Mempersiapkan Natal

Penulis : Herlianto

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Lukas 2:6-7).

Hari Natal yang di kenang di seluruh dunia dipenghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan dimana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya dimana damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi yang berarti.

Masakini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, terutama restoran, mal dan hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan belanja akhir tahunnya, apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?

Pohon Natal adalah gambaran yang indah di Eropah di musim salju ketika salju memenuhi permukaan bumi dan pohon-pohon berguguran daunnya, di situ kita melihat pohon-pohon den yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia, namun apakah makna sebenarnya Natal yaitu ´kelahiran Juruselamat manusia´ itu masih bisa dilihat di balik kemeriahan belanja akhir tahun itu?

Sebenarnya Franciscus dari Assisilah yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan ternak dengan patung-patung kecil Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah. Pohon Den dengan kerlap-kerlip kemudian dijadikan lambang kekekalan dan dijadikan pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang.

Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´.

Pada abad-11, Nicholas seorang uskup yang baik hati yang suka membagi-bagikan hadiah pada anak-anak dirayakan pada tengah malam tanggal 5 Desember, namun lama-lama legenda ´Santo´ Nicholas ini di adopsi di negeri Belanda dan dirayakan sebagai ´Sinter-Klaas´ dan kemudian di Amerika dirayakan sebagai ´Santa Calus´ yang sekarang dimasukkan ke dalam rangkaian perayaan Natal dan sambil menaiki kereta salju ditarik rusa kutup terbang di atas rumah-rumah penduduk sambil membagi-bagikan hadiah di rayakan di malam Natal.

Figur Santa Claus ini merupakan campuran figur Santo Nicholas dan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odin ini lebih-lagi pada masakini diisi dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang mendatangkan mujizat-mujizat. Masa kini beberapa supermal menghadirkan ´magic´ Christmas dengan gambaran peri bertongkat-bintang gaib ini. Gambaran Natal yang serba wah ini kemudian makin rusak karena sudah menjadi hiasan umum baik di daerah lampu merah di New York, London maupun Paris, dan di Ginza di Tokyo yang mayoritas penduduknya bukan Kristen suasana Natal juga di rayakan dengan meriah. Natal bukanlagi merupakan moral-force yang menobatkan tetapi sekedar perayaan.

Benar-benar kemeriahan perayaan Natal masakini perlu di de-mitologisasikan, agar kita dapat mengenal benar-benar berita kesukaan akan kelahiran juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua manusia di dunia. Perayaan yang meriah di gedung gereja yang tertutup, dan lebih lagi di ballroom hotel yang eksklusif sudah jauh berbeda dengan kondisi palungan di malam Natal pertama yang dihadiri para gembala yang sederhana.

Umat Kristen sedang menyiapkan hari Natal di akhir tahun ini, dan sudah tiba saatnya umat Kristen mengembalikan hakekat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.

Di tengah kepedihan yang dialami ribuah keluarga yang menghadapi PHK di PT-DI, dan begitu banyaknya keluarga digusur dari rumah kumuh mereka atau tempat jualan mereka di kaki lima dan tidak memperoleh tempat membaringkan kepala, dan palunganpun tidak, umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih yang meluap keluar ke jalan-jalan yang dingin, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.

Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin!

Injil Gnostik

Penulis: Herlianto

Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di perpustakaan Chenoboskion yang lebih dikenal di lokasi Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, sedangkan kita mengetahui bahwa faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3 M di sekitar Palestina.

Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52 traktat Gnostik, termasuk 3 karya Corpus Hermeticum dan terjemahan karya Plato Republik. Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di Museum Koptik di Kairo, Mesir. Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan Yesus yaitu Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Maria, Injil Mesir, dan Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan lengkap. Injil Thomas paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima (The Five Gospels, Scribner, 1996) hingga dapat dimengerti mengapa pengikut Jesus Seminar cenderung bernafaskan Gnostik juga.

Injil Gnostik tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan rahasia antara Yesus dengan murid-muridNya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.

Khasanah atau pustaka Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan karya tulis mereka disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani Gnosis yang artinya pengetahuan rahasia yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dua materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.

Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah Sophia (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau Demiurge yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan. Orang-orang Gnostik menganggap demiurge sebagai Yahweh Perjanjian Lama yang menciptakan langit dan bumi untuk memelihara kemanusiaan dari keinginan mereka kembali kepada sumbernya.

Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai: dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar. (Gospel Truth? hlm.87).

Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan kekuatan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.

Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan-ucapan rahasia sehingga mereka yang mengerti bisa mencapai ke Ilahi an mereka sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, Roh Yesus yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal, bahkan dalam Second Discourse of Seth (ca 200-230) disebutkan Yesus tidak mati disalib. Karena itu pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.

Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di Muhafazat El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah Injil Yudas. Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika situs web National Geographic memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah National Geographic – May 2006 dan versi Indonesianya dimuat dalam edisi National Geographic – Juni 2006.

Injil Yudas ditemukan dalam bentuk papirus diantara tahun 1950-60 dan menurut perhitungan waktu radiokarbon, papirus itu ditaksir berasal dari tahun ca 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun ca 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot).

Injil Yudas mulai menarik perhatian pada tahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan kemudian muncul ke pasar antik Jenewa pada tahun 1983, dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 1999 baru diketahui sebanyak 26 halaman, kemudian berangsur-angsur dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 62 halaman itu pada awal tahun 2006. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggris (terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006 bersama dengan buku The Lost Gospel (Injil yang Terhilang).

Memang, dalam catatan sejarah gereja, Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya Adversus Haereses (180) yang kemudian dikutip oleh Origenes dalam tulisannya De Stromateis (230). Pada tahun 375, Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.

Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi: Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas, dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.

Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa mereka selama ini salah jalan. Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri Yesus. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam Injil Yudas bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka. Kalau begitu, apakah banyak Injil Gnostik yang dianggap ditulis para murid Yesus yang lain seperti Injil Thomas juga salah arah karena penulisnya kurang mengerti gnosis sebenarnya?

Salam kasih.
Sumber: www.yabina.org

Septuaginta

Penulis: Herlianto

Septuaginta adalah terjemahan Tenakh ke bahasa Yunani, namun yang perlu dipertanyakan adalah mengapa Tenakh perlu diterjemahkan? Untuk mengerti ini kita harus tahu bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa yang ada sejak manusia hadir di bumi dan terus bertahan sepanjang masa. Alkitab mencatat bahwa keturunan Sem (Semitik) berasal dari Mesopotamia dan kemudian hijrah ke Kanaan dimana Abraham tinggal selama puluhan tahun disitu sampai meninggalnya dan mengikuti bahasa lokal Kanaan (Kej.12-25). Besan Abraham dan mertua Ishak, Bethuil (Kej.25:20), adalah orang Aram, termasuk Laban saudara isteri Ishak dan mertua Yakub juga orang Aram dan berbahasa Aram (Kej.31:47). Ketika keturunan Abraham tinggal di Mesir mereka berbicara bahasa Kanaan (Yes.19:18) dan kelihatannya masih tetap demikian ketika kembali ke Kanaan.

Sekitar masa kerajaan (abad-10sM) bahasa Ibrani yang disebut bahasa Yehuda tumbuh dari bahasa Kanaan dan Amorit dan menggunakan aksara Kanaan terdiri 22 huruf. Pada masa Sanherib (700sM) rakyat Israel berbahasa Yehuda dan juga kalangan terpelajar berbahasa Aram (2Raj.18:26). Mungkin karena terdiri huruf konsonan dan tidak ada vokal, bahasa Yehuda/Ibrani Kuno (Palaeo Hebrew) tidak bertahan lama, sebab pada abad-6sM bahasa ini hanya digunakan dalam menulis dan menyalin kitab agama dan sebagai bahasa percakapan digunakan Aram. Pada masa Ezra (abad-5sM), rakyat tidak lagi mengerti bahasa Ibrani sehingga perlu diterjemahkan secara lisan ke dalam bahasa Aram (Neh.8:2-9), terjemahan demikian kemudian dikumpulkan sebagai Targum, bahkan beberapa bagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel ditulis dalam huruf Ibrani tetapi berbahasa ucap Aram.

Masa abad-6 s/d 3sM, bahasa Ibrani disebut Ibrani Kitab Suci karena hanya digunakan sebagai bahasa tulis dalam penulisan dan penyalinan kitab suci. Inipun terpengaruh bahasa Aram dimana bentuk yang semula mengikuti huruf Kanani berkembang mengikuti huruf pesegi Aram. Pada akhir masa inilah Alexander (abad-4sM) raja Yunani menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Babilonia, sampai Mesir. Pengaruh Helenisasi dibawah Alexander di Yudea mendalam karena Alexander bisa menyesuaikan diri dengan kepercayaan lokal. Dalam perjalanan ke Mesir di Yerusalem ia mengikuti kebaktian Yahudi di Bait Allah. Di Aleksandria dibangun perpustakaan besar Yunani. Ditengah matinya bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan dan kuatnya bahasa Aram sebagai bahasa percakapan umum, bahasa Yunani ikut populer terutama dikalangan orang Yahudi yang mayoritasnya berada diperantauan, juga yang tinggal di Palestina yang kembali dari Babel yang berbahasa Aram.

Setelah kematian Alexander (323sM) dibawah penerusnya wangsa Ptolomeus di Mesir dan Seleukus di Siria dilakukan helenisasi seluruh kawasan dimana Yudea berada ditengahnya. Penduduk Yudea terpecah menjadi dua fraksi Mesir dan Siria, namun sekalipun keduanya berebut pengaruh di Yudea, mereka memiliki kesamaan yaitu bahasa Yunani yang tidak diperebutkan. Dibawah Antiochus III (192sM) kedua wangsa berdamai dan ia mencari simpati dengan cara membebaskan pajak selama 3 tahun, melepaskan tawanan Yahudi, dan membantu membangun kerusakan Bait Allah.

Karena bahasa Aram dan Yunani makin menjadi bahasa percakapan umum yang meluas di sekitar laut tengah yang dikuasai wangsa Yunani, Aristeas dalam suratnya kepada Philocratus melaporkan bahwa Dimetrius, penasehat raja, meminta kepada raja Ptolomeus Philadelphus (283-247sM) agar kitab suci Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, lebih-lebih karena banyak orang Yahudi tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Ptolomeus kemudian meminta kepada imam besar Eliezer di Yerusalem untuk mengirimkan kitab Torat dan 72 tua-tua Yahudi untuk menerjemahkannya di Aleksandria. Terjemahan Pentateuch selesai dalam 72 hari dan disebut Septuaginta (LXX), selanjutnya dalam satu abad berikutnya semua kitab Tenakh dan kitab Apokrifa diterjemahkan juga ke dalam bahasa Yunani dan nama Septuaginta dimaksudkan seluruhnya. Septuaginta dengan cepat meluas sampai ke Yudea karena proses helenisasi berjalan mulus di Yudea selama sekitar satu-setengah abad dan makin banyak penduduk menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan di samping bahasa Aram dan banyak yang juga menggunakan nama Yunani.

“Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. … bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.” (Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, h.23-24, 29).

Helenisasi damai terganggu ketika Antiochus IV Epiphanes berkuasa (175sM). Waktu itu Yason ingin merebut kedudukan imam besar dari Onias saudaranya, dan ia meminta izin Anthiocus untuk membangun gymnasium di Yerusalem dan menjadikannya kota Yunani. Gymnasium ditujukan untuk dewa-dewi Yunani dan pemainnya bertelanjang dada. Para imam Yahudi pun banyak yang bertelanjang dada mengikuti perlomaan dan mengabaikan tugas mereka di Bait Allah. Anthiokus IV ketika pulang perang dengan wangsa di Mesir mampir di Yerusalem (171sM) dan menajiskan Bait Allah dan merampas banyak perkakas di Bait Allah (1Mak.1:21-25; 2Mak.5:11-16;6:1-9).

Bukan bahasa-helenis, tetapi paganisme-helenis yang dipaksakan itulah yang mendorong keluarga Matathias memberontak (1Mak.2:1-14). Dibawah anaknya Yudas, pemberontakan mencapai puncaknya dan Bait Allah direbut kembali dan ditahbiskan (165sM) dan dirayakan sebagai Hanukkah. Anthiokus IV marah dan menyerang kembali tetapi ia keburu meninggal dan penggantinya memberi kebebasan beragama. Sekalipun Yudas ingin mengembalikan Yudaisme dan membenci pengaruh asing, ia sendiri meminta bantuan Romawi, tahun 161sM ia terbunuh dalam perang.

Perayaan Hanukkah memang mengembalikan kesucian ibadat di bait Allah, namun itu tidak mengusir helenisasi dalam bahasa. Yudas sendiri memakai nama panggilan Makabeus dalam bahasa Yunani dan keturunan Simon saudaranya, yang kemudian memerintah Yudea, banyak yang menggunakan nama Yunani juga seperti John Hirkanus, Aristobulus, Alexander Yanneus, dan Antigonus Matathias. Helenisasi bahasa Yunani sudah penuh di Yudea ketika Yesus hidup.

“Yesus berbicara juga bahasa Yunani … tetapi bahasa ibu mereka saat itu adalah bahasa Aram.” (ME Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, h.16).

“Septuaginta … Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula.” (Tenny, h.32).

“Septuaginta adalah Alkitab yang digunakan oleh Yesus dan para rasul. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip langsung dari Septuaginta, sekalipun itu berbeda dengan teks Masoret.” (Norman Geisler, A General Introduction to the Bible, h.254).

Di Sinagoga di Nazaret, Yesus membaca kitab Yesaya dari Septuaginta (Luk.4:18-19):

“Bagian terbesar kutipan ini berasal dari teks Yes.61:1-2 dari LXX. Merawat orang-orang yang remuk hati, adalah bagian dari sumber peninggalan naskah Lukas yang terbaik, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas berasal dari teks LXX dari Yes.58:6.” (The Interpreters� Bible, Vol.8,90-91).

Ada yang menyebut Josephus mengaku menderita belajar bahasa Yunani dan mendorong orang Yahudi agar tidak menyerah dan belajar bahasa asing. Nyatanya ini ucapan politis, karena faktanya ia membelot ke negara asing Romawi dan mengganti namanya dengan nama Romawi, Flavius Josephus, sehingga ia disebut penghianat oleh orang Yahudi. Kala itu Romawi berkuasa di Yudea mengalahkan wangsa Yunani namun dalam hal bahasa, bahasa Romawi tidak mampu menggantikan bahasa Yunani. Josephus menulis �Jewish War� dalam bahasa Aram yang disebut �lidahnya orang Ibrani,� tetapi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan banyak karyanya di tulis dalam bahasa Yunani.

“Karya pertamanya adalah Sejarah Perang Yahudi, ditulis pertama kalinya dalam bahasa Aram untuk kepentingan orang Yahudi di Mesopotamia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Yunani.” (J.D. Douglas (ed), The New Bible Dictionary, h.660)

Memang bahasa Aram secara umum dan di Perjanjian Baru disebut bahasa Ibrani (hebraisti = lidah Ibrani; hebraidi dialektos = dialek Ibrani), tetapi maksudnya adalah bahasa Aram. Bruce Metzger, profesor Perjanjian Baru dari Princeton, mengatakan:

“Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. … Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa “Ibrani.” … Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus hidup adalah “Aram” (The Language of the New Testament, dalam The Interpreter�s Bible, Vol.7, 43).

Septuaginta menerjemahkan Yahweh/Adonai menjadi �Kur55 � dan El/Elohim/Eloah dengan �Theos,� namun ada yang menyebut bahwa beberapa fragmen abad-1M menunjukkan LXX aslinya tidak menerjemahkan tetragramaton dan baru pada abad-2M diterjemahkan menjadi Kurios. Melihat fragmen itu kita dapat mengetahui bahwa itu salinan yang dimiliki pemuja nama Yahweh kala itu dimana kata Kurios diganti YHWH, indikasinya ada naskah LXX yang memuat nama YHWH Ibrani kuno yang lebih dari 5 abad lebih tua, malah ada naskah Tenakh Ibrani miznah yang nama YHWHnya ditulis dalam Ibrani kuno juga. Ada juga fragmen LXX abad-1M yang didalamnya memuat nama YHWH Ibrani miznah yang semasa. Banyak juga fragmen LXX yang menunjukkan nama Kurios & Theos, dan adalah tidak logis kalau itu baru ditulis pada abad-2M sebab pada tengah kedua abad-1M, kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine yang sama dan menggunakan gaya bahasa dan kosakata LXX termasuk nama Kurios & Theos.

Luther on Prayer

Penulis: Billy Kristanto

Katekismus Besar yang ditulis oleh Luther membahas lima pokok besar: 10 perintah Allah, iman, doa, baptisan dan perjamuan kudus. Bagian ketiga tentang doa sebenarnya merupakan penjelasan tentang Doa Bapa Kami, dan sebelumnya Luther menulis suatu pengantar mengenai doa. Ada beberapa point yang kita bisa pelajari dari konsep Luther tentang doa pada bagian pengantar ini.

Pertama, Luther mengaitkan doa dengan ketaatan terhadap perintah yang kedua “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan .” Seperti Calvin (yang menjelaskan prinsip ini lebih detail) Luther mengerti ke-10 perintah Allah ini bukan hanya sebagai perintah negativ saja (maksudnya didahului dengan kata “jangan”), melainkan juga sebagai perintah yang positiv. Dengan kata lain “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan” berarti kita harus menyebut nama Tuhan dengan benar. Tidak cukup hanya dengan tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Maka ini berarti kita harus belajar untuk memuji namaNya yang kudus dan juga dalam kesengsaraan kita memanggil namaNya (berdoa kepadaNya). Sehingga berdoa merupakan ketaatan terhadap perintah Allah yang kedua. Dengan demikian doa adalah suatu keharusan, bukan suatu pekerjaan yang boleh kita lakukan kapan kita mau. Kita berdoa berdasarkan perintah Allah, bukan berdasarkan kelayakan kita. Luther mengutip Yes 1:4 dst yang menyatakan bahwa Allah masih murka kepada mereka yang terpukul akibat dosa-dosa mereka, karena mereka tidak kembali kepada Allah dan melalui doa mereka meredakan murka Allah serta mencari kasih karuniaNya. Dosa dapat membuat seseorang untuk semakin enggan berhubungan dengan Allah dan hubungan seperti itu akan semakin menghancurkannya. Kita tidak membangun doa di atas kesalehan pribadi kita, melainkan sekali lagi, di dalam ketaatan akan perintahNya. Kita juga tidak perlu untuk menghina doa kita sendiri, karena kita membandingkan dengan doa-doa mereka yang sangat diberkati Tuhan seperti misalnya Petrus dan Paulus. Membanding-bandingkan diri dengan orang yang diberkati Tuhan dapat membuat kita discouraged jika itu terjadi secara salah. Luther menegaskan bahwa Allah tidak melihat doa berdasarkan orang yang berdoa, melainkan berdasarkan firmanNya (yang menjadi dasar dari doa tersebut) dan ketaatan kehendak kita. Maka inilah point yang pertama dan yang terpenting: semua doa kita h arus didasarkan atas ketaatan kepada Allah dan perintahNya, tanpa melihat diri kita, layak atau tidak layak. Dengan demikian doa dibangun atas suatu dasar yang teguh dan yang tak tergoncangkan yaitu firman Allah.

Kedua, kita seharusnya terdorong untuk berdoa karena Tuhan adalah Tuhan yang berjanji. Tuhan berjanji untuk memberikan kepada mereka yang meminta kepadaNya. Jika kita menghargai janji-janji Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya, kita pasti terdorong untuk bertekun dalam doa. Fakta bahwa kita seringkali enggan untuk berdoa adalah karena kita tidak melihat bahwa janji-janji Tuhan sangat berharga bagi kita. Kita menganggap sepi janji-janji Tuhan bagi kita. Sebaliknya suka merenungkan janji-janji Tuhan memberikan dorongan terus-menerus bagi kita untuk berdoa, karena kita tahu sesuai dengan janjiNya, Dia pasti akan memberikannya kepada kita.

Ketiga, Tuhan sendiri telah mengajarkan kata-kata dan bagaimana kita harus berdoa serta meletakkannya dalam mulut kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Dia sangat memperhatikan kesengsaraan kita dan kita boleh yakin bahwa Doa Bapa Kami ini pasti berkenan kepadaNya dan didengar olehNya.

Keempat, melalui kesengsaraan/penderitaan yang menekan kita, kita dapat berdoa senantiasa. Karena setiap orang yang meminta harus mengingini sesuatu, dan tanpa keinginan ini tidak ada doa yang sejati. Luther mengaitkan timbulnya keinginan ini justru pada saat kita mengalami kesulitan. Karena dalam kesulitan itulah timbul keinginan yang jujur dalam diri kita. Bukan berarti tidak mungkin kita bertumbuh dalam saat yang lancar, namun sesuai dengan natur kita yang lemah, kita cenderung berpuas diri (self-satisfied) ketika tidak ada kesulitan yang terjadi. Self-satisfied ini begitu merusak hingga dapat melumpuhkan kehidupan doa kita di hadapan Tuhan. Sebaliknya ketika kita berada dalam penderitaan, jiwa kita dibangunkan untuk berseru kepada Tuhan. Luther bahkan menegur dengan keras mereka yang hanya berdoa sebagai suatu tindakan perbuatan baik untuk membayar hutang kepada Allah. Orang-orang seperti itu tidak mau mengambil sesuatu dari Tuhan, melainkan hanya memberi! Kalimat ini men gejutkan kita karena yang seringkali kita dengar dan pelajari adalah “Jangan hanya meminta saja, melainkan memberi juga.” Namun yang dimaksud Luther di sini adalah tidak mungkin sebenarnya orang hanya memberi saja karena ini berarti tidak mengenal keterbatasan diri (yang bukan merupakan sumber). Dengan kata lain orang yang hanya mau memberi namun tidak suka meminta kepada Tuhan adalah seorang congkak yang merasa dirinya tidak pernah bisa habis, dan akhirnya mengakibatkan satu kehidupan yang tidak bergantung pada Tuhan. Kita semua memiliki cukup kekurangan yang nyata; persoalannya adalah bahwa kita tidak merasakan serta melihatnya dengan sadar. Memang penderitaan atau kesulitan pada dirinya sendiri bukanlah suatu kebajikan atau kebaikan (ada orang yang dalam penderitaan menjadi marah, pahit, dendam, kecewa, dingin, acuh tak acuh, mengejar kesenangan duniawi sebagai pengimbang duka dsb), namun dalam tangan Tuhan penderitaan dapat menjadi suatu sarana bagi kita untuk bertumbuh, asal kita berespon dengan benar (yaitu berseru kepadaNya di tengah penderitaan kita).

Kelima, doa menjadi senjata yang ampuh dalam melawan permusuhan dengan iblis. Kita terlalu lemah untuk dapat mengalahkan kuasa iblis dengan kekuatan kita sendiri. Doa membawa kekuatan yang dari Tuhan untuk mengalahkan kuasa jahat, sehingga bukan kita yang berperang, melainkan Tuhan sendiri yang berperang. Rahasia ini selalu dimengerti oleh setiap pejuang iman yang namanya tercantum dalam sejarah Gereja. Dalam bagian yang lain Luther pernah mengatakan bahwa orang percaya yang berdoa adalah seperti pilar-pilar yang menopang dunia ini.

Kiranya Tuhan melibatkan kita dalam pekerjaanNya yang mulia. Sola gratia.

FEMINISME


Penulis : Bagus Pramono, Herlianto

Sampai hari ini sebagian kaum perempuan masih aktif dalam perjuangan persamaan hak dengan kaum laki-laki atau yang lazim disebut kesetaraan gender. Sebenarnya sebagian besar perempuan yang sedang berjuang itu adalah para perempuan yang sudah “merdeka”. Biasanya mereka itu dari kalangan Wanita Karir yang sukses, punya prestasi, punya background pendidikan yang tinggi. Dan mereka tetap giat berjuang atas nama semua perempuan yang masih “terpasung/ tidak memiliki hak setara dengan laki-laki/ perempuan yang tertindas”.

Masalah yang terus-menerus tentang emansipasi sebenarnya bukan karena laki-laki menjadikan wanita sebagai objek, melainkan karena perempuan sendiri yang berlaku demikian. Selalu berteriak akan persamaan hak. Dalam parlemen di Indonesia ada sekelompok pejuang perempuan yang meminta “quota” 30% dalam keanggotaan legislatif, minta daftar nama perempuan di taruh di barisan atas dalam pemilihan. Bahkan iklan tentang ini banyak diekspos di televisi. Ini justru sangat bertentangan dengan perjuangan feminisme. Sebab kalau meminta “quota” artinya kaum perempuan ini yakin tidak mampu bersaing secara normal/ fair dengan laki-laki dalam dunia politik, sehingga perlu “quota”. Apabila para aktivis perempuan ini yakin betul bahwa kaum kemampuan perempuan sejajar dengan laki-laki mengapa tidak bersaing secara fair saja. Iklan tersebut menggambarkan unsur pemaksaan dan mengarah kepada sifat KKN. Sehingga kemudian kita mendapati bahwa iklan tersebut merupakan sebuah ironisme dari perjuangan perempuan yang selama ini digembar-gemborkan.

Sebenarnya di Indonesia, kesetaraan gender sudah sangat baik, lihat saja Megawati, beliau seorang perempuan yang menjadi Presiden, sebuah sukses dalam peraihan karir yang paling tinggi di negeri ini. Ada Rini Suwandi seorang professional handal yang menjabat sebagai menteri Perdagangan. Sangat mengherankan bahwa kaum feminis Indonesia tidak merasa terwakili oleh prestasi yang diraih mereka ini. Dilain sisi ada banyak sekali wanita karir di Indonesia yang merangkap menjadi ibu tetapi sukses dalam pekerjaannya. Profil-profil tersebut sudah menggambarkan bahwa perempuan mempunyai andil hebat dalam politik dan perekonomian Negara Indonesia.

Di negara Islam pun kita menjumpai banyak perempuan yang memegang kendali politik tertinggi contohnya Benazir Butto pernah menjabat sebagai Perdana Meteri di Pakistan, Shirin Ebadi perempuan Iran dengan kepribadian luar biasa memenangkan hadiah Nobel 2003. Chandrika Bandaranaike Kumaratunga presiden Srilanka. Dua perempuan pintar di Philipina Cory Aquino & Gloria Arroyo. Di belahan dunia lain juga kita kenal Margareth Tacher, Madeleine Albright, dan Madonna perempuan genius dengan kepribadian yang kontraversial dan sangat sukses. Di masa lalu kita mengenal Evita Peron dan masih banyak lagi. Selamat, kaum perempuan! Bahwa kaum perempuan mampu membuktikan bahwa potensi karir dan intelektual antara perempuan dan laki-laki adalah setara.

Lalu apa lagi yang harus diperjuangkan? Sampai kapan kaum perempuan berjuang untuk kesetaraan gender? Saya rasa jawabannya gampang saja “sampai pada saat mereka tidak teriak-teriak lagi soal kesetaraan gender”.

Kaum Perempuan di-lain sisi sudah menggeser peran-peran laki-laki, begitupun tidak ada golongan yang mengatasnamakan diri mereka “Man´s Lib” protes tentang hal-hal contohnya sebagai berikut : Ada Ladies Bank (Bank Niaga sudah mempeloporinya) dimana semua staff dalam beberapa cabang adalah perempuan. Ada Gereja yang semua/ sebagian besar pekerjanya adalah perempuan, dari gembala sidang, majelis, pemusik dsb. Banyak pabrik-pabrik yang hanya menerima pekerja perempuan daripada laki-laki, di pabrik rokok, sepatu, mainan anak-anak lebih suka menerima pekerja perempuan. Kita lihat disini kaum lagi-laki sudah tergeser di ladang pekerjaan dan karir. Batapa banyak manager/ direktur/ pebisnis/ guru perempuan. Kadang juga saya sering mendapat keluhan dari laki-laki bahwa mereka lebih sulit mendapat ladang pekerjaan dibanding perempuan.

Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum perempuan itu akan selalu ada jika kaum perempuan tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah “mitra” melainkan sebagai pesaing dan musuh.

MACAM-MACAM ALIRAN FEMINISME

4.1. FEMINIS LIBERAL

Apa yang disebut sebagai Feminis Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki.

Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai “Feminisme Kekuatan” yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.

Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkab wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.

4.2. FEMINISME RADIKAL

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 70-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.

4.3. FEMINISME POST MODERN

Ide Posmo – menurut anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

4.4. FEMINISME ANARKIS

Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

4.5. FEMINISME SOSIALIS

Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang mendinginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.

Dan lain sebagainya.

V. MENGAPA ADA FEMINISME?
* Herlianto

Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.

Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriachal sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropah dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.

Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak kotbah-kotbah mimbar menempatkan perempuan sebagai mahluk yang harus ´tunduk kepada suami!´ dalam Efesus 5:22 dengan menafsirkannya secara harfiah dan tekstual seakan-akan mempertebal perendahan terhadap kaum perempuan itu.

Efesus 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan

Dari latar belakang demikianlah di Eropa berkembang gerakan untuk “;menaikkan derajat kaum perempuan”; tetapi gaungnya kurang keras, baru setelah di Amerika Serikat terjadi revolusi sosial dan politik, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul ´Vindication of the Right of Woman´ yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-40 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.

Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era reformasi dengan terbitnya buku “The Feminine Mystique”; yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama ´National Organization for Woman´ (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ´Equal Pay Right´ (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ´Equal Right Act´ (1964) dimana kaum perempuan mempuntyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang.

Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, soalnya sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. Di tahun 1967 dibentuklah ´Student for a Democratic Society´ (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok ´feminisme radikal´ dengan membentuk ´Women´s Liberation Workshop´ yang lebih dikenal dengan singkatan ´Women´s Lib.´ Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya ´Miss America Pegeant´ di Atlantic City yang mereka anggap sebagai ´pelecehan terhadap kaum wanita´ dan ´komersialisasi tubuh perempuan.´ Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia.

Gerakan ini adalah itikad baik kaum perempuan, dan semestianya mendapat dukungan bukan saja dari kaum perempuan tetapi juga seharusnya dari kaum laki-laki, tetapi mengapa kemudian banyak kritik diajukan kepada mereka?

5.A. SASARAN KRITIK TERHADAP FEMINISME

Sebenarnya awal bangkitnya gerakan kaum perempuan itu banyak mendapat simpati bukan saja dari kaum perempuan sendiri tetapi juga dari banyak kaum laki-laki, tetapi perilaku kelompok feminisme radikal yang bersembunyi di balik “women´s liberation” telah melakukan usaha-usaha yang lebih radikal yang berbalik mendapat kritikan dan tantangan dari kaum perempuan sendiri dan lebih-lebih dari kaum laki-laki. Organisasi-organisasi agama kemudian juga menyatakan sikapnya yang kurang menerima tuntutan “Women´s Lib” itu karena mereka kemudian banyak mengusulkan pembebasan termasuk pembebasan kaum perempuan dari agama dan moralitasnya yang mereka anggap sebagai kaku dan buah dari ´agama patriachy´ atau ´agama kaum laki-laki.´

Memang memperjuangkan kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan, gaji yang layak, perumahan maupun pendidikan harus diperjuangkan, dan bahkan pemberian hak-suara kepada kaum perempuan juga harus diperjuangkan, tetapi kaum perempuan juga harus sadar bahwa secara kodrati mereka lebih unggul dalam kehidupan sebagai pemelihara keluarga, itulah sebabnya adalah salah kaprah kalau kemudian hanya karena kaum perempuan mau bekerja lalu kaum laki-laki harus tinggal di rumah memelihara anak-anak dan memasak.

Bagaimanapun kehidupan modern, kaum perempuan harus tetap menjadi ibu rumah tangga. Ini tidak berarti bahwa kaum perempuan harus selalu berada di rumah, ia dapat mengangkat pembantu atau suster bila penghasilan keluarga cukup dan kepada mereka dapat didelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga, tetapi sekalipun begitu seorang isteri harus tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dan rumah tangga tidak dilepaskan begitu saja.

Bila semula gerakan kaum perempuan “feminisme” itu lebih mengarah pada perbaikan nasib hidup dam kesamaan hak, kelompok radikal “Women´s Lib” telah mendorongnya untuk mengarah lebih jauh dalam bentuk kebebasan yang tanpa batas dan telah menjadikan feminisme menjadi suatu “agama baru.”

Sebenarnya halangan yang dihadapi ´feminisme´ bukan saja dari luar tetapi dari dalam juga. Banyak kaum perempuan memang karena tradisi yang terlalu melekat masih lebih senang ´diperlakukan demikian,´ atau bahkan ikut mengembangkan perilaku ´maskulinisme´ dimana laki-laki dominan Sebagai contoh dalam soal pembebasan kaum perempuan dari ´pelecehan seksual´ banyak kaum perempuan yang karena dorongan ekonomi atau karena kesenangannya pamer justru mendorong meluasnya prostitusi dan pornografi. Banyak kaum perempuan memang ingin cantik dan dipuji kecantikannya melalui gebyar-gebyar pemilihan ´Miss´ ini dan ´Miss” itu, akibatnya usaha menghentikan yang dianggap ´pelecehan´itu terhalang oleh sikap sebagian kaum perempuan sendiri yang justru ´senang berbuat begitu.´

Halangan juga datang dari kaum laki-laki. Kita tahu bahwa secara tradisional masyarakat pada umumnya menempatkan kaum laki-laki sebagai ´penguasa masyarakat,´ (male dominated society) bahkan masyarakat agama dengan ajaran-ajarannya yang orthodox cenderung mempertebal perilaku demikian.

Dalam agama-agama sering terjadi ´pelacuran kuil´ dimana banyak gadis-gadis harus mau menjadi ´pengantin´ para pemimpin agama seperti yang dipraktekkan dalam era modern oleh ´Children of God´ dan ´Kelompok David Koresy´, dan di kalangan Islam fundamentalis banyak dipraktekkan disamping poligami juga bahwa kaum perempuan dihilangkan identitas rupanya dengan memakai kerudung sekujur badannya atau bahwa kaum perempuan tidak boleh menjadi pemimpin yang membawahi laki-laki, dan bukan hanya itu ada kelompok agama di Afrika yang yang mengharuskan kaum perempuan di sunat hal mana tentu mendatangkan penderitaan yang tak habis-habisnya bagi kaum perempuan. Di segala bidang jelas kesamaan hak kaum perempuan sering diartikan oleh kaum laki-laki sebagai pengurangan hak kaum laki-laki, dan kaum perempuan kemudian menjadi saingan bahkan kemudian ingin menghilangkan dominasi kaum laki-laki di masyarakat!

Kritikan prinsip yang dilontarkan pada feminisme khususnya yang radikal (Women´s Lib) adalah bahwa mereka dalam obsesinya kemudian ´mau menghilangkan semua perbedaan yang ada antara perempuan dan laki-laki.´ Jelas sikap radikal yang mengabaikan perbedaan kodrat antara kaum perempuan dan laki-laki itu tidak realistis karena faktanya toh berbeda dan menghasilkan dilema, sebab kalau kaum perempuan dilarang meminta cuti haid karena kaum laki-laki tidak haid pasti timbul protes, sebaliknya tentu pengusaha akan protes kalau kaum laki-laki diperbolehkan ikut menikmati ´cuti haid dan hamil´ padahal mereka tidak pernah haid dan tidak mungkin hamil.

Dalam etika kehidupan-pun, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap kaum perempuan adalah kaum yang lebih lemah. Kita jumpai dalam setiap kejadian emergency, kebakaran, kecelakaan dan bencana lainnya. Para “team penolong” selalu akan menolong “women and children” lebih dahulu. Ini sebenarnya didasari atas rasa kemanusiaan saja bukan atas diskriminasi gender.

Kesalahan fatal feminisme radikal ini kemudian menjadikan laki-laki bukan lagi sebagai mitra atau partner tetapi sebagai ´saingan´ (rival) bahkan ´musuh ´ (enemy)!´ Sikap feminisme yang dirusak citranya oleh kelompok radikal sehingga menjadikannya ´sangat eksklusif´ itulah yang kemudian mendapat kritikan luas.

Kritikan lain juga diajukan adalah karena dalam membela kaum perempuan dari sikap ´pelecehan seksual;´ mereka kemudian ingin melakukan kebebasan seksual tanpa batas, seperti ´Women´s Lib´ mendorong kebebasan seksual sebebas-bebasnya termasuk melakukan masturbasi, poliandri, hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak, lesbianisme, bahkan liberalisasi aborsi dalam setiap tahap kehamilan. Kebebasan ini tidak berhenti disini karena ada kelompok radikal yang ´menolak peran kaum perempuan sebagai ibu rumah tangga´ dan menganggap ´perkawinan´ sebagai belenggu. Andrea Dworkin bahkan menganggap &380361hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan tidak beda dengan perkosaan!´. Dalam hal yang demikian sikap ´Women´s Lib´ sudah melenceng jauh terhadap hubungan normal cinta-kasih antara laki-laki dan perempuan.

Di kalangan agama Kristen, feminisme itu lebih lanjut mempengaruhi beberapa teolog-perempuan yang menghasilkan usulan agar sejarah Yesus yang sering disebut sebagai ´History´ diganti dengan ´Herstory´ dan lebih radikal lagi agar semua kata ´Bapa´ untuk menyebut Allah dalam Alkitab harus diganti dengan kata ´Ibu.´ Ibadah dan pengakuan iman (Credo) tidak lagi menyebut ´Allah Bapa tetapi Allah Ibu´ atau the ´Mother Goddess,´ bahkan lambang salib perlu diganti dengan meletakkan tanda O (bulatan) tepat diatas lambang salib Kristus sehingga menjadi lambang kaum perempuan.

Kita sekarang menghadapi era informasi dimana kedudukan kaum perempuan dibanyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal dimana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan disinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji. Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.

Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak tokoh-tokoh perempuan sendiri tidak mengakui “pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi” dan menganggapnya lebih inferior daripada misalnya pekerjaan sebagai dokter, pengacara atau pengusaha, dalam sikap ini kita dapat melihat sampai dimana kuku feminisme radikal sudah pelan-pelan menusuk daging.

