bagi kita untuk mengintrospeksi diri. Jadi stage itu bukan untuk menempatkan kita ada di tahap berapa, tapi untuk menguji kedewasaan kita dalam berbagai aspek.

Dalam Alkitab, orang Kristen yang belum dewasa melihat segala pekerjaan pelayanan sebagai suatu kewajiban. Tahap ini adalah tahap yang kurang dewasa karena kita melihat sebagai suatu keharusan sehingga tidak merasakan betul-betul enjoyment dalam pekerjaan yang kita lakukan. Ketika lebih dewasa, pada tahap berikutnya, ia akan merasa rela untuk mengerjakan hal itu dengan sukacita, bukan lagi sebagai kewajiban. Tapi pada tahap yang lebih tinggi lagi, seperti mirip dengan stage yang pertama, seperti Paulus katakan tentang dirinya sebagai orang yang berhutang, dan memberitakan Injil adalah suatu keharusan baginya. Jadi Paulus melihat dirinya sebagai budak. Ini seperti kembali lagi ke tahap satu, seperti menjalankan sebagai suatu kewajiban. Apakah ini berarti Paulus melakukannya dengan terpaksa? Tidak, dia melakukannya dengan rela, namun sekaligus melihatnya sebagai suatu keharusan, di mana sesungguhnya dia tidak memiliki pilihan, kecuali untuk taat.

Kelemahan dan kekurangan dari tahap kedua adalah kita mengandalkan emosi dan mood sukacita sehingga bisa kurang penyangkalan diri lagi. Ketika kita merasa tidak sukacita dalam satu pekerjaan dan kita merasa bebas untuk memilih, akhirnya kita tidak mengerjakan. Misalnya kita merasa tidak sukacita untuk memberitakan Injil, lalu kita berpikir itu tidak apa-apa karena saya tidak mau merasa itu sebagai kewajiban (tahap 1).  Firman Tuhan mengajarkan entah kita senang atau tidak, lagi in the mood or not in the mood, tetap melihat pekerjaan Tuhan sebagai suatu keharusan, tidak ada pilihan. Ini seperti kembali ke tahap pertama, tapi sebetulnya tidak. Paulus dalam kehidupannya menjalankan prinsip ini, dia tidak lagi dikendalikan oleh perasaan-perasaan sukacita di dalam kehidupannya, walaupun dia pasti bersuka cita. Namun sukacita bukanlah merupakan sesuatu yang kita kejar atau menjadi tujuan akhir dalam pelayanannya, melainkan bagaimana dia menggenapkan rencana Tuhan, bagaimana taat sepenuhnya kepada Tuannya.

Marilah kita terus bertumbuh dan melihat diri sebagai hamba yang tidak berguna.Biarlah kebesaran dan kemahakuasaan, kemuliaan Tuhan yang dinyatakan seumur hidup kita. Pekerjaan apa yang bisa melebihi cinta kasih Tuhan bagi kita? Bahkan apa yang kita berikan bagi Tuhan, semuanya berasal daripada-Nya, yang mengerjakan dalam diri kita adalah Tuhan sendiri, dan akhirnya, tujuannya pun kembali kepada Tuhan. Roma 11:36 merangkum filsafat hidup Kristen dengan kristalisasi, “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Solus Christus, Soli Deo Gloria!

Sumber: Artikel tgl 14 Januari 2005 di http://www.grii-singapore.org

Pembaca Artikel via Internet: SamuelDesfortin


Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah lulus dari situ melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory) di Den Haag, a conservatory with the largest early music department in the world (mempelajari historical performance practice). Belajar di bawah Ton Koopman, seorang dirigen, organis, cembalis dan musicolog yang sangat ahli dalam interpretasi karya J. S. Bach. Selain itu juga mempelajari fortepiano di bawah Prof. Stanley Hoogland.
Setelah lulus dari situ pada tahun 1998 pulang ke Indonesia, lalu melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) di Jakarta pada Februari 1999. Pada tahun yang sama memulai study Theologi di Institut Reformed di Jakarta. Lulus pada tahun 2002 dengan Master of Christian Studies (M.C.S.). Sejak tahun 2002 sampai sekarang menjabat sebagai Dekan School of Music di Institut Reformed Jakarta serta menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Jerman: Berlin, Hamburg dan Munich. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta sinode Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada Paskah 2005 dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph.D.–Cand.) di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianti Herawati dan dikaruniai seorang putri, Pristine Gottlob Kristanto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s