Pernah ketika ada kunjungan Gorbachev, presiden Rusia waktu itu, yang berkunjung ke Amerika Serikat, isterinya “Raisa” bersama “Barbara”, isteri presiden Amerika Serikat George Bush Sr. , diundang untuk berbicara disuatu “Universitas perempuan yang terkenal.” Ketika keduanya berbicara, sekelompok perempuan yang bergabung dengan “women”s lib” meneriakkan yel-yel bahkan membawa poster yang mencemooh mereka karena mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak bisa mempunyai karier sendiri. Bahkan, beberapa profesor perempuan menolak hadir karena merasa direndahkan bila mendengar pembicara perempuan yang hanya seorang ibu rumah tangga. Pembawa Acara, menanggapi kritikan-kritikan itu kemudian berkomentar bahwa “memang keduanya adalah ibu rumah tangga, tetapi karena dampingan keduanya, dua orang paling berkuasa di dunia dapat menciptakan kedamaian di dunia, suatu profesi luhur yang tiada taranya!”

5.B.SEBUAH INTROSPEKSI

Dibalik kritikan yang ditujukan terhadap “Women”s Lib” khususnya dan “Feminisme” umumnya, kita perlu melakukan introspeksi karena sebenarnya “feminisme” itu timbul sebagai reaksi atas sikap kaum laki-laki yang cenderung dominan dan merendahkan kaum perempuan. Ini terjadi bukan saja di kalangan umum tetapi lebih-lebih di kalangan yang meng “atas namakan” agama memang sering berperilaku menekan kepada kaum perempuan.

Dalam menyikapi “feminisme” sebagai suatu gerakan, kita harus berhati-hati untuk tidak menolaknya secara total, sebab sebagai “gerakan persamaan hak” harus disadari bahwa usaha gerakan itu baik dan harus didukung bahkan diusahakan oleh kaum-laki-laki yang dianggap bertanggung jawab atas kepincangan sosial-ekonomi-hukum-politis di masyarakat itu khususnya yang menyangkut gender. Yang perlu diwaspadai adalah bila feminisme itu mengambil bentuk radikal melewati batas kodrati sebagai “gerakan pembebasan kaum perempuan” seperti yang secara fanatik diperjuangkan oleh “Women”s Lib.”

Bagi umat Kristen, baik umat yang tergolong kaum perempuan maupun kaum-laki-laki, keberadaan “sejarah Alkitab” harus diterima sebagai “History” dan data-data para patriach (bapa-bapa Gereja) tidak perlu diubah karena masa primitif dan agraris memang mendorong terjadinya dominasi kaum laki-laki, tetapi sejak masa industri lebih-lebih masa informasi, kehadiran peran kaum perempuan memang diperlukan dalam masyarakat selain peran mereka yang terpuji dalam rumah tangga dan Alkitab tidak menghalanginya. Tetapi sekalipun begitu, Alkitab dengan jelas menyebutkan adanya perbedaan kodrati dalam penciptaan kaum laki-laki dan kaum perempuan. Kaum laki-laki memang diberi perlengkapan otot yang lebih kuat dan daya juang yang lebih besar, tetapi kaum perempuan diberi tugas sebagai “penolong” yang sejodoh yang sekaligus menjadi ibu anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya.

Kita harus sadar bahwa arti “penolong” bukanlah berarti “budak” tetapi sebagai “mitra” atau “tulang rusuk yang melengkapi tubuh.” Kesamaan hak harus dilihat dalam rangka tidak melanggar kodrat manusia. Kita harus sadar bahwa kotbah-kotbah yang sering menyalahgunakan ayat-ayat Efesus fasal 5 tentang “hubungan suami dan isteri” (yang juga dilakukan oleh banyak penginjil perempuan) harus diletakkan dalam konteks bahwa “suami harus mengasihi isterinya” (Efs.5:25). Tunduk dalam ayat-22 bukan sembarang tunduk (seperti kepada penjajah atau majikan) tetapi seperti kepada Tuhan (Kristus), dan “kasih” bukanlah sekedar cinta tetapi dalam pengertian “kasih Kristus” yang “rela berkorban demi jemaat” (Efs.5:25) dan seperti “laki-laki mengasihi” dirinya sendiri” (Efs.5:33). Tentu kita sadar bahwa “berkorban” itu jauh lebih besar dan sulit dilakukan daripada “tuntuk” bukan?

Gerakan feminisme sudah berada di tengah-tengah kita, peran kaum perempuan yang cenderung dimarginalkan dalam masyarakat “patriachy” sekarang sudah mulai menunjukkan ototnya. Semua perlu terbuka akan kritik kaum perempuan yang dikenal sebagai penganut “feminisme” tetapi feminisme harus pula mendengarkan kritikan dari kaum perempuan sendiri maupun kaum laki-laki agar “persamaan” (equality) tidak kemudian menjurus pada “kebebasan” (liberation) yang tidak bertanggung jawab.

* Diambil dari tulisan Bp. Herlianto/ Yabina

BAPTISAN ANAK

Penulis : John Calvin

Ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Tetapi bagaimana kalau setelah diperiksa, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. Inilah jawaban kita. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara orang-orang saleh ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.

Sebelum baptisan ditetapkan, umat Allah telah memiliki sunat. Ketika menyelidiki perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksudnya, sunat mengantisipasi baptisan. Janji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6). Sekarang kita dapat melihat dengan jelas persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang paling idak penting.

Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?

Alkitab bahkan membukakan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris kovenan ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga, anak-anak Kristen dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Kita melihat bahwa setelah mengadakan kovenan dengan Abraham, Tuhan memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah, dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan kovenan ini di dalam diri anak-anak kita.

Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak Allah terima?

Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan menunjang hal ini. Orang-orang yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah tidak meyakinkan. Sebab, walaupun para penulis Injil tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa anak-anak juga dibaptis, namun mereka juga tidak menyebutkan bahwa anak-anak dikecualikan dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). Siapakah yang dapat menunjukkan dari nas-nas ini bahwa anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus.

Selanjutnya kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, karena mereka melihat sendiri kovenan Tuhan telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.

Di pihak lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Dia sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol kovenan kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).

Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani. Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita. Alasan mereka yang lain ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus.

Sumber: Institutes of the Christian Religion, IV.16

TEOLOGI, SPIRITUALITAS DAN PRAKTIKA

SEBUAH KESAKSIAN TENTANG ARUS KEKRISTENAN ZAMAN INI (My Testimony about the current age issue related to Christian Life)
Dear all brothers and sisters wherever you are. May God always bless.
Pada saat ini sebelum saya memposting tulisan ini kepada teman-teman semua di blog ini. Sekali lagi salam kenal dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Saya seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu PT Negeri di KalTeng yang sedang menyusun tugas akhir saat ini. Doakan April tahun depan saya sudah bisa menyandang gelar sarjana. Saya bukan teolog, namun saya rindu untuk terus belajar teologi yang benar dengan cara yang benar, yang dengan sungguh-sungguh menekankan otoritas Alkitab dan juga menelitinya dengan sangat ketat. Mungkin anda tahu apa yang saya maksud?
Saya terbebaban sekali untuk menulis ini karena saya melihat ada arus yang sedang terjadi menggerogoti kita di generasi zaman ini. Saya juga pada saat ini akan membagikan tentang kondisi kekristenan pada generasi ini, khususnya yang saya tahu, yaitu yang dekat di kota saya saja. Bagi saya kehidupan kekristenan di tempat saya cukup memprihatinkan. Sedikit orang yang mau sungguh-sungguh belajar dengan ketat khususnya teologi.
Dulu saya juga orang yang pernah mengingkari Tuhan, bahkan sempat 1 tahun tidak pernah pergi ke gereja karena kecewa kepada gereja dan juga kepada Allah, yang sebenarnya aku tidak perlu demikian. Aku mulai dipengaruhi ajaran-ajaran filsafat yang sangat membuatku merasa seperti orang yang sudah menemukan kebenaran. Padahal saya tanpa sadar telah menghina Tuhan dan umat-Nya. Itu terjadi ketika saya kelas tiga SMA sampai saya kuliah, bahkan sampai tahun kedua kuliah saya masih meragukan Tuhan, sehingga saya sering berdebat dengan orang di sekitar saya dan membuat mereka resah. Namun saya dengan sombong sekali menganggap bahwa teman-teman yang saya ajak berdebat itu tidak mampu menjawab pertanyaan saya, bahkan ada juga beberapa hamba Tuhan yang saya tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan filsafat, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tak jarang mereka mengatai saya sesat dan saya terlalu kebanyakan belajar sehingga hang katanya kepala saya. Tapi saya pada waktu itu tidak peduli. Saya tetap memegang prinsip ideologi saya itu.
Namun oleh anugerah Tuhan saja saya sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya membaca buku dan khotbah seorang hamba Tuhan yang kemudian paling saya kagumi pada zaman ini, melalui hamba Tuhan ini saya telah ditarik kembali oleh-Nya untuk mengenalnya dengan benar, dan berkomitmen untuk terus memuliakan-Nya dengan terus belajar..belajar, dan belajar untuk taat kepada-Nya. Saya bersyukur sekali. Namun anehnya sampai sekarang teman-teman saya itu masih saja menganggap saya sebagai orang yang terlalu banyak belajar atau sombong rohani. Padahal saya tidak merasa demikian. Apalagi ketika saya mengkritik mereka-mereka yang melayani Tuhan dengan tidak terlalu banyak belajar, tapi berani sekali mengajar/menyampaikan Firman Tuhan, mereka anggap saya seperti orang yang paling benar saja. Padahal pada intinya saya hanya ingin bilang kepada mereka bahwa kita harus melayani Tuhan dengan serius, sebab Dia adalah Raja di atas segala raja, karena kalau tidak ketat dan serius maka banyak orang yang akan mendapatkan konsep-konsep yang keliru. Tapi inilah yang saya sebut sebagai arus yang sedang “ngetrand” saat ini. Apa yang salah sebenarnya? Inilah pertanyaan yang harus dijawab, dan menyebabkan saya ingin membagikan tulisan ini kepada teman-teman semua di sini, semoga ada juga yang ikutan kasih komentar. Oya, tolong juga doakan kehidupan gereja kami di sini ya. Sehingga ada kebangunan rohani yang sejati terjadi di tempat kami, bukan 2 arus yang saat ini sedang menjalar, arus yang menekankan “Kebangunan Rohani Emosional” yang diajarkan teolog-teolog penganut teologi sukses, dan arus “Bergereja yang hambar” yang diajarkan oleh teolog-teolog yang saya sebut sebagai kurang belajar banyak dan benar-benar ketat, (namun yang kedua ini mungkin tidak terlalu ekstrim dari pada arus yang pertama yang sering bisa menyesatkan apalagi kalau jemaat tidak teliti. Tapi intinya sama saja sih “tidak komprehensif pemahamannya).
Sekali lagi inilah yang membuat saya sangat terdorong untuk menyampaikan tulisan ini. Menurut saya beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern) di zaman postmodern yang diwarnai oleh sekularisme, maupun semangat Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) sungguh harus menjadi perhatian kita semua khususnya gereja sebagai tiang dan fondasi kebenaran di dunia ini. Beragam filsafat tersebut mempengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh. Dalam kasus ini ada beberapa teman saya juga yang dulunya aktif melayani Tuhan, pemimpin pujian dan pernah khotbah di persekutuan, tapi akhirnya berubah arah menjadi orang yang menyangkal Tuhan. Itulah hebatnya setan mempengaruhi orang-orang dari sejak dulu sampai sekarang dengan topeng intelektualitasnya. Teman saya itu dulu boleh dikatakan dialah orang yang mengajak saya untuk mengenal Tuhan, Tapi apa yang terjadi sekarang, sebaliknya. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan sampai saat ini saya masih dijaga-Nya dan berada dalam jalur-Nya, khususnya dua tahun terakhir ini. Karena itulah saya terus memacu diri, mengembangkan diri, mengisi anugerah Tuhan yang Ia berikan kepada saya dengan terus belajar dan rela takluk hanya kepada kebenaran-Nya.
Sebagai akibat dari ideologi dan arus pemikiran filsafat tersebut sehingga banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu arus pemikiran tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi orang yang tinggi hati, merasa diri sudah mendapatkan kebenaran yang paling hebat. Kasus ini saya temui pada orang-orang yang katanya pintar, bergelar doktor bahkan profesor, sehingga menolak dan meragukan kitab suci dan akhirnya menjadi ateis.
Di sisi lain, ada juga orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif sebagai akibat dari pengaruh filsafat relativisme dan Semangat Zaman Baru) dan membuang pentingnya rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Kasus ini terjadi pada mereka-mereka yang sering membuat kebaktian-kebaktian “kesembuhan ilahi” dan yang menekankan mujizat, yang memang sering terjadi di sini. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Untuk kasus yang ini saya dapati pada kebanyakan orang-orang kristen di sekitar saya, mereka berkata “kita sekarang sudah dalam kebenaran, jadi tidak perlu terlalu banyak belajar seperti itu, dipusingkan doktrin dan pengajaran atau teologi itu tidak cukup, yang penting kita praktek saja, layani Tuhan, karena nanti ketika kita menghadap Tuhan bukan masalah teologi yang akan ditanyakan Tuhan, tapi berapa banyakkah jiwa – jiwa yang sudah kita bawa kepada Tuhan?”. Demikian alasan mereka. Saya merasa kasian sekali. Kita memang harus melayani Tuhan dengan praktek juga tapi yang saya tekankan adalah “caranya yang benar”. Jika pemikiran seperti alasan yang mereka kemukakan itu terus dipegang, maka sangat memprihatinkan sekali kekristenan di zaman ini.
Teologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Tetapi akhir-akhir ini, ketiga hal ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau oleh orang kristen di generasi ini.
Tapi apa yang saya bisa buat? mungkin untuk sementara ini saya hanya bisa posting tulisan sederhana saya ini di blog ini. Semoga anda diberkati ketika membacanya. Amin. GBU.
Ok, I close my case now n waiting for you comment. GBU by Des14

Artikel Rohani

Siapakah Kaum Injili Sejati?

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Renungan ini ditranskrip dari Persekutuan Doa Momentum ke-72 di Jakarta, Juni 1993

Di dalam pelayanan kita ada suatu inti yang menjadikan pelayanan itu hidup. Inti itu menjadi pendorong yang terbesar, motivator yang menggairahkan semua pelayanan yang mengelilinginya. Apakah inti itu? Yaitu pelayanan bagi sesama kita untuk menerima Injil dan mengalami kuasa keselamatan Tuhan di mana kita sudah mengalami dan menerimanya. Untuk hal ini Paulus mengatakan satu kalimat yang begitu agung, “Segala sesuatu yang kukerjakan hanya demi Injil.” Berarti semua pelayanan sekitar itu melayani suatu inti, semua kegiatan di luar itu melayani suatu pusat dan pusat ini adalah penginjilan.

Mengapa seseorang belajar theologi? Supaya bisa menginjil dengan lebih baik. Mengapa kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang? Supaya Injil tidak dihalangi oleh kita. Mengapa harus belajar banyak bahasa asing? Supaya pada waktu memberitakan Injil bahasa tidak menghalangi pemberitaan yang disampaikan. Mengapa harus hidup hati-hati di dalam kesucian? Supaya orang lain tidak mencela kita karena kita sedang mengabarkan Injil. Jadi dengan titik pusat ini kita melihat semua pelayanan yang lain dikaitkan dengan pelayanan yang paling penting ini. Paulus berkata, “Aku mengerjakan segala sesuatu hanya demi Injil” (1Kor. 9:23). Segala sesuatu yang aku kerjakan mungkin kurasa aneh, tapi jika ditelusuri dan diselidiki sampai tuntas, dasarnya hanya satu: supaya aku boleh mengabarkan Injil seefisien mungkin. Jikalau kita mengerti akan makna dari ayat ini pasti sikap pelayanan kita akan berubah. Pasti corak dan cara kita mendekati orang akan berubah. Karena begitu banyak hal yang bukan langsung pemberitaan Injil sudah ikut campur di dalam merusak penginjilan tanpa kita sadari. Begitu banyak hal kita anggap remeh dan tidak penting, padahal itu mau tidak mau sudah menyangkut keberhasilan di dalam mengabarkan Injil, baik pergaulan, cara berpikir, cara bertingkah laku, atau cara berkata-kata. Paulus mengingatkan hal ini dengan mengatakan, “Meskipun aku bebas, tetapi aku tidak mau memakai hakku di dalam mengabarkan Injil.” Hak terbesar adalah hak untuk menyerahkan hak. Inilah rahasia kerohanian. “Apakah aku tidak berhak membawa istri ke sana-sini seperti Kefas?” (1Kor. 9:5). Paulus berkata, “aku berhak. Tidak ada orang yang bisa menyalahkan aku. Apakah aku berhak mendapatkan uang sebanyak mungkin karena aku memberitakan Injil kepada banyak orang? Aku berhak. Orang yang mengabarkan Injil boleh hidup dari Injil. Tetapi untuk Injil itu aku tidak menerimanya karena dalam ini aku menyerahkan hak.” Di sini rahasia penginjilan bisa efektif dan berhasil di mana orang-orang itu tidak mempertahankan hak yang sepatutnya ia terima. Barangsiapa selalu berbicara tentang hak, pasti sedang terjadi kesulitan pada kerohaniannya. Tidak berarti kita tidak memikirkan tentang hukum, keadilan dan apa yang sewajarnya kita terima. Tetapi pada saat-saat tertentu sesungguhnya seorang pelayan tidak mementingkan untung rugi pribadi, tidak mempertahankan hak itu bagi dirinya sendiri. Asal Injil diberitakan, Tuhan dipermuliakan, dan manusia boleh dibawa kepada Tuhan, ia rela menyerahkan hak demi mempertahankan hak yang lebih besar.

Siapakah yang lebih berkuasa daripada Kristus? Siapakah yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan yang melampaui Dia? Tidak ada. Tapi justru Ia rela meninggalkan surga yang mulia dan datang ke dalam dunia yang rendah dan menyerahkan hak yang seharusnya ada pada-Nya. Semua perjuangan hak asazi manusia adalah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang memang dicipta oleh Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, yang memang secara lahiriah diberikan pada diri manusia. Tetapi hak asazi manusia yang berada di dalam diri Kristus justru direbut habis di zaman-Nya atas kerelaan-Nya menyerahkan hak. Sebab itu hak yang kita terima di dalam Kristus dan kuasa yang kita alami di dalam Dia justru adalah kuasa yang paling tinggi dan paling terhormat. Setelah Kristus menyerahkan hak asazi yang sepatutnya Ia miliki, Allah memberikan kuasa di langit dan di bumi seluruhnya kepada Dia. Sebab itu sebelum mengutus manusia mengabarkan Injil ke seluruh dunia, Yesus Kristus berkata, “Sesungguhnya kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku, maka pergilah engkau.” (Mat. 28:18). Pengutusan tidak pernah diberikan tanpa dibubuhi dengan hak dan kuasa dari surga. Penginjilan tidak pernah menjadi sukses kalau tidak memperoleh hak yang berasal dari Tuhan sendiri. Penginjilan berhasil karena mengerti di mana inti hak dan kuasa itu. Jikalau kita makin banyak memegang kuasa di dalam tangan kita sendiri, makin tidak ada kuasa dari diri kita untuk melepaskan orang dari tangan setan. Jika kita memegang kuasa organisasi dan kebanggaan diri pribadi belaka makin tidak ada kuasa untuk menghantam setan yang mencengkeram orang berdosa. Kalimat ini penting sekali bagi mereka yang betul-betul mau dipakai di dalam melayani Tuhan. Pada waktu engkau mengerti bahwa demi Injil, demi Tuhan, engkau menyerahkan hak, itulah saatnya engkau memperoleh hak yang lebih besar dari Tuhan. Bagaimana kita bisa mempertahankan kuasa? Kalau kita tidak gila hormat, tidak gila kuasa dan hak yang ada pada kita yang kita anggap patut kita terima.

Paulus dengan jelas mengatakan di sini, “aku adalah seorang yang mengabarkan Injil.” Pengabaran Injil adalah pelayanan inti yang harus ditunjang oleh pelayanan yang lain dan mempengaruhi pelayanan yang lain, sehingga apa yang kita perbuat adalah demi Injil. Dengan demikian kita harus bertanya: Siapakah penginjil itu? Apakah hanya mereka yang lulus dari sekolah theologi saja? Apakah mereka yang hanya mengabarkan Injil dari mimbar saja? Alkitab memberitahukan kepada kita penginjil adalah mereka yang membawa kabar kesukaan. “Betapa indahnya kaki-kaki mereka…” (bdk. Yes. 52:7, Rm. 10:15). Berarti di sini penginjil harus kita mengerti sebagai orang yang bertindak sesuai dengan Injil. Jikalau yang dibicarakan Injil, tapi yang dilakukan bukan Injil, ia bukan penginjil yang sejati. “Kaki-kaki mereka begitu indah”, berarti terletak pada apa yang kau jalankan dan laksanakan lebih dari apa yang kau bicarakan.

Siapakah kaum Injili yang murni dan sejati? Karl Barth menulis satu buku berjudul, “Theology of Evangelism” atau “Evangelical Theology.” Pada waktu membacanya saya diliputi oleh tanda tanya yang besar, mengapa seorang seperti Karl Barth bisa menulis buku tentang theologi penginjilan atau theologi kaum Injili padahal ia bukan kaum Injili? Orang Injili hampir semua tidak mengaku Karl Barth golongan Injili. Siapakah sebenarnya kaum Injili? Apakah orang yang pergi ke sana-sini membagi traktat dan mengabarkan tentang Yesus Kristus? Kalau dari fenomena kelihatannya memang Injili, tetapi kalau dilihat kembali apa tujuan mereka menginjili ternyata mereka hanya propaganda gedung gereja dan denominasi mereka belaka, supaya golongan mereka boleh berkembang. Tetapi kalau menerima Injil dan masuk gereja lain, mereka tidak terlalu senang. Kalau demikian, siapakah kaum Injili? What is the true Evangelical?

Istilah “Evangelical” menjadi begitu penting pada waktu Reformasi. Namun akhirnya pada abad 19 istilah ini tidak vokal lagi. Dan pada abad 20 istilah ini justru konfrontatif dengan kaum Liberal, khususnya pada permulaan abad 20 sampai dengan tahun 30-an. Sehingga akhirnya menghasilkan suatu konklusi untuk menggolongkan seseorang: kalau bukan kaum Liberal, berarti kaum Injili; kalau bukan Injili berarti Liberal. Tetapi sesudah tahun 60-70an istilah ini sudah diterima baik. Tahun 1966 di Berlin, tahun 1968 di Singapura, tahun 1974 di Lausanne, tahun 1983 dan 1986 di Amsterdam, tahun 1989 di Manila, semua konferensi penginjilan seluruh dunia menjadi momen-momen yang penting. Di Lausanne tahun 1974 berkumpul 4.000 pemimpin Injili seluruh dunia, lebih besar jumlahnya daripada yang hadir di forum PBB. Tahun 1989 di Lausanne II (Manila) bahkan semua grup Timur seperti Rusia, Yugoslavia ikut serta.

Dalam perkembangan ini gereja merasa kaum Injili penting sekali tetapi saya tidak mau puas dan terus menuntut dengan pertanyaan yang tajam: siapakah kaum Injili yang sejati? Jika kita berani menamakan diri Reformed Injili, apakah artinya Injili? Melalui adanya STRII Jakarta, STRI Surabaya, dan STRI Malang, saya ingin bertanya: istilah Reformed sudah banyak dimengerti, tetapi apakah istilah Injili sudah digarap dengan baik? Saya katakan: tidak. Kita masih timpang, lebih pentingkan Reformed tapi kurang pentingkan Injili.

Siapakah kaum Injili? Bagaimanakah menjadi kaum Injili yang sejati? Saya membagi 5 macam kaum Injili:
1. Traditional Evangelical
Orang yang dibesarkan di dalam tradisi gereja Injili. Mereka hanya tahu Injil itu baik tapi tidak tahu Injil itu apa. Begitu banyak gereja di Indonesia yang memakai label atau denominasi Injili, seperti GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa), GMIT (Gereja Masehi Injili Timor), GMIST (Gereja Masehi Injili Sangir Talaud). Gereja-gereja yang memakai label Injili ini adalah gereja Protestan. Namun kalau engkau kunjungi engkau tidak mendengar ada Injil, orangnya tidak mengabarkan Injil. Inilah Injili tradisi. Karena dilahirkan dalam satu gereja Protestan yang pada permulaannya ada semangat Injili, maka mengaku diri Injili juga. Ini bukan kaum Injili yang sejati. Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga Kristen dianggap otomatis Kristen. Tetapi di dalam kerajaan Allah, hanya mereka yang diperanakkan pula oleh Roh Kudus adalah orang Kristen yang sejati. (Billy Graham mengatakan, “kalau demikian orang yang dilahirkan di dalam garasi otomatis jadi mobil.”) Orang yang dilahirkan dalam keluarga Kristen boleh mendapat berkat lebih banyak daripada orang lain, sejak kecil boleh dididik di dalam ajaran Kristen tapi kecuali dia sendiri betul-betul mendalami Injil dan diperanakkan pula di dalam kerajaan Allah oleh kuasa Roh Kudus, ia belum menjadi orang Kristen yang sejati. A traditional Christian is not a true Christian.

2. Ideological Evangelical
Orang Injili ideologis yaitu mereka yang mengenal, mempelajari, bahkan sampai mengetahui akan struktur pikiran dan semua theologi di dalam ide-ide Injili. Mereka belajar di dalam sekolah theologi Injili, mereka menyetujui segala pemahaman dari iman Injili, mereka mengerti secara kognitif dan rasional akan Injili dan menyetujui doktrin-doktrin Injili. Tetapi bagi saya meskipun mereka lebih baik daripada golongan pertama di atas, mereka tetap bukan kaum Injili yang sejati. Hanya semacam pengertian di otak, ‘aku setuju, aku mengerti, aku sudah belajar, aku tahu, bahkan bisa menulis buku tentang apa itu Injili’, tapi bagi saya engkau tetap bukan Injili yang sejati.

Pada waktu saya berumur 10 tahun, saya pernah belajar piano di bawah seorang pendeta. Pendeta itu begitu pandai belajar dan mengerti bahasa asli Alkitab, baik Gerika maupun Ibrani. Pada waktu saya berumur 17 tahun, pendeta ini menunjukkan satu buku yang ia tulis mengenai Parakletos, yaitu Roh Kudus. Namun pada waktu saya berumur 24 tahun, saya mendengar kabar pendeta itu tidak lagi menjadi orang Kristen. Ia pergi bertapa di satu gunung di Jawa Tengah sampai mati di situ. Ia meninggalkan Kekristenan sama sekali. Ia begitu hafal kitab suci, mengetahui banyak tentang theologi, bahkan menulis buku tentang Roh Kudus. Tetapi akhirnya ia tidak percaya kepada Roh Kudus, ia tidak percaya Yesus Kristus. Ia hanya mempunyai pengertian di otak tetapi tidak di hatinya dan jiwanya. Sebab itu saya kira tidak sulit bagi orang untuk menulis tentang “Evangelical Theology” yang begitu indah, bisa menulis thesis dan paper mengenai penginjilan dan apa itu Injil, tapi sesungguhnya orang yang demikian belum menjadi orang Injili yang sejati.

3. Empirical Evangelical
Orang-orang yang mengalami digarap oleh Injil. Kelompok ketiga ini jauh lebih baik daripada yang pertama dan kedua. Mungkin di dalam suatu kebaktian Tuhan bekerja dengan kuasa Injil mengubah engkau; mungkin melalui buku atau traktat, Roh Kudus menggugah hatimu untuk bertobat dan meninggalkan dosamu, menerima Yesus Kristus. Mungkin juga melalui suatu peristiwa khusus di mana tidak ada teori atau khotbah yang bisa melakukan, engkau merasa dipukul Tuhan sehingga engkau harus rendah hati dan bertobat mengalami kuasa Injil. Martin Luther termasuk orang semacam ini. Pada suatu hari di tengah-tengah hujan besar, Luther berjalan bersama temannya. Tidak lama kemudian halilintar menyambar temannya yang tewas seketika itu juga. Luther sadar betapa kecilnya manusia. Ia langsung rebah di sana dan meminta pengampunan dosa. Dan suatu perasaan yang begitu dahsyat menyebabkan dia bertobat dan mengenal kuasa Tuhan. Pada suatu hari ia pergi ke kota Roma untuk berziarah. Ia mengira kota Roma itu begitu rohani dan banyak orang suci. tapi pada waktu ia sampai di sana baru ia sadari begitu banyak kerusakan dan korupsi serta kemunafikan, dosa kecongkakan dan keadaan yang begitu tidak sesuai. Di tengah kekecewaan ia mengatakan, “sudah berapa lama saya berusaha berjuang menyiksa diri dengan asketisisme untuk mendapat berkat dan anugerah Allah.” Akhirnya ia sadar dengan satu kalimat dari Roma 1:17, “Orang benar akan hidup bukan karena kelakuan dan hidup menyiksa diri, tetapi karena iman.” Pengalaman Injil itu menyebabkan ia berubah total. Sesudah menerima pekerjaan Roh Kudus, ia sadar akan Injil. Kesadaran dan pengalaman ini memasukkan ia ke dalam kelompok ketiga.

Saya tidak tahu ada berapa orang di antara kita yang mengalami kuasa Injil yang mengubah dirimu. Mengapa ada orang Kristen seumur hidup tidak pernah membawa satu orangpun kepada Tuhan dan malah sebaliknya menyebabkan orang satu persatu keluar dari gereja karena tersandung olehnya? Mengapa ada orang yang baru Kristen tiga tahun tapi sudah berbuah banyak, sedangkan yang sudah begitu lama malah tidak berbuah? Ada sesuatu yang salah. Kita harus menyelidiki, introspeksi dan menghakimi diri sendiri akan hal ini. Orang yang berani menghakimi diri sebanyak mungkin makin membuktikan ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Penghakiman yang destruktif dan menghancurkan iman kita datangnya dari setan, tetapi introspeksi dan penghakiman yang konstruktif adalah pekerjaan Roh Kudus. Orang yang mengalami kuasa Injil hingga mengalami perubahan dan orang yang belum pernah mengalami kuasa Injil dan belum pernah mengalami perubahan itu berbeda. Karena orang yang sudah mengalami kuasa Injil suka membagi-bagikan, suka orang lain juga sama-sama mendapatkan kuasa Injil itu pula. Sudahkah engkau mengalami hal itu? Sudahkah engkau mengalami perubahan sehingga orang lain melihatmu lalu ingin menjadi orang Kristen pula?

4. Pragmatical Evangelical
Orang Injili yang pragmatis. Orang seperti ini secara praktis memberikan pelayanan kepada orang lain, menginjili, membagi traktat, mengundang orang ke gereja, dsb. Hal ini selalu terjadi pada diri orang yang baru bertobat. Orang yang baru bertobat merasa sudah sewajarnya dan seharusnya memberitakan Injil kepada orang lain. Tanpa perlu disuruh, tidak perlu dilatih, tak usah dipaksa langsung mengetahui bagaimana membagikan kabar baik kepada orang lain. Ia memberanikan dan mendorong diri untuk hal itu. Saya senang sekali melihat orang Kristen baru dan melihat pengalaman mereka membawa jiwa baru untuk mengenal Injil melalui pelayanannya. Mari kita kembali mengoreksi diri apakah kita sudah kehilangan cinta kasih semula seperti itu? Saya harap sampai saya mati jiwa untuk Injil tetap bebannya sama seperti hari pertama saya menerima Tuhan. Tuhan bisa memelihara negkau dan saya. Masih ingatkah kali pertama engkau begitu giat memberitakan kepada orang lain, tidak ada waktu untuk mengeritik gereja di sana-sini? Yang ada adalah perasaan yang sama seperti Paulus, “Celakalah aku kalau tidak mengabarkan Injil.” Itu adalah semacam pengaliran hidup yang begitu natural dan otomatis sehingga tidak ada paksaan dan kesulitan yang dipertahankan untuk mengabarkan Injil.

Tetapi di dalam hal keempat ini saya minta saudara perhatikan, orang yang langsung mengabarkan Injil karena semangat hidup baru harus mendapatkan pengertian yang seimbang akan Injil dan kegiatan penginjilan, pengertian Injil yang disesuaikan dengan kegiatan penginjilan. Dengan demikian pertumbuhan kerohaniannya akan sehat. Sebab kalau tidak, mungkin akan timbul dua macam gejala yang berbahaya:
a. Penginjilannya berhasil tapi pertumbuhan rohaninya tidak memadai, ia akan menjadi orang yang congkak dan menghina orang Kristen yang lain. Sejarah membuktikan barangsiapa menjadi orang Kristen yang berkobar-kobar mengabarkan Injil, pasti diundang ke sana-sini, laku sekali tapi tidak ada waktu belajar. Sudah terlalu laku sehingga menjadi sombong dan menghina orang Kristen lama, sehingga macet di situ tidak pernah tumbuh lagi. Banyak penginjil yang khotbahnya itu-itu saja berpuluh-puluh tahun. Lalu mengira Kekristenan hanya ini saja. Padahal apa yang ia beritakan hanya sebagian kecil saja dari pengertian kitab suci yang begitu limpah, yang kalau tidak digali engkau kira hanya sebegitu saja. Engkau tidak maju-maju. Saya kira Kekristenan di Indonesia sudah dilanda oleh semacam tahayul di mana orang tidak percaya Kekristenan lebih banyak daripada yang ia mengerti. Lalu ia akan katakan, “Semua pendeta kalau khotbah sama saja isinya.” Pada waktu menyelidiki sampai begitu dalam baru tahu ternyata betul-betul tidak sama! Satu ayat yang sama, 10 pendeta khotbahkan pasti berlainan isinya. Apalagi kalau yang khotbah tidak berdasarkan ayat, tapi melenceng ke kanan ke kiri. Tapi engkau yang menggali ayat itu sampai mendalam baru akan menyadari limpahnya ayat itu lebih daripada apa yang kita mungkin pikirkan.
b. Jika pengertiannya tidak bertumbuh, waktu penginjilannya gagal, ia akan langsung mencurigai dan bimbang akan Tuhan yang ia percaya dan akan macet di dalam pelayana selanjutnya. Kedua hal ini amat berbahaya!

Dengan demikian kita melihat perlu adanya pengertian yang seimbang dengan kegiatan penginjilan. Kalau engkau sudah banyak melakukan penginjilan tapi tidak mau belajar baik-baik, berhentilah dari kegiatanmu itu. Kenapa engkau hanya mau jadi pemimpin, mau hanya jadi pengkhotbah didengar banyak orang tapi waktu disuruh belajar tidak mau?

Petrus mengatakan, biarlah kamu bertumbuh dan bertambah-tambah di dalam anugerah dan pengertian. Pengertian macam apa? Aktivitas harus bertumbuh bersama pengetahuan dan pemahaman akan firman Tuhan. Di dalam pengertian yang bertambah, kegiatan jangan luntur; di dalam kegiatan bertambah, penuntutan akan pengertian firman jangan kendor. Inilah yang harus kita kerjakan mempersiapkan generasi muda untuk menyambut abad 21 dengan bobot yang berlainan dengan apa yang kita lihat pada abad 20 di Indonesia.

Yang disebut Injili Pragmatis adalah mereka yang tidak mau mengerti dan tidak mau belajar dan peduli akan theologi, pokoknya hanya mau tahu secara pragmatis apa yang bisa dipakai untuk mengabarkan Injil, cukuplah. Bagi mereka yang penting asal orang yang diinjili menerima Tuhan, tidak peduli theologinya Reformed-kah, Armenian-kah, Pentakosta-kah, Kharismatik-kah, Katolik-kah. Khotbah ngawur tidak apa-apa, asal orang bisa jadi Kristen. Kabar Kekristenan seperti ini mau jadi apa? Yesus yang bagaimana yang dikabarkan?

Pragmatical Evangelical di dalam penginjilan memakai segala cara asal orang mau jadi Kristen. Kepastian dari iman kepercayaan tidak pernah dibagikan oleh mereka. Kita harus memberikan kepastian di dalam Kristus ada hidup kekal, Kristus adalah jalan satu-satunya menuju surga, di dalam Kristus ada kepastian keselamatan dengan pengampunan dosa dan kesukaan yang sejati.

5. Integrated Evangelical
Orang yang mengintegrasikan theologi, visi, pengalaman dan kepekaan pimpinan Tuhan di dalam aktivitas penginjilan.
Inilah kaum Injili yang sejati, yaitu mereka yang betul-betul mengerti rencana Allah di dalam kekekalan berdasarkan theologi yang benar.
a. Integrasi dengan Theologi
Rencana kekekalan Allah harus ditetapkan di dalam proses dinamis dari sejarah. Eternal decree, eternal planning of God, and the process of dynamic history must be integrated. “Tuhan, aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu. Aku mengabarkan Injil yang sudah Engkau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Aku mencari kaum pilihan yang sudah Engkau pilih sebelum dunia diciptakan, melalui kuasa Injil mengubah dan menyatakan mereka adalah milik-Mu melalui pertobatan.” Dengan demikian theologi diterapkan di dalam kegiatan penginjilan.

b. Integrasi dengan Visi
Tuhan memberi mandat beban tertentu, bagaimana kita harus kerjakan sesuai dengan visi itu.

c. Kepekaan pimpinan Tuhan
Roh Kudus memimpinmu untuk mengerjakan apa. Dari bakat yang kau miliki dan kebutuhan sekitar ada encounter, dari kemungkinan kesanggupan pikiranmu dengan apa yang dibutuhkan levelnya cocok. Dengan demikian engkau akan efektif dan betul-betul berhasil di dalam penginjilan. Peka akan pimpinan Roh Kudus dan apa yang sesuai untuk kau kerjakan. Orang yang demikian sensitif akan pimpinan Tuhan salah satunya di dalam Alkitab adalah Filipus (Kis. 8). Ia adalah penginjil. Bukan rasul, ia tidak sebesar Petrus, Paulus, Barnabas. Ia adalah seorang yang begitu sederhana tetapi begitu peka akan pimpinan Roh Kudus. Pelayanannya sukses besar di tanah Samaria, namun pada waktu Roh Kudus mengatakan kepadanya, “Aku akan membawa engkau ke tempat yang sunyi di padang belantara.” Filipus mau pergi karena ia peka pimpinan Tuhan.

Di sini mungkin banyak orang bisa garap, di sana hanya engkau yang bisa, engkau mesti pergi. Kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus menjadikan kita efektif dan bisa dipakai di dalam tangan Tuhan menurut rencana yang ditetapkan dari awal. Ini amat penting. Kaum Injili bukan hanya orang yang bisa tulis thesis lalu dapat nilai A, atau dapat summa cum laude. Seorang Injili bukan seorang yang dari dulu nenek moyang sudah Injili maka otomatis menjadi Injili juga. Seorang Injili bukan hanya karena sudah pernah mengalami pertobatan dan menangis di hadapan Tuhan. Injili juga bukan asal ketemu orang berikan traktat dan ajak orang ke gereja. Seorang Injili yang sejati mengintegrasikan 3 hal penting di atas: mengerti firman Tuhan dengan baik dan limpah, mempunyai theologi yang benar, mempunyai visi yang jelas dari Tuhan apa yang harus dikerjakan; mematuhkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus secara peka dan taat; betul-betul berapi dari Kalvari untuk membagikan cinta Tuhan kepada orang lain, true concern, true love to others, bukan hanya di dalam teori dan perkataan tetapi di dalam kelakuan dan perbuatan yang sesungguhnya mencintai orang lain. Rela mengorbankan diri.

Kalau ketiga hal ini sudah diintegrasikan ke dalam tindakan aktifitas pelayanan penginjilan, itulah orang Injili yang sejati. Saya tidak menggabungkan hal social concern. Itu adalah buah Injil atau persiapan hati untuk menerima Injil, tapi bukan Injil. Hal yang menjadi pre evangelization ataupun post evangelization beda dengan evangelization. Kaum Injili tidak akan menggabungkan persiapan dan follow up pada penginjilan. Penginjilan adalah penginjilan. Penginjilan harus dilakukan dengan pengertian firman dan renaca yang kekal. Penginjilan harus dilakukan dengan visi dan mandat yang Tuhan berikan sebagai panggilan pribadi. Penginjilan harus dikerjakan dengan api yang mau membagikan pengalaman pribadi kepada orang lain. Barangsiapa mengabarkan Injil, membawa orang bukan Kristen untuk mengenal Kristus, membawa mereka mengalami perubahan, inilah Injili yang sejati. Kalau engkau pandai mengajar orang lain, berkhotbah, tapi secara pribadi tidak memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan tidak mencari pimpinan Tuhan, saya anggap engkau bukan kaum Injili yang sejati. Di dunia tidak kurang orang yang mengerti apa itu Injil bahkan bisa mengajar penginjilan di dalam sekolah theologi, tapi kurang orang yang betul-betul mendekati orang berdosa dan memperkenalkan Kristus dengan cinta kasih membawa mereka satu persatu kepada Tuhan.

Kiranya ini menjadi pedoman bagi pelayanan kita masing-masing dan Tuhan memberkati kita untuk berbuah banyak dalam kerajaan-Nya.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 22 – April 1994

Reposted by Samuel Desfortin

Artikel Rohani

ABAD YANG BODOH

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG

Abad 20 ini saya sebut sebagai abad yang sangat bodoh, a very stupid century. Saya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan ini sebelum menganalisa kepada paruh terakhir abad ini. Abad 20 dianggap oleh umum sebagai abad yang paling maju. Seperti yang kita lihat, perkembangan teknologi dan ilmu amat maju dengan pesat, lebih luas, lebih mendalam dan lebih konkrit dalam 94 tahun terakhir ini.

Di sepanjang sejarah sejak abad Masehi sampai akhir abad 19 perkembangan teknologi dan ilmu tidak bisa dibandingkan dengan 94 tahun terakhir ini. Kalau mata kita hanya tertuju kepada fenomena ini, kita akan tertipu dan tidak dapat melihat kepada esensi yang lebih dalam. Orang yang ditipu secara fenomena, hanya melihat lahiriah belaka. Orang yang bijak mau menembus ke dalam esensi yang sesungguhnya.

Abad 20 dimulai dengan optimisme yang naif dan diakhiri dengan optimisme yang naif pula. Pada awal abad 20 manusia sedang bermimpi dan membayangkan hari depan yang cerah dan kesuksesan yang mungkin dicapai manusia melalui potensi yang ada pada dirinya. Tetapi apa yang diimpikan itu di dalam beberapa belas tahun kemudian mulai disadari terlalu naif. Mengapa demikian? Sebab waktu itu manusia sedang menaruh pengharapan yang begitu besar terhadap ideologi-ideologi yang diajarkan pada abad 19.

Di dalam sejarah filsafat, abad 19 disebut sebagai the age of ideology dan abad 20 disebut the age of analyze. Abad iman, abad kepercayaan, abad rasio, abad pencerahan, abad ideologi dan abad analisa. Tapi saya lebih suka mengatakan abad di mana kita hidup sekarang ini bukan abad analisa, melainkan abad yang bodoh.

Pada permulaan abad 20 manusia begitu yakin yang ditemukan ideologi dan sistem pikiran abad 19. Lalu mereka menganggap itulah kebenaran. Apalagi Imanuel Kant telah mengatakan bahwa dunia mulai dewasa. Kalimat telah menjadi sumber inspirasi bagi Agust Comte (bapak Positivisme) yang mengatakan bahwa manusia yang sudah matang dan dewasa berada di dalam era scientific. Maka abad 20 manusia dengan optimis menuju kepada penemuan-penemuan scientific dan segala penguraian yang main kompleks, makin rumit dan makin sempurna dalam segala bidang. Jika kita melihat apa yang dicari dan dituntut oleh ilmuwan dan filsuf, politikus, dan sosiolog pada permulaan abad 20 semua mempunyai warna yang sama, mereka percaya dunia ini maju terus berdasarkan sodoran pikiran evolusi. Evolusi telah menjadi suatu induk pengaruh yang penetrasi ke dalam 4 bidang besar:
1. Sejarah dan proses waktu.
2. Teologi.
Bahkan teolog-teolog yang tidak lagi beriman ketat kepada kitab suci berdasarkan Reformasi menganggap Allahlah yang memimpin proses evolusi, Allah memakai evolusi di dalam menciptakan dunia ini. Ini disebut Theistic Evolution.
3. Sosiologi dan ekonomi.
Menurut Hegel seluruh dunia ini berada di dalam metoda dialektik. Dialektikal materialisme yang dikemukakan oleh Hegel (guru besar Karl Marx), oleh Marx diadopsi menjadi suatu interpretasi bagaimana menjelaskan perkembangan ekonomi sepanjang sejarah.
4. Politik.
Penetrasi ini juga masuk ke dalam bidang politik dan kemiliteran. Sehingga di dalam sejarah kita melihat orang seperti Lenin dan Mao Tze Dong yang mau memakai pikiran Marx itu untuk memaksa orang menerima komunisme di dalam politik.

Permulaan abad 20 sedang di dalam pengetahuan ilmu biologi, ekonomi, filsafat, politik, sosiologi, semua telah mengambil evolusi sebagai pikiran apriori, yaitu pasti benar, lalu penetrasi ke dalam segala bidang kebudayaan manusia. Mereka mencoba menegakkan suatu mimpi yang besar untuk menyambut satu zaman yang agung akan tiba. Mimpi yang optimistik, dan optimisme yang naif ini lalu mulai dirusak oleh Perang Dunia I. Pada 1914-1918 kita melihat letusan Perang Dunia I menghanguskan begitu banyak hasil dari tumpukan kristalisasi kebanggaan kebudayaan di dalam bangunan, seni, dll. Bukan saja demikian, PD I juga membuat manusia yang terlalu optimistik itu akhirnya sadar siapa manusia itu sebenarnya. Kembali kepada pikiran yang asal, manusia kemudian berusaha menemukan identitas manusia di dalam alam semesta, what is human identity in the universe.

Evolusi memberikan apa? Evolusi memberikan suatu pikiran khayalan, bahwa manusia bukan pada mulanya peta dan teladan Allah sekarang jatuh menjadi orang berdosa, sebaliknya manusia dulu adalah binatang tapi sekarang sudah begitu berkembang sempurna sehingga tak perlu pesimis. Berarti masih ada hari depan yang begitu indah. Evolusi bukan hanya menginterpretasi, evolusi secara tidak sadar menjanjikan hari depan yang cerah. Evolusi di dalam kesinambungan proses sejarah ini memberikan suatu janji di bawah sadar akan hari depan yang paling indah akan tiba, sehingga seolah-olah mendorong manusia maju, seolah-olah memberikan optimisme yang kuat untuk futurologi, tetapi tidak mungkin evolusi yang keluar hanya berdasarkan otak manusia yang dicipta, yang terbatas dan terpolusi oleh dosa itu, mungkin terlepas oleh racun dosa yang berada di dalamnya, karena di dalam kemajuan terus menerus, bukan hanya sasaran yang diberikan tetapi satu metodologi yang harus dipakai, yaitu konsep seleksi alam. Seleksi alam mengatakan yang kuat berhak untuk bertahan, yang lemah harus digeser. Itu sudah menjadi racun yang mengakibatkan keberanian kaum imperialis, kaum kolonialis, dan orang-orang yang begitu kejam untuk membasmi, menghancurkan dan memusnahkan bangsa-bangsa yang lebih lemah atau yang kurang berpengetahuan. Evolusi telah memberikan racun kepada pemikir seperti Hitler, sehingga ia menganggap segala tindakannya untuk agresi kepada orang lain adalah berdasarkan suatu prinsip natural yang sah dan resmi: Jerman adalah bangsa yang tertinggi. Jermanlah yang berhak memerintah seluruh dunia dan yang lain harus dibasmi.

Percaya terhadap evolusi bukan hanya sekadar memilih percaya salah satu cara di antara beberapa macam teori-teori yang ada. Percaya terhadap evolusi berarti menerima racun yang membuat seluruh umat manusia menuju kepada kehancuran. (Harus ada teolog yang memberikan petunjuk semacam ini dan menggugah manusia untuk menyadari apa yang telah dipilihnya. Namun sayang, orang berbeban seperti ini tidak banyak muncul dari mimbar gereja. Itu sebabnya, Gereja tidak memimpin dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Namun masalahnya, menerangi siapa? Untuk apa kamu menjadi terang? Dengan cara apa? Dan mendapat cahaya darimana?)

Abad ini perlu peringatan demikian. Tetapi orang yang berintelek tinggi, hati nuraninya rendah, dan tidak mau sadar bahwa diri mereka telah diracun oleh paham yang berbahaya ini. Tetapi ada seorang yang ikut menjadi pendeta militer di dalam regu penyerang di tengah-tengah tentara Jerman bernama Paul Tillich (orang ini betul-betul tinggi inteleknya, karena sejarah mencatat ia memperoleh 15 gelar doktor). Meskipin Tillich tinggi inteleknya, sayangnya ia tidak terbentuk dalam struktur teologi yang benar. Namun dengan jujur Tillich menulis satu kalimat dalam buku hariannya “Yang aku lihat bukan reruntuhan jatuhnya bangunan yang indah. Yang aku lihat adalah hancurnya kebudayaan manusia karena kecongkakan filsafat yang salah.” Waktu ia menulis kalimat itu, saya bisa mencium adanya hati nurani intelektual sebagian kecil yang masih berfungsi pada dirinya.

Optimisme yang naif mulai diguncang oleh PD I. Pada tahun 1919, setahun setelah PD I yang memusnahkan 7 juta manusia, dan mengakibatkan berjuta-juta istri menjadi janda dan anak menjadi yatim, yang mengakibatkan stress dan frustasi, kegagalan, loneliness, dan tidak tahu arti hidup, dunia makin sadar kebodohannya. Untuk itu maka di Paris diadakan suatu konferensi perdamaian mengangkat kembali makalah Imanuel Kant, yang berjudul “TO WHAT THE ETERNAL PEACE” (menuju kepada perdamaian kekal). Dalam konferensi ini mereka memutuskan untuk tidak ada perang lagi. Satu kali perang, hanya 4 tahun, harus menelan 7 juta jiwa. Daripada memakai senjata, lebih baik berunding. Pada waktu hal ini dibahas, mereka merayakan hasil konferensi dengan pawai dan mengatakan tidak akan ada lagi peperangan. Tapi 20 tahun persis setelah konferensi itu, pecahlah PD II, yang menghancurkan lebih banyak kota, membunuh lebih banyak jiwa, ± 35 juta jiwa. Tetapi baru 3 tahun yang lalu Yelstin mengatakan kalimat yang begitu mengejutkan saya, “Sebenarnya menurut statistik 35 juta jiwa itu adalah adalah angka yang palsu. Karena angka yang sesungguhnya harus ditambah dengan 35 juta kematian yang lain yang belum pernah diumumkan keluar di Rusia.” Jadi paling sedikit 70 juta orang yang tewas dalam PD II.

Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi 2 kota di Kiev dan Minsk dan baru 3 minggu yang lalu saya melayani di Moskow dan Leningrad, saya menyaksikan Rusia adalah bangsa yang patut dikasihani sebagai korban dari segelintir pemimpinnya yang menaruh diri untuk menguji suatu teori. Waktu saya berkhotbah di Ukraina, saya tidak berani minum air yang sudah dicemarkan oleh radiasi Chernobyl, jadi saya pergi ke Dollar Shop (membayar harus hanya dengan dollar), di mana harga sebotol air US $3, karena diimpor dari Perancis ke Kiev. Bayangkan berapa mahal hidup di sana.

Waktu saya memikirkan kembali apa nasib manusia, saya menyimpulkan beberapa hal: Negara-negara yang mengidolakan Karl Marx (karena Marx adalah ekonom terbesar dalam sejarah. Tak ada seorang filsuf meneliti dan menganalisa dengan teori yang begitu rumit dan mendetail mengenai segala kemungkinan dan potensi ekonomi lebih tuntas daripada Marx), apa yang terjadi? Terbukti teori ekonom yang terbesar, kalau disetujui sepenuhnya oleh suatu negara, pasti ekonominya bangkrut. Komunisme menyodorkan keadilan yang paling tuntas kepada masyarakat untuk menyongsong hari depan yang indah, di mana komunisme berjanji meratakan kekayaan. Akhirnya terbukti mereka tak pernah meratakan kekayaan, hanya meratakan kemiskinan saja.

Lalu saya melihat, mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi? Tiga minggu yang lalu di Moskow, seorang profesor bertanya kepada saya mengapa kalau Allah memperbolehkan manusia diuji oleh teori yang salah, Allah tega memilih RRC yang mempunyai penduduk yang paling banyak untuk disiksa dan menderita puluhan tahun? Ini kalimat yang tajam. (Di Indonesia, kadang-kadang saya menerima pertanyaan dari otak yang tajam, tapi itu jarang sekali). Jikalau Allah memperbolehkan manusia dicobai oleh semacam filsafat yang salah, mengapa tidak memilih bangsa yang kecil, mungkin St. Marino, Vaticano, dan kerajaan Monaco yang penduduknya sedikit. Mengapa justru Allah memperbolehkan Tiongkok ada di bawah eksperimen komunisme yang mengakibatkan berpuluh-puluh juta manusia mati di situ? Saya tahu pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Saya hanya menjawab, Allah tidak pernah membuang siapapun. Sebenarnya, manusialah yang membuang Allah. RRC mencatat ratusan kali menganiaya orang Kristen, memenjarakan pendeta, melawan Tuhan, menolak misionari dan membunuh orang-orang yang mengabarkan Injil. Profesor itu mulai sadar, ini memang benar. Pada waktu manusia tidak lagi memperallahkan Allah sebagaimana seharusnya dihormati, maka Allah memperbolehkan manusia di dalam pilihan menolak Allah untuk secara tidak sadar ditolak oleh Allah. Yang arif menjadi pasif, yang berinisiatif menjadi yang dibuang. Inilah paradoks bijaksana Allah yang melampaui marifat manusia. Pada waktu manusia merasa tidak perlu Allah dan menganggap diri cukup pandai mengatur segala sesuatu dengan sikap otonom, Allah membiarkannya untuk menjadi eksperimen membuktikan kesalahannya.

Dan antara PD I dan PD II timbullah satu generasi yang disebut “the Lost Generation.” Lost generation menjadi suatu pangkalan suburnya filsafat eksistensialisme, di mana suatu jalan telah terbuka bagi pemuda-pemudi untuk menuju atheisme tanpa mereka sadari dan munculnya topeng-topeng agama tapi di dalamnya ada kekosongan yang luar biasa. Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun mereka baru sadar semuanya tidak seperti yang diimpikan. Saya menyimpulkan seluruh arus pikiran eksistensialisme yang pernah merajalela pikiran kaum intektual di seluruh dunia tahun 50-an sampai tahun 80-an dari Eropa ke Amerika dan akhirnya ke Asia ini, hanya dalam 2 kalimat, “Eksistensialisme selalu memperbincangkan kekosongan seperti kosong itu ada. Eksistensialisme selalu memperbincangkan keberadaan seperti ada itu tidak ada.”

Mengapa abad 20 ini saya sebut sebagai abad yang bodoh? Karena abad 20 adalah abad yang tidak menghasilkan pemikir yang penting. Saya tidak perlu setuju teori filsafat yang mengatakan “A man is what he thinks”, karena sebagai teolog Kristen, saya mempunyai definisi “A man is what he reacts before God.” Kalau kita hanya berhenti pada kalimat “A man is what he thinks” seperti kaum idealist atau rasionalis, atau jika kita hanya berhenti pada “A man is what he eats” seperti materialisme, itu terlalu dangkal. Tetapi meskipun ada filsafat yang mengatakan, “A man is what he thinks”, rasionalisme dan idealisme hanya memberitahukan kepada kita bahwa manusia selalu menjadikan diri pusat (anthroposentric of life-style), tanpa menghasilkan sesuatu dari pikirannya. Di mana pemikir-pemikir agung abad 20? Seolah tidak ada yang berpengaruh besar. Dan abad 20 sudah menjadi abad yang menjual diri. Abad 20 sudah menjadi abad yang berkompromi kepada abad 19. Abad 20 menjadi abad di mana kita tidak mempunyai otonomi atas diri kita sendiri. Abad 20 menjadi abad di mana kaum intelektual mengosongkan pikiran lalu diisi dengan apa yang disodorkan pemikir abad 19. Abad 20 tidak menghasilkan seorang pemikir yang bisa memberikan arah kepada umat manusia. Abad 20 hanya menghasilkan orang-orang yang mengosongkan otak lalu membuat Marx, Kierkegaard, Nietszche, dll. menjadi pemimpin pikiran mereka. Sehingga selama abad 20, kita hidup, bergerak, mencari segala langkah, dan menemukan segala teknologi, tapi apa yang kita temukan itu dibanding dengan abad 19 berlainan sekali. Pemikir-pemikir abad 20 hanya memikirkan wadah tidak memikirkan isi. Membuat kapal terbang, komputer, radio, satelit, roket, dan segala macam penemuan besar, hanya untuk menjadi wadah, bukan menjadi isi. Kapal terbang dibuat untuk mengangkut para pedagang yang pergi ke sana sini secepat mungkin, untuk mengangkut turis yang pergi ke sana kemari karena kebanyakan uang. Komputer untuk mengisi data-data yang berhubungan perdagangan komersil. Pemikiran-pemikiran yang berkembang pesat di abad 20 kebanyakan bersumber dari abad 19. Dan kita memakai seluruh abad ini menjadi tempat praktek para pemikir yang sudah mati. Selama 70 tahun Asia membuat diri menjadi budak abad 19. Dari 1919-1989 pemuda pemudi yang berada di Tien An Men berpawai dan berteriak. Apa yang mereka teriakkan persis sama. Akibatnya mereka digilas oleh tank. Darah, daging, dan tulangnya sampai remuk, lalu diangkut dan dibakar di Beijing. Itulah penindasan komunisme terhadap pemuda pemudi di sana. Yang diteriakkan tahun 1919 adalah “Kami menginginkan demokrasi, kebebasan” juga diteriakkan oleh pemuda di tahun 1989. Istilah yang sama, slogan yang sama, mimpi yang sama. Berarti selama 70 tahun apa yang diimpikan belum tercapai. Abad 20 menjanjikan apa? Abad 20 memimpikan apa? Abad 20 mendapatkan apa? Kita melihat dalam perkembangan seluruh umat manusia, betul kita perlu eksperimen, pengalaman. Tetapi pengalaman mengajar kepada kita bahwa pengalaman kita banyak kebodohan. Hegel mengatakan satu kalimat, “Sejarah mengajarkan satu pengajaran terbesar kepada umat manusia yaitu manusia tidak pernah pengerima pengajaran dari sejarah.” Kita telah membuang 80-90 tahun untuk mempraktekkan komunisme, akhirnya baru kita sadar bahwa komunisme itu salah! Kita memakai 90 tahun mempraktekkan eksistensialisme akhirnya baru sadar bahwa itu salah! Kita memakai 90 tahun untuk mempraktekkan evolusi, akhirnya baru sadar bahwa evolusi salah! Kita memakai 90 tahun untuk mempraktekkan positivisme dan berkembang menjadi logical positivisme, akhirnya baru sadar kalau itu salah! Bukankah abad 20 ini abad yang bodoh? Bukankah abad 20 ini abad yang kita hamburkan dengan eksperimen yang membawa kita kembali kepada permulaan, belum tahu apa-apa?!

Sekarang hanya tersisa 6 tahun sebelum kita menutup abad 20, yang pernah menghasilkan banyak perkembangan teknologi ini. Kita mempunyai kapasitas, kita mempunyai instrumen, kita mempunyai segala bangunan yang hebat, tetapi isinya apa? Jikalau ada tape recorder tidak ada perkataan penting yang direkam, tape itu tetap kosong. Jikalau ada kapal terbang yang mempercepat lalu lintas, tapi tidak ada program yang bisa berguna bagi seluruh dunia, hanya mempercepat perkembangan kekayaan orang yang rakus tak habis-habis, itu tidak ada gunanya. Jika mimbar makin bagus, gedung gereja makin besar, tapi yang dikhotbahkan tidak menstimulir pikiran, tidak membawa otak manusia kembali kepada firman Tuhan, hanya mengumpulkan lebih banyak persembahan untuk pendeta, itu tidak berguna. Jikalau mimbar didirikan tapi bukan untuk menyampaikan firman, tapi tidak membawa keadilan dan kemajuan sungguh-sungguh untuk meningkatkan moral manusia, jikalau ilmu pengetahuan makin lama makin maju, kedokteran makin lama makin maju, bisa menyembuhkan banyak penyakit akibat hidup amoral, kedokteran menjadi wadah untuk menolong perkembangan imoralitas juga. Semua wadah itu perlu kembali dengan satu prinsip mengisi inti yang memuliakan Tuhan. Setelah dunia barat berkembang, sekarang mereka mulai sadar lagi bahwa perkembangan ini membawa manusia ke mana? Ada 4 hal yang berteriak kepada manusia: You are in danger, you are in danger, you are in danger and you are in danger. What kind of danger? Fusi, polusi, AIDS, immoralitas barat. Apa yang kita terima dari kerusakan lingkungan adalah akibat sains. Pada waktu kita mengembangkan sains, hanya ilmuwan Kristen yang mengerti dan memakai sains untuk memuliakan Allah.

Fusi dan polusi menyadarkan sebagian orang jika hanya ada sains dan kemajuan teknologi saja ini tidak berguna dan berbahaya. AIDS, imoralitas, kriminal yang presentasinya saat ini telah berkembang bersama dengan kemajuan suatu negara. Waktu berada di Leningrad (St. Petersburg) saya naik kapal di atas sebuah sungai yang begitu indah, ada museum Harmitage yang nomor 2 terbesar di seluruh dunia (adalah istana yang asli yang dipakai menyimpan koleksi seni sejumlah 2.947.000 buah karya seni. Ada tiang yang dilapis emas, marmer dan granit yang berbeda bentuknya). Namun pada sisi kota yang lain, nampak sebuah penjara. Waktu kapal lewat di sana, seorang penerjemah saya dalam bahasa Inggris ke Rusia berkata, “Stephen, inilah penjara terbesar di kota ini. Bisa menampung 100.000 orang. Saat ini isinya lebih dari 40% dari kapasitas, hingga berjejal-jejal. Jika ada narapidana baru masuk, terpaksa harus mengusir yang lama.” Saya membaca sebuah surat kabar yang mengatakan negara yang memiliki tindak kriminal terbesar adalah Rusia, kedua Amerika. Di Rusia perbandingannya 100.000:574, tiap 100.000 orang Rusia, yang harus dipenjara adalah sejumlah 574 orang. Di Amerika tiap 100.000 orang, yang dipenjara 543 orang. Bagaimana dengan Indonesia? Puji Tuhan! Tiap 100.000 orang, hanya 22 yang dipenjara, lumayan!

Inilah manusia. Manusia maju, negara maju teknologinya sekaligus maju kriminalitasnya. Negara maju teknologinya, tindakan kriminalnya lebih canggih lagi. Kota New York setiap hari ±450 mobil hilang. Di kota London setiap hari 347 mobil yang hilang. Sepuluh tahun yang lalu di New York setiap tahun ±2.000 pembunuhan dan LA 970 orang dibunuh. Sekarang di Amerika ±190 juta senapan yang ada di tangan orang sipil. Negara itu berpenduduk 250 juta jiwa, tapi punya senjata api 190 juta orang. Jika 1% dari 190 juta orang pemilik senapan itu ada yang gila, berarti ada 1,9 juta manusia gila yang sementara waktu tidak menembakkan senjatanya dengan brutal. Saya tidak tahu abad 20 mau ke mana? Dan sekrang ini makin dekat habis, manusia terus mendapat ancaman: engkau dalam bahaya! Engkau dalam bahaya! Engkau dalam bahaya! Futurologis yang bukan Kristen seperti Alvin Toffler, Naisbitt semua menunjukkan ada hari depan yang indah, tanpa memberi peringatan dari firman Tuhan, itu yang saya kuatirkan. The world needs Christian prophetic ministry. This world needs young people who dedicated their lifes to God. This generation admitt your guidance. And if you want to guidance the world, you need to be guided by Holy Spirit with the Bible. Saya sedang menanti satu generasi yang otaknya tajam luar biasa, lalu takluk di bawah firman Tuhan dan berkata, “Tuhan pakailah saya untuk menjadi perabot-Mu, alat-Mu.” Pada waktu saya melihat mahasiswa sekolah teologi yang mau cepat-cepat keluar untuk mendapat gelar S.Th. dan jadi pendeta dan mendapat gaji yang cukup besar tiap bulan, saya lihat itu tidak ada harapan. Waktu saya melihat mahasiswa yang belajar memakai uang orang tuanya yang bekerja membanting tulang, hanya supaya kepala yang bundar menjadi persegi, lalu pulang ke desa dan membanggakan diri, saya bilang no hope! Istri alm. Dr. Francis Schaeffer mengatakan, “Tiap tahun USA menghasilkan ribuan Ph.D., tapi di mana pahlawan yang berjuang untuk kerajaan Tuhan, untuk Kristus? Saya tidak lihat.” Saya ingin mencucurkan air mata dan berdoa di hadapan Tuhan. Waktu saya lihat mimbar yang bagus dan mewah tapi diberikan khotbah yang tidak karuan dan tidak sesuai dengan Alkitab, saya begitu sedih. Biar seluruh dunia membenci saya, biar pendeta-pendeta membuat isu Stephen Tong tidak ada Roh Kudus, saya berkata kepada Saudara, yang membuat saya gigih berkhotbah, melayani berpuluh-puluh tahun itulah Roh Kudus, bukan roh saya. Tapi yang membuat orang-orang kelihatan ada Roh Kudus tapi hidup, keuangan, dan seks tidak karuan, tapi masih berani naik mimbar, berani menafsir Alkitab tidak karuan, itu pasti bukan dari Roh Kudus. Pemuda pemudi yang kritis dan betul-betul mau taat pada pimpinan Tuhan, mulai hari ini bangun, jangan tidur! Pada waktu seluruh dunia sedang menyambut zaman baru (new age), inilah pertama kali barat berkompromi dengan timur. Dulu barat menghina, menjajah, mengagresi, infasi timur, sekarang mulai berubah. Barat mulai datang ke timur, bertapa, bermeditasi.

Waktu saya melihat pemuda pemudi dari Asia belajar di Toronto dan sulit berbahasa Inggris, lalu mengikuti kuliah sambil merengut, lalu saya melihat di Borobudur ada seorang barat yang gundul sedang meditasi, saya membandingkan, yang satu buka matanya pakai pikiran dan yang satu tutup mata tanpa pikiran, inilah globalisasi. Timur mencari ilmu di barat, barat sedang mencari ketenangan di timur. Dunia sedang berglobalisasi. Yang timur sedang mengisi otak di barat, yang barat sedang mengisi hati di timur. Kita kembali mendengar Yesus Kristus berkata, “Barat, engkau mencari Jalan atau hanya ketenangan hidup? Timur, engkau Kebenaran atau hanya titel dan pengetahuan? Aku memberikan jawaban: Akulah Jalan, Akulah Kebenaran, dan Akulah hidup. Tidak ada seorangpun dapat kembali kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Saya tetap memegang Alkitab, the answer is only in Jesus Christ. Except Christ, there is no answer. Setelah kita mendapat isyarat you are in danger, manusia tidak mau belajar dari sejarah.

Sekarang kita akan menuju abad 21, seperti abad 20 dimulai dengan naif, menunggu lagi hari depan yang cerah. Sebagai seorang hamba Tuhan yang dilahirkan untuk menyaksikan berakhirnya abad 20, saya geleng kepala. Hai umat manusia, ke manakah engkau? Optimisme, hari depan cerah karena evolusi. Tuhan berkata, “Kembali kepada-Ku, di sinilah tempat pangkalan pengharapanmu. Di sini sasaran imanmu dan di sini ada cinta kasih yang memberi kepuasan pada jiwamu. Pada waktu Gramedia sudah mencetak ribuan buku mengenalkan New Age Movement, saya melihat pendeta-pendeta yang katanya pemimpin Gereja masih belum tahu apa arti istilah itu. Gerakan Zaman Baru sudah merupakan suatu air bah yang melanda seluruh pelosok kebudayaan, tetapi sedikit sekali pemimpin-pemimpin Kristen, khususnya kaum intelektual Kristen yang melihat berapa besar ancaman dan perbedaan antara arus itu dengan kekristenan tradisional.

New age movement menjadi penipu baru untuk umat manusia. Pada waktu kita melihat buku-buku new age movement diterjemahkan ke dalam bentuk komik, novel, tulisan cerita, dan dalam bidang periklanan serta slogan TV, banyak orang yang tidak sadar. Selama 2 tahun terakhir apa yang menonjol di TV sudah banyak dipengaruhi oleh new age movement. Berapa besar bahayanya jika kita tidak sadar dan tidak mencegahnya? Siapakah yang menjamin kamu layak menjadi terang dunia? Jangan menipu diri, belajar, mengabdi dan serahkan hidupmu kembali kepada Tuhan.

Renungan ini ditranskrip dari seminar bagi mahasiswa di Universitas Gajah Mada (Yogyakarta) dan Universitas Sam Ratulangi (Manado), September 1994

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 24 – Oktober 1994

Disarikan dari :
http://www.geocities.com/reformed_movement


Profil Pdt. DR. STEPHEN TONG :
Pdt. DR. STEPHEN TONG lahir di Fukien, Tiongkok pada tahun 1940. Beliau melayani Tuhan sejak tahun 1957, baik di dalam bidang penginjilan, teologi, maupun penggembalaan. Pelayanan beliau yang telah terbukti menjadi berkat bagi zaman ini telah menarik perhatian banyak pemimpin gereja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perhatian tersebut khususnya ditujukan kepada Reformed Theology yang senantiasa beliau tegaskan. Sejak tahun 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya. Pada tahun 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili. SPIK dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) pada tahun 1986, di mana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Dr. Yakub Susabda dan Pdt. Dr. Caleb Tong untuk menjadi pendiri bersama. Pada tahun 1995, beliau mendapat gelar Honorary Doctor of Leadership in Christian Evangelism (D.L.C.E.) dari La Madrid International Academy of Leadership, Filipina. Sebelumnya beliau telah menamatkan studi Bachelor of Theology (B.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.

Selain memimpin Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK), Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI) Surabaya (1986), STRI Jakarta (1987), dan STRI Malang (1990). Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut ke kota-kota besar lainnya di Indonesia dan kota-kota di luar negeri, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Stephen Tong Evangelical Ministries International (STEMI). Sejak tahun 1991 hingga saat ini, Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor STTRII dan sejak tahun 1998 sebagai Rektor Institut Reformed.

Selain menegakkan doktrin Reformed di Indonesia, beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminari-seminari di luar negeri, termasuk di China Graduate School of Theology di Hong Kong (1975 dan 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapura (1980, dan memberikan ceramah-ceramah termasuk di Westminster Theological Seminary, Regent College dan lain-lain di Amerika Serikat.

Di samping itu, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen teologi dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), pendiri STEMI (1979), pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada tahun 1989, Gembala Sidang GRII Pusat, ketua Sinode GRII, pendiri Institute Reformed for Christianity and the 21st Century (1996) di Indonesia dan Amerika, Christian Drama Society (1999).

Dunia Maya

Hallo dunia…………..ni aku datang kembali di blogku yg baru……..untuk sementara aku cuma mau ngucapin selamat datang aja buat blogger2 semua di dunia maya ini.aku belumbisa n sempat posting tulisanku skrg.karena lagi sibuk jadi sediit waktu aja.see you next time!

NUBUATAN AKAL-AKALAN

NUBUATAN AKAL-AKALAN

Artikel berjudul ‘Tragedi Teologi Sukses’ mendapat tanggapan, baik yang mendukung maupun yang menyanggah, dan dari tanggapan itu ada beberapa yang berseberangan yang berasal dari lingkaran dekat penginjil tersebut.

Seorang tokoh di kota Semarang yang dekat dengan penginjil itu (penginjil itu berasal dari Semarang) mengungkapkan bahwa memang penginjil itu dikenal sebagai sering membawakan nubuatan-nubuatan aneh yang berpusat pada diri dan keluarganya sendiri tapi banyak yang tertarik dan isteri penginjil itu pernah bersaksi ada banyak yang memberikan persembahan bahkan sampai 1M. Seorang pendeta yang banyak tahu praktek penginjil itu menyebutkan bahwa memang penginjil itu sering melakukan ‘Prophetic Trickery’ (bisa diartikan ‘Nubuatan Akal-Akalan’) dan pendeta itu memandang musibah sekitar penginjil itu sebagai peringatan Tuhan!

Seorang teman dekat penginjil itu menyebutkan bahwa penginjil itu bersaksi bahwa peristiwa itu mujizat Tuhan karena ia sekarang sehat walafiat dan bahkan bangga karena kerugian mobil Mercedesnya yang hancur sudah dibayar asuransi dengan mobil seri E tipe terbaru. Dan ketika ditanya bagaimana dengan menantunya yang meninggal, dengan enteng ia menjawab bahwa telah dinubuatkan bahwa menantu itu dipanggil Tuhan karena kalau masih hidup ia akan menghadapi masalah besar yang tidak tertanggung hidupnya. Menarik untuk menyimak perilaku penginjil itu bahwa untuk menghibur kedua anak almarhumah yang meninggal katanya mereka sudah berhubungan dengan ibunya (spiritisme?) dan mendapat nubuatan hiburan bahwa si ibu sekarang sudah senang tinggal di rumah besar di surga! Seorang penginjil wanita yang dekat dengan pelayanan penginjil itu menyebutkan bahwa anak sipenginjil (yang juga jadi penginjil) yang terlibat penggelapan dana tentara, memperoleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar karena ada ‘deal’ dengan Tuhan.

Kalau diamati, nubuatan akal-akalan semacam ini sudah menjadi bisnis penginjil yang tidak beda dengan praktek bisnis ramalan perdukunan yang menyenangkan telinga. Bila orang pergi kedukun atau ke gunung Kawi biasa yang diminta adalah sukses kekayaan dan jabatan atau lainnya, tetapi biasanya ada tumbal (sebagai deal) yang dikorbankan. Ada pabrik rokok yang maju berkat ramalan gunung Kawi tetapi keluarganya berantakan bahkan ada anaknya yang mengalami kecelakaan mobil terguling, beberapa pemilik kebon apel di kota Batu sukses tetapi mengorbankan anak yang menjadi gila atau mati. Yang jelas dalam kasus penginjil di atas, sehatnya sipenginjil dan kembalinya mobil mewah yang malah lebih baru tipenya, bahkan anaknya yang beroleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar itu dianggap sebagai mujizat berkat Tuhan, tetapi dengan enteng menganggap kematian menantu sebagai sudah dinubuatkan, kematian yang akan menimbulkan trauma kepada ibunya yang mengandungnya dan kedua anak almarhumah yang masih remaja. Jelas pula kesaksian bahwa ‘tuhan bisa dengan mudah diajak dialog dan didengar suaranya’ itu adalah ‘tuhan’ yang sama sekali membutakan hati dan tidak menyadarkan orang akan jerat dan bahaya ber-KKN dengan tentara! Dan ‘deal’ apaan dengan ‘tuhan’ apaan yang mengorbankan nyawa isteri?

Nubuatan akal-akalan yang berkaitan dengan kematian bisa kita lihat dari praktek Oral Roberts yang ketika membangun ‘City of Faith’nya yang kekurangan dana 8 juta dolar kemudian menubuatkan bahwa kalau tidak terpenuhi ia akan dipanggil Tuhan (alias mati). Dana tidak juga terkumpul dan akhirnya ada pengusaha non-kristen yang kasihan dan menyumbang untuk pembangunan itu. Nubuatan bukan saja akal-akalan tetapi sudah menjadi bisnis untuk mencapai tujuan sukses seperti dalam perdukunan, dan ini dikejar tanpa sadar bahwa tujuan itu sering mengorbankan kehidupan kekeluargaan. (Bandingkan sukses Jim Bakker yang akhirnya mengorbankan keluarga (isteri minta cerai), harta kekayaannya, dan masuk penjara).

Benny Hinn adalah penginjil yang terkenal dengan ‘prophetic trickerynya.’ Pada tahun 1989 ia menubuatkan Fidel Castro akan meninggal pada tahun 1990-an, pada tahun yang sama ia menubuatkan bahwa pada tahun 1995 komunitas Homo di Amerika akan dihancurkan Tuhan, ia juga menubuatkan tahun 1990-an gempa bumi besar akan menimpa pantai timur Amerika. Hinn termasuk penginjil yang menubuatkan bahwa pengangkatan jemaat akan terjadi tahun 1992, dan ketika nubuatan itu tidak jadi diramalkan pada tahun 1997 bahwa dalam waktu dua tahun Tuhan Yesus akan datang kembali dan pada tahun 2000 akan muncul secara fisik dibanyak gereja. Petinju Evander Holyfield pernah ‘disembuhkan secara mujizat’ oleh Hinn dari penyakit jantung sehingga petinju itu menyumbang 25.000 dolar kekocek Hinn, namun kemudian ketahuan dari diagnosa dokter yang biasa memeriksa kesehatan para petinju dikemukakan fakta bahwa Holyfield tidak mempunyai track record penyakit jantung (penyakit jantung adalah penyakit yang terbentuk dalam waktu lama dan bukan karena penularan seketika). Hinn juga mengajarkan ajaran bahwa manusia adalah ‘little gods’!

Yang menarik untuk dilihat adalah bahwa sekalipun para penginjil di atas mengajarkan ‘tuhan,’ tuhan perdukunan yang menjanjikan penonjolan diri dan berkat materi, jelas berbeda dengan ‘Tuhan’ Alkitab yang mengajarkan kita untuk bertobat dan menjadi berkat bagi sesama kita, dan sekalipun nubuatan akal-akalan yang disampaikan tidak beda dengan ramalan perdukunan yang menyenangkan telinga dan hati pendengar dan para pendengarnya sering tertipu, selalu akan ada jemaat yang berkumpul sekitar ‘para penginjil’ itu dan mendengarkan ‘bualan’ mereka. Rasul Paulus mengingatkan bahwa:

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4)

Nabi Yeremia banyak berhadapan dengan para nabi palsu yang sering melakukan nubuatan akal-akalan di zamannya dan berkali-kali mengingatkan umat:

“Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepada kamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri bukan apa yang datang dari mulut TUHAN. … Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya dan menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya” (Yeremia 23:16,32).

Memang tidak mungkin mengingatkan penginjil yang sudah sudah menjadi tokoh ’kultus’ dan terkenal dan didukung massa yang banyak, kecuali hanya didoakan dan berharap Roh Kudus sendiri yang menyadarkan mereka agar mereka tidak menyesatkan lebih banyak orang lagi. Tetapi, setidaknya kita masih bisa mengingatkan para jemaat yang terpengaruh praktek nubuatan akal-akalan itu agar mereka tidak terkecoh lebih lanjut dan kembali kepada ajaran firman Tuhan Alkitab. Bila kita diam, kita ikut bersalah menjerumuskan lebih banyak orang ke dalam kesesatan demikian. Rasul Paulus melanjutkan nasehatnya:

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5).

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesadaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2)

Amin.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry http://www.yabina.org

KESEMBUHAN ILAHI

KESEMBUHAN ILAHI

Seminggu setelah Peter Jongren mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Bandung, penulis diundang berkotbah di gereja GBT di Bandung. Seusai kotbah, didampingi pendeta gereja itu bersalaman dengan jemaat yang berbaris keluar. Ada seorang jemaat yang cacat kakinya dan berjalan menggunakan tongkat penyangga lengan datang bersalaman dan juga dengan pendetanya, lalu orang itu berkata kepada pendetanya: “Minggu yang lalu dalam KKR Peter Jongren saya sudah bisa berjalan tidak menggunakan tongkat, tapi sesampai dirumah saya harus pakai tongkat lagi.”

Kasus-kasus kesembuhan semu seperti diatas banyak sekali terjadi dalam praktek KKR kesembuhan ilahi yang banyak diadakan belakangan ini, dan dalam kasus-kasus demikian, biasanya penderitalah yang disalahkan karena kurang iman dan kalau sembuh menjadi prestasi doa penginjil. Benny Hinn dalam menghadapi pertanyaan mereka yang tidak disembuhkan menjawab: “”The reason people lose their healing is because they begin questioning if God really did it.”

Kesembuhan Ilahi massal dipraktekkan KKR di Amerika Serikat sejak tahun 1940-an dan bersama gerakan Full Gospel Business Men’s Fellowship kemudian merupakan persemaian kebangunan Kharismatik pada awal tahun 1960-an. Gerakan kesembuhan ilahi (faith healing) menekankan bahwa oleh bilur Yesus kita sembuh, karena itu dipercaya orang yang percaya akan sembuh dari sakit penyakit dan yang tidak sembuh berarti ada masalah dengan iman mereka. Konsep kesembuhan demikian jelas terlihat dalam lagu yang biasa mengiringi praktek kesembuhan ilahi:

Bilurnya, bilurnya, bilurnya sungguh heran, bilurnya bilurnya, bilurnya sungguh heran. Asal percaya saja semua sakit hilanglah, oleh Tuhan Yesus penyembuh!

Praktek kesembuhan ilahi yang didasari oleh ajaran yang keliru bahwa kalau ‘beriman sembuh dan kalau tidak beriman sakit’ yang tidak sesuai dengan firman Tuhan itu adalah bahwa banyak orang yang tidak tersembuhkan dalam KKR Kesembuhan Ilahi itu banyak yang merasakan ‘rasa salah’ dalam dirinya bahwa ada masalah dengan iman mereka.

Penekanan kembali kuasa Tuhan yang menyembuhkan memang merupakan berkat bagi gereja ditengah-tengah kelesuan gereja mapan yang nyaris tidak pernah lagi melakukan pelayanan kesembuhan ilahi secara khusus, salah satu karunia yang Tuhan janjikan kepada gereja-Nya. Namun sayang kemudian perkembangan kesembuhan ilahi menjadi bersifat masal dan sarat kepentingan komersial, dan menjadi reklame utama dalam KKR. Lihatlah iklan di koran yang berbunyi:

Kebaktian Kesembuhan Ilahi. Masalah sakit-penyakit, stres, terikat kuasa kegelapan dan problema keluarga. Ajaklah teman dan keluarga Anda untuk mengalami cinta kasih dan kuasa-Nya!

Alami kuasa dalam firmannya, bawalah orang sakit, stres, terjerat narkoba dan masalah lainnya. Tuhan Yesus sanggup menolong.

Tetapi mengapa mayoritas tidak disembuhkan dan ditolong Tuhan Yesus? Dan dari yang minoritas yang bersaksi mengalami kesembuhan mengapa mayoritasnya juga ternyata tidak sembuh?

Tiga kesembuhan utama ibadat Toronto Blessing yang dilaporkan buku ‘Catch the Fire’ (Guy Chevreau) pernah diteliti tim teolog dan dua dokter, hasilnya adalah seorang yang merasa disembuhkan secara luar biasa terbukti hanya sedikit lebih baik keadaannya. Penderita kanker yang secara instan dikatakan sembuh ternyata setelah diperiksa dokter masih mengidap penyakit itu, demikian juga dua gadis bisu yang dikatakan mengalami kesembuhan dari malaekat ternyata tidak menunjukkan bukti yang pasti.

Dalam siaran berita bahasa Inggeris di TVRI pernah dilaporkan penelitian di Inggeris bahwa angka kesembuhan yang dialami gereja-gereja Kharismatik tidak banyak berbeda dari kesaksian kesembuhan yang dialami gereja mapan yang biasa mendoakan jemaatnya. Yang membedakan adalah di gereja-gereja Kharismatik kesaksian kesembuhan biasanya diekpos besar-besaran dan sering bombastis dengan kesaksian-kesaksian sedangkan di gereja-gereja mapan tidak.

Memang promosi kesembuhan ilahi luar biasa, biasanya disebutkan tokoh-tokoh politik maupun konglomerat yang mengalami kesembuhan instan dalam malam KKR Kesembuhan Ilahi, namun beberapa saat kemudian akan kelihatan bahwa mereka sebenarnya belum sembuh tetapi tersugesti untuk merasa sembuh. Lihat saja pengalaman Evander Holifield. Ia dikatakan menderita sakit jantung dan dipercaya disembuhkan secara mujizat oleh Benny Hinn, namun kemudian terbukti dari diagnosis dokter tinju bahwa Holifield memang tidak punya penyakit jantung (penyakit jantung adalah penyakit yang terbentuk dalam waktu lama), jadi sembuh dari apa?

Para penginjil penyembuh memang terlalu memutlakkan kekuatan penyembuhan yang bisa dihasilkan kuasa penumpangan tangan mereka, contohnya Yonggi Cho berkata:

“Sekarang ini, siapa saja yang percaya kepada Yesus Kristus akan menikmati kelepasan dari segala dosa, sakit penyakit, kutuk, kuasa Iblis dan kematian.”

Kepercayaan ekstrim memang menjadi kepercayaan para penginjil Words of Faith, Kenneth Hagin mengatakan:

“Penyakit itu bukan suatu berkat. Penyakit adalah suatu kutuk. Suatu kutuk oleh karena kita melanggar hukum Tuhan.”

Bandingkan ini dengan firman Tuhan sendiri yang berkata kepada Paulus yang berdoa minta kesembuhan penyakitnya sampai tiga kali:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:7-10. Paulus sakit tubuh tercatat juga di Galatia 4:13).

Sekalipun benar bahwa ada penyakit yang terjadi karena kutuk dan dosa seseorang, tidak semua penyakit melanggar hukum Tuhan. Seorang bisa terkena HIV karena berselingkuh secara homo yang biasa menggunakan jarum suntik, tapi isterinya dan anak yang dilahirkannya berpotensi tertular diluar kesalahan mereka. Orang bisa saja patah kaki karena jatuh atau ditabrak mobil dan itu bukan kesalahan dia. Orang baik bisa saja menderita kanker sedangkan orang jahat sehat. Orang bisa sakit karena tertular flu burung, makan makanan basi, atau keracunan, padahal itu bukan karena ia berdosa. Orang bisa saja lahir cacat karena ibunya kurang gizi atau terkena virus polio.

Urusan penipuan (hoax) dalam pelayanan KKR Kesembuhan Ilahi sudah banyak diteliti di Amerika Serikat. Terbukti banyak penginjil penyembuh melakukan penipuan dengan cara menyiapkan skenario orang-orang yang bersaksi mengalami kesembuhan spektakuler atau orang yang datang ke KKR ditanya penyakitnya apa oleh penerima tamu dan info itu disampaikan ke mimbar sehingga penderita dibuat heran mengapa penginjil tahu akan penyakitnya. Memang kenyataannya ada satu dua kesembuhan yang benar-benar terjadi karena iman penderita begitu kuat sehingga mendatangkan belas kasihan Tuhan Yesus (Jadi bisa terjadi juga di gereja mapan tanpa penumpangan tangan urapan pendeta), namun sebagian besar dari yang sembuh dikarenakan sugesti terpengaruh suasana pujian & penyembahan KKR tapi biasanya setelah pulang atau diperiksa dokter sesudahnya, atau beberapa waktu kemudian, penyakitnya tetap ada. Penyakit-penyakit yang bersifat psikosomatis mudah terasa sembuh dalam suasana hipnose massa, tetapi penyakit-penyakit malfungsi, keracunan, cacat bawaan (polio) nyaris tidak tersembuhkan. Penulis pernah melayani bersama seorang penginjil dimana ia mengatakan didepan jemaat bahwa kalau kita berdoa dengan iman, gigi berlubangpun bisa tertutup. Mengapa kita menjadikan Tuhan sebagai budak untuk melayani kemauan kesembuhan manusia?

Memang sampai sekarangpun Tuhan tetap bisa memberikan mujizat kesembuhan, yang penting apakah jemaat berdoa dengan yakin dan iman dan apakah Tuhan berkenan menyembuhkan atau tidak (Yakobus 5:14-16). Jadi kesembuhan bukan terletak pada kekuatan sipenginjil dan ketidak sembuhan bukan terletak di tangan sipenderita, melainkan apakah Tuhan berkenan atau tidak. Jadi, sebenarnya kesembuhan ilahi bisa saja terjadi di KKR maupun di Gereja mapan.

Kepercayaan bahwa ‘beriman sembuh dan tidak beriman sakit’ adalah konsep kesembuhan mistik perdukunan! Bandingkan ini dengan kesembuhan yang dicapai bila chi/prana/reiki dalam dirinya bisa harmonis dengan chi/prana/reiki alam semesta, dan tidak sembuh kalau keseimbangan itu terganggu. Dalam kesembuhan mistik sembuh tidaknya terletak pada kekuatan batin penderita, dan kita harus sadar bahwa dalam perdukunan pun mujizat kesembuhan dengan kekuatan batin juga banyak terjadi. Dalam KKR Kesembuhan Ilahi dan faham Words of Faith, iman itu umum dimengerti sebagai kekuatan batin yang bisa disalurkan melalui ucapan dan visualisasi seseorang (words of faith).

Kita perlu berhati-hati mendengar promosi bombastis mengenai kesembuhan yang dialami orang penting atau konglomerat tertentu, dan kita pun jangan begitu saja menolak kesaksian demikian yang mungkin benar, tetapi yang paling tepat adalah mengujinya dengan catatan dokter/rumah sakit mengenai track-record penyakitnya sebelum dan sesudah ‘mengalami’ kesembuhan ilahi, dan apakah kesembuhan pasca kesembuhan ilahi itu bersifat kekal atau nanti kembali lagi penyakitnya yang dianggap sudah hilang itu yang ternyata belum hilang juga.

Amin!

Salam kasih dari Redaksi http://www.yabina.org

Teologia Kemakmuran

Pembahasan mengenai Ajaran Teologia Kemakmuran

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.

THEOLOGIA KEMAKMURAN

Sekarang banyak gereja / pendeta / orang kristen yang percaya / mengajarkan Theologia Kemakmuran, dimana mereka percaya / mengajarkan bahwa orang kristen yang sungguh-sungguh beriman dan mengikut Tuhan, pasti akan kaya atau harus kaya.

Banyak orang kristen yang hanya bisa merasakan bahwa ajaran semacam itu adalah ajaran yang salah / sesat, tetapi pada waktu para penganut / pengajar Theologia Kemakmuran itu memberikan argumentasi-argumentasi mereka, baik berdasarkan Kitab Suci maupun berdasarkan ‘fakta’, maka banyak sekali orang kristen yang tidak bisa menjawab argumentasi-argumentasi itu.

Karena itu disini saya ingin mengajak saudara untuk:

1) Mempelajari argumentasi-argumentasi, baik berdasarkan Kitab Suci maupun berdasarkan ‘fakta’, yang digunakan oleh para penganut Theologia Kemak-muran itu.

2) Mempelajari kesalahan-kesalahan dari argumentasi-argumentasi mereka, dan sekaligus melihat / mempelajari ayat-ayat Kitab Suci yang sengaja dihindari / diabaikan oleh para penganut Theologia Kemakmuran.

3) Mempelajari ajaran Kitab Suci yang benar tentang kekayaan dan sikap yang benar terhadap kekayaan.

I) ARGUMENTASI2 THEOLOGIA KEMAKMURAN:

A) Argumentasi berdasarkan Kitab Suci:

1) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah (Yoh 1:12 Roma 8:14-17 Gal 3:26 dsb).

Mereka mengatakan bahwa karena kita adalah anak Allah, sedangkan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya. Mengaku diri sebagai anak Allah, tetapi hidup dalam kemiskinan, adalah suatu kontradiksi.

Mereka bahkan berani mengatakan bahwa Allah malu mempunyai anak-anak yang miskin!

2) Ayat-ayat Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang diberkati oleh Tuhan sehingga menjadi kaya. Dalam hal ini biasanya mereka mengambil cerita-cerita tentang tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang adalah orang beriman dan sekaligus adalah orang kaya. Misalnya: Daud, Salomo, Ayub, Abraham, Ishak, Yakub dsb.

Mereka lalu mengatakan bahwa orang-orang itu beriman dan taat kepada Tuhan, dan karena itu mereka diberkati oleh Tuhan sehingga menjadi kaya. Jadi, kalau kita beriman dan taat kepada Tuhan, kita pasti juga menjadi kaya. Mereka bahkan berani mengatakan bahwa kalau kita tidak kaya, itu berarti kita tidak / kurang beriman, dan / atau kita tidak / kurang taat kepada Tuhan.

3) Ayat-ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Tuhan berjanji akan memberikan berkat jasmani yang berkelimpahan kepada orang yang mentaati Dia, yang memberikan persembahan perpuluhan dsb.

Misalnya: Im 26:1-13 Ul 28:1-14 Amsal 3:9-10 Maleakhi 3:10-12.

Mereka berkata bahwa Firman Tuhan berlaku kekal dan Tuhan tidak pernah berdusta / melanggar janjiNya, sehingga pada jaman inipun janji-janji itu berlaku dan pasti akan Tuhan genapi, asal kita beriman dan taat kepadaNya!

4) Ayat-ayat Perjanjian Baru seperti:

* Mat 6:33 yang menjanjikan bahwa Tuhan akan menambahkan / memberikan ‘semuanya’ (yang mereka artikan sebagai ‘kekayaan’) kepada kita, asal kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya.
* Yoh 10:10 yang mengatakan bahwa Yesus datang supaya kita mempunyai ‘hidup yang berkelimpahan’ (yang mereka artikan sebagai ‘hidup kaya’!).
* 2Kor 8:9 yang mengatakan bahwa Yesus itu rela menjadi miskin, supaya kita yang miskin menjadi kaya (ini mereka artikan ‘kaya secara jasmani’).
* 2Kor 9:6 yang mengatakan bahwa orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak. Ini dipakai untuk mendorong jemaat untuk memberi per-sembahan sebanyak mungkin, supaya menjadi kaya!

B) Argumentasi berdasarkan ‘fakta':

Kalau kita bisa menunjukkan ayat-ayat KItab Suci yang menentang ajaran Theologia Kemakmuran, maka para penganut Theologia Kemakmuran ini sering menggunakan argumentasi yang berdasarkan ‘fakta’, dimana me-reka lalu berkata bahwa ‘fakta’ menunjukkan bahwa:

1) Gereja yang mengajarkan Theologia Kemakmuran ternyata berkem-bang pesat, yang jelas menunjukkan berkat Tuhan atas gereja itu. Kalau memang ajarannya salah / sesat, mengapa gerejanya bisa begitu diberkati oleh Tuhan?

2) Jemaat dari gereja itu memang betul-betul makmur / kaya. Bukankah ini menunjukkan bahwa dengan beriman kepada Tuhan, taat kepada-Nya dan memberikan persembahan persepuluhan, mereka betul-betul dijadikan makmur / kaya oleh Tuhan?

Pdt. Dr. Paul Yonggi Cho bahkan pernah bersaksi bahwa dulu jemaat-nya sedikit dan semuanya miskin. Lalu ia mulai mengajar mereka bagaimana menjadi kaya, dan sekarang tidak ada orang miskin di dalam gerejanya.

Bukankah kedua ‘fakta’ ini menunjukkan bahwa ajaran Theologia Kemak-muran memang benar?

II) TANGGAPAN / JAWABAN SAYA:

A) Tentang argumentasi berdasarkan Kitab Suci:

1) Kalau kita mau menafsirkan Kitab Suci dengan benar, maka kita harus menafsirkan suatu bagian Kitab Suci dengan memperhatikan semua bagian-bagian lain dalam Kitab Suci yang berhubungan dengan ba-gian yang akan kita tafsirkan itu. Dan kita harus menafsirkan bagian itu sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan bagian-bagian lain dari Kitab Suci.

Mengapa harus demikian? Karena Allah itu bukan pendusta, dan karena itu kata-kataNya tidak mungkin bisa bertentangan satu sama lain! Kitab Suci adalah firman / kata-kata Allah, sehingga tidak mungkin bertentangan satu sama lain.

Tetapi, para penganut Theologia Kemakmuran ini hanya melihat / menyoroti bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci yang mendukung pandangan mereka, dan mereka mengabaikan bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang jelas-jelas menentang penafsiran mereka.

Catatan:

Ingatlah bahwa cara penafsiran seperti ini adalah sumber timbulnya semua ajaran sesat, dan juga bahwa cara penafsiran seperti ini merupakan cara dari hampir semua nabi palsu dalam mempertahan-kan ajaran sesat mereka!

Contoh:

a) Kitab Suci memang menggambarkan hubungan Allah dengan kita sebagai Bapa dengan anakNya. Tetapi Kitab Suci juga menggam-barkan hubungan Allah dengan kita sebagai Tuan dengan hamba (Misalnya: Yoh 13:16), dan juga sebagai Komandan dan prajurit / tentara (2Tim 2:3-4).

Gambaran bahwa kita adalah anak memang bisa menimbulkan pemikiran bahwa hidup kristen itu enak, kaya dsb. Tetapi gam-baran bahwa kita adalah hamba / tentara jelas menimbulkan kesan yang jauh berbeda. Seharusnya, kita meninjau semua gambaran-gambaran itu dan bukan salah satu saja. Itu akan menunjukkan bahwa di dalam hidup kristen itu bukan hanya terdapat hal-hal yang enak saja, tetapi juga ada ketundukan mutlak, pelayanan, peperangan, penderitaan, bahkan kemiskinan!

Hal-hal seperti ini tidak pernah mereka perhatikan / soroti, atau bahkan sengaja mereka abaikan!

b) Allah memang adalah Bapa kita, tetapi Ia adalah Bapa kita secara rohani (Yoh 1:12-13)! Dan Ia adalah Bapa yang bijaksana (Ro 11:33)! Kitab Suci bahkan berkata bahwa Ia menghajar kita pada saat diperlukan (Ibr 12:5-11), dan ini menunjukkan bahwa Ia bukanlah seorang Bapa yang memanjakan anak-anakNya!

Kalau seorang bapa duniawi / jasmani yang bijaksana saja pasti tidak akan memanjakan anaknya dengan memberikan uang sebe-rapa dia kehendaki, maka jelas bahwa Allah, sebagai Bapa rohani kita yang bijaksana, juga tidak akan melakukan hal itu!

Lagi-lagi ini merupakan bagian yang sengaja diabaikan oleh para penganut Theologia Kemakmuran!

Terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah itu malu kalau mempunyai seorang anak yang miskin, saya ingin tanyakan: di bagian mana dari Kitab Suci ada ajaran seperti itu? Dalam Kitab Suci disebutkan ada banyak orang percaya yang miskin. Tetapi tidak pernah dikatakan bahwa Allah malu karena kemiskinan mereka!

Orang yang mengajarkan hal seperti ini memandang Allah secara jasmani / duniawi, seakan-akan Ia adalah seorang manusia seperti kita! Manusia yang kaya memang akan malu kalau anaknya miskin! Tetapi Allah tidak demikian! Allah tidak malu mempunyai anak yang miskin, sakit dsb. Ia bahkan akan senang kalau mempu-nyai anak yang dalam kemiskinan, kesakitan dan penderitaan, tetap beriman kepadaNya, mengasihiNya, dan mentaatiNya! Hal yang memalukan Allah ialah kalau kita sebagai anak-anakNya hidup dalam dosa (Wah 3:18 bdk. juga Mat 5:16)! Juga kalau kita menekankan keduniawian dan kekayaan lebih dari pada keroha-nian, seperti yang dilakukan oleh para penganut / pengajar Theologia Kemakmuran!

c) Dalam Kitab Suci memang ada banyak orang beriman yang kaya, tetapi juga ada banyak yang tidak kaya, bahkan yang miskin.

Misalnya: Yesus sendiri (Luk 9:58), rasul-rasul (Kis 3:6), jemaat kristen abad pertama (Kis 2:45b Kis 4:35b Kis 6:1 Roma 15:26 2Kor 8:2 Wah 2:9).

Memang ada orang Kharismatik yang berkata sebaliknya:

* Frederick K. C. Price berkata bahwa Yesus itu kaya pada waktu hidup di dunia. Buktinya Ia sampai membutuhkan bendahara (Yoh 12:6) – ‘Christianity in Crisis’, p 25, 382.
* John Avanzini berkata bahwa Paulus juga kaya. Buktinya seorang pejabat pemerintah sampai menginginkan suap dari dia (Kis 24:26) – ‘Christianity in Crisis’, p 25, 382.

Tetapi penafsiran-penafsiran tolol semacam ini jelas tidak perlu dipedulikan! Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Yesus, rasul-rasul, dan banyak jemaat kristen abad pertama adalah orang-orang yang miskin!

Lalu mengapa hanya bagian-bagian Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang kaya saja yang diperhatikan dan disoroti? Mengapa bagian-bagian Kitab Suci yang menceritakan tentang orang beriman yang miskin diabaikan?

Beranikah mereka mengatakan bahwa Yesus dan rasul-rasul dan jemaat gereja abad pertama itu miskin karena mereka kurang beriman dan kurang taat? Untuk Yesusnya mungkin mereka akan berkata bahwa Yesus memang rela menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2Kor 8:9). Tetapi bagai-mana dengan rasul-rasul dan jemaat gereja abad pertama yang miskin?

d) Kitab Suci sering mengajar tentang orang-orang jahat yang kaya dan orang saleh yang miskin.

Contoh:

* Maz 73 (bacalah seluruh Maz 73!).
* cerita orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31).
* Wah 2:9 menunjukkan bahwa jemaat Smirna yang kaya secara rohani justru miskin secara jasmani, dan sebaliknya, Wah 3:17 menunjukkan bahwa jemaat Laodikia yang miskin secara rohani justru kaya secara jasmani.
* Pengkhotbah 8:14 berbunyi:

“Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang la-yak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar”.

Ini jelas memungkinkan adanya orang saleh yang miskin dan orang jahat yang kaya!

Mengapa para penganut Theologia Kemakmuran mengabaikan bagian-bagian Kitab Suci seperti ini?

e) Ada banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan sukarnya / beratnya kehidupan orang kristen.

Contoh:

* Mat 7:13-14 yang berbunyi:

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebar-lah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebi-nasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; ka-rena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapati-nya”.

* Luk 9:58 dimana Yesus berkata kepada seseorang yang mau mengikut Dia:

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya”.

* Yoh 15:20 dimana Yesus sendiri berkata:

“Seorang hamba tidaklah lebih dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan meng-aniaya kamu”.

* Kis 14:22b dimana Paulus dan Barnabas memperingati orang-orang kristen bahwa “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”.
* Fil 1:29 yang berbunyi:

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Ksritus, melainkan juga untuk mende-rita untuk Dia”.

* 2Tim 3:12 yang berbunyi:

“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.

Pernahkah para penganut Theologia Kemakmuran itu menyoroti dan merenungkan ayat-ayat ini? Atau apakah mereka sengaja mengabaikan ayat-ayat itu karena tidak sesuai dengan ajaran sesat mereka?

Semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa hidup kristen bukanlah hidup yang enak terus! Sebaliknya, hidup kristen adalah hidup yang penuh dengan penderitaan, kesukaran dan tantangan!

Karena itu ada satu orang yang pernah berkata:

“Allah punya satu anak yang tidak pernah berbuat dosa (yaitu Yesus), tetapi Ia tidak punya anak yang tidak pernah menderita!”

Kalau kita melihat hidup Yesus sendiri, maka kita melihat bahwa hidupNya ‘turun’ dahulu (menjadi manusia, menderita dan mati, dikuburkan), dan setelah itu baru ‘naik’ (bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, dan akan da-tang keduakalinya sebagai Hakim).

Karena itu, kalau kita adalah pengikut Kristus, hidup kita juga akan ‘turun’ dulu (mengalami banyak penderitaan, kesukaran dan tan-tangan di dunia ini), dan setelah itu baru ‘naik’ (mengalami ke-muliaan di surga). Bdk. Ro 8:18 2Kor 4:17.

Tetapi, para penganut Theologia Kemakmuran itu mem-by-pass jalan yang menurun itu. Mereka mengajarkan bahwa hidup kristen itu enak dan kaya di dunia, dan juga mulia di surga. Hidup mereka adalah hidup tanpa salib! Tetapi bahwa ini bukanlah hidup Kristen, terlihat dengan jelas dari deretan ayat-ayat di atas!

Kalau memang hidup kristen itu penuh dengan penderitaan dan kesukaran, maka itu berarti bahwa orang kristen bisa saja menjadi miskin, justru karena ia menjadi kristen dan karena ia hidup sesuai dengan firman Tuhan!

f) Kitab Suci mengandung banyak ayat yang memperingatkan kita akan bahaya dari kekayaan / keinginan untuk menjadi kaya, seperti: Ul 6:10-12 Ul 8:10-18 Amsal 23:4-5 Pengkhotbah 5:9-16 Yer 9:23-24 Yeh 7:19 Mat 6:19-24 Mat 13:22 Mat 19:21-24 Luk 6:24 Luk 12:16-21 Luk 21:34-36 1Tim 6:6-10 1Tim 6:17-19 Yak 1:9-11 Yak 5:1-3 dsb.

Untuk bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang kerasnya peringatan Kitab Suci terhadap kekayaan, bacalah semua ayat-ayat tersebut di atas!

Ayat-ayat Kitab Suci ini jelas memberikan gambaran yang sangat berbeda, bahkan bertentangan, dengan ajaran Theologia Kemak-muran! Mengapa mereka tidak pernah menyoroti ayat-ayat ini? Jelas bahwa mereka memang sengaja mengabaikan bagian-bagian Kitab Suci yang tidak sesuai dengan ajaran sesat mereka!

2) Penafsiran mereka melanggar prinsip Hermeneutics (ilmu penafsiran Kitab Suci) yang penting, yang sekalipun sudah saya jelaskan dalam pelajaran Kharismatik 1 di depan, tetapi akan saya ulangi di sini.

Dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang bersifat Descriptive (= bersifat menggambarkan). Bagian seperti ini hanya menggambarkan apa yang betul-betul terjadi pada saat itu, tetapi tidak dimaksudkan untuk dijadikan rumus / norma / pedoman dalam kehidupan kita.

Contoh:

* Dalam Mat 14:22-33, diceritakan tentang Yesus dan Petrus yang berjalan di atas air. Ini adalah penggambaran dari sesuatu yang betul-betul terjadi, tetapi cerita ini tentu tidak berarti bahwa setiap orang yang beriman pasti bisa berjalan di atas air!
* Dalam Yoh 11 kita melihat Yesus membangkitkan Lazarus. Ini memang betul-betul terjadi, tetapi tentu tidak berarti bahwa setiap orang kristen yang mati akan dibangkitkan kembali setelah 4 hari!
* Dalam Kis 5:17-25 dan Kis 12:1-19, rasul-rasul dimasukkan ke penjara, tetapi lalu dibebaskan oleh Tuhan secara mujijat. Ini tentu tidak boleh diartikan bahwa semua orang kristen yang dimasukkan ke penjara demi Tuhan, juga akan dibebaskan secara mujijat! Kenyataannya, banyak orang beriman dimasukkan ke penjara demi Tuhan dan akhirnya mati di bunuh / mati syahid, termasuk Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12), dan rasul Yakobus (Kis 12:1-2), dan rasul-rasul yang lain.

Tetapi dalam Kitab Suci juga ada bagian-bagian yang bersifat Didactic (= bersifat mengajar). Ini adalah bagian-bagian yang betul-betul dimaksudkan untuk mengajar, dan harus dijadikan norma / hukum dalam kehidupan kita.

Contoh:

* Yoh 3:16 mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa, tetapi akan mendapat hidup yang kekal. Ini adalah hukum / norma yang berlaku untuk setiap orang!
* Fil 4:4 dan 1Tes 5:16-18 mengajarkan bahwa orang kristen harus selalu bersukacita, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan.

Kalau kita berhadapan dengan bagian yang bersifat Descriptive, tetapi kita memperlakukannya sebagai bagian yang bersifat Didactic, dan menafsirkannya sebagai hukum / norma, maka akan timbul ajaran-ajaran yang salah, seperti:

* Orang kristen harus berbahasa roh, karena dalam Kis 2:1-11, rasul-rasul berbahasa roh.
* Orang kristen harus sembuh dari penyakit, karena dalam Mat 4:23-24 / Luk 6:17-19 semua orang yang minta kesembuhan, disem-buhkan oleh Tuhan Yesus.

Ajaran Theologia Kemakmuran mendasarkan ajarannya pada bagian-bagian Kitab Suci yang menunjukkan adanya orang-orang beriman yang kaya seperti Salomo, Ayub dsb. Itu berarti bahwa mereka mem-perlakukan bagian-bagian yang bersifat Descriptive sebagai rumus / hukum, dan ini adalah cara penafsiran yang salah!

3) Terhadap ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa Tuhan akan memberikan berkat jasmani yang berkelimpahan kepada orang yang beriman dan taat kepadaNya / orang yang memberikan persembahan persepuluhan, ada 2 hal yang akan saya berikan seba-gai tanggapan:

a) Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru dalam persoalan berkat Tuhan!

Dalam Perjanjian Lama memang ada banyak ayat yang menun-jukkan janji berkat jasmani yang berkelimpahan, seperti Im 26:1-13 Ul 28:1-14 Amsal 3:9-10 Maleakhi 3:10-12 dsb.

Tetapi dalam Perjanjian Baru, terlihat bahwa Allah hanya menjanji-kan berkat jasmani secara cukup saja (tidak berkelimpahan). Ini terlihat dari:

* Mat 6:25-34.

Bagian ini berbicara tentang makanan, minuman dan pakaian, dan karena itu jelas bahwa bagian ini hanya menekankan kebutuhan-kebutuhan pokok saja, bukan kemewahan!

* Doa Bapa Kami, dimana Yesus tidak mengajar supaya kita meminta kekayaan yang berlimpah-limpah, tetapi: “Berikan-lah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat 6:11).
* 1Tim 6:6,8 dimana Rasul Paulus berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan yang besar … Asal ada makanan dan pakaian cukuplah”.

Hal yang perlu kita tanyakan adalah: mengapa ada perbedaan seperti ini antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Ada 2 jawaban:

* Karena dalam jaman Perjanjian Baru, salib Kristus sudah terjadi, sedangkan dalam Perjanjian Lama belum.

Dalam jaman Perjanjian Baru, karena salib (yang merupakan pernyataan tertinggi dari kasih Allah kepada kita) itu sudah terjadi, maka sekalipun kita tidak kaya, bahkan sekalipun kita miskin, kita tetap bisa memandang ke belakang, kepada salib, dan kita bisa yakin bahwa Allah mengasihi kita.

Tetapi dalam jaman Perjanjian Lama, kalau tidak ada berkat jasmani yang berkelimpahan, agak sukar bagi seseorang untuk bisa percaya bahwa Allah mengasihi dia, karena saat itu salib belum terjadi!

Karena itulah, untuk menunjukkan kasihNya kepada orang-orang beriman dalam Perjanjian Lama, maka pada saat itu Allah lalu memberikan banyak janji berkat jasmani yang berke-limpahan.

Catatan:

Perlu saudara ketahui bahwa ini adalah ajaran dari John Calvin, yang hidup pada abad ke 16, jauh sebelum ajaran Theologia Kemakmuran muncul.

* Ayat-ayat yang menunjukkan janji-janji berkat jasmani yang berkelimpahan dalam Perjanjian Lama, merupakan TYPE (ini adalah istilah Hermeneutics / ilmu penafsiran Alkitab) atau bayangan dari janji berkat rohani yang berkelimpahan dalam Perjanjian Baru. Setelah ANTI-TYPEnya (penggenapannya da-lam Perjanjian Baru) datang, maka TYPEnya tidak berlaku lagi!

b) Cara para pengajar Theologia Kemakmuran mengajar jemaatnya untuk memberikan persembahan (baik persembahan persepuluhan maupun persembahan biasa) dengan menggunakan ayat-ayat Perjanjian Lama seperti Maleakhi 3:10-12 dan Amsal 3:9-10 atau-pun ayat Perjanjian Baru seperti 2Kor 9:6, adalah cara yang salah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan! Mengapa? Karena de-ngan demikian mereka mengajar jemaat untuk memberikan per-sembahan kepada Tuhan dengan pamrih, karena jemaat memberi dengan tujuan supaya Tuhan membalasnya dengan berkat yang lebih besar! Saya memang percaya bahwa ada pahala untuk setiap ketaatan / persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, asalkan kita melakukan / memberikan dengan motivasi yang benar, yaitu dengan hati yang betul-betul mencintai Tuhan dan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan (Yoh 14:15 1Kor 10:31).

Tetapi ketaatan ataupun persembahan dengan motivasi supaya kita diberkati, jelas merupakan ketaatan yang dilandasi oleh egoisme, dan pada hakekatnya bukanlah merupakan suatu ke-taatan kepada Tuhan!

4) Mat 6:33 Yoh 10:10 2Kor 8:9 2Kor 9:6 mereka tafsirkan tanpa mem-pedulikan kontexnya, sehingga apa yang seharusnya bersifat rohani mereka tafsirkan sebagai hal yang bersifat jasmani.

a) Dalam menafsirkan Mat 6:33, kita harus memperhatikan dan mem-baca kontexnya, yaitu Mat 6:25-34. Maka akan terlihat dengan jelas bahwa bagian itu berbicara tentang kekuatiran terhadap tidak adanya makanan, minuman dan pakaian (kebutuhan-kebutuhan pokok). Karena itu, kata ‘semuanya’ dalam Mat 6:33 haruslah diartikan ‘kebutuhan-kebutuhan pokok’, dan bukannya kekayaan yang berlimpah-limpah!

b) Dalam Yoh 10:10, Yesus berkata:

“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempu-nyainya dalam segala kelimpahan”.

Yesus pasti tidak memaksudkan hidup jasmani, tetapi hidup rohani, karena orang-orang yang Ia maksudkan dengan ‘mereka’, saat itu sedang hidup secara jasmani! Kalau Yesus memaksudkan hidup rohani, maka jelaslah bahwa kelimpahan yang Ia maksudkan, juga adalah kelimpahan rohani!

c) 2Kor 8:9 juga harus kita teliti kontexnya, supaya kita bisa mengerti apakah ayat itu memaksudkan kaya secara jasmani atau secara rohani. Bacalah mulai 2Kor 8:1-9! Maka dalam ay 7 saudara akan melihat bahwa Paulus berkata bahwa sekarang mereka kaya dalam segala sesuatu. Tetapi apa yang ia maksudkan dengan ‘segala sesuatu’ itu? Baca terus ay 7! Paulus berkata “dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam ke-sungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu kepada kami”.

Ini semua jelas menunjuk pada hal rohani, bukan jasmani! Karena itu jelaslah bahwa ‘kaya’ dalam 2Kor 8:9 tidak menunjuk pada kekayaan jasmani, tetapi pada kekayaan rohani!

d) 2Kor 9:6 juga harus diperhatikan kontexnya.

Apakah ‘menuai banyak’ dalam 2Kor 9:6 itu harus diartikan berkat jasmani / uang yang banyak? Saya berpendapat bahwa bisa saja orang yang memberi persembahan uang lalu dibalas oleh Allah juga dengan uang. Tetapi tentu saja tidak harus demikian. Ia bisa membalas dengan cara lain. Ini bisa kita lihat dalam 2Kor 9:8 dimana dikatakan:

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan”.

Jelas ini menunjukkan bahwa orang yang menabur banyak itu memang menuai banyak, tetapi ia menuai bukan berkat jasmani, tetapi berkat rohani!

B) Tentang Argumentasi berdasarkan ‘fakta':

1) Jemaat yang bertambah banyak, tidak membuktikan bahwa ajaran mereka benar, ataupun bahwa mereka diberkati oleh Tuhan.

Sebagai contoh, dalam waktu 10 tahun (1942-1952), jumlah orang Saksi Yehovah di Amerika Serikat berkembang 2 x lipat, di Asia 5 x lipat, di Eropa 7 x lipat, dan di Amerika Latin 15 x lipat. Apakah itu membuktikan bahwa ajaran mereka itu benar dan gereja mereka diberkati oleh Tuhan?

Ingatlah bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokrasi, dalam arti, yang banyak belum tentu benar! Pada saat Yesus melayani secara jasmani dalam dunia ini, hanya sedikit orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengikuti Dia. Apakah ini berarti ajaranNya salah dan pelayananNya tidak diberkati Tuhan?

Ingatlah juga bahwa Tuhan Yesus sendiri sudah menubuatkan bahwa makin mendekati akhir jaman, makin banyak ajaran sesat, dan makin banyak orang yang tersesat (Mat 18:7 Mat 24:5,11).

Juga ingatlah bahwa Paulus juga menubuatkan bahwa akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang benar dan mereka akan mengumpulkan guru-guru palsu menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Juga bahwa mereka akan menutup telinganya bagi kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2Tim 4:3-4). Jadi, kalau banyak orang senang mendengar ajaran Theologia Kemakmuran, itu hanyalah penggenapan dari nubuat ini!

2) Kalau mereka mengatakan bahwa jemaat dalam gereja mereka kaya-kaya, maka ada 2 hal yang perlu dipertanyakan:

a) Benarkah bahwa mereka yang sekarang kaya itu dulunya miskin?

Saya lebih condong untuk percaya bahwa jemaat yang miskin itu hilang, lalu digantikan oleh jemaat yang kaya. Mengapa bisa demi-kian? Karena kalau setiap kali jemaat mendengar bahwa miskin menunjukkan dosa, tidak beriman dsb, maka lama kelamaan pasti jemaat yang miskin akan minggat dari gereja itu, sedangkan jemaat yang kaya akan tetap tinggal, karena senang dibuai oleh segala omong kosong itu (bandingkan dengan 2Tim 4:3-4).

b) Kalau memang benar bahwa mereka yang sekarang kaya itu dulu-nya miskin, maka perlu dipertanyakan lagi:

* Dengan cara bagaimana mereka menjadi kaya? Apakah betul-betul dengan cara yang benar / cara yang kristiani, seperti jujur, kasih dsb? Atau dengan ‘seadanya cara’? Ada banyak orang yang mendapatkan kekayaan dengan cara duniawi yang kotor tetapi lalu bersaksi bahwa Tuhan memberkatinya dengan keka-yaan!

Ingat bahwa ajaran yang mengatakan bahwa orang kristen harus kaya itu bisa membuat orang berusaha mati-matian untuk menjadi kaya, tanpa mempedulikan caranya halal atau tidak!

* Siapa yang memberi kekayaan itu? Tuhan atau setan? Memang agak sukar untuk mengetahui hal ini, tetapi perlu diingat bahwa setanpun bisa memberi kekayaan kepada orang-orang itu, dengan tujuan supaya mereka tetap percaya pada ajaran sesat itu! Dan kalau kekayaan itu didapatkan dengan cara-cara yang kotor, sudah pasti itu bukan berkat Tuhan tetapi berkat setan!

III) KESIMPULAN:

1) Semua ini menunjukkan bahwa sekalipun para penganut Theologia Kemakmuran itu bisa memberikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka, tetapi jelas bahwa ayat-ayat Kitab Suci itu sudah ditafsir-kan secara salah!

Dengan kata lain, kita harus menyimpulkan bahwa ajaran Theologia Kemakmuran itu adalah suatu ajaran sesat yang sama sekali tidak Alkitabiah!

Selain dari itu, ajaran Theologia Kemakmuran ini menyebabkan ajaran Kristen dihina / dipandang rendah oleh orang-orang non Kristen (dinilai sebagai agama yang duniawi)! Dengan demikian, ajaran Theologia Kemakmuran ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang!

2) Kalau ajarannya adalah ajaran yang sesat / tidak alkitabiah, maka jelaslah bahwa para pengajar Theologia Kemakmuran itu adalah nabi-nabi palsu!

Karena itu para pengajar Theologia Kemakmuran itu sebaiknya memper-hatikan peringatan Tuhan Yesus dalam Mat 18:7 yang berbunyi:

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penye-satan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakan-nya!”.

Ada banyak orang yang menanyakan pertanyaan ini: apakah para pengajar Theologia Kemakmuran itu sendiri tahu bahwa ajaran mereka adalah ajaran sesat yang bertentangan / tidak sesuai dengan Kitab Suci?

Dari begitu banyaknya bagian-bagian Kitab Suci yang bertentangan secara sangat jelas dengan ajaran Theologia Kemakmuran, saya yakin bahwa mereka tahu kalau ajaran mereka itu bertentangan / tidak sesuai dengan Kitab Suci.

Kalau demikian, mengapa mereka tetap mengajarkannya? Jelas sekali supaya mereka mendapat untung dan menjadi kaya! Memang, didalam mereka mengajar mereka menekankan keharusan untuk memberikan persembahan sebanyak-banyaknya (baik persembahan persepuluhan maupun persembahan biasa), supaya jemaat diberkati berlimpah-limpah oleh Tuhan. Tetapi apa motivasi mereka yang sebenarnya? Bukankah su-paya mereka sendiri yang menjadi kaya oleh semua persembahan itu? Memang salah satu ciri nabi palsu adalah ‘mengajar demi keuntungan diri sendiri’ (Yer 8:10 Tit 1:11 2Pet 2:3)!

3) Kitab Suci memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya (Catatan: saya tidak menganut Theologia Kemelaratan!). Tetapi Kitab Suci tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya!

4) Sekalipun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita, kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.

Karena itu, janganlah menginginkan kekayaan duniawi (Amsal 23:4 Mat 6:19 1Tim 6:9-10); sebaliknya carilah harta yang kekal di surga (Mat 6:20), supaya saudara jangan menjadi seperti orang kaya yang bodoh (Luk 12:16-21).

Karena itu, kalau saudara berdoa dalam persoalan uang, tirulah doa dalam Amsal 30:8-9, yang berbunyi:

“Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkan-lah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemar-kan nama Allahku”.

-AMIN-

Sumber: http://www.members.tripod.com/~gkri_exodus/p_makmur.htm

9 Fitnahan terhadap Calvinisme

Reposted by Desfortin
9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 1
Pendahuluan
Pada awalnya saya tertarik pada artikel yang ditulis oleh Bpk. Dr. Suhento Liauw ( kemudian saya singkap SL)karena pandangannya yang kristis terhadap ajaran kharismatik baik melalui websitenya maupun buletin Pedang Roh-nya. Saya tertarik karena hanya sedikit hamba Tuhan yang berani secara terang-terangangan mengritisi ajaran karismatik yang sedang trend tersebut. Pada umumnya banyak hamba Tuhan yang kompromi dengan ajaran karismatik.
Namun ketika membaca buletin Pedang Roh No. 55 , ketertarikan tadi berubah menjadi tidak simpatik, mengapa? Bagi orang yang belum mengenal lebih dalam tentang Jhon Calvin ( JC) dan teologinya (Calvinisme) akan dimungkinkan menerima penjelasan SL sebulat-bulatnya dan dianggap benar. Tetapi bagi mereka yang sudah membaca biografi Calvin dan mempelajari teologinya dengan sungguh-sungguh, maka uraian yang disampaikan oleh SL tentang JC dan Calvinisme hanya menunjukkan ketidaktahuan atau pengetahuan yang dangkal tentang JC dan Calvininisme yang berujung pada berbagai fitnah. Saya sebut fitnah karena apa yang disampaikan oleh SL tentang JC dan Calvinisme sama sekali tidak sesuai dengan fakta dan kebenaran yang ada. Apalagi sampai mengatai Calvin dan penganut Calvinisme sebagai orang “sinting” dan kata ejekan yang lainnya, yang bagi saya tidak layak diucapkan sebagai seorang hamba Tuhan.
Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa apa yang dinyatakan oleh SL adalah tidak benar dan sekaligus menunjukkan yang sebenarnya. Disamping itu saya juga ingin mencoba mengritisi beberapa ajaran dari SL yang menurut saya tidak sesuai dengan maksud firman Tuhan.
Sesungguhnya saya yang bodoh dan tidak pernah sekolah teologia ini tidak layak dan tidak pantas untuk mengritisi Bapak SL yang adalah seorang doktor teologia sekaligus pendiri dari sebuah teologi, tetapi karena 1Pet 3:15 berkata: “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”, maka saya akan mempertanggunggjawabkan kebenaran yang saya yakini. Selain itu saya tidak menerima seorang Jhon Calvin yang saleh dan telah menjadi berkat bagi jutaan umat Tuhan diejek begitu rupa. Saya tidak bermaksud mendewakan Jhon Calvin dan ajarannya karena Jhon Calvin sendiri menolak dan tidak suka diperlakukan seperti itu, tetapi saya hanya ingin menyatakan kebenaran yang telah Tuhan bukakan ada Jhon Calvin supaya mereka yang menyalahpahami Jhon Calvin dan ajarannya menjadi tahu yang sebenarnya.
Untuk membantah fitnahan dari Dr. SL tentang JC dan Calvinisme, saya akan menggunakan beberapa tulisan / buku dari John Calvin, R.C. Sproul (seorang penentang keras Calvinisme yang akhirnya bertobat menjadi pengajar dan pembela Calvinisme) dan Bpk. Budi Asali terutama dari bukunya “Calvinisme yang Difitnah”, dan beberapa artikel lainnya, dan tentu saja hikmat dari Tuhan.
Akhirnya, biarlah pembaca sendiri yang menentukan apakah John Calvin dan Calvinisme yang tidak alkitabiah atau sebaliknya SL dan Arminianisme yang melenceng dari Alkitab.
Jawaban saya merupakan jawaban yang sederhana karena saya tidak pernah sekolah teologia. Untuk mendapatkan jawaban yang lengkap dan mendalam silahkan memcaca buku/artikel “Calvinis yang Difitnah yang ditulis oleh Pdt. Budi Asali di

http://www.members.tripod.com/gkri_exodus/p_5pnt00.htm

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 1

Fitnah I
SL : “John Calvin bikin kesalahan ketika ia berkata bahwa Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa” ( Pedang Roh 55 halaman 02 kolom 2 baris 3-5)
Bantahan :
Benarkah JC dan Calvinisme mengatakan bahwa Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa? Apakah ini bukan kesimpulan yang salah dari SL terhadap ajaran Calvin / Calvinisme?
Saya yakin pernyataan di atas adalah kesimpulan yang salah dari SL yang memahami secara salah doktrin Provedensia Calvin. Mungkin dalam pandangan SL , Calvin mengajarkan bahwa karena segala sesuatu yang terjadi sudah ditetapkan Allah sebelumnya dan oleh karena itu manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menolak apa yang terjadi padanya (seperti robot), sehingga pada saat manusia berdosa, dosa tersebut disebabkan karena memang Allah mengendakinya, sehingga Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa berdosa. Jelas ini bukan ajaran Calvin dan Calvinis, bahkan boleh dikatakan sebagai anti Calvinis.
Lalu bagaimana pandangan yang sebenarnya dari John Calvin dan kaum Calvinis tentang tuduhan bahwa “Allah pencipta / penyebab dosa ini?
1. Pernyataan John Calvin yang sebenarnya.
Berkut ini adalah pernyataan John Calvin ketika menafsirkan Kejadian 45: 5 – 8 :
“Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia lakukan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, tetapi ditengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan”
Dari pernyataan Calvin di atas jelas bahwa pernyataan “Allah pencipta dosa” adalah keluar dari orang-orang yang tidak memahami doktrin “Providence Allah” (pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari Rencana Allah, atau, pemerintahan / pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga Rencana Allah terlaksana.)
Bahkan Calvin menyatakan bahwa pernyataan Allah sebagai pencipta dosa merupakan sesuatu yang tidak senonoh dan menjijikkan.
2. Tanggapan dari kalangan Calvinis / Reformed
Ketetapan Allah yang kekal memang memberi peluang kemungkinan masuknya dosa ke dalam dunia, tetapi kenyataan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah penyebab dosa dalam arti bahwa Allah adalah pembuat yang bertanggung jawab atas terjadinya dosa itu. Pengertian bahwa Allah adalah pencipta yang bertanggung jawab atas dosa dalam dunia tidak pernah disebutkan dalam Alkitab. “Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang.” (Ayb 34:10). Ia adalah Allah yang kudus (Yes 6:3) dan sama sekali tidak ada ketidakbenaran dalam Dia (Ul 32:4 Mzm 92:16). “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” (Yak 1:13). Ketika Allah menciptakan manusia maka Ia menciptakannya dengan baik dan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Allah sangat membenci dosa, Ul 25:16; Mzm 5:4; Zakh 8:17, Luk. 16:15, dan di dalam Kristus Ia memberikan jaminan kebebasan manusia dari dosa. Berkenaan dengan semua ini maka jelas merupakan suatu penghujatan jika kita mengatakan bahwa Allah adalah pembuat dosa. Dan atas alasan itulah semua pandangan deterministik yang menganggap bahwa dosa merupakan natur yang harus ada dalam diri manusia harus ditolak. Pandangan deterministik ini pada penerapannya menjadikan Allah sebagai pembuat dosa, dan dengan demikian bertentangan dengan suara hati yang mengakui tanggung jawab manusia.
(Berkhof, Louis. TEOLOGI SISTEMATIKA 2: DOKTRIN MANUSIA. Jakarta: LRII, 1993)
Secara ringkas pernyataan resmi dari kaum Calvinis tentang “Allah penyebab/pencipta dosa adalah sebagai berikut:
“Allah, dari segala kekekalan, bertindak berdasarkan kehendak-Nya yang bijaksana dan kudus, dan tanpa perubahan menentukan segala sesuatu yang akan terjadi. Namun demikian itu sama sekali tidak berarti bahwa Allah adalah penyebab/pencipta dosa, dan penyebab dari kejahatan yang ada alam kehendak ciptaan. Allah tidak mengambil kemerdekaan dari penyebab kedua, malahan meneguhkan-Nya.”
(Sproul, R.C. Kaum Pilihan Allah: Malang: SAAT ,2003)
Perhatikan, Reformed meneguhkan kedaulatan Allah atas segala sesuatu dan menandaskan bahwa Allah tidak berbuat kejahatan dan melanggar kebebasan manusia. Kebebasan manusia dan kejahatan ada di bawah kedaulatan Allah.
Kesimpulan : John Calvin tidak pernah menyatakan bahwa Allah penyebab / pencipta dosa (termasuk dosa Adam dan Hawa), dan bahkan sebaliknya mengatakan bahwa pernyataan seperti tersebut adalan sesuatu yang tidak senonoh, menjijikkan, dan merupakan suatu penghujatan.

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya
Bag. 3

FITNAH II
(a) Kegagalan utama calvinisme ialah pada pemahaman mereka terhadap manusia yang Allah ciptakan. Mereka gagal memahami Adam sebagai manusia berakal budi dan berperasaan serta berkehendak bebas. (b) Itulah sebabnya John Calvin memaksakan kehendaknya kepada penduduk kota Genewa karena ia berpikir bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya kepada semua ciptaan-Nya. ( Pedang Roh 55, hal 02 kolom 2 baris 10 – 18 – huruf (a) dan (b) saya tambahkan untuk memudahkan pembahasannya.
a. Benarkah John Calvin dan Calvinisme mengajarkan bahwa karena Allah sudah menentukan segala sesuatu yang sedang dan akan terjadi maka Adam tidak punya akal budi, tidak punya perasaan, dan tidak punya kehendak bebas sehingga ia bertindak seperti robot? Atau dengan kata lain Allah adalah tukang main paksa?
b. Betulkan John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada kota Genewa?
Bantahan:
a. Sekali lagi pernyataan pada point (a) di atas hanyalah menunjukkan kegagalan Dr. SL di dalam memahami doktrin-doktrin Calvinisme. Berikut ini adalah pandangan John Calvin tentang manusia, akal budi, perasaan, dan kehendak bebasnya. Silahkan menilai sendiri bagian mana yang tidak Alkitbiah dan andingkan dengan pandangan Dr. Suhento yang lebih condong ke pandangan para filsuf kafir ketimbang pada pandangan Alkitab!
Dosa telah masuk dan mendominasi seluruh umat manusia dan menguasai setiap jiwa. Selanjutnya kita akan meliliat apakah dosa telah merusak kebebasan kehendak kita. Bagaimana pandanganan para filsuf dan teolog mengenai hal ini? Para filsuf mengajarkan bahwa kehendak manusia itu bebas dan untuk taat kepada rasio atau kepada godaan nafsu. Jika ia memilih untuk taat kepada rasio ia akan mencapai kebebasan, sebaliknya jika ia tunduk kepada nafsu ia akan terperangkap. Namum pada dasarnya manusia diakui memiliki kebebasan dari dirinya untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Tidak seorang pun penulis Kristen awal yang tidak mengakui bahwa rasio dan kehendak manusia telah dicemari oleh dosa, tetapi banyak yang secarakompromistis mengikuti pandangan para filsuf. Mereka mengajarkan manusia seakan-akan masih memiliki kuasa atas dirinya, dan memiliki kehendak bebas untuk memilih dan melakukan apa yang benar, walaupun kemampuan itu telah demikian lemah, sehingga hanya dapat dilakukan melalui bantuan anugerah Allah.
Apa artinya ketika manusia dikatakan memiliki kehendak bebas? Pengertian yang benar ialah bukan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih apa yang baik dan jahat, tetapi bahwa dia melalui kejahatan dengan sukarela dan tanpa paksaan. Jika demikian, kebebasan apakah yang ia miliki? Kebebasan kehendak dari seorang budak yang telah ditawan oleh kuasa dosa. Mengenai kehendak bebas ini, Augustinus tidak segan untuk menyebutnya sebagai “kehendak budak”,walaupun ia juga mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap orang yang menyangkal kehendak bebas untuk membebaskan diri mereka dari tanggung jawab perbuatan dosa mereka.
Augustinus menegaskan bahwa kehendak manusia itu tidak bebas karena ia tunduk kepada nafsunya. Kehendak yang telah ditawan oleh dosa ini tidak dapat berbuat apa-apa bagi kebenaran. Kehendak ini tidak bebas kecuali oleh anugerah Allah. Dan jika kita adalah budak dosa, mengapa kita menyombongkan diri dengan berkata memiliki kehendak bebas? Orang bisa saja mengatakan bahwa kehendaknya bebas, tetapi bukan yang dimerdekakan: ia bebas dari kebenaran dan diperbudak oleh dosa.
Selain Augustinus, para penulis lain umumnya menangani pokok masalah ini secara ambigu sehingga tidak ada sesuatu yang dapat dipelajari dari mereka. Kadang mereka mengajarkan kehendak telah demikian dirusak oleh dosa, sehingga manusia sepenuhnya bergantung kepada anugerah Allah, tetapi di lain kesempatan mereka menjelaskan manusia sepertinya memiliki segala kemampuan dari dirinya sendiri untuk melakukan apa yang benar. Dengan menyadari kengerian keadaan kita yang celaka, miskin dan telanjang ini, kita akan mendapatkan manfaat dari pengetahuan akan diri ini, karena mencegah kita untuk mengandalkan diri sendiri, sebaliknya hanya mengandalkan Tuhan semata-mata (Yer. 17:5 dan Mz. 147:10). Karena prinsip dasar agama ialah kerendahan hati, maka semakin sadar akan kelemahan kita, semakin kita mengandalkan anugerah Allah bagi kita. Doktrin ini mengingatkan kita untuk tidak bersandar kepada kebenaran kita sendiri, tetapi kepada kebenaran Allah, dan bahwa kita yang tidak apa-apanya ini hanya dapat bersandar kepada anugerah Allah untuk dapat melakukan apa yang benar dan berkenan kepada-Nya.
Karunia alamiah manusia, seperti rasio dan kehendak, walaupun mengalami kerusakan yang parah namun tidak hilang bersamakejatuhan. Karunia alamiah seperti rasio, itulah yang memampukan kita untuk membedakan yang benar dan salah, dan yang menjadikan kita makhluk rasional yang mengatasi binatang. Demikian juga kehendak kita tetap tidak terhapuskan oleh dosa. walaupun akibat kerusakannya yang parah ia kini
telah demikian terikat oleh keinginan-keinginan liar dan bukannya mencari apa yang benar.
Pengertian manusia dapat dibagi menjadi pengetahuan mengenai hal-hal bumi (berkenaan dengan kehidupan di bumi, seperti pemerintahan sipil, ekonomi domestik, semua keahlian teknis dan berbagai bidang ilmu dan hal-hal surgawi (pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya dan peraturan-Nya bagi kita supaya kita hidup sesuai dengan ini). Kemampuan untuk mendapatkan semua pengertian ini merupakan apa yang telah ditanamkan oleh Allah dalam diri kita. Walaupun kita tidak mampu mempelajari semua ilmu dan keahlian, tetapi kepada setiap orang Allah memberi keunggulan dalam bidang tertentu.
Semua kemampuan luar biasa yang ditunjukkan oleh para penulis dan filsuf kafir baik mengenai politik, hukum, matematika dan pengobatan, merupakan pencapaian yang sangat mengagumkan, namun semua itu harus kita akui berasal dari Allah, yang oleh Roh-Nya memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki, seperti ketika Ia memberikan kepada Bezaleel dan Aholiab kemampuan untuk membangun Kemah Suci (Kel. 31:2-11; 35:30-35). Karena itu, adalah hal yang berkenan Allah jika kita mempelajari fisika, logika, matematika dan berbagai bidang ilmu dan kaiya seni yang dikerjakan oleh orang-orang kafir dan menggunakan dalam cara memuliakan Allah. Semua karunia luar biasa yang menjadikan kita mengungguli binatang ini harus kita akui sebagai pernyataan kebaikan Allah dan mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya dan bukannya justru menyombongkan diri.
Karunia rohani untuk mengetahui yang benar dan salah telah hilang dan baru akan dipulhkani melalui kelahiran baru. Mengenai hikmat rohani yang terdiri dari pengetahuan akan Allah, kasih-Nya kepada kita dan hukum Allah, kita hanya memiliki pengertian yang sangat dangkal. Sebagian penjelasanpara filsuf mengenai Allah sepertinya memberikan pengetahuan mengenai Allah, tetapi semua itu hanyalah imajinasi manusia yang membingungkan. Rasio manusia tidak bisa mencapai kebenaran ilahi untuk mengenai Allah sejati itu. Berkenaan dengan hal-hal ilahi, pengertian kita gelap, buta dan bodoh. Sehingga untuk mengenai Allah dengan benar kita membutuhkan anugrah khusus Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, seperti dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, “tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya. kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yoh. 3:27), atau seperti kata Musa,“matamu telah melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar itu, tetapi sampai sekarang Tuhan tidak memberi kamu akal budi (hati) untuk mengerti” (Ul. 29:3-4). Tanpa iluminasi Roh Kudus, orang-orang ini tidak akan dapat mengerti kebenaran ilahi. Kristus juga mengkonfirmasikan hal ini ketika la menegaskan, bahwa tidak seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia (Yoh. 6:44). Tidak ada jalan masuk ke dalam kerajaan kecuali ia diperbarui oleh Roh Kudus. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini dengan jelas dalam l Korintus 2:14.
Dosa tidak sama dengan ketidaktahuan tetapi dapat disebabkan oleh delusi.Ketika Paulus menegaskan bahwa “dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka” (Rm. 2:14-15), ia mengatakan bahwa orang kafir telah mengetahui kebenaran hukum moral yang terukir dalam hati mereka, dan tidak sama sekali buta mengenai bagaimana mereka seharusnya hidup. Tetapi apa tujuan pengetahuan ini diberikan kepada manusia? “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan dihakimi oleh hukiun Taurat (Rm. 2:12). Karena tidak mungkin bagi orang kafir itu binasa tanpa pengetahuan akan benar dan salah, maka Paulus menunjukkan bahwa hati nurani mereka menyediakan tempat bagi hukum Taurat, karena itu cukup bagi penghakiman yang adil dan manusia tidak dapat berdalih. Dengan kata lain, hati nurani dapat menentukan apa yang benar dan yang salah sehingga manusia tidak dapat berdalih ketika kesalahannya dihakimi. Jadikita menolak pendapatPlato bahwa manusia berdosa karena ketidaktahuan. Betapa sering, orang sebenarnya sudah tahu apa yang lebih baik dan benar tetapi justru memilih melakukan yang salah dan buruk.
Kita tidak dapat menganggap setiap pertimbangan universal mengenai apa yang baik dan salah yang umumya diterirna orang banyak selalu benar dan sempurna. Jika kita memeriksa rasio kita dengan hukum Allah, yang merupakan hukum yang paling sempurna, maka kita akan menemukan banyak hal yang kita hargai adalah hal yang salah. Kita juga menolak pandangan mereka yang mengatakanbahwa semua dosa muncul dari kejahatan yang direncanakan. sebab ternyata kita sering melakukan kesalahan walaupun maksud kita itu baik. Rasio kita dipenuhi dengan penipuan dalam berbagai macam bentuk sehingga tidak mungkin dapat dijadikan sebagai penuntun yang pasti (2Kor. 3:5). Pikiran manusia telali jatuh dalam kesia-siaan (Mz 94:11; Kej. 6:5; 8:21). Dalam kebidupan betapa jelas pikiran kita selalu tertuju kepada hal-hal yang sia-sia.Bahkan setelah dilahirkan kembali kita masih perlu senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah, agar tidak tergelincir dari pengetahuan yang benar. Ini merupakan kesaksian dari Paulus (Kol. 1:9; Flp. 1:4) maupun Daud (Mz. 119:34).
Ketidakmampuan manusia dalam mengingini yang baik: Sekarang kita kembali memeriksa kehendak yang membuat pemilihan. Apakah kehendak kita dalam setiap bagiannya telah demikian dirusak sehingga tidak lagi menghasilkansesuatu yang baik kecuali kejahatan, atau ia masih mempertahankan sedikitbagian yang tidak tercemar yang dapat menjadi sumber keinginan baik. Mendasarkan pada Rm. 7:18-19, sebagian orang mengatakan bahwa kita dapat memiliki kemampuan untuk menginginkan yang baik, hanya terlalu lemah sehingga tidak dilakukannya. Tetapi ini merupakan penafsiran yang keliru, karena apa yang dimaksudkan Paulus dalam ayat itu ialah penjelasan mengenai konflik keinginan daging dan keinginan roh yang terus terjadi dalam batin orang Kristen. Ini sesuai dengan penegasan Kej. 8:21. bahwa apa yang dihasilkan hati manusia hanyalah kejahatan semata. Augustinus mengatakan: Akuilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu kita dapatkan dari Allah: bahwa segala kebaikan yang kita miliki adalah dari Dia. namun apa pun yang jahat berasal dari kita.” Dalam kata lain, ia mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang berasal dari kita, kecualidosa.”
Sumber:
Ready Bread Reformed Evangelical Daily Bible Reading, Artikel Mingguan Minggu ke 28, 29, 30.
Dikutip dari: http://www.geocities.com/thisisreformed/artikrl/institute_kehendakmanusia.html

Kesimpulan :
Baik Calvin maupun Calvinisme mengajarkan bahwa meskipun Allah telah menentukan segala sesuatu, manusia tetap mempunyai kebebasan didalam menggunakan akal budi, perasaan, dan kehendaknya. Akan tetapi semuanya itu berada di bawah kedaulatan dan otoritas Allah. Setelah jatuh manusia jatuh dalam dosa, maka kehendak bebasnya tertawan oleh kuasa dosa sehingga tidak mampu berbuat baik menurut standar Allah.
Jikalau ada bagian dari diri manusia (yang adalah hanya ciptaan Allah) terdapat sesuatu yang berada di luar kedaulatan dan otoritas Allah atau dengan kata lain kehendak bebas manusia berada di luar kontrol Allah maka Allah bukan lagi sebagai Allah, karena Dia tidak berdaulat dan berotoritas mutlak! Dan manusia akan menjadi semi allah atau allah-allah kecil yang dapat menentukan apapun yang mereka kehendaki tanpa ada yang mengendalikannnya bahkan Allah yang menciptakannya! Ajaran yang demikian jelas bertentangan dengan Alkitab. Sebaliknya, pandangan Dr. Suhento tentang kehendak bebas manusia sangat mirip dengan pandangan para filsuf sebelum dan semasa hidup John Calvin di atas!
(b) Saya tidak tahu sumber sejarah mana yang dibaca oleh Dr. Suhento sehingga mengambil kesimpulan bahwa John Calvin pernah memaksakan kehendaknya pada penduduk di kota Genewa. Yang jelas fitnahan terhadap John Calvin ini semata-mata didasari pada persepsi yang salah dari Dr. Suhento terhadap ajaran Calvin, bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Dan inilah fakta yang sebenarnya tentang John Calvin dan penduduk kota Genewa.
Bulan Juli 1536, Calvin tiba di Geneva.
“He intended to stop only a night, as he says, but Providence had decreed otherwise. It was the decisive hour of his life which turned the quiet scholar into an active reformer” (= Seperti katanya, ia bermaksud untuk berhenti hanya untuk satu malam, tetapi Providence telah menetapkan sebaliknya. Itu merupakan saat yang menentukan dari hidupnya yang mengubah pelajar pendiam itu menjadi tokoh reformasi yang aktif) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 347.
Di Geneva ini Calvin bertemu dengan William Farel. Sebelum melan-jutkan cerita tentang Calvin, ada baiknya kita mempelajari sedikit tentang Farel ini.
William Farel:
o Ia disebut sebagai ‘the pioneer of Protestantism in Western Switzerland’(= perintis Protestan di Swiss Barat) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.
o Ia adalah seorang penginjil keliling, selalu bergerak / bekerja tanpa henti-hentinya, seorang yang penuh dengan api / semangat dan keberanian, tetapi bukan seorang jenius seperti Luther atau Calvin. Dulunya ia adalah seorang Katolik yang sangat rajin dan bergairah, dan lalu menjadi seorang Protestan yang rajin dan bergairah.
o “He was a born fighter; he came, not to bring peace, but the sword. … He never used violence himself, except in language” (= Ia adalah seorang yang lahir sebagai seorang pejuang; ia datang, bukan untuk membawa damai, tetapi pedang. … Ia sendiri tidak pernah menggunakan keke-rasan, kecuali dalam bahasa / kata-kata) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 237.
o Ia sampai di Geneva tahun 1532, dan dalam melakukan penginjilan terhadap orang Katolik, timbul keributan. Ia lalu dipanggil ke rumah Abbe de Beaumont, wakil pemimpin keuskupan. Seseorang lalu berkata / bertanya dengan nada menghina: “Come thou, filthy devil, are thou baptized? Who invited you hither? Who gave you authority to preach?” (= Datanglah, setan kotor, apakah engkau dibaptis? Siapa mengundang engkau ke sini? Siapa memberimu otoritas untuk berkhotbah?).
Farel menjawab:
“I have been baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Ghost, and am not a devil. I go about preaching Christ, who died for our sins and rose for our justification. Whoever believes in him will be saved; unbelievers will be lost. I am sent by God as a messenger of Christ, and am bound to preach him to all who will hear me. I am ready to dispute with you, and to give an account of my faith and ministry. Elijah said to King Ahab, ‘It is thou, and not I, who disturbest Israel’. So I say, it is you and yours, who trouble the world by your traditions, your human inventions, and your dissolute lives” (= Aku dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan aku bukan setan. Aku berkeliling untuk mengkhot-bahkan Kristus, yang mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit untuk pembenaran kita. Barangsiapa percaya kepadaNya akan diselamatkan; orang tidak percaya akan terhilang. Aku diutus oleh Allah sebagai utusan Kristus, dan harus mengkhotbahkan Dia kepada semua yang mau men-dengarku. Aku siap untuk berdebat dengan engkau, dan mempertang-gungjawabkan iman dan pelayananku. Elia berkata kepada raja Ahab, ‘Adalah kamu, dan bukan aku, yang mengganggu Israel’. Jadi aku berkata, adalah kamu dan milikmu, yang menyusahkan dunia dengan tradisimu, penemuan-penemuan manusiamu, dan hidupmu yang tidak dikekang).
Para pastor tidak berkeinginan berdebat dengan Farel, karena tahu bahwa mereka akan kalah. Tetapi seorang berkata: “He has blasphemed; we need no further evidence; he deserves to die” (= Ia telah menghujat; kita tidak membutuhkan lebih banyak bukti; ia layak mati).
Farel menjawab: “Speak the words of God, and not of Caiaphas” (= Ucap-kanlah firman / kata-kata Allah, dan bukan kata-kata Kayafas).
Ini menyebabkan ia dipukuli dan bahkan ditembak – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 243-244..
o “Oecolampadius praised his zeal, but besought him to be also moderate and gentle. ‘Your mission,’ he wrote to him, ‘is to evangelize, not a tyrannical legislator. Men want to be led, not driven’” (= Oecolampadius memuji semangatnya, tetapi memintanya untuk juga menjadi lunak dan lembut. ‘Misimu,’ ia menulis kepadanya, ‘adalah untuk menginjili, bukan menjadi pemerintah yang bersifat tirani. Manusia ingin dipimpin, bukan dipaksa / didorong’) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 238.
o “Farel’s work was destructive rather than constructive. He could pull down, but not build up. He was a conqueror, but not an organizer of his conquests; a man of action, not a man of letters; an intrepid preacher, not a theologian. He felt his defects, and handed his work over to the mighty genius of his younger friend Calvin” (= Pekerjaan Farel lebih bersifat merusak dari pada membangun. Ia bisa merobohkan, tetapi tidak bisa membangun. Ia adalah seorang pemenang / penakluk, tetapi bukan seorang yang bisa mengorganisir orang yang ditaklukkannya; orang yang banyak bekerja, bukan yang banyak belajar / berpikir; seorang peng-khotbah yang berani, bukan seorang ahli theologia. Ia merasakan kekurangan-kekurangannya, dan menyerahkan pekerjaannya kepada temannya yang lebih muda, yang sangat jenius, yaitu Calvin) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 239.
Dalam pertemuan Calvin dengan Farel, secara naluri Farel merasakan bahwa Calvin memang disediakan Allah untuk meneruskan dan menyela-matkan reformasi di Geneva.
Mula-mula Calvin menolak permintaan Farel untuk menetap di Geneva, dengan alasan bahwa ia masih muda, ia masih perlu belajar, dan juga rasa takut dan malunya yang alamiah yang menyebabkan ia tidak cocok untuk melayani banyak orang. Tetapi semua alasan ini sia-sia. Philip Schaff mengatakan:
“Farel, ‘who burned of a marvelous zeal to advance the Gospel,’ threatened him with the curse of Almighty God if he preferred his studies to the work of the Lord, and of his own interest to the cause of Christ. Calvin was terrified and shaken by these words of the fearless evangelist, and felt ‘as if God from on high had stretched out his hand’. He submitted, and accepted the call to the ministry, as teacher and pastor of the evangelical Church of Geneva” (= Farel, ‘yang berapi-api dengan semangat yang mengagumkan terhadap kemajuan Injil,’ mengancamnya dengan kutuk dari Allah yang mahakuasa kalau ia mengutamakan pelajarannya lebih dari pekerjaan Tuhan dan kesenang-annya sendiri lebih dari aktivitas / gerakan Kristus. Calvin sangat ketakutan dan gemetar karena kata-kata dari penginjil yang tak kenal takut ini, dan merasa ‘seakan-akan Allah dari atas mengulurkan tanganNya’. Ia tunduk / menyerah, dan menerima panggilan pelayanan, sebagai guru dan pendeta dari gereja injili di Geneva) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 348.
Dr. W. F. Dankbaar menceritakan hal ini sebagai berikut:
“Calvin menampik dan berkata, bahwa bukan itu rencananya. Ia ingin belajar lebih banyak lagi dan ia mau menulis. Untuk pekerjaan praktis, ia merasa diri tidak sanggup. Lebih dulu ia harus memperdalam ilmunya. Yang perlu baginya ialah: ketenangan hidup dan pikiran. Lalu ia meminta: ‘Kasihanilah saya dan biarkanlah saya mengabdikan diri saya kepada Tuhan dengan cara lain’. Tiba-tiba meloncatlah Farel. Dibekuknya bahu Calvin lalu berteriak dengan suara yang gemuruh: ‘Hanya ketenanganmu yang saudara pentingkan? Kalau begitu, saya atas nama Allah yang Mahakuasa menyatakan di sini: kehendakmu untuk belajar adalah alasan yang dibuat-buat. Jika saudara menolak menyerahkan diri saudara untuk bekerja dengan kami – Allah akan mengutuk saudara, sebab saudara mencari diri sendiri, bukan mencari Kristus!’. Calvin gemetar. Ini bukan Farel lagi yang bicara, ini adalah suara Tuhan. ‘Saya merasa disergap, tidak hanya karena permintaan dan nasehat, melainkan karena dalam kata-kata Farel yang sangat mengancam itu seolah-olah Allah dari surga meletakkan tanganNya dengan paksa di atasku’. Terlalu besar kuasa itu rasanya, lalu iapun menyerah” – ‘Calvin, Jalan Hidup dan Karyanya’, hal 41-42.
Dalam pelayanan Calvin di Geneva itu, mula-mula pelayanan Calvin diterima dengan baik. Tetapi melihat kehidupan moral orang Geneva yang jelek, maka Calvin menulis ‘a popular Catechism’, dan Farel, dengan bantuan Calvin, menulis‘a Confession of Faith and Discipline’. Buku yang kedua ini mencakup pentingnya pendisiplinan dan pengucilan / siasat gerejani. Kedua buku ini diterima oleh sidang gereja Geneva pada bulan November 1536.
Sekalipun mula-mula orang-orang Geneva menerima dan tunduk pada kedua buku itu, tetapi karena disiplin itu mereka anggap terlalu keras, akhirnya mereka menentangnya. Ini menyebabkan Calvin dan Farel diusir dari Geneva pada tahun 1538.
Sepeninggal Calvin dan Farel, Geneva justru menjadi kacau balau, se-hingga akhirnya Geneva memanggil Calvin, yang pada waktu itu menetap di Strassburg, untuk kembali. Pada mulanya, selain Strassburg tidak ingin kehilangan Calvin, Calvin sendiri sama sekali tidak ingin kembali.
“‘There is no place in the world,’ he wrote to Viret, ‘which I fear more; not because I hate it, but because I feel unequal to the difficulties which await me there’. He called it an abyss from which he shrank back much more now than he had done in 1536″ (= ‘Tidak ada tempat di dunia,’ ia menulis kepada Viret, ‘yang lebih aku takuti; bukan karena aku membencinya, tetapi karena aku merasa tidak memadai terhadap kesukaran-kesukaran yang menung-guku di sana’. Ia menyebutnya sebagai jurang yang sekarang lebih ia takuti / jauhi dari pada yang ia lakukan pada tahun 1536) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Tetapi Philip Schaff juga menambahkan:
“At the same time, he was determined to obey the will of God as soon as it would be made clear to him by unmistakable indications of Providence. ‘When I remember,’ he wrote to Farel, ‘that in this matter I am not my own master, I present my heart as a sacrifice and offer it up to the Lord’” (= Pada saat yang sama, ia memutuskan untuk mentaati kehendak Allah begitu hal itu menjadi jelas baginya oleh petunjuk yang tak bisa salah dari Providence. ‘Pada saat aku ingat,’ ia menulis kepada Farel, ‘bahwa dalam persoalan ini aku bukanlah tuan dari diriku sendiri, aku memberikan hatiku sebagai suatu korban dan mempersembahkannya kepada Tuhan) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Farel juga mendesak Calvin untuk mau kembali ke Geneva.
“Farel’s aid was also solicited. With incomparable self-denial he pardoned the ingratitude of the Genevese in not recalling him, and made every exertion to secure the return of his younger friend, whom he had first compelled by moral force to stop at Geneva. He bombarded him with letters. He even travelled from Neuchatel to Strassburg, and spent two days there, pressing him in person and trying to persuade him, …” (= Bantuan Farel juga diminta. Dengan penyang-kalan diri yang tidak ada bandingannya ia mengampuni rasa tak tahu berte-rima kasih dari orang-orang Geneva yang tidak memanggilnya kembali, dan membuat setiap usaha untuk mengembalikan temannya yang lebih muda, yang mula-mula ia paksa untuk berhenti di Geneva. Ia membombardir Calvin dengan surat. Ia bahkan melakukan perjalanan dari Neuchatel ke Strassburg, dan melewatkan dua hari di sana, menekannya secara pribadi dan mencoba untuk membujuknya, …) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 431.
“Farel continued to thunder, and reproached the Strassburgers for keeping Calvin back. He was indignant at Calvin’s delay. ‘Will you wait,’ he wrote him, ‘till the stones call thee?’” (= Farel terus mengguntur, dan mencela orang-orang Strassburg karena menahan Calvin. Ia jengkel karena penundaan Calvin. ‘Apakah kamu kamu menunggu,’ tulisnya kepada Calvin, ‘sampai batu-batu memanggilmu?’) – Philip Schaff,‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 429.
Akhirnya, pada tanggal 13 September 1541, Calvin kembali ke Geneva, dan pada tanggal 16 September 1541, ia menulis surat kepada Farel:
“Thy wish is granted, I am held fast here. May God give his blessing” (= Keinginanmu dikabulkan, sekarang aku terikat di sini. Kiranya Allah memberikan berkatNya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.
Philip Schaff berkata:
“Never was a man more loudly called by government and people, never did a man more reluctantly accept the call, never did a man more faithfully and effectively fulfil the duties of the call than John Calvin when, in obedience to the voive of God, he settled a second time at Geneva to live and to die at this post of duty” (= Tidak pernah ada orang yang dipanggil lebih keras oleh pemerintah dan masyarakat, tidak pernah ada orang yang menerima panggilan dengan begitu segan, tidak pernah ada orang yang memenuhi tugas panggilan dengan lebih setia dan effektif dari pada John Calvin, pada waktu, dalam ketaatan pada suara Allah, ia tinggal / menetap untuk kedua-kalinya di Geneva untuk hidup dan mati di tempat tugasnya ini) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 437.
“Calvin had labored in Geneva twenty-three years after his second arrival, – that is, from September, 1541, till May 27, 1564, – when he was called to his rest in the prime of manhood and usefulness, …” (= Calvin bekerja 23 tahun di Geneva setelah kedatangannya yang kedua, – yaitu mulai September 1541 sampai 27 Mei 1564, – pada waktu ia dipanggil kepada peristirahatannya pada puncak kemanusiaan dan kegunaannya) – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.
“He continued his labors till the last year, writing, preaching, lecturing, attending the sessions of the Consistory and the Venerable Company of pastors, entertaining and counselling strangers from all parts of the Protestant world, and corresponding in every direction. He did all this notwithstanding his accumulating physical maladies, as headaches, asthma, dyspepsia, fever, gravel, and gout, which wore out his delicate body, but could not break his mighty spirit. When he was unable to walk he had himself transported to church in a chair” (= Ia meneruskan pekerjaannya sampai tahun terakhir, menulis, berkhotbah, mengajar, menghadiri sidang gereja dan kumpulan pendeta terhormat, menghibur dan menasehati orang-orang asing dari seluruh penjuru dunia Protestan, dan surat-menyurat dalam semua arah. Ia melakukan semua ini sekalipun penyakit-penyakit fisiknya bertumpuk-tumpuk, seperti sakit kepala, asma, pencernaan yang terganggu, demam, batu ginjal, dan sakit dan bengkak pada kaki dan tangan, yang melelahkan tubuhnya yang lemah, tetapi tidak bisa menghancurkan rohnya / semangat-nya yang kuat. Pada waktu ia tidak bisa berjalan, ia menyuruh orang mengangkatnya ke gereja di sebuah kursi) – Philip Schaff,‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 820.
Calvin mati karena asma pada tanggal 27 Mei 1564, di Geneva, pada usia hampir 56 tahun – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 274.
“Farel, then in his eightieth year, came all the way from Neuchatel to bid him farewell, although Calvin had written to him not to put himself to that trouble. He desired to die in his place. Ten days after Calvin’s death, he wrote to Fabri (June 6, 1564): ‘Oh, why was not I taken away in his place, while he might have been spared for many years of health to the service of the Church of our Lord Jesus Christ!’” [= Farel, yang saat itu berusia 80 tahun, datang dari Neuchatel untuk mengucapkan selamat jalan, sekalipun Calvin telah menulis kepadanya untuk tidak melakukan hal itu. Ia ingin mati menggantikan Calvin. 10 hari setelah kematian Calvin, ia menulis kepada Fabri (6 Juni 1564): ‘O, mengapa bukan aku yang diambil sebagai ganti dia, sementara ia bisa tetap hidup sehat untuk waktu yang lama untuk melayani Gereja Tuhan Yesus Kristus’] – Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 822.
Sumber : Pdt. Budi Asali – Calvinisme yang Difitnah
Dari fakta sejarah ini jelaslah bahwa John Calvin tidak pernah memaksakan kehendaknya pada orang-orang Genewa. Memang mereka pernah menolak Calvin, tetapi penolakan ini terjadi bukan karena Calvin memaksakan kehendaknya pada mereka, tetapi karena mereka tidak mau kehidupan moral mereka yang jelek diperbaruhi oleh ajaran Calvin. Bukti bahwa orang-orang Genewa meminta Calvin kembali ke Genewa dan ia melayani di disana selama 23 tahun (sampai meninggalnya) menunjukkan bahwa orang-orang Genewa (yang oleh Dr. Suhento dianggap dipaksa oleh Calvin) sangat menghargai dan menghormati Calvin.
Dengan melihat fakta ini, maka pernyataan bahwa John Calvin memaksakan kehendaknya pada penduduk Genewa adalah suatu fitnah yang sangat keji dan tidak pada tempatnya.

9 Fitnahan terhadap Calvinisme dari Dr. Suhento dan Jawabannya Bag. 4

Fitnah III
John Calvin, demikian juga dengan John Owen pengikut setianya, manekankan tujuan penciptaan adalah untuk kemuliaan Allah terasa agak mengusik karena seolah-olah Allah kurang mulia sebelum menciptakan manusia. ……….. Yang lebih tepat adalah Allah menciptakan makhluk pribadi, dan ingin mendapatkan sikap positif …….yang timbul dari hati tiap-tiap pribadi, bukan yang ditentukan oleh Allah. (NB: dari uraian sebelumya sikap positif yang dimaksud adalah mencintai Allah).
(Pedang Roh No. 55 hal 02 kolom 3 baris 1 – 16)
Tanggapan:
(a) Benarkah tujuan penciptaan Allah untuk kemuliaan Allah semata-mata ajaran Calvin atau Allah sendiri yang menyatakannya? Benarkah kita memuliakan Allah karena Allah kurang mulia?
(b) Apakah manusia dapat mencintai Allah dengan sendirinya?
(c) Apakah ada sesuatu dari manusia yang berada di luar rencana dan ketentuan Allah?
Dan ….. Inilah yang sebenarnya!
(a) Tujuan manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah ternyata bukan ajaran John Calvin semata, tetapi langsung dinyatakan oleh Allah sendiri:
Yesaya 43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”
1 Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya ituuntuk kemuliaan Allah.
Untuk apakah kita melakukan segala sesuatu? Jelas hanya untuk Kemuliaan Allah
Rom 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa tujuan akhir dari penciptaan adalahkemuliaan bagi Allah.
Jadi, kalau Dr. Suhento ingin berbantah, berbantalah pada Allah, bukan padaJohn Calvin karena Calvin hanya menyatakan apa yang Allah nyatakan Sendiri.
kita memuliakan Allah karena memang Allah itu Mahamulia. Jika kita percaya bahwa Allah itu Mahamulia tetapi tujuan hidup kita tidak memuliakan-Nya, berarti kita manusia / ciptaan yang tidak tahu diri. Kalau presiden, raja, duta besar dari negara-negara lain saja, kita muliakan, masakkan Allah, Raja dari segala raja, Pencipta mereka, tidak kita muliakan?
Memuliakan sesuatu yang kurang mulia adalah tindakan yang bodoh, tetapi memuliakan Allah Yang Mahamulia adalah tindakan bijaksana dan mulia!
Jadi, kita memuliakan Allah bukan karena Allah kurang mulia tetapi justru karena Allah Mahamulia maka wajib dan harus kita muliakan!
Psa 72:19 Dan terpujilah kiranya nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dankiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin.
(b) Sekarang mari kita bandingkan dengan ajaran Dr. Suhento.
Adakah ayat di Alkitab (baik yang eksplisit maupun emplisit) yang menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia agar manusia dapat mencintai Allah dengan kehendak bebasnya tanpa penentuan Allah atau campur tangan Allah? PASTI TIDAK ADA
Pernyataan bahwa kita dapat melakukan sesuatu di luar penentuan Allah membuat kita lebih tinggi dari sekedar ciptaan Allah dan menurunkan kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu (termasuk manusia walaupun manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah).
Apa kata Alkitab?
Mazmur 31:23 (31-24) Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!
Ulangan 30:6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.
Jadi jelas bahwa manusia tidak dapat mencitai Tuhan kalau Tuhan tidak terlebih dahulu bertindak (mengasihi ) manusia!
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.
Dari dua ayat di atas sudah jelas bahwa Tuhanlah yang menentukan jalan hidup manusia dan sebaliknya manusia dengan kehendak bebasnya tidak dapat menentukan jalan hidupnya senidiri. Tanpa anugerah Tuhan manusia itu bukan apa-apa, untuk itu janganlah kita sombong seolah-olah dengan kehendak bebas kita, kita benar-benar bebas dapat menentukan hidup kita sesuka hati kita.
Kehendak bebas kita tetap berada di bawah kedaulatan Allah yang mutlak, tetapi keberadaanya tetap sejajar sehingga tidak bisa satukan oleh pengertian manusia yang terbatas ini. Artinya, dengan kedaulatan-Nya yang mutlak atas hidup kita, bukan berarti Allah melanggar kehendak bebas yang sudah diberikan kepada kita. Akal kita yang sangat terbatas ini tidak akan mampu memahahi kebenaran Allah yang tidak terbatas tersebut. Tetapi Dr. Suhento mau mencoba memahaminya dan mengompromikan dua kebenaran tersebut dengan cara merendahkan kedaulatan Allah dan meninggikan kehendak bebas manusia.
2 Korintus 3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah supaya kita dapat mencermikan kemuliaan Allah (termasuk di dalamnya kasih, keadilan, kekudusan Allah, dsb). Setelah manusia jatuh dalam dosa, cermin itu rusak sehingga bayangan (image) Allah tidak bisa terbentuk dengan baik pada manusia. Dan untuk itulah Kristus datang untuk memperbaiki “cermin” tersebut sehingga manusia dapat memantulkan kembali kemuliaan Allah.
Apakah Allah yang sudah sempurna di dalam kasih (ketiga pribadi Allah Tritunggal saling mengasihi dengan kasih yang sempurna) masih perlu kasih dari manusia ciptaaan-Nya?
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah justru supaya manusia dapat menjadi objek kasih Allah, bukan sebagai subjek kasih!
1 Yohanes 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Nah, mana yang Alkitabiah, manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah dan menjadi objek kasih Allah, atau manusia diciptakan karena Allah menghendaki kasih / cinta dari manusia berdasarkan kehendak bebas manusia?

Fitnah IV
“Mayat “dapat bawa mobil!

a) Benarkah bahwa John Calvin dan Calvinisme mengajarkan bahwa manusia berdosa kehilangan kemampuan akal budinya sehingga manusia seperti mayat yang dapat membawa mobil dan membangun kota?
b) Apakah doktrin kematian rohani dari Jhon Calvin dan Calvinisme tidak Alkitabiah?
Baca kembali bantahan Fitnah II
Menurut Calvin, pada dasarnya manusia mempunyai karunia alamiah dan karunia rohani. Karunia alamiah menyangkut kemampuan rasio dan kehendak. Kemampuan rasio mencakup pengetahuan akan hal-hal bumi (kehidupan di bumi seperti IPA, matematika, pemerintahan, ekonomi, dsb) dan pengetahuan akan hal-hal surgawi ( pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya, hukum-hukum-Nya, dsb). Pada saat manusia jatuh dalam dosa kemampuan alamiah ini TIDAK HILANG / MATI. Tetapi masih ada dalam diri manusia walaupun sangat terbatas sehingga manusia masih mempunyai rasio untuk berpikir, membangun gedung-gedung pencakar langit, pergi ke ruang angkasa dan sebagainya. Kehendak manusia juga tidak hilang. Ia masih dapat mengingini dan melakukan sesuatu menurut kehendaknya walaupun sudah dikuasai oleh dosa.
Nah, yang hilang / mati adalah karunia rohani manusia. Manusia tidak mampu lagi mengetahui yang baik dan salah menurut standar Allah. Keinginan untuk melakukan hal yang baik menurut standar Allah juga sudah mati.
Marilah kita lihat apa kata Firman Tuhan tentang kondisi rohani manusia yang sudah jatuh dalam dosa (mati rohani).
Roma 3: 9-18
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”
Inilah keadaan orang berdosa ( mati rohaninya)
1) Tidak ada yang benar
Yesaya 53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
Titus 3:3 Karena dahulu (sebelum dilahirkan kembali) kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
Tidak ada manusia yang benar tentu saja bermula dari tidak adanya kemampuan untuk memilih yang benar (kebenaran yang dimaksud disini adalah kebenaran menurut standar Alah bukan menurut standar manusia)
2) Tidak ada yang berakal budi dan mencari Allah
TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (Mazmur 14:2,3)
Yang dimaksud akal budi disini bukanlah akal untuk berpikir tentang berbagai ilmu pengetahuan tetapi akal untuk mengetahui tentang Allah yang sebenarnya / sejati. Karena kemampuan untuk tahu saja tidak ada kama konsekuen logisnya mereka tidak akan mencari Allah.
Lalu, bagaimana dengan agama-agama di luar Kristen? Bukankah mereka juga mencari Allah?
Benar, tetapi Allah yang mana? Allah yang mereka cari dan kenal adalah allah menurut konsep, imaginasi dan pengertian mereka sendiri dimana akal dan pikiran mereka sudah tumpul dan tercemar oleh dosa sehingga tidak mampu untuk mengetahui Allah yang benar.
Menurut Firman Tuhan, bukan manusia yang mencari Allah, tetapi justru Allahlah yang mencari manusia.
3) Tidak ada yang berguna dan berbuat baik.
Yesaya 64: 6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor,
Menurut pandangan Allah, segala suatu yang dilakukan di luar Kristus adalah sia-sia / tidak berguna. Apa yang dianggap sebagai perbuatan baik (menolong sesama, beribadah, dsb) hanyalah seperti kain kotor (tercemar dan ternoda) yang dalam bahasa aslinya maaf .. seperti caiaran menstruasi .. najis dan menjijikkan!
4) Tidak ada yang mempuyai rasa takut pada Allah!
Apakah yang dapat dibanggakan dari manusia berdosa seperti ini?
– cintanya kepada Allah? TIDAK! Mengenal saja tidak bisa, apalagi mencintai-Nya.
– Percaya kepada Allah? JUGA TIDAK! Bagaimana bisa percaya, mencari saja tidak!
Jadi, kalau kita bisa mengenal Allah dan Percaya / beriman kepada-Nya, itu semata-mata karena anugerah ( Sola Gratia)
Bagi orang yang berpandangan bahwa percaya / iman mendahului kelahiran kembali, keadaan orang berdosa seperti ini perlu dipertimbangkan baik-baik!
Dari uraian di atas jelaslah bahwa Dr. Suhento salah menilai ajaran John Calvin dan Teologi Reformed. Menurut Dr. Suhento ajaran mati rohani John Calvin adalah mati akal / pikiran dan perasaan / kehendak sehingga ia mengejek dengan “mayat kok bisa menyetir mobil dan membangun kota! Padahal kematian rohani John Calvin dan teologi Reformed sama sekali berbeda!
Perbedaan pokok antara Calvin dan kaum Reformed dengan Dr. Suhento Cs adalah pada penilaian sifat dasar manusia. Calvin dan kaum Reformed berpandangan bahwa pada dasarnya manusia keturunan Adam mempunyai sifat dasar sebagai orang berdosa yang merupakan konsekuensi dari kejatuhan Adam, sehingga sekalipun belum dilahirkan ia sudah dalam keadaan dosa:
Mazmur 54 : 1 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kejadian 6: 5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
Kej 8:21b “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”
Dapatkah sumber air yang kotor dapat mengeluarkan air yang jernih? TIDAK BISA
Untuk dapat merespon Kasih Allah dan taat kepada Allah manusia yang berdosa ini memerlukan roh yang baru dan hati yang berbeda :
Yehezkiel 11:19 Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,
Atau dalam Perjanjian Baru dikenal sebagai kelahiran kembali.
Sedangkan menurut Dr. Suhento cs, manusia pada dasarnya baik. Dosa tidak begitu mempengaruhi sifat manusia. Dosa hanya pada permukaan sedangkan bagian yamg paling dalam pada manusia pada dasarnya baik sehingga manusia masih bisa merespon kasih Allah dan taat pada Allah tanpa campur tangan Allah. Ajaran seperti ini cocok dengan pandangan kaum Humanis yang memang menjunjung tinggi manusia lebih tinggi dari sekedar ciptaan Tuhan yang sudah memberontak pada penciptanya.

Fitnah V
Allah Jhon Calvin dan Calvinisme adalah Allah yang sinting!

Fitnah keji di atas muncul karena Dr. Suhento menganggap bahwa tujuan Jhon Calvin dan Calvinis mengabarkan Injil adalah agar orang-orang yang tidak percaya (mayat rohani) memberi respon terhadap kasih Allah yang ditawarkan kepada mereka. TETAPI INI BUKAN TUJUAN PENGINJILAN CALVINIS.
Tujuan memberitakan Injil bukan untuk meminta respon orang yang tidak percaya (mayat rohani), karena mereka tidak akan mungkin memberi respon, tetapi UNTUK MEMBERITAKAN FIRMAN TUHAN YANG DISERTAI KARYA ROH KUDUS YANG BERKUASA MENGHIDUPKAN KEMBALI MAYAT-MAYAT ROHANI SEHINGGGA ORANG-ORANG YANG SUDAH DIPILIH DAN DITENTUKAN SEJAK SEMULA MENJADI PERCAYA KEPADA INJIL DAN DISELAMATKAN. I
Kisah Para Rasul 13: 47-49
Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.
Berdasarkan firman Tuhan di atas, orang yang dapat percaya kepada Tuhan Yesus itu sudah ditentukan terlebih dulu oleh Allah! Untuk mendapatkan hidup kekal yang telah disediakan oleh Allah, orang tersebut harus percaya kepada berita Injil. Untuk dapat percaya mereka perlu dilahirkan kembali. Untuk proses kelahiran kembali mereka harus mendengar firman Tuhan. Untuk dapat mendengar firman Tuhan maka perlu ada orang yang membawa / memberitakannya. INILAH DASAR / ALASAN JHON CALVIN DAN CALVINIS MEMBERITAKAN INJIL.
Roma 10:14
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Jadi, Jhon Calvin mengabarkan Injil kepada “mayat-mayat rohani” bukan agar mereka merespon pemberitaan tersebut (jelas tidak mungkin) tetapiagar firman Tuhan dengan karya Roh Kudus tersebut menghidupkan “mayat-mayat” yang telah ditentukan Allah untuk mendapat hidup yang kekal.
1Pe 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
Jadi, ALLAH YANG MENGUTUS JHON CALVIN DAN CALVINIS BUKAN PRIBADI YANGSINTING TETAPI PRIBADI YANG PENUH KASIH DAN PENUH ANUGERAH KARENA MAU MENGHIDUPKAN KEMBALI ORANG-ORANG YANG PADA DASARNYA TIDAK LAYAK DAN TIDAK PANTAS UNTUK DIHIDUPKAN KEMBALI, DAN ADALAH KEHORMATAN YANG SANGAT BESAR JIKALAU KAMI DIJADIKAN SEBAGAI ALAT UNTUK MEWUJUDKAN KASIH DAN ANUGERAHNYA TERSEBUT!
Lalu, siapa sebenarnya yang sinting?

Fitnah VI
Ajaran bahwa kelahiran baru terjadi mendahului iman dari John Calvin dianggap tidak Alkitabiah!

Sebaliknya Dr. Suhento menyatakan bahwa yang Alkitabiah adalah iman mendahului kelahiran baru!

Mari kita lihat apa kata Alkitab yang sebenarnya!
a) Bantahan atas tafsiran Dr. Suhento
Yohanes 1:
10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
12 (a) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, (b)yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Mari kita cermati Firman Tuhan di atas!
Ayat 10 dan 11 menyatakan bahwa dunia dan umat kepunyaan-Nya tidak mengenal dan tidak menerima Tuhan. Tetapi mengapa pada ayat 12 tiba-tiba ada orang-orang yang menerima-Tuhan padahal pada ayat-ayat sebelumnya dikatakan bahwa mereka tidak mengenal dan menerima-Nya? Apa yang menyebabkan perubahan ini?
Jawabannya ada pada ayat 12b dan 13. Kalau kita baca berurutan, maka ada sebab akibat dengan urutan yang terbalik yaitu dari belakang ke depan. Orang – orang yang menerima-Nya adalah orang-orang yang percaya dalam nama-Nya, orang-orang yang percaya adalah orang-orang sudah dilahirkan baru dari Allah.
Menerima Kristus  Percaya  Lahir baru
Ket.  dibac a “karena”
Urutan di atas juga sesuai dengan pola kalimat DM (kata / kalimat di bagian belakang menerangkan kata / kalimat yang ada di depannnya)
Jelasnya, pada dasarnya manusia yang sudah berdosa dan dikuasi oleh tabiat dosa pada hakekatnya tidak dapat mengenal dan menerima Allah yang menyelamatkan (walaupun secara kognitif mereka tahu tentang Allah). Allah harus melahirkan baru orang tersebut sehingga dapat mengenal, percaya dan menerima Tuhan yang benar dan menyelamatkannya.
(lihat juga bantahan fitnah IV).
Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Tanpa hati dan roh yang baru dari Allah, kita tidak mungkin bisa percaya, menerima dan taat pada Tuhan!
Kalau menurut Dr. Suhento : percaya  menerima Kritus  Lahir baru
Urutan seperti ini jelas merusak pola kalimat dan mengacaukan pola pikir dari Yohanes. Kalau urutan Dr. Suhento yang benar, maka ayat 13 seharusnya diletakkan sebelum ayat 12(a) dan sebaliknya ayat 12(b) diletakkan setelah ayat 13. Tetapi mengapa Yohanes tidak menulis seperti itu? Karena urutan seperti ini sama dengan menyatakan orang buta yang tiba-tiba bisa melihat tanpa disembuhkan terlebih dahulu dari kebutaanya. Bisakah? Mustahil.
Mari kita lihat apa kata Tuhan Yesus:
Yohanes 3:
3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
5. Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
Ayat 3 dan 5
Tanpa kelahiran kembali, kita bukan hanya tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, melihat saja-pun tidak dapat. Pertanyaanya adalah bagaimana kita dapat merespon Cahaya Ilahi (Firman Tuhan) jika kita tidak bisa melihat-Nya? Untuk dapat meresponnya mata kita harus dicelikkan terlebih dahulu, kita harus dilahirkan kembali!
Ayat 7 – 12 juga sangat jelas bahwa syarat agar Nikodemus dapat percaya dan menerima kesaksian tentang Kerajaan Allah adalah harus dilahirkan kembali terlebih dahulu!
Sekarang apa kata para rasul?
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana iman dapat timbul dari firman Kristus / Tuhan?
Rasul Petrus menjawab pertanyaan tersebut:
1Pe 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.
Jadi, proses firman Tuhan yang menimbulkan iman adalah firman Allah (dengan karya Roh Kudus)  melahirkan kembali  iman dan taat.
Dalam perumpaan-perumpaan–Nya, Tuhan Yesus sering mengibaratkan firman dengan benih dan kita tahu bahwa benih merupakan cikal bakal dari adanya tanaman baru sehingga tanaman baru tersebut akan mengasilkan buah!
Satu lagi:
Titus 3:
3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,
5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
Dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa kita diselamatkan oleh kelahiran kembali / diperbaharui oleh Roh Kudus pada saat kita masih dalam keadaan tersesat dan berdosa. Bukan seperti ajaran Dr. Sehento :
Tersesat / berdosa  bertobat  percaya  lahir baru.
Alkitab selalu menyatakan bahwa karya Roh Kudus dalam menyelamatkanterjadi saat kita masih dalam keadaan berdosa, sebab tanpa kelahiran kembali oleh Roh Kudus kita tidak mungkin bisa bertobat dan percaya kepada Tuhan. Inilah anugerah Allah sejati. Kalau iman manusia yang membuat orang lahir baru, maka keselamatan bukan anugerah, tetapi anugerah + respon manusia (perbuatan baik)
Efesus 2:8,9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
b) Bagiamana dengan Efesus 1: 13?
Untuk lebih jelasnya saya tuliskan sampai ayat 14.
13 Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Saya tidak tahu mengapa Dr. Suhento mengaitkan kata dimeteraikan dengan Roh Kudus dengan kelahiran kembali? Padahal dengan melihat kata aslinya (σφραγίζω / sphragizō yang berarti segel, tanda, jaminan keamanan) dan ayat 14 jelas bahwa yang dimaksudkan dengan dimateraikan dengan Roh Kudus adalah bahwa Roh Kudus akan terus berdiam dan bekerja / berkarya dalam hidup kita sehingga keselamatan kita itu benar-benar terjamin dan aman . Ingat, Tuhan Yesus pernah berjanji bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus untuk menolong dan menyertai orang percaya selama-lamanya!
Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.
Jadi urutan keselamatan:
Dipilih  Firman Allah+karya Roh Kudus  Lahir baru  percaya / iman  ditolong / disertai Roh Kudus sampai mencapai kesempurnaan keselamatan.
Kesimpulannya, ketika Roh Kudus melahirkan kembali seseorang Ia terus aktif bekerja dan berkarya dalam orang tersebut sampai selama-lamanya sebagai jamaninan bahwa orang tersebut telah benar-benar menjadi Anak Allah dan diselamatkan.
Roma 8:29, 30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Perhatikan lima tindakan aktif Allah di dalam menyelamatkan semua orang pilihan-Nya. Adakah unsur dari manusia yang terlibat di dalamnya? Tidak ada. Keselamatan adalah tindakan aktif Allah atas manusia yang berdosa. Inilah anugerah. Tugas kita adalah mengucap syukur dan hidup untuk kemuliaan Allah yang telah menyelamatkan kita. Segala kemuliaan hanya bagi Allah!
Sekali lagi pola keselamatan seseorang selalui didahului dengan firman Allah, firman Allah (dengan karya Roh Kudus) akan melahirkan kembali orang itu sehingga ia bisa percaya / beriman.
Jadi jelaslah, iman timbul pada diri seseorang setelah orang tersebut dilahirkan kembali oleh firman Tuhan dan karya Roh Kudus berdasarkah pilihan kasih karunia Allah pada orang tersebut!
Satu hal lagi, manusia yang berdosa membuat kemampuan rohaninya mati, mereka tidak sanggup mengenal Allah yang benar dan berbuat baik menurut pandangan Allah (lihat bahtahan Fitnah IV). Untuk dapat mengenal Allah dan merespon kasih-Nya, manusia berdosa harus dilahirkan kembali terlebih dahulu
Untuk lebih jelasnya saya kutipkan dari tulisan karya RC Sproul
Demikian pula halnya dengan kelahiran kembali secara rohani. Kelahiran kembali menghasilkan kehidupan yang baru. Kelahiran kembali itu merupakan awal dari kehidupan baru tetapi bukan merupakan keseluruhan dari kehidupan yang baru. Kelahiran baru adalah momen transisi yang penting dari kematian rohani kepada kehidupan rohani. Seseorang tidak pernah dilahirkan kembali secara sebagian. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan: orang itu sudah dilahirkan baru atau belum dilahirkan baru.
Pengajaran Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa regenerasi merupakan pekerjaan Allah semata-mata. Kita tidak dapat melahirbarukan diri kita sendiri. Daging tidak dapat menghasilkan roh. Regenerasi merupakan tindakan penciptaan. Allah yang melakukan penciptaan itu.
Dalam teologi ada istilah teknis yang dapat membantu kita untuk lebih mengerti masalah ini, yaitu monergisme, yang berasal dari dua akar kata. Mono artinya “satu”. Monopoli merupakan suatu usaha yang memiliki pasaran untuk dirinya sendiri. “Monoplane” merupakan pesawat terbang dengan single-winged (berbaling-baling satu). Erg menunjuk pada satuan usaha. Dari kata itu kita mendapat kata umum yang selalu dipakai yaitu energi.
Menggabungkan kedua akar kata tersebut, maka kita mendapatkan arti “one-working” (usaha satu pihak). Ketika kita mengatakan bahwa regenerasi adalah monergistik, maksud kita adalah bahwa hanya satu pihak saja yang melakukan pekerjaan itu. Pihak itu adalah Allah Roh Kudus. Dialah yang melahirbarukan kita. Kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, atau membantu-Nya untuk melaksanakan tugas itu.
Seolah-olah kita memperlakukan manusia seperti boneka. Boneka dibuat dari bahan kayu. Boneka tidak dapat memberikan tanggapan. Boneka itu lembam, tanpa kehidupan. Boneka itu digerakkan dengan tali-tali dalam pertunjukan panggung boneka. Tetapi, kita tidak berbicara tentang boneka. Manusia tidak sama dengan boneka. Kita berbicara tentang manusia yang merupakan mayat secara rohani. Manusia ini tidak memiliki hati yang terbuat dari serbuk gergaji, tetapi terbuat dari batu. Manusia ini tidak digerakkan oleh tali-temali. Secara biologis manusia ini masih hidup. Manusia ini dapat bergerak dan bertindak. Manusia ini membuat keputusan-keputusan, tetapi mereka tidak pernah mengambil keputusan bagi Allah.
Setelah Anda melahirbarukan jiwa manusia, yaitu setelah Allah membuat kita hidup kembali secara rohani, kita melakukan pemilihan. Kita percaya. Kita memiliki iman. Kita bersandar kepada Kristus. Perihal kita percaya kepada Kristus itu tidak diputuskan oleh Allah. Allah tidak memutuskan hal percaya itu bagi kita. Tetapi, kita sendirilah yang memutuskan untuk percaya kepada Kristus setelah kita dilahirbarukan oleh Allah. Jadi, iman itu tidak bersifat monergistic (one-working atau usaha satu pihak) seperti kelahiran baru.

Fitnah VII
Jhon Calvin dan kaum Reformed membuat Allah Sangat Tidak Adil.

Ketika orang pertama kali mendengar Doktrin Predestinasi dimana Allah menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya, pada umumnya langsung menentangnya dengan ungkapan :
– Kalau begitu mengapa manusia harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya padahal itu telah dikendaki oleh Allah? Toh tidak ada manusia yang bisa melawan kehendak Allah?
– Kalau begitu Allah tidak adil dong!
Tahukah Anda, bahwa reaksi seperti ini sama persis dengan reaksi orang-orang yang mendengar ajaran predentinasi dari Rasul Paulus? Nah untuk menanggapi kedua pernyataan di atas yang juga dinyatakan oleh Dr. Suhento, maka sayapun akan menggunakan tanggapan dari Rasul Paulus:
Apakah Allah tidak adil? Mustahil!
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan– justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan. (Roma 9: 14, 20-23)
Jadi, jangan menilai keadilan Allah dengan standar keadilan manusia. Kalau Keadilan Allah kita nilai berdasarkan keadilan manusia maka seolah-olah “Allah memang tidak adil” karena memang banyak ketidakadilan alami yang kita lihat dimuka bumi ini. Mengapa sebagian anak dilahirkan dari keluarga miskin, sedangkan yang lainnya dari keluarga kaya? Mengapa sebagian dilahirkan di daerah gersang, tandus dan sangat kesulitan air, sedangkan sebagian yang lainnya dilahirkan di daerah subur dengan air melimpah?
Ingatlah sekali lagi bahwa manusia itu tetap sebagai ciptaan. Sekalipun kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetap saja status kita adalah ciptaan. Nilailah Allah sesuai dengan stadar Pecipta bukan dengan standar ciptaan.
Jadi, adanya tuduhan bahwa doktrin predestinasi membuat Allah tidak adil justru membuktikan bahwa doktrin ini adalah Alkitabiah karena Rasul Paulus juga mendapatkan reaksi yang sama!

Fitnah VIII
John Calvin dan kaum Reformed menempatkan Allah sebagai penjahat besar!

Benarkah demikian?
Sebenarnya fitnahan ini sama dengan fitnah I yaitu Allah sebagai pencipta dosa, karena semua kejahatan bersumber dari hati orang yang berdosa, untuk itu saya akan menanggapi fitnahan ini dengan Artikel dari Pdt. Budi Asali tentang benarkah Allah pencipta dosa?
Mungkin ada yang bertanya: “Bukankah dengan adanya dosa di dalam Rencana Allah berarti Dia adalah pencipta dosa?” Harus diakui bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sukar sekali dijelaskan. Untuk dijawab memang tidak sukar karena Allah memang bukan pencipta dosa. Tetapi bagaimana penjelasannya itulah yang sulit, bukankah sebelum malaikat dan alam semesta ini diciptakan, yaitu pada saat Allah masih belum menciptakan apapun, dosa tidak ada? Bukankah sekarang dosa ada? Darimana datangnya dosa? Bukankah pencipta segala sesuatu adalah Allah yang maha suci? Siapakah pencipta dosa apabila bukan Allah?
1Yohanes 2:16
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Perlu diingat bahwa sebenarnya pertanyaan ini tidak bisa diajukanhanya kepada pihak Calvinisme, aliran lainpun harus menjawab pertanyaan yang sama, bahkan agama lainpun juga dihadapkan pada masalah pelik ini.
Kita sudah melihat bahwa manusia tidak dipaksa untuk melakukan dosa, mereka melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri. Meskipun Kitab Suci dengan jelas melarang dosa, tetapi Allah mengijinkan terjadinya dosa jika memang manusia tersebut memilih untuk melakukannya. Motivasi Allah di dalam mengijinkan terjadinya dosa dan motivasi manusia di dalam melakukan dosa adalah dua hal yang sangat berbeda. Allah mengijinkan dosa terjadi untuk menghargai kebebasan manusia, dan karena hal itu sesuai dengan rencana kekalNya. Di lain pihak setiap manusia yang melakukan dosa, ia melakukannya karena ia memang ingin melakukannya. Orang itu sadar sepenuhnya bahwa tidak ada yang memaksa dia untuk berbuat dosa, dan dia menyadari bahwa sebenarnya dirinya tidak perlu melakukan dosa itu jika dia sendiri tidak menghendakinya.
Kita boleh yakin bahwa Allah tidak akan mengijinkan terjadinya dosa seandainya Ia tidak bisa mengatasi dosa itu dan mengubahnya menjadi kebaikan. Dengan providenceNya Ia dapat mempengaruhi (bukan memaksa) jalan pikiran orang-orang fasik sehingga kebaikan bisa ditimbulkan dari rencana jahat mereka. Contoh yang paling klasik adalah peristiwa pengiriman/penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya ke Mesir (Kej 45:8). Saudara-saudara Yusuf melakukan pengiriman itu karena mereka benci dan iri hati kepada Yusuf, tetapi Tuhan telah mengubah tragedi itu menjadi kebaikan (Yusufpun mengakui hal itu di dalam 50:2). Jika bukan karena campur tangan Tuhan maka pada saat bala kelaparan terjadi, bisa saja Yakub dan anak-anaknya mati semua. Tanpa Yakub tidak akan ada Israel, tanpa Israel tidak akan ada Daud, tanpa Daud tidak akan ada Kristus, dan tanpa Kristus semua orang akan masuk neraka. Tetapi puji Tuhan, Yusuf yang dijual ke Mesir itu akhirnya malah dapat menolong keluarganya dari bala kelaparan.
Di dalam Perjanjian Barupun terlihat adanya kejadian-kejadian yang apabila dipandang dari sudut manusia tidak menyenangkan, tetapi Allah membiarkan terjadi agar Dia dapat lebih dipermuliakan. Misalnya kesengajaan Yesus yang menyebabkan Lazarus mati. Dia bisa mencegah hal itu agar tidak terjadi, tetapi apakah iman Maria dan Martha dapat dikuatkan dengan pencegahan itu? Bukankah lebih baik Yesus membiarkan Lazarus mati dan kemudian membangkitkannya? Allah memutuskan apa yang terbaik bagi manusia, meskipun manusia merasa sebaliknya.
Yohanes 11:5-6,14-15,36,40-44
Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. (6) Namun setelah didengarNya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana Ia berada; …. (14) Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; (15) tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” (36) Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya!” (37) Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak sehingga orang ini tidak mati?” (40) Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (41) Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepadaMu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. (42) Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (43) Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah keluar!” (44) Orang yang telah meti itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (45) Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepadaNya.
Sama seperti peristiwa di atas, Yesus sebenarnya bisa mencegah terjadinya badai pada saat ia berada di perahu bersama murid-muridNya. Mengapa Ia membiarkan murid-muridNya ketakutan? Jelas agar iman mereka dapat lebih dikuatkan apabila mereka melihat Yesus menghentikan badai. Kita sebagai manusia, seperti juga murid-murid Yesus pada waktu itu, tidak bisa membayangkan apa tujuan Tuhan mengijinkan hal-hal tidak enak terjadi pada diri kita. Tetapi percayalah bahwa penderitaan apapun yang Tuhan ijinkan untuk menimpa kita pasti mempunyai tujuan akhir yang baik dan memuliakan Dia.
Seseorang memberikan komentar demikian: “Seorang penguasa mungkin melarang adanya pengkhianatan; tetapi perintah-perintahnya tidak mengharuskan dia untuk mencegah, dengan maksimal, seadanya pelanggaran yang dilakukan oleh rakyatnya. Adanya pengkhianatan dapat membawa kebaikan bagi kerajaannya, dan apabila ia menghukum pengkhianat negara itu sesuai dengan hukum yang ia tetapkan, maka keadilan hukumnya terlihat”. Hanya karena penguasa itu memilih untuk tidak mencegah kejahatan yang terjadi, dengan alasan demi kebaikan yang dihasilkan, sama sekali tidak berarti bahwa tindakan dan perintahnya bertentangan.
Harus diakui bahwa Allah sebenarnya bisa / berkuasa mencegah terjadinya dosa. Dia sebenarnya bisa menjaga agar dosa tidak terjadi di dunia ini. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah Dia bisa menghilangkan dosa dari suatu sistem moral yang paling sempurna? Tanpa adanya baik dan jahat, adakah yang disebut moral? Tanpa adanya dosa adakah yang disebut suci? Tidak mungkin. Kebebasan kehendak untuk memilih antara baik dan jahat adalah syarat mutlak suatu sistem moral.
Baik malaikat maupun manusia adalah mahluk yang bisa berdosa. Kejatuhan setan dan Adam membuktikan hal itu. Tetapi apa gunanya kemampuan untuk berdosa itu ada di dalam diri suatu mahluk? Jawabnya adalah bahwa tanpa adanya kemungkinan untuk berbuat jahat, mahluk itu tidak akan mempunyai kemungkinan untuk taat. Suatu mahluk yang mampu untuk berbuat baik berarti juga mampu untuk berbuat jahat. Sebuah mesin tidak bisa disebut taat atau tidak taat karena ia tidak mempunyai kehendak untuk memilih. Tanpa adanya kemampuan ganda ini, suatu mahluk tidak ada bedanya dengan sebuah mesin yang tidak mempunyai moral.
Adam diciptakan sebagai mahluk yang bermoral, dan karena itu iabisa berkehendak untuk memilih dosa. Kita tahu bahwa Allah membiarkan Adam jatuh ke dalam dosa dan kemudian mengubah akibat dosa itu (maut) menjadi sesuatu yang baik (hidup oleh karena penebusan Kristus). Pemberian ijin dan perubahan akibat dosa itu tidak menjadikan dia sebagai Pencipta dosa. Kelihatannya, Allah ingin menunjukkan kepada kita apa yang dapat dihasilkan oleh kehendak bebas kita; kemudian dengan mengatasi dosa itu Ia menunjukkan kepada kita kasih dan keadilanNya. Jadi, dosa bukanlah sesuatu yang diciptakan Allah, melainkan hanya merupakan akibat dari kehendak bebas yang disalahgunakan oleh manusia. Dan karena itulah manusia yang bertanggung jawab atas dosa-dosa yang diperbuatnya.
Ada beberapa ilustrasi yang mungkin memudahkan kita untuk lebih mengerti tentang hal ini. Ilustrasi-ilustrasi ini memang bukanlah ilustrasi yang sempurna, tetapi rasanya cukup untuk membantu kita.
1. Seorang hakim yang adil dan benar, di dalam memberikan keputusan hukuman kepada seorang terdakwa, tahu bahwa keputusannya akan mengakibatkan dendam di dalam diri terdakwa dan kemarahan di hati teman-teman dan keluarga terdakwa. Meskipun demikian, hakim itu toh tetap melakukan hal yang benar.
Seorang ayah yang mengusir anaknya yang durhaka, tahu bahwa dengan pengusiran itu si anak bisa bertambah buruk tingkah lakunya, tetapi toh si ayah bisa dianggap melakukan hal yang benar dengan tujuan mendidik anak itu.
Dengan dibiarkanNya setan terus merajalela, Allah tahu bahwa dosa akan semakin banyak, dan penderitaan dan penganiayaan akan terjadi dimana-mana. Tetapi, karena Allah mempunyai tujuan yang baik, maka Allah melakukan tindakan yang benar. Kesucian Allah tidak ternodai sedikitpun.
2. Bayangkan diri saya mempunyai tetangga yang membuka toko minuman keras, kenyataan yang tidak mengenakkan. Setiap hari minggu, banyak pemabuk-pemabuk yang berkelahi di depan tokonya. Hal ini mengakibatkan penderitaan di dalam keluarga saya.
Sekarang bayangkan saya mempunyai kemampuan untuk dapat melihat ke masa depan dengan kepastian yang mutlak. Saya mempunyai rencana yang baik, yaitu mempertobatkan tetangga saya itu. Saya dapat melihat bahwa dengan menginjili orang itu, ia akan bertobat. Dengan tujuan yang mulia inilah saya memutuskan untuk bertindak.
Tetapi, pada waktu saya melihat lebih jauh ke depan, maka saya tahu bahwa langganan-langganan toko tersebut akan menjadi marah sehingga mereka melakukan banyak dosa. Misalnya, untuk melampiaskan dendam mereka kepada saya dan tetangga saya, mereka akan menghina kekristenan dan menghujat Allah, mereka bahkan membakar rumah tetangga saya itu dan mencoba membakar rumah saya.
Sejauh ini, kita melihat bahwa meskipun dosa dan kejahatan masuk ke dalam rencana saya, dosa-dosa tersebut tidak bisa ditanggungkan kepada saya. Memang saya adalah pembuat rencana itu, dan apabila rencana saya itu saya laksanakan maka dosa-dosa itu pasti akan terjadi. Tetapi, karena saya melihat bahwa jika tetangga saya itu akhirnya bertobat, ia akan menjadi berkat di lingkungan kami, maka saya memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana itu.
Jadi, apakah saya ikut melakukan dosa-dosa itu? Jelas tidak. Apakah saya memaksa langganan-langganan itu untuk membakar rumah? Tidak. Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas semua dosa-dosa itu? Jelas para pelakunya sendiri.
Dari ilustrasi-ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa meskipun Allah yang membuat rencana, dan di dalam pelaksanaan rencana itu dosa-dosa bermunculan, Ia bukanlah pencipta dosa, Ia juga tidak bertanggung jawab atas setiap tindakan dosa yang dilakukan.
Mungkin ada yang bertanya, bukankah sifat dosa itu juga dari Tuhan? Memang tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar Tuhan, tetapi Tuhan kita yang maha suci bukanlah pencipta dosa. Pada saat Adam diciptakan, Allah tidak menciptakannya dengan kemungkinan untuk jatuh, ataupun memberikan suatu kelemahan di dalam diri Adam yang dapat menyebabkan ia jatuh. Yang Allah berikan adalah kehendak yang bebas, kehendak yang bisa berubah, dan kehendak bebasnya itulah yang menjatuhkan Adam. Allah memang sudah tahu bahwa Adam pasti jatuh, Allah memang sudah menentukan Adam untuk jatuh, tetapi bukan Allah yang menjatuhkan Adam melainkan kehendak Adam sendiri. Di dalam hal kejatuhan ini Allah hanya mengijinkan Iblis untuk menggoda Adam (Iblispun punya kehendak bebas) karena hal itu memang sesuai dengan rencanaNya. Jadi, kita tidak bisa bilang bahwa Ia yang menjatuhkan Adam.
Sekali lagi, perlu diingat bahwa kesulitan atau keberatan yang kita hadapi ini adalah keberatan yang seharusnya dihadapi oleh semua aliran dan agama yang mempercayai akan adanya Allah, hanya saja, tidak semua aliran akan dapat mengharmoniskan kenyataan ini dengan doktrin-doktrin mereka.

Fitnah IX
Sekali selamat, walupun berubah iman akan tetap selamat!

Benarkah ini ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme?
Sekali selamat tetap selamat! Ya, ini adalah ajaran dari John Calvin dan Calvinis, tetapi kalau sekali selamat, walaupun berubah iman tetap selamat, jelas inilah adalah fitnah dan membuktikan bahwa Dr. Suhento tidak tahu sama sekali tentang ajaran dari Jhon Calvin dan Calvinisme!
Untuk itu akan kami tunjukkan ajaran Calvinisme yang sebenarnya tentang keselamatan!
Roma 8: 29,30
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Keselamatan adalah suatu proses yang dimulai oleh Allah dan diakhiri oleh Allah juga dan Allah berjanji bahwa proses itu pasti berakhir dan tidak berhenti di tengah jalan (Filipi 1:6)
Jadi, kalau seseorang itu telah memasuki suatu proses keselamatan, maka tidak akan mungkin keluar dari proses tersebut. Jadi, orang yang benar-benar diselamatkan TIDAK MUNGKIN BERUBAH IMAN / KELUAR DARI PROSES KESELAMATAN.
Itulah sebabnya, TUHAN YESUS MEMBERI JAMINAN:
Yohanes 10: 28 Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan merekapasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
Hidup yang Tuhan berikan pada kita adalah hidup yang kekal, bukan hidup sementara / temporer. Kekal artinya dari saat lahir baru sampai selama-lamanya. Kalau setelah lahir baru kemudian mati lagi karena murtad, maka itu bukan hidup kekal namanya, kecuali ia memang belum benar-benar lahir baru.
Tuhan melalui Rasul Paulus juga memberi jaminan sekali selamat tetap selamat!
Roma 8: 38,39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Firman Tuhan di atas sudah sangat jelas, bahwa hidup kita setelah bertobat, kematian, serta apapun juga yang ada di dalam kehidupan kita TIDAK DAPAT MEMISAHKAN KITA DARI KASIH KRISTUS. “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS JAUH LEBIH BESAR DARI “GAYA TARIK” APAPUN DI DUNIA INI SEHINGA KITA TETAP AMAN BERADA DI DALAM “GAYA TARIK” KASIH KRISTUS.
Jadi keselamatan yang kita miliki sepenuhnya adalah anugerah Allah
Keberatan dan tanggapannya:
1. Kalau begitu Allah adalah seorang penculik karena memilih seseorang tanpa persetujuan atau keingininaanya!
Ini adalah pemikiran yang bodoh dan dangkal walaupun muncul dari seorang doktor teologi (maaf kalau saya sampai kasar, ya karena Allah telah dihujat sedemikian hebat!)
Hei, Bapak Doktor Suhento, apakah ketika Anda mau lahir ke muka bumi ini, Allah harus terlebih dahulu meminta persetujuan Anda; Anda ingin jenis kelamin apa?Anda ingin dilahirkan dimana? Siapa orangtua yang Anda ingini? dan sebagainya? TIDAK BUKAN?
Mengapa tidak? KARENA ANDA HANYALAH SEORANG CIPTAAN YANG TIDAK PUNYA OTORITAS SENDIRI. ANDA BERADA DALAM OTORITAS ALLAH PENCIPTA ANDA.
Kesalahatan fatal dari Dr. Suhento adalah ia menganggap bahwa manusia punya otoritas sendiri untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendak bebasnya. Ia lupa bahwa kehendak bebas yang ia miliki adalah kehendak yang bukan bebas secara mutlak, dan kehendak bebasnya sudah dipengaruhi bahkan dikuasi oleh dosa. Selain itu kalau manusia punya otoritas sendiri, maka ia statusnya sama dengan Allah, karena hanya Allah-lah satu-satunya yang punya otoritas dari diri-Nya Sendiri.
Ingat, sama seperti proses kelahirannya, dalam hidup selanjutnya pun manusia tidak bisa menentukan sendiri, mau membantah?
Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Yeremia 10:23 Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya
Jadi, mengapa Allah harus meminta persetujuan manusia atas apa yang akan Dia lakukan pada manusia ciptaan-Nya sendiri?
Sekali lagi, Pikiran di atas muncul karena Dr. Suhento menganggap manusia punya otoritas sendiri atau menganggap manusia sejajar dengan Allah dan inilah inti dari Humanisme dimana kehendak dan keinginan manusia dijunjung tinggi melebihi porsi yang sebenarnya!
2. Kalau begitu, Allah adalah sebagai penjajah atas kehendak manusia!
Ini adalah pikiran yang sama bodohnya (sekali lagi maaf)
Ingat! Orang yang masuk dalam proses keselamatan adalah orang yang telah dipilih dan dilahirkan kembali. Sebelum dilahirkan kembali ia berada di bawah kuasa dosa. Keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Kondisi seperti ini TIDAK SESUAI dengan keinginan dan kehendak manusia yang sebenarnya. Orang yang memang dipilih oleh Allah pasti tidak suka keinginan dan kehendaknya dipengaruhi dan dikuasi oleh dosa. Ia akan bergumul sama seperti Rasul Paulus:
Roma 7: 18-24
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
Pertanyaannya adalah , apakah orang yang dilepaskan dari kondisi ini dan masuk ke dalam kondisi yang baru dimana keadaannya sesuai dengan kehendak dan keinginannya akan merasa sedih atau senang? Akan merasa dibelenggu atau dibebaskan? Inilah reaksi orang yang telah dilahirkan kembali: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Jadi orang yang sudah dilahirkan kembali SAMA SEKALI TIDAK MERASA BAHWA KEHENDAKNYA DIJAJAH OLEH ALLAH, SEBALIKNYA, JUSTRU PENUH UCAPAN SYUKUR KARENA TELAH DIBEBASKAN DARI PENJAJAHAN DOSA, karena hatinya beserta dengan kehendak dan keinginanya yang tidak suka dan tidak taat pada perintah Tuhan DIUBAH dengan hati yang baru, hati yang suka dan taat pada perintah Tuhan.
Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Bagi orang yang sudah lahir baru, menaati Tuhan adalah kesukaannya karena memang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya yang telah diperbaharui sehingga ia sama sekali tidak akan merasakan nuansa penjajahan dan pemaksaan dari Allah.
Sebaliknya, bagi orang yang belum lahir baru, menaati Tuhan adalah suatu beban atau keharusan, sehingga nuansa penjajahan / kerja paksa sangat terasa.
Dengan timbulnya pemikiran bahwa seolah-olah Allah menjajah kehendak manusia yang sudah diselamatkan, maka saya ragu-ragu apakah Dr. Suhento dan orang-orang yang sepaham dengannya sudah benar-benar dilahirkan kembali rohnya (walaupun secara akal budi mereka sudah tahu banyak tentang Kristus dan ajarannya). Karena kalau mereka sudah lahir baru, pasti tidak akan mengeluarkan pendapat yang demikian. Ya, semoga saja mereka sudah lahir baru, cuma masih bayi …. he…he jangan marah ya?
3. Kalau begitu, orang yang telah diselamatkan bisa berbuat semau gue, termasuk berbuat dosa, toh Allah telah menjamin bahwa ia pasti selamat!
Sekali lagi, pikiran seperti ini muncul dari orang yang kemungkinan belum memahami dan mengalami kelahiran kembali.
Ingat bung, orang yang dalam proses keselamatan adalah orang yang sudah lahir baru. Hatinya sudah diperbaharui, Walaupun keinginan dan kehendaknya belum benar-benar steril dari dosa, tetapi sekarang lebih cenderung untuk menaati Tuhan daripada memberotak kepada Tuhan. Dia mengalami “gaya tarik” yang lebih besar kepada Allah, dari pada kepada dosa. Memang dalam proses keselamatannya ia dapat berbuat dosa lagi, tetapi hatinya tetap berada pada “gaya tarik kasih Allah” sehingga ia tetap akan bangun dan taat pada Allah lagi.
Amsal 24:16 Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.
Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Perlu diingat lagi, bahwa Allah sudah menjamin bahwa tidak akan ada oknum, kuasa, dan peristiwa apapun dimana “gaya tariknya” lebih besar dari “gaya tarik” kasih Allah pada orang-orang yang telah dipilih sesuai dengan Rencana-Nya.
a) Allah memproteksi kita dari pencobaan yang melebihi kekuatan kita.
I Kor. 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
b) Allah turut bekerja dalam segala segi kehidupan kita sehingga rencana Allah atas hidup kita benar-benar terwujud.
Roma 8:28-30
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Jadi, orang yang masuk dalam proses keselamatan Allah, hatinya sudah diubah, dari mengasihi dunia / membenci Allah, menjadi orang yang mengasihi Allah dan membenci dunia, dari yang cenderung memberontak Allah, menjadi cenderung menaati Allah (saya katakan “cenderung” karena kehendaknya masih belum steril dari dosa, nanti kalau sudah sampai di surga maka orang pilihan Allah akan benar-benar mutlak akan mengasihi dan taat pada Allah).
Dengan demikian, fitnahan di atas tidak cocok ditujukan untuk orang kristen yang benar-benar telah lahir baru dan pasti selamat, tetapi akan sesuai bila ditujukan untuk orang kristen yang belum lahir baru sehingga juga belum tentu selamat!
4. Bagaimana dengan orang yang “sudah selamat” kemudian murtad? Bagaimana pula dengan adanya peringatan “jangan murtad”?
Sebelum menjawab perntanyaan ini, perlu ada pemahaman bahwa di dalam Alkitab, ada dua macam orang Kristen, yaitu Kristen sejati atau yang oleh Rasul Yohanes disebut sebagai orang “sungguh-sungguh termasuk pada kita” dan orang Kristen palsu atau “tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita”. Orang Kristen sejati tidak mungkin murtad dan kehilangan keselamatannya, tetapi orang Kristen Palsu (KTP) inilah yang mungkin sekali “murtad”. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang Kristen Palsu ini belum selamat. orang Kristen sejati pasti telah lahir baru, orang Kristen palsu belum lahir baru sehingga juga belum selamat”
I Yoh. 2:19
Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
Untuk membedakan Kristen sejati dengan Kristen palsu memang sangat sulit, sama seperti membedakan antara gandum dan ilalang. Mereka sama-sama ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, berkhotbah, sekolah teologia (bahkan jadi doktor) mengusir setan, dan lain-lainnya.
Jadi kalau ada orang Kristen yang murtad, itu hanya membuktikan bahwa dia bukan orang Kristen sejati, dan pada dasarnya belum diselamatkan.
Mari kita lihat beberapa kasus di Alkitab:
a) Yudas Iskariot
Apakah Yudas Iskariot sudah diselamatkan?
Saya yakin bahwa ia belum diselamatkan, dengan alasan:
1) Yudas Iskariot memanggil Tuhan Yesus hanya sekedar “rabi” atau guru, sedangkan murid yang lainnya selalu memanggil Tuhan Yesus dengan “Tuhan”. Jadi hubungan antara Yudas Iskariot dengan Tuhan Yesus hanya sekedar murid dan guru. Saat ini banyak sekali orang yang kagum dengan ajaran Tuhan Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah guru mereka, walaupun mereka tidak percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Mis. Mahatma Gandhi).
2) Yudas Iskariot bukan dipilih untuk diselamatkan, tetapi untuk menggenapi rencana Allah yang sudah dinyatakan sejak semula:
Yohanes 13:18
Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
3) Yuda Iskariot adalah satu-satunya murid yang tidak dijamin keselamatannya oleh Tuhan Yesus. Hal ini dapat dilihat dalam doa Tuhan Yesus:
Yohanes 17: 12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.
Itulah sebabnya mengapa setelah menyesal, Yudas Iskariot lantas bunuh diri. Hal ini berbeda dengan Petrus, setelah bertobat ia tetap terus percaya pada Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus memang menjaga dia (Lukas 22:31,32)
b) Orang-orang dalam Matius 7:15-23
Banyak orang (termasuk Dr. Suhento) menafsirkan bahwa orang-orang yang berseru Tuhan, Tuhan! ……. (ayat 22) adalah orang-orang Kristen yang akhirnya ditolak Tuhan dan masuk neraka! (Pedang Roh 56 hal 2).
Benarkah mereka pernah jadi orang Kristen (sejati)? TIDAK PERNAH!!!
1) Ayat 15 menyatakan bahwa mereka adalah serigala yang menyamar sebagai domba. Jadi mereka sebenarnya bukan domba, bukan orang Kristen.
2) Ayat 23, Tuhan TIDAK PERNAH MENGENAL mereka!
Ingat, Tuhan Yesus mengenal setiap domba-Nya / umat-Nya (Yohanes 10:14). Karena mereka tidak pernah dikenal Tuhan, maka kesimpulannya sudah sangat jelas, MEREKA TIDAK PERNAH MENJADI UMAT-NYA (ORANG KRISTEN). Kalau mereka pernah jadi orang Kristen maka Tuhan Yesus akan berkata: Aku tidak lagi mengenal kamu …….
c) Orang-orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu (Matius 13:20,21 dan yang paralel).
Orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu juga bukan orang Kristen sejati. Buktinya benih (firman Tuhan) tidak sempat berakar dalam hati. Orang ini adalah orang yang percaya pada Tuhan Yesus hanya pada taraf otak/pikiran doang, hatinya belum tersentuh oleh kasih Tuhan. Jadi, jangan heran kalau banyak para ahli teologia yang akhirnya “murtad”, karena mereka menerima Tuhan Yesus hanya di akal / pikiran mereka, tetapi hatinya masih dikuasi oleh dosa. Pada dasarnya orang ini belum selamat sehingga juga tidak mungkin murtad!
d) Orang-orang dalam Matius 24:10
Orang-orang yang dimaksud disini jelas bukan orang Kristen sejati (yang telah dipilih dan dilahirkan kembali). Mengapa? Karena pada ayat 22, 24 orang-orang pilihan Allah tetap selamat dan tidak akan mungkin disesatkan oleh nabi-nabi palsu!
Matius 24:22-24
Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Adanya peringatan “jangan murtad” belum tentu karena yang diperingatkan tersebut mempunyai kemungkinan untuk murtad. Harus dilihat terlebih dahulu siapa yang diperingatkan dan apa tujuannya memperingatkan jangan murtad.
Ilustrasi:
Kalau peringatan “jangan merokok karena merokok akan bla – bla- bla …” ditujukan pada seorang perokok, memang benar ada kemungkinan orang tadi akan merokok lagi. Tetapi kalau peringatan tersebut ditujukan pada saya, jelas saya tidak akan mungkin merokok karena saya bukan perokokdan tidak pernah merokok, sertya tidak ada niat sedekitpun untuk merokok. Lalu apa gunanya peringatan jangan merokok untuk saya? Jelas ada gunanya dan bahkan sangat berguna! Karena dengan tahu bahaya dari merokok maka hal itu akan meyakinkan saya bahwa tindakan saya yang tidak merokok adalah tepat dan akan menguatkan komitmen saya untuk tidak pernah merokok, bahkan akan mendorong saya untuk mengkampanyekan anti merokok kepada para perokok!
Demikian juga peringatan “Jangan murtad” kalau ditujukan pada orang Kristen palsu, maka ada kemungkinan orang kristen palsu tersebut akan “murtad”! Tetapi kalau ditujukan pada orang Kristen sejati, makaperingatan tersebut justru akan menyakinkan dia bahwa dia telah berada pada jalan yang benar dan akan menguatkan komitmenya untuk tetap berjalan pada jalan tersebut, bahkan akan mendorong dia untuk menunjukkan jalan itu pada orang lain yang belum melewati jalan itu karena ia sudah tahu bahayanya kalau ada orang yang berjalan pada jalan yang tidak ia sedang jalani!
Contoh:
a) Dalam 2 Tes 2: 3 Rasul Paulus memperingatkan kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan disesatkan, karena akan banyak pemurtadan (penolakan terhadap agama) ..
Tetapi, dalam ayat 13,14 Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena sebagai umat pilihan Allah mereka akan tetap selamat dan memperoleh kemuliaan Kristus, sehingga pada ayat 15, Rasul Paulus meminta mereka untuk tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.
Jadi, jelas bahwa adanya peringatan “jangan disesatkan” dan “banyak pemurtadan” tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa jemaat di Tesalonika akan dapat tersesat dan murtad, tetapi sebaliknya mereka tetap aman dalam proses keselamatannya.
b) Dalam Ibrani 3:12 Penulis kitab ini memperingatkan supaya orang Ibrani jangan ada yang murtad. Pada ayat-ayat berikutnya dinyatakan bahaya-bahaya dari murtad yang sampai puncaknya pada Ibrani 6: 4-7.
Penulis kitab Ibrani memperingatkan “jangan murtad” kepada orang Ibrani bukan karena mereka bisa murtad, tetapi UNTUK MENEGUHKAN PENGHARAPAN MEREKA AKAN KESELAMATAN YANG SUDAH PASTI, DAN SUPAYA IMAN MEREKA TERUS BERTUMBUH.
Ibrani 4: 9-12
Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.
c) Ibrani 10: 26,35,38
Dr. Suhento begitu yakin dengan adanya ayat-ayat di atas, orang Kristen benar-benar dapat murtad, melepaskan kepercayaanya, dan membatalkan penanggungan dosanya, sehingga ia wanti-wanti agar jemaatnya tidak melakukan hal seperti itu.
Sekali lagi, kalau Dr. Suhento dan jemaatnya memang ada potensi seperti itu, berarti mereka bukan orang Kristen sejati. Mereka bukan seperti orang Ibrani yang menerima surat itu ( dan juga bukan seperti kami he….he… sombong ni ye karena kami juga menyamakan diri seperti orang Ibrani) yang oleh penulis surat Ibrani dinyatakan ..
Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.
(Ibrani 10: 39)
Lihat baik-baik ayat yang saya tebalkan dan besarkan di atas! Firman Tuhan ini menegaskan bahwa adanya peringatan jangan murtad, mengundurkan diri, tidak percaya dan sebagainya, bukan dimaksudkan karena kita ada potensi melakukan seperti itu, tetapi untuk meneguhkan kita bahwa kita sudah ada pada posisi yang benar. Dengan mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak berada pada posisi seperti kita akan binasa, maka penulis Ibrani bermaksud supaya kita lebih banyak mengucapsyukur pada Tuhan, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin memperkuat iman kita.

Source: http://www.geocities.com/thisisreformed/reformasi.html

VERSI TERJEMAHAN ALKITAB INDONESIA

Oleh : Herlianto

Alkitab terjemahan kedalam bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia sudah dilakukan sedini tahun 1629 dan sejak itu nama Allah digunakan untuk menerjemahkan El/Elohim/Eloah dan Tuhan untuk menerjemahkan Yahweh dan Adonai. Dalam 50 tahun terakhir, tugas mulia penerbitan Alkitab dilanjutkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang pada tahun-tahun terakhir ini menerbitkan setiap tahun sekitar 1 juta jilid, suatu berkat bagi kekristenan di Indonesia.

Menarik untuk diketahui bahwa dalam satu dasawarsa terakhir, setidaknya dalam waktu 8 tahun, terbit empat versi terjemahan yang berbeda dengan LAI dan keempatnya dinamakan ‘Kitab Suci.’ Pada tahun 1999 terbit ‘Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru’ (TDB) yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa; tahun 2000 terbit ‘Kitab Suci Torat dan Injil’ (TDI, dicetak 30 ribu) yang diterbitkan oleh Bet Yesua Hamasiah; tahun 2002 terbit ‘Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan’ (UPT) yang diterbitkan oleh Jaringan Gereja-Gereja Pengagung Nama Yahweh; dan tahun 2007 terbit ‘Kitab Suci Indonesian Literal Translation’ (ILT, dicetak 20 ribu) yang diterbitkan oleh Yayasan Lentera Bangsa.

Keempat Kitab Suci Baru itu memiliki kesamaan bahwa mereka ingin mengangkat kembali nama ‘Yahweh’ (bhs. Ibrani), nama yang suci yang menurut mereka tidak boleh diterjemahkan, nama yang menunjukkan sifat Tuhan semesta alam dan bahwa keselamatan itu ada dalam nama Yahweh. Namun pengucapan nama itu tidak seragam juga, sebagai contoh, TDB menulis ‘Yehuwa,’ TDI menulis ‘Yahwe,’ dan UPT & ILT menulis ‘YAHWEH.’ Kesamaan lainnya adalah mereka menolak Allah Trinitarian dan lebih mengarah pada ke’Esa’an Tuhan atau Unitarian. Bila TDB termasuk ‘Unitarian Subordinasionis’ yang menganggap Yesus adalah ciptaan yang lebih rendah dari Yehuwa, umumnya pengikut TDI, UPT, dan ILT menganut keyakinan ‘Unitarian Modalis’ (Sabelianisme), dimana dianggap bahwa hanya ada satu pribadi Yahweh dan Yesus adalah Yahweh sendiri yang menjelma sebagai Yesus dan Roh Kudus adalah Roh atau Daya Hidup Yahweh sendiri. Pada pengantar ILT disebutkan: “YESUS (Yahsua) adalah nama diri dari YAHWEH yang menjelma menjadi manusia untuk menjadi Messias sang Juruselamat.” Bagi ILT, yang memberi kekuatan pada mereka adalah Roh YAHWEH sendiri, konsep yang tidak beda dengan konsep Saksi-Saksi Yehuwa (TDB) bahwa Roh Kudus hanya sekedar tenaga aktif Yahweh yang memberi kekuatan Saksi-Saksi Yehuwa.

Dalam menerjemahkan El/Elohim/Eloah (PL) atau Theos (PB), TDB tetap menggunakan terjemahan ‘Allah,’ namun TDI, UPT & ILT menolak penggunaan nama itu karena dianggap sebagai nama berhala bahkan nama Setan, jadi TDI menulis ‘Eloim,’ UPT menulis ‘Tuhan,’ dan ILT menulis ‘Elohim.’ Baru dari beberapa contoh ini saja sudah terungkap bahwa keempat aliran, khususnya ketiga yang terakhir ini tidak mempunyai kesepakatan dalam kalangan mereka sendiri, sehingga terjemahan-terjemahan itu tidak bisa berfungsi sebagai pemersatu dan berpotensi membingungkan umat. Ini berbeda dengan terjemahan LAI yang secara umum digunakan selama ini yang sudah jelas merupakan pemersatu umat Kristen Indonesia dengan Tuhan dan sesama Kristen.

Soal etika penterjemahan, TDB menerjemahkan langsung dari naskah bahasa Inggeris mereka (New World Translation), namun TDI dan UPT merupakan terjemahan plagiat yang nyaris menjiplak seluruh terjemahan LAI tanpa izin dan hanya mengganti beberapa nama dengan nama Yahweh dan beberapa nama Ibrani lainnya. Sungguh menyedihkan bahwa mereka yang mau memuliakan Yahweh itu ternyata mempermalukan Yahweh dan melanggar hukum ke-8 ‘Jangan mencuri’ (hak cipta orang lain) dan ke-10 ‘Jangan mengingini … apapun (termasuk hak cipta) yang dipunyai sesamamu.’

Rupanya tumbuh sepercik kesadaran sehingga kelompok yang menerbitkan ILT tidak ingin mengulang perilaku yang mempermalukan Yahweh itu dan berusaha menerjemahkan sendiri dari naskah ‘The Interlinear Bible’ karya J.P. Green. Suatu tindakan terpuji bahwa ILT meminta izin kepada J.P. Green sebagai pemegang hak cipta. Namun apakah ILT konsisten? Pada akhir Pengantarnya, ILT menyinggung soal hak cipta penerjemahan dengan menuliskan:

“Adapun hak cipta penerjemahan itu perlu didaftarkan, demi memberi perlindungan kepada Yayasan Lentera Bangsa yang telah bersusah payah melakukan penerjemahan, jangan sampai hak-haknya untuk menerbitkan dan memasarkannya ditutup/ditiadakan oleh pihak-pihak lain.”

Soal hak ini justru menjadi boomerang bagi ILT karena ILT ternyata juga mencuri hak penerjemahan LAI tanpa meminta izin (setidaknya tidak disebutkan dalam Pengantar) dan sekarang meng’klaim’ sebagai hak cipta mereka! ILT masih menjiplak ke’66’ nama kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terjemahan LAI termasuk singkatannya. Mengapa nama-nama kitab dan singkatannya ILT tidak membuat terjemahan sendiri? Suatu kejujuran yang masih setengah hati, bahkan sekarang dengan mendaftarkannya sebagai hak cipta ILT, berarti mencuri hak cipta LAI lalu diakui sebagai hak cipta sendiri!

Soal nama Yahweh dan El/Elohim/Eloah, para pendukung TDI, UPT & ILT beranggapan bahwa nama Yahweh dan Elohim tidak boleh diterjemahkan, benarkan konsep demikian? Fakta sejarah keyahudian dan kekristenan dalam tiga milenium menunjukkan bahwa klaim itu klaim yang gegabah. Sedini abad-5 SM, sebagian kitab Esra, Daniel, dan Yeremia, sudah dialih-bahasakan ke dalam bahasa Aram dimana nama-nama Yahweh dan El/Elohim/Eloah sudah dialih-bahasakan menjadi ‘elah/elaha.’

Demikian juga pada abad-3 SM, Tanakh diterjemahkan ke bahasa Yunani dalam bentuk Septuaginta (LXX) dimana Yahweh dan Adonai diterjemahkan ‘Kurios’ dan El/Elohim/Eloah diterjemahkan menjadi Theos.

Tidak ada petunjuk dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Yahweh dan Yesus berkeberatan atas terjemahan itu, malah Perjanjian Baru mengikuti pola Septuaginta (salinan resmi yang para penerjemahnya diutus oleh Imam Besar Eliezer di Yerusalem). Dan, sepanjang sejarah kemudian nama Yahweh dan Elohim diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan sudah menghasilkan bermilyar manusia Kristen yang menyembah dan memuliakan Yahweh dalam bahasa mereka sendiri. Menganggap bahwa milyaran umat Kristen sedunia yang tidak menggunakan nama Yahweh sebagai sesat merupakan ciri khas dari aliran sekte yang elitis.

Dalam hal nama Elohim kita sudah melihat tiga versi terakhir itu berbeda-beda dalam nenerjemahkan, yang satu Eloim, yang kedua Tuhan dan yang ketiga Elohim. Ada dua kesalahan pokok dalam penggunaan Eloim/Elohim, yaitu: (1) Elohim dianggap hanya sebagai nama generik, ini menutup fakta bahwa Elohim juga sering menunjuk sebagai nama diri (proper name) disamping sebagai nama sebutan (generic); dan (2) El/Elohim/Eloah, ketiganya diterjemahkan sebagai ‘Eloim/Elohim.’ Kita harus sadar bahwa sekalipun El/Elohim/Eloah ada kesamaannya, ketiganya juga ada bedanya, jadi dengan hanya menunjuk kepada Eloim/Elohim berarti mengabaikan adanya perbedaan. Sebagai contoh dapat dilihat perbandingan ayat berikut:

“El, Elohe Yisrael” (Kej.33:20). Ini diterjemahkan sebagai berikut:
“Eloim Israel ialah Eloim” (TDI)
“Yang Mahatinggi Tuhannya Israel” (UPT)
“El, Elohim Israel” (ILT)

Demikian juga dengan ayat:
“Akulah El, Elohe Ayahmu’ (Kej.46:3). Ini diterjemahkan sebagai berikut:
“Akulah Eloim, Eloim ayahmu” (TDI)
“Akulah Tuhan, Tuhan ayahmu” (UPT)
“Akulah Elohim, Elohim ayahmu” (ILT).

Khusus dalam versi terjemahan terakhir yaitu ILT, El/Elohim/Eloah yang umumnya ditulis Elohim saja, namun disadari bahwa kalau ‘Elohim’ menunjuk pada ilah-ilah lain selain yang Mahakuasa, maka diterjemahkan ‘ilah.’ Jadi tanpa sadar sebenarnya diakui bahwa ‘elohim’ bisa berarti ‘ilah’ dalam bahasa Arab, padahal untuk menunjuk pada nama lain Yahweh ini, bahasa Arab menambahkan dengan kata sandang menjadi al-ilah atau Allah. Menarik melihat bahwa kalau Alkitab resmi dalam bahasa Arab, El/Elohim/Eloah diterjemahkan menjadi ‘Allah’ (a.l. Arabic Bible, Todays Arabic Version) ada juga Kitab Suci jiplakan dari pemuja nama Yahweh yang menerjemahkannya bukan dengan kata Allah melainkan ‘al-ilah’ (Arab Bible, mengaku menjiplak terjemahan Arabic Bible dan mengganti kata ‘Allah’ disitu menjadi al-ilah). Seperti diketahui dikalangan umat Kristen berbahasa Arab, jauh sebelum Islam lahir, nama ‘Allah’ sudah digunakan baik sebagai bahasa lisan maupun ketika dituliskan sebagai Alkitab dalam bahasa Arab, dan masa sekarang 29 juta orang Kristen berbahasa Arab menggunakan empat versi Alkitab Arab yang semuanya menggunakan nama ‘Allah,’ ini belum termasuk puluhan juta umat Kristen di Indonesia dan Malaysia yang selama empat abad sudah menyebut nama Allah yang tertuju kepada El/Elohim/Eloah.

Kita harus berhati-hati menghadapi Pemuja Nama Yahweh dengan Kitab-Kitab Suci mereka yang kelihatannya sepintas lalu menarik karena ingin memurnikan terjemahan dan mengembalikan nama Tuhan sebenarnya, ternyata sudah terbukti ke-empatnya tidak sejalan, dan jelas akan membingungkan daripada meluruskan kebenaran. Namun, lebih dari itu seseorang yang tidak sadar dan ikut-ikutan mengikuti para pemuja Yahweh, mereka akan ditarik kepada suatu keyakinan yang menjauh dari kekristenan historis dan pengakuan Iman Rasuli. Seseorang yang tertarik Pemuja Nama Yahweh akan disadari atau tidak akan dibawa ke arah:

(1) Fanatisme kelompok Yahudi yang sangat Ibrani/Yahudi sentris,
ini keyakinan sempit sekte ‘Yahweh’ dalam agama Yahudi.

(2) Sikap tidak bersahabat memusuhi dunia Islam/Arab dengan semangat menolak nama Allah yang dianggap nama berhala bahkan nama Setan (Di kalangan Pemuja Nama Yahweh disebar-luaskan buku ‘The Islamic Invasion’ karya Robert Morey yang sarat sikap anti Arab/Islam, sehingga dua tokoh mereka terkena Fatwa Mati).

(3) Sikap yang menyalahkan semua umat Kristen yang tidak menggunakan nama Yahweh tetapi menggunakan nama Allah sebagai menghujat Yahweh, padahal dengan menyebut ‘Allah’ sebagai nama berhala bahkan nama Setan bukankah itu justru menghujat ‘Allah,’ nama El/Elohim/Eloah dalam bahasa Arab?

(4) Menyalahkan Alkitab LAI yang sudah digunakan dan membangunkan
puluhan juta orang Kristen (ada pemuja Yahweh yang menyebut LAI sebagai
Lembaga Alat Iblis karena menerbitkan Alkitab berisi nama Allah).

(5) Menjauhi keyakinan Tritunggal/Trinitarian dan lari kepada
kepercayaan Unitarian/Sabelian yang menolak Tuhan Yesus sebagai
pribadi yang terpisah dari Bapa sekalipun keduanya sehakekat.

Semoga pembahasan ini memperjelas apa yang sedang kita hadapi bersama, dan semoga mereka yang terpengaruh atau bersimpati dalam usaha memurnikan nama Yahweh itu menyadari bahwa mereka sedang terseret kepada suatu arus fanatisme yang bisa mendukacitakan nama ‘Allah’ nama Tuhannya Abraham dalam bahasa Arab.

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org

What’s wrong with infant baptism?

A debate about one or more topics especially theology is more likely never comes to the end. Coming to the finish line with a joint-agreement is not an easy matter to gain. Perdebatan, khususnya di bidang teologi nampaknya tidak pernah berakhir. Sukar sekali kesepakatan bersama diraih. Begitu juga terkadang perdebatan yang alot, kekeh jumekeh alias ngotot memang fakta yang tidak dapat dihindari ketika mendiskusikan suatu tema Alkitab ini. Yes, especially with the infant baptism (baptisan anak). Ada golongan-golongan tertentu yang mengatakan bahwa babtisan anak itu tidak Alkitabiah bahkan berani mengatakannya sesat. Karena itu saya tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang Kristen saya ingin menegakkan kebenaran yang benar-benar kebenaran. Ya, dengan melihat fenomena itulah maka saya mencoba memposting blog ini. Saya rasa perlu juga menyampaikan buah pikiran saya di sini. Namun saya tidak ingin terlibat dalam “debat kusir”. Kalau sudah jelas tidak perlu berdalih ini dan itu lagi. Tidak perlu mencari pembenaran diri yang ngotot. Posting saya berjudul “SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU?” . Tentu saja saya akan membahas tentang baptisan anak. Saya tidak akan berpanjang lebar membahas tentang baptisan mana yang benar dan mana cara baptisan yang tidak benar, karena hal itu akan saya bicarakan pada blog yang lain. Tujuan saya menulis ini semata-mata hanyalah ingin menyampaikan suatu kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya dengan segala kemampuan yang ada pada saya, dan semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Kita biasanya paling pandai kotasi, mengambil bahan dari berbagai sumber untuk membuktikan bahwa kita very learned. Seperti banyak mahasiswa teologia yang pintar mengutip buku-buku dan bahan dari sana sini. Secara akademik mereka mungkin sudah lulus tapi secara pemahaman Firman Tuhan sama sekali “kosong”!!!. Celakalah orang yang belajar teologia dengan cara demikian. Satu hal, meskipun kita memakai banyak referensi, buku doktrin dan teologi sistematika atau yang lainnya untuk memahami dan menjelaskan suatu topik Alkitab, tetapi marilah kita sungguh-sungguh kembali dan menyelidiki Alkitabnya dan menjadikannya sebagai standar kebenaran yang otoritatif di atas semuanya itu. Karena buku-buku selain Alkitab adalah tafsiran manusia yang bisa keliru. Sebenarnya, tidak salah jika kita memakai sumber penunjang, tapi yang terpenting adalah apakah buku atau sumber penunjang itu otoritatif atau tidak, dan Alkitab harus menjadi standar utama. Kalau mau memakai bahan-bahan penunjang, bagi saya dari sekian banyak buku teologia, yang pembahasannya sangat ketat, tajam dan komprehensif (mendalam) adalah buku-buku tafsiran dari para teolog reformed (seperti Yohanes Calvin, Prof. Dr. Louis berkhof, Hodge, Matthew Henry, Bavinck, Pdt. Dr. Stephen Tong dll). Berbahagialah orang yang mempelajari teologi reformed dengan rendah hati, mereka akan dihindarkan dari jurang-jurang yang terjal dan mematikan. Berapa banyak diantara kita yang dengan rendah hati mempelajarinya?
Well, niatnya bukan mau promosi cuma kebetulan saya lagi teringat, mengenai buku teologi, khususnya teologi sistematika, kalau boleh, saya sarankan bacalah bukunya Prof. Dr. Louise Berkhof, Jilid I sampai jilid VI. Untuk baptisan, buku Prof. J.I Packer tentang “apa itu baptisan?”. (Cuma tetap Alkitab di atas semuanya). Kemudian untuk masalah teologi dan pelayanan, buku-buku rohani, tulisan, kaset/video seminar dan khotbah termasuk KKR dari Pdt. Dr. Stephen Tong sangat disarankan/direkomendasikan untuk dibaca dan disimak (cuman jaman sekarang banyak orang yang terlalu apriori dengan pak Tong. Bagi saya orang yang demikian adalah tidak rendah hati, alias sombong, meskipun tidak sadar atau memang kekeh jumekeh dan gengsi tidak mau berubah. Tidak ada yang bisa melarang tentunya). Saya sendiri terkadang juga kurang teliti dan agak lambat dalam memahami hal teologia, khususnya yang berat dan berbobot seperti teologi reformed, meskipun saya rindu sekali untuk mempelajari teologi yang ketat. Tapi itulah kapabilitas saya. Saya menyadari hal itu. I realize that. Namun, saya berusaha terus belajar, belajar dan belajar dan mau diajar.
Anyway, saya sudah terlalu berpanjang lebar di bagian pendahuluan. Anda mungkin bertanya-tanya dan menunggu-nunggu sejak tadi kapan saya akan masuk ke inti pembahasan blog saya ini. Baiklah sekarang saya akan masuk ke inti pembahasan tentang baptisan anak ini.
SALAHKAH BAPTISAN ANAK?
Saya melihat memang merupakan suatu fakta bahwa ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Namun bagaimana jika setelah diuji, diadakan penyelidikan, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. This is our answer. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara kaum saleh (the saints) ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.
Sunat sudah dimiliki umat Allah jauh sebelum baptisan ditetapkan. Ketika perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini diselidiki, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksud saya, sunat mengantisipasi baptisan. Kovenant atau jamji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6).
Sekarang kita dapat melihat dengan jelas antara persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar saja, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang tidak penting.
Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?
Kitab suci bahkan mewahyukan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris perjanjian (kovenan) ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga dengan anak-anak Kristen. Mereka dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham (bapa orang beriman), maka kita melihat bahwa Allah memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah. Dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan perjanjian ini di dalam diri anak-anak kita.
Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak diterima oleh Allah? Apa hak kita atas hal itu?
Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan mendukung hal ini. Mereka (golongan tertentu) yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah argument yang tidak meyakinkan. Saya setuju dengan pak Hai-Hai bahwa meskipun hal baptisan bayi atau anak tidak tercatat dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengajarkannya. Karena, walaupun para penulis Injil tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa anak-anak juga dibaptis, namun para penulis Injil juga tidak menyebutkan bahwa ada perkecualian bagi anak-anak dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). From these verses, who can show and prove or rebut me that infants or children are not included to baptism? Siapa yang bisa tunjukkan dari nas-nas ini kalau anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan hal secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus. Perhatikan poin ini. Seperti istilah Tritunggal, di Alkitab tidak ada istilah itu, istilah itu adalah kesimpulan dari bapa-bapa gereja di masa lampau, namun kita mengakui bahwa doktrin Allah Tritunggal itu secara implicit diajarkan oleh Alkitab bahkan sejak permulaan di kitab Kejadian.
Selanjutnya, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna, maka kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, sebab mereka melihat sendiri perjanjian Allah telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.
Di sisi lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Allah sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol perjanjian (kovenan) kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).
Some people say that infants or children are not allowed to get baptism since they are still too young to understand the mystery of the baptism, that is, “spiritually born again” (Ya, Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani). Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita (It is a sovereignty of God which beyond our understanding). Alasan mereka yang lain yang mereka kemukakan ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan materai. Seperti dalam pertobatan, apakah pertobatan mendahului kelahiran kembali? Ajaran sejati Alkitab harus mengatakan “tidak”. Tetapi Roh Kudus yang memperanakkan kita dulu melalui proses kelahiran kembali (Baptisan Roh Kudus) yang kita tidak mengerti (mengapa Tuhan memilih kita), baru kemudian kita bisa sadar dan melakukan pertobatan. Pertobatan adalah sebagai efek dari kita yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, sebagai reaksi atau respon kita yang beriman kepad-Nya. Jadi, SALAHKAH BAPTISAN ANAK ITU? Seperti yang pernah saya bilang pada salah satu komentar saya di SABDAspace ini, If we understand the doctrine of predestina What’s wrong with infant baptism? tion correctly, then we could agree that the infant baptism is not wrong but is really biblical (kalau kita mengerti doktrin predestinasi dengan benar, maka kita akan mengerti dan setuju bahwa BAPTISAN ANAK ITU TIDAK ADA YANG SALAH. TAPI 100% ALKITABIAH.
Demikian posting saya tentang tema ini, semoga dapat memberikan iluminasi, berkat dan tentunya bermanfaat bagi kita semua. Biarlah segala kemuliaan pada akhirnya hanya kita kembalikan kepada Tuhan di dalam Allah Tritunggal, Amin (Soli DEO Gloria).
Diadaptasi oleh desfortin dari:
The Institutes of the Christian Religion, IV.16 by John Calvin
(The important reformator or the founding father and the root of Reformed Theology until today)

KEKRISTENAN DAN BISNIS

Christianity and Business

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

1. UANG DAN FIRMAN

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

Referensi:
Hal Pengumpulan Harta (Mat 6:19-24)
Orang Muda yang kaya (Mat 19:16-26; Mrk 10:17-27; Luk 18:18-27)
Orang kaya yang bodoh (Luk 12:13-21)
Persembahan Janda miskin (Mrk 12:41-44; Luk 21:1-4)
Orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31)

Latar Belakang Permasalahan
Kehidupan manusia modern semakin hari semakin tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan uang. Apalagi setelah penegasan dari Abraham Maslow bahwa kebahagiaan manusia sangat ditentukan oleh kebutuhannya. Dan kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan akan makanan dan minuman.

Prinsip Alkitab tentang Uang
1. Uang itu berbahaya
Satu terobosan konsep yang Alkitab bukakan kepada kita adalah bahwa uang merupakan hal yang sangat berbahaya. Alkitab memperingatkan kita bahwa cinta uang merupakan akar dari segala kejahatan. Uang menyebabkan manusia terlepas dari kehendak Tuhan.
Konsep ini sebenarnya secara hakekat dan di dalam lubuk hati banyak orang, sudah disadari dan dimengerti. Tetapi tekanan konsep materialisme membuat banyak sekali orang yang sulit sekali melepaskan diri dari pola nilai materialisme ini sendiri.
Cara menangani uang haruslah dengan sangat konseptual. Dengan sadarnya kita akan tantangan-tantangan berat yang harus kita hadapi di dalam masalah uang, maka kita harus betul-betul serius dalam menanggapi permasalahan ini. Seringkali kita menyikapinya dengan sangat pragmatis, dan beranggapan bahwa tokh semua orang yang bersikap seperti itu. Pemikiran ini justru mendatangkan banyak korban yang dahsyat. Banyak orang yang hidupnya menjadi budak uang. Ia bahkan tidak lagi mengerti mengapa ia mengejar uang, dan ia tidak mendapatkan hasil apa-apa dari tindakannya itu. Seluruh hidupnya dikorbankan, keluarganya dikorbankan, tetapi ia sendiri tetap tidak sadar, dan beranggapan itulah cara ia menolong dan menopang seluruh kehidupan dan keluarganya. Bahkan jika akhirnya ia tertipu atau bangkrut, tidak segan-segan ia menghabisi nyawanya sendiri karena tidak tahan menghadapi tekanan. Betapa malang manusia materialis.
Dengan kekayaan dan kemuliaan dunia Iblis mencoba meruntuhkan Tuhan Yesus ketika berada di pencobaan di padang gurun. Setan tahu sekali bagaimana harus menjebak Tuhan Yesus dan ia menggunakan senjata pamungkas yang paling ampuh, yang biasanya pasti dapat meruntuhkan iman yang sekuat apapun. Tawarannya pun tidak tanggung-tanggung, karena ia sedang berhadapan dengan oknum yang luar biasa kuat. Tetapi tokh akhirnya setan tidak mampu meruntuhkan Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita?
Hanya anak-anak Tuhan yang bisa menjadi orang kaya sejati. Artinya, ia betul-betul menyadari bahayanya uang dan kekayaan materi, sehingga tidak memperkenankan dirinya dikuasai atau dikondisikan oleh uang atau kekayaannya. Orang Kristen sejati adalah orang-orang yang tidak pernah membiarkan uang meracuni dan menghancurkan diri dan imannya.

2. Uang perlu ditaklukkan
Alkitab mengatakan bahwa tidak mungkin seorang mengabdi kepada Tuhan dan sekaligus Mamon. Mamon adalah nama Dewa Uang. Gambaran ini diberikan untuk melambangkan bahwa uang cenderung akan menjadi tuan. Melalui perkataan ini, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa uang tidak boleh menjadi tuan kita. Jika Tuhan kita adalah Allah, maka Mamon harus menjadi budak kita. Inilah ordo yang tepat. Uang harus dipergunakan untuk melayani Allah, dan bukan Allah untuk melayani uang.
Di dalam kehidupan modern, maka banyak konsep agama yang sudah di-materialisme-kan. Agama adalah sarana untuk mencapai tujuan akhir yang kekayaan, yang dipercaya sebagai sumber kebahagiaan manusia. Akibatnya, ketika kita “menyembah” Allah, sebenarnya kita sedang menyembah uang kita. Allah yang kita sembah haruslah Allah yang bisa memenuhi permintaan uang kita. Konsep ini jelas di dalam konsep “jin seribu satu malam.” Juga di dalam Kekristenan-pun pola ini juga muncul. Akibatnya, ketika beragama, ia bukan menjadi manusia religius yang sejati, tetapi manusia yang mereligiuskan materi. Inilah kejahatan mendasar akan dosa manusia (Rom 1:21-23).
Anak-anak Tuhan diberi kekuatan oleh Tuhan untuk kita hanya mentuhankan Allah. Hanya kepada Allah kita harus menundukkan diri dan menjadi budak. Kalau kita tidak mau menjadi budak Allah, tidaklah heran kita segera akan menjadi budak setan dan menjadi budak materi. Oleh karena itu, Alkitab memberikan peringatan yang tegas kepada kita.

3. Uang merupakan sarana bukan tujuan
Melalui perumpamaan bendahara yang tidak jujur, Alkitab membukakan suatu kebenaran kepada kita, yaitu bahwa uang bukanlah tujuan bagi hidup manusia, tetapi uang hanya meru¬pakan sarana untuk mencapai kemuliaan yang lebih tinggi.
Kesalahan fatal manusia adalah karena menjadikan uang se¬ba¬gai tujuan terakhir bagi hidup manusia.
Uang bagi orang Kristen bukan sesuatu yang perlu dibenci dan kita bertindak ekstrem dengan mengatakan kita tidak memerlukan uang, dan orang Kristen adalah orang yang anti uang. Alkitab menegaskan bahwa uang hanyalah suatu sarana untuk menuju sasaran yang jelas, yaitu demi menjalankan kehendak Allah.
Maka dari konsep di atas, terdapat kaitan yang erat sekali antara uang dan ketaatan kepada Allah. Penggunaan uang yang tidak sesuai dengan ketaatan pada Allah tidak akan mempermuliakan Allah. Hanya penggunaan uang yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah, barulah uang itu akan menjadi sarana yang baik.

Penggunaan uang di dalam ketaatan
A. Kesalahan konsep tentang uang
1. Uang itu netral
2. Uang sumber kebahagiaan
3. Tidak bisa hidup tanpa uang

B. Konsep uang yang benar
1. Seluruh harta berasal dari Tuhan
2. Melepaskan diri dari ikatan materialisme
3. Uang menjadi budak pekerjaan Tuhan

Hasilnya
Dengan konsep Kristen yang benar tentang uang, maka seluruh kehidupan kita tidak akan diterpa oleh materialisme.
1. Kehidupan yang mempermuliakan Allah
2. Kehidupan yang stabil.
3. Kehidupan yang menjadi berkat bagi banyak orang

2. ALKITAB DAN TINJAUAN SISTEM EKONOMI

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

Latar Belakang Permasalahan
Prinsip ekonomi dunia telah berusaha menggeser pengertian ekonomi yang sesungguhnya. Bukan saja demikian, bahkan dunia ekonomi sekarang telah berusaha keras untuk menggeser semua bidang lainnya. Ekonomi merupakan bidang yang dianggap paling berkuasa dan paling ampuh di dunia. Ekonomi menjadi andalan dan penentu mati-hidupnya manusia.
Berbekal format materialis-humanis ekonomi berkembang menjadi satu format penentu dunia. Bahkan sekarang ekonomi jauh lebih ditakuti ketimbang senapan atau rudal. Ancaman ekonomi dirasakan sebagai ancaman yang jauh lebih mematikan.
Di dalam keadaan seperti ini, maka dunia berubah menjadi dunia yang berpusat pada ekonomi. Dunia berjuang untuk mencari kelebihan material dan mengejar keuntungan. Seluruh dunia dinilai dari ukuran ekonominya. Itulah penentu kesuksesan dunia.

Iman Kristen dan Ekonomi
Lebih celaka lagi ketika Kekristenanpun tercemar dengan ide materialisme seperti ini. Sekalipun Alkitab berulang kali membicarakan tentang bahayanya berpusat pada uang dan mengejar uang, tetapi banyak orang Kristen yang masih sulit untuk melepaskan diri dari opini dunia ini.
Semakin canggih dan banyaknya teori ekonomi, dan semakin dipasarkan secara luasnya prinsip materialisme dan marketing, maka dunia Kekristenan menghadapi ancaman serius dari indoktrinasi materialisme yang berusaha masuk ke dalam gereja.
Ditambah lagi dengan fakta banyaknya pemimpin-pemimpin gereja sendiri yang memang “money-oriented” karena memang itulah yang menjadi basis pemilihannya. Banyak pemilihan majelis ditentukan oleh tingkat kekayaannya. Banyak pendeta yang sibuk mengkhotbahkan perpuluhan untuk menggendutkan perutnya dst. Semua format ini menjadikan gereja semakin sekuler dan materialis. Tidak heran, akibatnya, gerejapun akan berpusat pada ekonomi.

Definisi Ekonomi
Pada umumnya dunia mengerti ekonomi sebagai suatu tindakan yang dimotori oleh kebutuhan. Jadi di dalamnya ditekankan adanya tiga unsur penting, yaitu: produksi, konsumsi dan pertukaran. Kalau ketiga unsur ini terjadi, di situ sudah terjadi ekonomi.

Alfred Marshall: Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang umat manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Richard G. Lipsey dll. : Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas.

Alkitab: Ilmu ekonomi adalah studi tentang bagaimana mendayagunakan semua yang Tuhan percayakan kepada manusia untuk bisa mempermuliakan Allah. (Kej. 2:15; Mat. 25:14-30; Kol. 3:23).

Singkatnya: Ekonomi berasal dari kata “oikos” (rumah) dan “nomos” (aturan), yang secara utuh berarti, mengatur rumah tangga. Ekonomi adalah tugas penatalayanan (stewardship).

Perbedaan dasar prinsip Ekonomi Alkitab dan Dunia
1. Orientasi pada Allah.
Ekonomi Alkitab mengajarkan prinsip yang sangat jelas, yaitu seluruh alam semesta dan isinya adalah milik Allah yang perlu dikelola dan dipertanggungjawabkan bagi kemuliaan Allah. Semua perilaku ekonomi harus dikembalikan pada kehendak Allah. Tidak ada perilaku ekonomi yang beres, yang keluar dari rencana Allah. Sebaliknya, dunia justru mengajar untuk melakukan tindakan ekonomi tanpa mempedulikan Allah, atau yang lebih parah lagi justru menunggangi atau menjadikan Allah sebagai alat ekonomi (agregat produksi). Di sini manusia yang menjadi pusat dan kebutuhan manusia yang menjadi intinya. Maka dalam format dunia, ekonomi menjadi suatu bidang studi yang sangat humanistis dan materialistis.

2. Intinya pertanggungjawaban.
Ekonomi Alkitab mengajarkan prinsip pertanggungjawaban pengelolaan yang manusia laku¬kan terhadap alam kepada Allah. Manusia tidak boleh menggarap alam semena-mena untuk dirinya atau golongannya sendiri, karena bukan manusia yang memiliki semua itu. Dengan mempertanggungjawabkan semua ekonomi seturut perintah Allah, maka kesejahteraan manusia bisa dijaga. Untuk itu, Alkitab merupakan basis studi ekonomi, bukannya semangat materialisme dan tuntutan kebutuhan manusia. Sebaliknya, di dalam sistem ekonomi dunia, pertanggungjawaban kepada Allah sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Akibatnya, manusia hanya menjadi pelaku-pelaku ekonomi yang buas dan hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tidak heran, dunia menjadi anjang pengrusakan akibat terjadinya ketidakseimbangan pola ekonomi dunia. Di mana pertanggungjawaban global tidak ditekankan, maka dunia akan semakin rentan menjadi rusak.

3. Penekanan pola ekonomi spiritual.
Ekonomi Alkitab menekan¬kan bahwa seluruh perilaku ekonomi merupakan keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani, bahkan menyangkut seluruh bagian kehidupan manusia, yang bisa mempermuliakan Allah. Tetapi di dalam ekonomi dunia, seperti telah terlihat di atas, jelas orientasi hanya pada aspek materi dan mengabaikan aspek rohani sama sekali. Ekonomi seolah-olah menjadi bidang yang split atau terpisah dari dunia rohani, bahkan ada kecenderungan dikontraskan satu dari yang lain. Melalui perumpamaan bendahara yang tidak jujur, Alkitab mau menyatakan bahwa materi harus bisa dipakai sebagai alat rohani. Hanya dengan cara itu barulah seluruh keseimbangan bisa dicapai. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu, barulah semua hal lainnya akan ditambahkan kepada kita. Dalam aspek ini, Alkitab sama sekali tidak mengajarkan bahwa kita harus anti materi dan hanya mempedulikan aspek rohani saja. Tetapi kita harus menjaga keseimbangan, di mana aspek rohani menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari aspek materi di dalam ilmu ekonomi. Dengan demikian kita baru bisa menjadi penatalayan ekonomi yang baik.

Variabel Ekonomi
Sebagai anak Tuhan, kita harus melihat ekonomi secara berbeda. Ada variabel-variabel yang harus kita perhitungkan dan sangat menentukan di dalam pola dan perilaku ekonomi kita.
1. Ketaatan
Sebagai seorang penatalayan harta Allah, maka kunci pertama yang harus kita perhitungkan adalah sejauh mana ketaatan kita di dalam menjalankan tugas ini kepada Allah. Pelaku ekonomi yang tidak mau taat kepada Allah, pasti tidak akan pernah menikmati kehidupan ekonominya dengan baik, karena di situlah kunci seluruh tugas ekonomi. Di dalam Mat. 25, Tuhan Yesus memberikan hukuman keras kepada orang yang tidak mau enjalankan tugasnya.

2. Kejujuran dan Integritas
Hal kedua yang justru menjadi prinsip ekonomi adalah kejujuran dan integritas di dalam menjadi penatalayan Allah. Tidak ada cara lain yang bisa membuat ilmu ekonomi bisa berjalan dengan baik kecuali melalui sistem yang jujur dan terintegritas baik. Di mana terdapat ketidakjujuran, maka seluruh penatalayanan akan kehilangan arah dan keseimbangannya. Pasti akan terjadi kerusakan di mana-mana. Dan ilmu ekonomi yang sejati adalah ekonomi yang disoroti oleh Allah pemilik alam semesta, yang menuntut kejujuran dan integritas dari setiap orang yang diberi-Nya hak untuk mengelola alam milik-Nya.

3. Kebajikan
Motivasi dasar Allah di dalam memberikan semua alam semesta ini kepada manusia adalah agar manusia bisa hidup bahagia dan sejahtera. Inilah kebajikan Allah yang dinyatakan kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus juga menjalankan prinsip kebajikan di dalam melakukan ilmu ekonomi. Ketika ekonomi sudah kehilangan sifat manusiawinya, ekonomi akan menjadi suatu perilaku yang kejam sekali. Barulah belakangan ini orang-orang mulai semakin menyadari bahwa ekonomi telah tidak lagi memanusiakan manusia, bahkan ada ide bahwa manusia adalah makhluk ekonomis. Artinya, manusia hanya dinilai berdasarkan aspek ekonomi. Manusia bukan di atas ekonomi, tetapi manusia justru sudah menjadi komoditi ekonomi. Dari sini timbul banyak sekali masalah yang menyengsarakan manusia.

4. Etika Ekonomi Kristen
Bagi Alkitab, ekonomi harus menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, etika ekonomi harus sejalan dengan etika Kristen. Dalam kasus ini, etika ekonomi tidak bisa didualismekan dengan etika Kristen. Salahlah pandangan bahwa etika ekonomi tidak bisa dan tidak mungkin bisa sejalan dengan etika Kristen, karena di dalam ekonomi ada kaidah-kaidah yang harus bertentangan dengan iman Kristen. Misalnya, di dalam ekonomi ditekankan hukum “demand and supply” (permintaan dan penyediaan). Jika penyediaan sedikit dan permintaan banyak, maka harga akan naik. Akibatnya, seringkali suatu produk alam dibuang atau dimusnahkan demi untuk menaikkan harga barang (mempersedikit persediaan), padahal begitu banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan bahan tersebut. Di sini, etika ekonomi harus dikembalikan kepada kebenaran Alkitab, atau ekonomi hanya menjadi alat sebagian orang. Ini terjadi baik di dalam ekonomi sistem kapitalis ataupun sistem sosialis. Baik di dalam pola perdagangan bebas, ataupun dalam sistem ekonomi terkontrol. Tidak pernah ekonomi memperjuangkan kesejahteraan masyarakat luas, tetapi hanya menyejahterakan segolongan tertentu manusia, entah yang beruang atau berkekuasaan.

Kesimpulan dan Penutup
Prinsip ekonomi dunia harus dikembalikan kepada jalur kebenaran Alkitab, karena tanpa itu, tidak ada kemungkinan ekonomi dunia akan membereskan seluruh kehidupan manusia dan membawa manusia kepada kesejahteraan yang sejati.
Prinsip ekonomi harus ditundukkan di bawah kebenaran firman Tuhan, karena seluruh basis ekonomi sebenarnya bergerak di dalam dunia milik Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Oleh karena itu, pengelolaannya harus sesuai dengan kehendak Tuhan.
Prinsip ekonomi harus berada di bawah etika firman. Tidak ada dualisme antara bidang ekonomi dan pengenalan firman, antara etika Kristen dan etika ekonomi. Seorang Kristen yang Tuhan letakkan di dunia ekonomi harus berjuang keras untuk menjalankan panggilannya menyatakan kebenaran di dunia ekonomi. Kita perlu jelas akan panggilan Tuhan ini. Kita bukan anak-anak setan di dunia ekonomi yang tunduk kepada aturan dan kehendak setan dan sifat kedagingan yang penuh nafsu. Oleh karena itu, kebenaran Allah harus dinyatakan secara serius.

3. PROBLEMATIKA MULTI-LEVEL MARKETING

Nats: 2Tim. 3:1-2; 1Tim. 6:9-10; Luk. 16:1-9

[size=”3″][font=”Georgia”]Latar Belakang Permasalahan
Dengan berbagai krisis yang ada, manusia dituntut untuk semakin kreatif di dalam mencari peluang, khususnya di dalam usaha untuk mencari keuntungan dan pola-pola bisnis yang “menjanjikan.” Sekitar tahun 1950-an, Jay Van Dalen dan Rich De Vos, memulai suatu bisnis yang menggunakan tenaga lepas untuk pemasaran mereka. Idenya adalah menyerahkan tugas pemasaran kepada pribadi-pribadi dengan kebebasan yang lebih besar. Hal itu merupakan penglaaman mereka sendiri sebagai distributor lepas vitamin “Nutrilite.” Berdirilah Amway International. Di sinilah dimulainya pola bisnis marak yang sekarang dikenal dengan Multi-Level Marketing.

Ide Multi-Level Marketing
1. Kapitalisme (atau: Perekonomian Bebas)
Sistem MLM berdiri di atas pemahaman dasar Kapitalisme. Dan format yang dipakai justru adalah format ekonomi bebas. Bahkan pendiri Amway, yaitu Rich De Vos mengidentikkan kapitalisme dengan perekonomian bebas, dan sekaligus menekankan bahwa itulah kredo dari bisnisnya, yaitu pola MLM ini. Dengan format ini, De Vos menganjurkan agar kita bisa menikmati keuntungan yang sebesar-besarnya. Sukses hidup ditentukan dengan pemupukan materi sebesar-besarnya. Dan dari kepuasan secara finansial ini, akan dicapai pula kepuasan secara spiritual dan psikologis. Format ini merupakan format Materialisme yang dipertuhankan.

2. Prinsip Bisnis Materialisme Liberal
Bagi De Vos, baiknya pekerjaan ditentukan dengan variable, apakah pekerjaan itu bisa membawa manusia ke arah kebebasan, imbalan, pengakuan dan harapan. Dan kita harus meninggalkan semua pekerjaan yang tidak bisa menjanjikan hal itu. Melalui konsep inilah Compassionate Capitalism dibangun. Itu berarti konsep kapitalisme dengan kepedulian sosial, pada hakekatnya adalah penunggangan manusia menjadi obyek dari kepuasan materialisme, yang diyakini bisa memberikan kepuasan spiritual dan psikologis. Dengan cara menunggangi kepedulian sosial, yang dikejar sebenarnya adalah kenikmatan diri. Itu berarti pola ini merupakan pola yang sangat bersifat manipulatif. Kebajikan yang dilakukan sebenarnya hanyalah demi untuk mencapai keuntungan diri sendiri. Kalau kebajikan itu pada akhirnya merugikan diri, maka konsekwensinya kita harus meninggalkan kebajikan tersebut. Di sini kebajikan bukan lagi sebagai kebajikan, tetapi justru menjadi alat untuk egoisme. Bagaikan seseorang yang merasa puas dan hilang rasa bersalah dirinya setelah memberikan sedekah kepada orang miskin.

Pertimbangan-pertimbangan MLM:
1. Polanya
1.1. Menjual barang/produk dengan sistem MLM
Kita melihat MLM sebagai salah satu cara marketing, di mana kita berusaha menjual barang bukan dengan cara distribusi konvensional, tetapi menggunakan cara man-to-man yang lebih intensif. Di dalam pola ini, kita melihat bahwa cara penjualan dengan sistem bertingkat dikerjakan secara lebih intensif. Namun, di dalamnya ada beberapa sifat yang harus diperhatikan, karena akan memberikan kemungkinan sulit dikontrolnya pola ini.
1.2. Menjual sistem MLM itu sendiri
Yang kedua adalah menjual sistem itu sendiri, baik dengan produk semu, ataupun tanpa produk sama sekali. Dalam kasus ini, MLM sudah disalahgunakan, dan murni menjadi alat materialisme, di mana akan mengorbankan pihak-pihak tertentu, walaupun kemungkinan pihak tersebut tidak menyadarinya. Di sini sudah terjadi sifat penipuan terselubung demi untuk mencari keuntungan secara tidak benar. Hal ini mirip dengan pola konvensional yang melewati batasan etis bisnis yang benar. Cara-cara ini mirip dengan pola lintah darat atau berbagai pola bisnis modern seperti monopoli dll. di mana ide materialisme digarap secara maksimal. Jelas dalam hal seperti ini, setiap anggota akan diarahkan untuk murni materialis dan egois dan bertentangan dengan iman Kristen.

2. Motivasinya
1.1. Menjalankan pekerjaan yang berkenan kepada Allah
Motivasi bekerja yang benar adalah menjalankan pekerjaan yang berkenan kepada Allah, sehingga kita bisa memperoleh nafkah yang secukupnya bagi kehidupan kita.
1.2. Menjalankan pekerjaan yang mengeruk keuntungan sebesarnya dengan segala cara.
Motivasi dasar MLM adalah kapitalisme. Ini yang harus diperangi oleh orang Kristen. Sama seperti orang Kristen harus memerangi lintah darat, para pelaku monopoli, kolusi untuk mendapatkan keuntungan dan fasilitas khusus, maka orang Kristen juga harus memerangi semua bentuk bisnis yang demi keuntungan uang semua cara dihalalkan. Seluruh motivasinya hanyalah mencari uang, tidak peduli dengan cara apapun, atau lebih tepat, kalau bisa dengan cara yang seringan mungkin dan secepat mungkin. Oleh karena itu, iming-iming MLM adalah selalu “Posisi Puncak” atau “Go Diamond.” Padahal jelas hal itu tidak mudah dicapai dan hanya bisa dicapai oleh segelintir orang, sama seperti tidak semua orang bisa naik sampai ketingkat manager atau direktur.

3. Caranya
1.1. Memperkembangkan pelayanan dan etika kerja Kristen yang benar.
Cara kerja Kristen yang benar adalah cara kerja yang menyatakan kesaksian anak Tuhan dan menjalankan prinsip etika yang sesuai dengan etika Alkitab. Jelas prinsip kapitalis-materialis tidak diperkenankan dalam masalah ini. Bahkan Alkitab secara tegas menyatakan bahwa cinta akan uang akan menjadi akar dari semua kejahatan.
1.2. Memanipulasi sistem dan orang untuk mencapai keuntungan sendiri..
Dorongan MLM adalah usaha untuk memanipulasi orang seaktif mungkin dengan berbagai motivasi materialisme dan positif-thinking untuk menjadi alat ekonomis bagi kita.
Bekerja bukan sekadar melakukan sesuatu dan mendapatkan imbalan uang. Kalau memang demikian, maka pelacur pun harus dibenarkan. Sejauh ia bekerja dan menghasilkan uang. Tetapi etika Kristen mengharamkan hal itu, karena pekerjaan bukan dilihat dari segi keuangan, atau dapatnya keuntungan, tetapi dari caranya juga, yang sesuai dengan etika dan tidak melakukan manipulasi terhadap orang lain.

Tinjauan terhadap MLM:
1. Harus dikembalikan kepada prinsip Alkitab
Itu berarti semua jenis bisnis (termasuk MLM) harus dikembalikan kepada kebenaran dan etika Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa tidak ada bisnis yang boleh dilakukan dengan jalan pintas. Seluruh bisnis bukanlah menjalankan prinsip ekonomi dunia, yaitu dengan modal sekecil mungkin mencari keuntungan sebesar mungkin. Gagasan seperti itu menjadikan seluruh semangat dan roh ekonomi adalah pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya. Padahal ekonomi bukanlah demikian (seperti telah dibahas dalam sessi sebelumnya).

2. Motivasinya harus dimurnikan
Motivasi yang salah ialah yang bersifat: New Age (manipulative-mystical), Positive-thinking, Money-oriented, Indoktrinasi secara sepihak (menunjukkan hanya kesuksesan saja dan tidak yang negatif). Banyak orang yang menjalankan MLM dengan motivasi mencari kenikmatan kerja, yaitu dengan kerja yang sebebas-bebasnya dan seringan mungkin, tetapi mendapatkan penghasilan yang sebanyak mungkin.

3. Etikanya harus dibereskan
Salah satu kelemahan MLM adalah ide kapitalisme yang sudah sedemikian mendarah-daging di dalamnya. Jika motivasinya adalah uang, maka seluruh etika menjadi sulit dibereskan. Kecuali kembalinya bisnis kepada prinsip kebenaran firman, barulah etika bisa dimurnikan kembali. Banyak MLM yang melakukan berbagai penipuan, dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang terselubung, sehingga sifat-sifat aslinya tertutupi. Banyak pula sistem bisnis berantai yang merugikan elemen atau level yang paling bawah (dan mereka selalu menyanggah bahwa tidak adanya level yang dibawah tersebut).

4. Peraturan yang ditegakkan
Bisnis MLM menjadi rumit karena tidak adanya hukum dan aturan yang bisa diseragamkan dan diuji. Setiap orang bergerak dengan lebih bebas. Dan memang bisnis ini merupakan produk dari semangat post-modern yang anti hukum, anti aturan. Semangatnya adalah liberalisme. Keinginan bebas dari segala aturan, yang membuat kita bisa lebih “semaunya.” Padahal hal itulah yang secara global membuat pengaturan dunia usaha semakin sulit untuk dikontrol dan dibatasi.

Diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.

#2 (permalink)
24th May 2008

Sola_Scriptura2007
AP – Aspiring Evangelist

Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 590

lanjutan
________________________________________
Profil Pdt. Sutjipto Subeno :
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.)-nya di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master of Divinity (M.Div.)-nya di sekolah yang sama.
Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku theologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).
Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah theologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di Sekolah Theologi Reformed Injili (STRI) Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta. Beliau juga adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) dan pengkhotbah KKR yang dinamis: KKR Pemuda 2007, KKR Banjarmasin, KKR Jember, dll.
Beliau juga banyak melayani khotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus, dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia, dan Eropa (Jerman dan Belanda).
Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998).